Mencintaimu Karena Terbiasa

Mencintaimu Karena Terbiasa
Datang Bersamaan


__ADS_3

Pagi ini Navya bangun lebih cepat dari biasanya. Berniat membuat kan sarapan sederhana untuk Dafin dan harus mengerjakan pekerjaan rumah. Dan hari ini juga Navya memutuskan akan mulai masuk kerja.


Karena ada janji dengan Alvi, Navya hanya bisa membuat kopi dan roti panggang yang diolesi selai kacang untuk Dafin. Dia mengetuk pintu kamar Dafin untuk membangun kan pria itu. Ternyata saat Dafin membuka pintu, pria itu sudah terlihat segar namun bukannya memakai pakaian kerja dia malah mengenakan pakaian santai.


"Apa sih, berisik!" Berjalan melewati Navya yang berdiri di depan pintu kamarnya dengan wajahnya yang ketus.


"Maaf, Vya pikir Mas Dafin belum bangun. Mas gak kerja hari ini?" Mengikuti langkah Dafin yang bukan menuju meja makan, melainkan ke ruang santai.


"Bukan urusan kamu! Kamu kenapa sudah rapi, masih jam segini sudah mau pergi kerja? Beresin rumah dulu." Titahnya sambil mendudukkan tubuhnya di sofa dan menghidupkan TV.


"Vya ada meeting dengan Klien pagi ini, Pak Alvi sebentar lagi datang menjemput. Vya sudah bersih-bersih dan buatin sarapan untuk Mas. Mau saya ambilkan?" Navya berbalik menuju dapur untuk mengambil sarapan yang dia buat untuk Dafin tadi.


Alvi? Repot sekali sampai seorang yang Bos menjemput Sekretaris nya.


Meletakkan nampan berisi kopi dan roti panggang di atas meja. "Silahkan Mas.." Gadis itu sudah akan beranjak untuk mengambil tas dan beberapa dokumen kantor di kamar.


Dafin tersenyum tipis, dia punya rencana untuk mengerjai Navya.


"Tunggu!"


"Ya Mas?"


"Kamu bikin kopi ini kapan? Rotinya juga sudah dingin. Kamu mau kasi aku makanan dingin begini!? Buatkan yang baru sekarang!"


"Tapi Mas, Vya gak sempat." Wajahnya sedikit cemas sambil melihat ke arah jam dinding.


"Kamu mau buat yang baru atau aku tidak izinkan kamu bekerja hari ini!"


"Iya Mas, Vya akan buatkan yang baru." Pasrah dan tidak bisa membantah, akhirnya dia membuat kan kopi dan roti yang baru. Dia menyicipi kopi yang Dafin bilang dingin. Heran. Padahal kopi itu masih terbilang panas, walaupun uapnya tidak sebanyak saat baru saja di seduh. Kenapa dia malah mengatakan kopi itu dingin.


Di saat akan mengantarkan kopi ke pada Dafin, Alvi mengirimkan pesan padanya. Mengabari bahwa dia sudah akan berangkat. Jarak dari kediaman Alvi ke rumah Navya hanya tiga menit saja. Navya bermaksud menunggu nya di depan saja.


"Silahkan Mas.." Dia meletakkan sarapan yang baru dia buat di hadapan Dafin. Kemudian dia menuju lantai atas untuk mengambil tas nya. Setelah turun ke bawah, dia berpamitan pada suaminya.


"Vya pamit pergi ya Mas." Mengulurkan tangannya untuk menyalami Dafin. Namun pria itu malah melihat dirinya dengan wajah datar.


"Kamu sudah mau pergi, padahal tugas kami belum selesai."


"Maksudnya Mas?"


"Masuk ke kamar ku dan selesai kan tugasmu!"


Navya sangat terkejut dengan perintah Dafin.


Wajahnya hampir pucat namun berubah seketika saat Dafin tertawa.


