Mencintaimu Karena Terbiasa

Mencintaimu Karena Terbiasa
Double Surprise


__ADS_3

Damar sudah ada di ruang tunggu saat Finny dan yang lainnya tiba.


"Mami, sudah datang." mendekati istrinya.


"Huhh... Papi. Apa bedanya Papi menunggu mami di sana atau di kamar. Tetap aja kan menunggu."


"Iya..iya... Papi minta maaf deh. Jangan marah lagi, kan udah cantik."


Yang lain hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah sepasang suami-istri generasi tua itu.


"Anak-anak Papi juga cantik." Melihat ke arah Navya dan Hana bergantian. Mereka berdua berpandangan sambil tersenyum. Tak lama kemudian Rima dan Sultan masuk ke ruangan, Navya berharap ada Alvi juga. Nihil. Pria itu tidak ikut bersama kakek dan neneknya.


Apa yang aku pikirkan. Pasti dia sedang bersama calon istrinya lah.


***


Acara sudah akan dimulai. Mereka sudah di minta keluar dari ruang tunggu Ryan yang menjemput mereka. Sementara Alvi sendiri sudah duduk di meja paling depan. Berdiri ketika nenek dan kakeknya memasuki aula acara, di sana untuk pertama kali Navya melihat Alvi setelah beberapa hari. Alvi menyambut nenek dan menuntunnya berjalan ke meja mereka.


Aura pria itu memancarkan kebahagiaan, dia tersenyum begitu menawan, walaupun dulu setiap hari Navya melihat Alvi memakai stelan jas kantor tapi entah kenapa kali ini berbeda. Memakai stelan jas berwarna biru yang membuat penampilannya sangat gagah.


Kali ini pandangan mereka bertemu, Alvi tersenyum kepadanya. Navya sampai menatap lama pria itu, kagum dengan


pesonanya hingga Elma menarik tangannya untuk terus berjalan karena mereka sudah ketinggalan.


Melihat kamu sekarang, hatiku sakit. Navya


Dia cantik sekali hari ini. Alvi


Navya duduk bersama Elma, Dafin dan Hana. Sementara Damar, Finny duduk bersama Nenek, Kakek dan Alvi. Meja mereka bersebelahan. Tapi posisi Alvi dan Navya berhadapan. Membuat Navya sedikit tidak nyaman.


Pesta benar-benar meriah, Navya tidak menyangka acara akan di buat semegah ini. Dekorasi yang dibuat sangat indah dan terkesan memberikan suasana romantis. Area kuliner yang menyediakan berbagai makanan. Mulai dari kuliner khas dalam sampai luar negeri berjajar di stand-nya masing-masing. Padahal ini bukan resort pertama yang dibangun oleh Mahendra Group tapi undangannya begitu banyak. Termasuk kolega dari luar negeri juga. Yang Navya dengar ini semua keinginan kakek.


Yah, tapi wajar saja sih. Ini bukan acara pembukaan resort biasa. Ada acara khusus dibalik nya.


Pembukaan pesta sudah di mulai. Beberapa hiburan di tampilkan sebagai acara pembukaan. Tiba saatnya kata sambutan. Sultan yang pertama kali naik ke atas panggung. Setelahnya pembawa acara meminta Alvian sebagai Presiden Direktur Mahendra Group untuk naik ke atas panggung dan menyampaikan sambutannya.


Sorot lampu mengantarkan langkah kaki pria itu saat berjalan ke atas panggung.


"Selamat malam semuanya.

__ADS_1


Ini adalah malam yang sangat istimewa bagi saya. AlviNa Resort n Hotel ini bukan proyek pertama bagi Mahendra Group. Sudah ada puluhan hotel yang berdiri di bawah naungan kami. Tapi ini adalah yang terbesar dan pertama untuk saya ketika menjabat sebagai Presdir Mahendra Group. Terimakasih kepada semua pihak yang sudah bekerja keras dari proses pembangunan sampai terlaksananya acara malam ini. Kalian semua hebat, saya tidak ada apa-apa nya tanpa kalian semua."


Navya tidak begitu mendengar apa yang di katakan Alvi di depan sana. Tatapan matanya saja yang fokus pada pria yang sedang bicara.


"Kali ini saya mempersembahkan resort ini untuk seseorang yang istimewa. Tidak hanya istimewa, dia juga pernah berperan dalam jalannya proyek pembangunannya. Dan di hari yang membanggakan ini saya ingin mengumumkan sesuatu yang bahagia, saya Alvian Zander Mahendra ingin melamar seorang gadis yang istimewa bagi saya." Tepuk tangan hadirin bergema, Navya ikut bertepuk tangan karena semua orang melakukannya.


Pembawa acara mengambil alih setelah Alvi memberikan anggukan kepala sebagai isyarat.


"Baiklah, pasti semua hadirin sedang penasaran kan siapa sebenarnya gadis yang beruntung mendapatkan cinta dari Tuan Alvian Mahendra. Dia ada di sini, sedang menghirup udara yang sama dengan kita."


Beberapa orang melihat ke kanan, kiri dan belakang untuk mencari tau siapa sebenarnya wanita yang di maksud. Termasuk Navya, yang sedang mencari sosok Diana di antara tamu-tamu yang hadir. Sebagian lain menunggu dengan antusias, siapa sebenarnya gadis beruntung yang akan mendapatkan posisi sebagai Nyonya keluarga Mahendra. Sementara di saat orang-orang masih bertanya siapa dan dimana, lampu aula berganti lampu temaram.


"Kepada Nona Eldiana Mauza...." Dia menggantung kata-katanya. Navya yang sesak mendengarnya.


Desainer itu, ternyata dia bukan hanya sekertaris biasa di kantor Mas Alvi ya.


"Silahkan membawa calon Nyonya Mahendra ke atas panggung." Seketika lampu sorot mengarah pada Navya dan Elma. Mereka saling pandang, Elma kemudian tersenyum. Tapi Navya bingung. Lebih bingung lagi ketika Elma bangun dan meminta Navya juga bangun dari kursinya.


"Kak, apa sih ?" Berbisik pada Elma.


"Ayo, mereka memanggil kita."


"Ayoo... " Elma tetap memaksa Navya. "Kamu tidak dengar? Eldiana Mauza itu aku." Di balik keremangan Elma membuka kacamata nya dan tanpa Navya sadari ternyata selama Elma memakai rambut palsu.


"Diana?" Elma mengangguk dan menarik tangan Navya untuk bangun dari duduknya. Dengan perasaan yang masih diliputi kebingungan dia mengikuti saja langkah Elma yang membawanya naik ke atas panggung.


Riuh tepuk tangan para undangan bergema mengiring langkah nya yang semakin dekat dengan Alvi. Sampai di depan Alvi, Navya semakin tidak mengerti dengan apa yang terjadi. Alvi menekuk lututnya saat NaVya sudah tiba di hadapannya.


"Navya Putri Wisnu, bersediakah kamu menjadi Istriku?"


Navya mengerjakan matanya, benar-benar masih belum bisa mencerna apa yang terjadi. Dia menoleh ke sebelah nya, Eldiana atau Elma berdiri tersenyum hangat dan mengangguk pelan untuk meyakinkan bahwa yang terjadi bukanlah mimpi atau khayalan. Mencari mata sang sang Mami dan Papi, di mejanya mereka tersenyum dan mengangguk meyakinkan dirinya.


Menoleh lagi Alvi yang masih ada di posisi berlutut. Tersenyum hangat dan tulus masih menunggu jawabannya. "Saya tidak berminat kan?" