
Tak terasa sudah sebulan Navya menjalani kehidupannya di luar negeri. Dia mengerjakan tugas-tugas kuliahnya dengan semangat, satu tahun adalah target yang ingin ia capai. Segera lulus dan bekerja di perusahaan perhiasan terkenal dan terbesar di negara itu. Dia ingin mencapai semua dengan kemampuannya sendiri.
Segala bantuan dari Alvi dia coba untuk menolak secara halus. Dari mulai mencari tempat magang dan perusahaan yang diinginkan Navya untuk bekerja. Alvi bisa membantu dia masuk ke sana. Tapi Navya bilang tidak usah.
"Apa yang saya raih tidak akan terasa istimewa jika di dapat dengan bantuan orang lain."
Alvi hanya bisa mengalah saja. Apapun akan ia lakukan asalkan Navya bahagia dan nyaman dengan pilihan hidupnya. Soal perasaannya, seperti itu jugalah Alvi masih harus bersabar dan berjuang mendapatkan hati Navya tanpa harus berulang kali menyinggung soal perasaan gadis itu.
"Maafkan saya, belum bisa membuka hati. Tolong jangan tunggu saya, itu akan membuat saya merasa bersalah."
"Saya tidak keberatan jika ada seseorang yang bisa membuat Mas Alvi move on dari saya."
Tidak semudah itu Navya, cinta Alvi bukan hal yang bisa di remehkan begitu saja.
"Saya tidak akan menyerah, sebelum kamu sendiri yang mengusir saya dari hidup kamu."
Yah begitulah akhirnya, Navya membiarkan saja Alvi berjuang. Sesekali dia tersentuh dengan semua yang dilakukan lelaki itu, namun di lain kesempatan dia mulai ragu lagi dengan perasaannya. Walaupun mereka terpisah antar benua, tapi hampir setiap pagi Navya akan mendapatkan setangkai bunga mawar putih di atas piring makannya.
Terkadang ada hadiah kecil yang tiba-tiba saja diberikan oleh Neni atau Hendra saat dia pulang dari kampus.
Berulang kali Navya mengatakan Alvi tidak perlu melakukan hal-hal seperti itu, bagi Navya Alvi sudah istimewa. Karena Alvi tidak pernah bertanya padanya apakah dia sudah siap, apakah Alvi sudah bisa menerima jawaban. Hanya saja Navya yang memang belum yakin dengan diri dan hatinya sendiri. Dia tidak mau mengecewakan Alvi. Navya ingin menerima Alvi ketika ia benar-benar bisa mencintai lelaki itu, bukan hanya karena ingin membalas kebaikannya saja.
Tapi pagi ini adalah kali pertama tidak ada ucapan selamat pagi dari laki-laki yang selalu setia mengisi setiap detik jam dalam hari-hari Navya. Setelah panggilan selamat tidur malam tadi, Alvi benar-benar tidak menghubungi dirinya sama sekali. Biasanya jika Alvi sedang sibuk pun, sebuah pesan akan mewakili dirinya untuk memberi ucapan selamat pagi pada Navya.
Apa dia sakit?
Navya mencoba mengirimkan pesan, bertanya keadaan Alvi. Belum di baca setelah beberapa menit, akhirnya Navya memulai kegiatan paginya. Mandi dan bersiap untuk pergi ke kampus. Lalu turun menuju meja makan. Sepi, hanya ada Elma yang sudah menunggu dirinya di sana.
Bahkan di meja makan tidak ada bunga. Navya jadi merasa ada yang hilang. Wajahnya "Kamu sakit Vy?"
Tidak biasanya Navya makan sambil diam saja. Dai akan tersenyum setelah mendapati seikat bunga mawar di atas meja makan, yang membuat dirinya semangat menjalani hari-hari. Berbicara tentang kegiatan mereka di kampus pada Hendra dan Neni. Atau membicarakan rencana pergi ke pusat perhiasan di akhir pekan.
Menoleh pada Elma di sampingnya. Pagi ini mereka hanya makan berdua. Neni sedang sibuk, pak Hendra juga.
"Tidak apa-apa kak. Ngomong-ngomong kenapa Neni dan Pak Hendra tidak kelihatan ya?" celingukan mencari sosok yang ia sebutkan.
"Tadi mereka bilang kita disuruh makan duluan. Karena mereka sibuk. Akan ada yang datang sepertinya. Neni bersama beberapa pelayan membawa seprei dan selimut ke kamar utama." Menunjuk ke arah sebuah kamar dengan dua daun pintu.
Tamu? Tapi Siapa?
"Kak aku bertemu Neni sebentar ya."
"Tunggu Vy!" Panggilan Elma membuat dirinya mengurungkan niatnya. Kembali dia duduk di kursinya.
"Ada apa kak?"
"Ada yang ingin aku katakan." Navya menelisik. Wajah Elma terlihat serius.
"Aku sudah menemukan tempat tinggal yang baru. Seperti aku akan segera pindah." Ucapan Elma membuat Navya terkejut. Mengapa tiba-tiba begini. Apa ada yang membuat Elma tidak nyaman.
"Jangan salah paham Vy, aku suka di sini. Tapi aku merasa tidak pantas terlalu lama tinggal bersama kamu. Bahkan tidak membayar sewa." Elma tertawa canggung.
"Tapi jangan khawatir, aku akan sering bermain ke sini. Kita juga kan masih satu kampus."
__ADS_1
"Kaka yakin tidak ada yang kakak tutupi dariku? Bukankah ini terlalu tiba-tiba?"
Elma tersenyum. "Jangan terlalu banyak berfikir, aku senang di sini. Tapi seperti yang kamu katakan. Kamu saja di sini karena seseorang, jadi bukankah tidak sopan jika kau berlama-lama tinggal percuma di sini."
Benar juga pikir Navya, ini bukan rumahnya. Ini rumah milik keluarga Alvi. Hanya karena Alvi maka temannya itu boleh tinggal di sini.
"Lagipula aku tinggal tidak jauh dari sini, Aku akan menjemputmu setiap hari. Seperti biasa kita akan tetap pergi ke kampus bersama."
"Benarkah kak?" Elma menjawab dengan anggukan kepala. Hendra datang menghampiri meja makan.
"Pak Hendra. Apa benar ada tamu yang akan datang nanti?"
"Benar Mbak, dan mereka sudah datang." Hendra mengarahkan tangannya menunjuk ke ruang tamu, dimana tamu itu sedang duduk.
Navya mengerti maksudnya, dia berjalan bersama Hendra menuju ruang tamu. Elma juga mengikuti.
Betapa terkejutnya Navya dengan apa yang ia lihat, Rima ada di sana, bersama dengan suaminya.
"Nenek...!"
Rima tersenyum menyambut Navya. Gadis itu berlari dan langsung memeluk Rima. Agak lama mereka berpelukan sampai akhirnya sebuah suara membuat mereka mengurai pelukan itu.
Navya tersadar bahwa ada Sultan di sana.
Navya menyalami Rima dan Sultan bergantian.
"Kakek apa kabar?"
"Oh ya, Nek perkenalkan ini Kak Elma. Dia teman Vya, kami tidak sengaja bertemu di pesawat dan tanpa di duga kami ternyata satu kampus."
Elma memberi salam pada Rima dan Sultan.
"Kamu anak yang cantik sayang." Rima memuja Elma yang di balas senyuman oleh gadis itu. Ada yang aneh dalam diri Navya saat mendengar nya. Entahlah dia juga tidak mengerti kenapa.
"Terimakasih Nyonya."
"Panggil saja Nenek, sama seperti Navya."
"Baik Nek."
"Aku ke kamar duluan, kamu cepatlah istirahat. Nanti sore di lanjutkan lagi bicara nya." Sultan bicara dengan istrinya. Lalu melangkah menuju ke kamarnya.
Navya sebenarnya masih merasa canggung bersikap di depan kakek Alvi. Bahkan saat dia masih menjadi istri Dafin, Sultan memang seperti menjaga jarak dengan dirinya. Navya menatap nanar langkah Sultan Mahendra yang menjauh dari tempat mereka duduk.
"Jangan di ambil hati sayang, Kakek hanya lelah." Rima seakan tau apa yang Navya rasakan.