"Dasar bodoh! Apa kamu tidak bisa lebih tau diri sedikit saja untuk tidak berfikir yang macam-macam?" Menekan telunjuknya di kening Navya.


"Aku suruh kamu bersihkan kamarku."

__ADS_1


Sebagian hati Navya merasa lega, namun dia juga cemas. Pasti Alvi sudah sampai di depan rumah nya. Tapi perintah Dafin juga tidak bisa diabaikan. Akhirnya mau tidak mau dia masuk ke kamar Dafin untuk membersihkan nya.


Ting tong....


***


Sementara di luar rumah, Alvi mencoba menelpon Navya. Karena pesan yang dia kirim untuk memberitahu bahwa dia sudah sampai tidak di baca oleh Navya. Terakhir Navya menjawab bahwa dia sudah siap. Panggilan itu juga tidak kunjung diangkat.


Memutuskan untuk masuk dan menjemput ke dalam, bersamaan dengan Alvi yang turun dari mobilnya, seorang gadis juga keluar dari taksi online. Berada di depan rumah yang sama mereka berhenti dan saling menatap. Hana yang mengetahui siapa Alvi, lebih dulu menundukkan kepalanya.


"Selamat Pagi Pak."


Alvi hanya menjawab dengan anggukan kepala.


"Saya Hana, sekretaris Pak Dafin. Bapak juga mau masuk ke dalam?"


Tentu saja Alvi tau, bahkan dia juga tau hubungannya dengan Dafin lebih dari hubungan sekretaris dan Bos.


"Hmmm, saya memiliki janji dengan Navya."


"Begitu yaa.."


Dan disini lah mereka sekarang, sama-sama berada di depan pintu dan menunggu seseorang membukakan pintu. Hana sudah menekan tombol Bel rumah tadi.


Tidak lama pintu terbuka, Dafin muncul dari dalam. Sedikit terkejut saat melihat Alvi dan Hana bersamaan ada di depan pintu rumah nya. Dia memang meminta Hana datang karena Dafin sedang tidak ingin ke kantor. Tapi ad laporan yang harus Hana sampai kan ke Dafin. Begitulah skenario yang mereka buat.


"Kenapa kalian bisa bersamaan?"


"Masuklah."


Mempersilahkan mereka duduk di ruang tamu, Dafin sama sekali tidak berniat memanggil Navya yang sedang berada di kamarnya.


"Navya masih di kamar, mungkin belum selesai bersiap. Tunggu saja sebentar lagi. Maklum, Navya kan seorang istri, jadi ada banyak pekerjaan yang harus dilakukan ketika masih di rumah. Bukankah suami adalah yang utama."


"Saya tidak masalah dengan itu." Alvi hanya merasa ada yang tidak beres dengan keadaan itu, tadi Navya mengatakan bahwa dia sudah siap bahkan sebelum Alvi berangkat dari rumahnya. Tapi kenapa sekarang Dafin bilang Navya masih bersiap-siap.


"Kamu tidak ke kantor?"


"Oh, aku sedikit lelah. Jadi memutuskan untuk bekerja di rumah saja hari ini."


"Pak Alvi."


Alvi seketika berdiri begitu mendengar suara Navya yang muncul di belakangnya.


"Vy.."


"Maaf Pak, sebentar saya ambil tas dulu. Lo, kak Hana di sini juga?" Wajah penuh tanya tidak bisa dia tunjukkan. Dafin berdiri dan menghampiri dirinya.


"Sayang, tadi aku kan bilang aku sedikit lelah. Jadi aku bermaksud untuk istirahat saja di rumah, kebetulan ada berkas yang harus aku tandatangani, jadi aku suruh saja Hana ke sini."

__ADS_1


"Oh iya, Maaf merepotkan kak Hana. Tapi Vya harus berangkat sekarang, Vya tinggal dulu ya." Kemudian dia menyalami Dafin, sementara pria itu membalas nya dengan mengusap kepalanya lembut.


"Baiklah, hati-hati. Al, titip istri ku ya." Tentu saja Navya merasa gugup dengan adegan sandiwara Dafin itu. Meskipun hanya berpura-pura, Navya bukanlah manekin yang tidak punya perasaan.


"Jangan khawatir, saya akan dengan senang hati menjaganya." Dan percakapan apalagi ini, dia hanya pergi bekerja tapi Alvi dan Dafin menganggapnya seperti barang yang dititipkan.


Lain lagi dengan Hana, meskipun tau Dafin hanya berakting di depan Alvi tentang hubungannya dengan Navya. Namun kenapa sikap itu terasa nyata di matanya. Tapi dia berusaha menutupi rasa cemburunya. Masih belum saatnya Navya tau hubungan nya dengan Dafin.


"Kamu sudah sarapan?" Dafin bertanya pada Hana saat dia memastikan bahwa Alvi dan Vya sudah pergi dari sana. Sambil membaca dokumen yang dibawa oleh Hana tadi.


"Aku gak lapar." Nada bicaranya tidak begitu ramah menurut Dafin. Pria itu menoleh, memperhatikan wajah gadis di sampingnya yang cemberut. Menutup dokumen yang tadi dia pegang, Dafin mendekat kan wajahnya.


"Kamu cemburu?"


"Menurut kamu?"


"Apa yang salah? Aku hanya bersandiwara, kamu juga tau kan tadi ada Alvian di sini." Dafin berpura-pura tidak merasa bersalah dengan apa yang sudah dia lakukan.


"Tapi kamu tidak perlu harus sok mesra begitu, setidaknya kamu sadar ada aku di sini."


"Memang aku melakukan apa?" Masih tidak mengakui dan malah meledek Hana dengan senyuman jenaka.


"Sudahlah, aku mau pulang!" Hana bangun dari duduknya dan ingin pergi namun Dafin menarik tangan nya, membuatnya terjatuh di atas tubuh Dafin. Dafin merangkul pinggang Hana, kemudian menyatukan bibir nya dengan bibir Hana. Gadis itu tidak menolak. Cukup lama mereka berciuman lalu Dafin melepaskan tautannya.


"Tapi aku tidak melakukan hal ini padanya kan!? Sudah, jangan ngambek lagi." Rayunya sambil memeluk gadis itu dan Hana membalas pelukannya dengan erat.


"Sampai kapan aku harus melihat kamu bersama nya, aku takut. Apapun bisa terjadi di antara kalian kan. Apalagi kalian tinggal dalam satu atap."


"Apa kamu mau kita menikah juga?" Seketika Hana melepaskan pelukannya dari Dafin.


"Kamu jangan bercanda!"


"Aku serius. Kalau kamu mau, kita bisa menikah sekarang."


Hana diam. Jika sekarang dia menikahi Dafin dan orang-orang mengetahuinya, maka julukan orang ketiga akan disematkan padanya. Tapi dia juga tidak mau kehilangan Dafin.


"Kamu selesaikan saja dulu urusan kamu dengan Navya." Seraya berpindah dari pangkuan Dafin dan duduk di sebelahnya.


"Han, aku mau melakukan apapun buat kamu. Dulu sebelum menikah dengan Navya, aku juga bilang akan membatalkan nya asal kamu yang memintanya kan!? Tapi kamu malah menyuruh aku melanjutkan pernikahan itu."


"Iya, aku memang yang menyuruh mu menerima pernikahan itu. Aku hanya tidak mau dianggap perusak hubungan kamu dengan orang tua kamu. Aku gak mau mereka benci sama aku, apalagi sama kamu." Dia meletakkan kepalanya di bahu Dafin.


"Aku ingin punya hubungan yang baik dengan keluarga mu, sebagai wanita yang kamu cintai."


"Aku mencintaimu."


"Tapi kamu janji, jangan jatuh cinta pada Navya."


"Aku janji."

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2