"Iya Nek." Tersenyum mencoba menutupi perasaannya. Akhirnya mereka mengobrol bertiga, tidak lama karena Navya dan Elma harus berangkat ke kampus. Elma membawa sekalian barang-barang miliknya, hanya dua buah koper besar dan kecil. Dia akan langsung menempati rumah baru yang ia sewa. Sementara Rima beristirahat.
Sebelum pergi Navya sempat bertanya pada Nenek, apakah Alvi pernah menghubungi neneknya pagi itu.
"Ya tadi pagi setelah kami mendarat, dia menelepon. Memastikan bahwa kami sudah mendarat dengan selamat."
"Hmmm begitu. Baiklah Nek, Vya dan kak Elma berangkat dulu." Navya awalnya merasa khawatir tentang Alvi yang tidak menghubungi dirinya sejak pagi tadi, tapi setelah mendengar apa yang nenek katakan, sekarang Navya penasaran kenapa Alvi tiba-tiba berubah begitu.
__ADS_1
Ada apa dengannya? Kenapa hari ini dia benar-benar tidak menghubungi aku.
Melihat lagi ponselnya sambil ia berjalan ke arah mobil milik Elma. Sepanjang perjalanan pun Navya yang biasanya mengoceh ini dan itu terlihat diam saja. Sesekali melihat ponselnya, pesan itu belum juga di baca.
"Vy... Navya... Hey... Navya!"
Sedikit berteriak Elma memanggil dirinya.
"Ya Bos??" Navya tersentak.
Elma heran, kenapa Navya memanggil dirinya dengan sebutan Bos.
"Ha..eehh... Iya Kak Maaf... Kenapa Kak?"
"Kenapa jadi memanggilku Bos?" Elma tertawa lucu.
"Bukan apa-apa kak..." Wajahnya memerah.
"Bicara saja. Kita kan bersahabat. Kamu bebas bicara apapun."
"Kakak tau kan siapa ya g membantu ku selama ini. Aku sering cerita pada kakak."
"Ya, Alvian Mahendra. Mantan bos kamu, sekaligus pemilik rumah yang kita tempati sekarang." Elma menelisik. "Ohh jadi kamu tadi sedang melamun kan dia. Makanya memanggil ku dengan sebutan Bos?"
"Bukan begitu kak." semakin merah pipinya.
Elma tersenyum. "Apa karena pagi ini tidak ada bunga di meja makan seperti biasanya?" Menggoda gadis si sebelahnya.
"Entahlah kak, semua yang dia lakukan sudah membuat aku terbiasa. Jadi sekarang ketika kebiasaan itu hilang untuk pertama kalinya, terasa ada yang aneh."
"Kenapa kamu tidak menghubungi duluan?"
"Sudah kak, tapi belum ada jawaban." Menggoyangkan ponselnya ke arah Elma, menunjukkan bahwa pesan yang ia kirim belum di balas.
"Atau terjadi sesuatu padanya?"
"Kak, jangan membuat aku takut."
"Ya aku hanya mengingatkan. Coba hubungi siapapun yang biasa dekat dengannya."
"Ryan." Navya secepatnya menghubungi Ryan. Namun Ryan juga tidak menjawab. Lalu menghubungi Finny.
Finny mengatakan bahwa dia baru saja bertemu Alvi di toko kue. Tidak ada yang aneh. Alvi bersikap seperti biasanya.
"Sudahlah, mungkin dia sedang sibuk."
"Ya aku tau kak, hanya saja terasa agak aneh. Apa mungkin dia lelah ya kak, dia selalu mengatakan ingin menunggu aku membuka hati. Tapi aku yang masih ragu pada diriku. Aku merasa belum pantas untuk mendampinginya."
Tanpa terasa mereka sudah sampai di area parkir kampus. "Sudah, berpikirlah positif. Mungkin dia memang benar-benar sibuk bekerja dan membuatnya lelah. Jadi dia hanya sedang istirahat sekarang."
"Ya semoga saja begitu." Navya melepaskan safety belt-nya dan turun dari mobil Elma.
Bersambung
__ADS_1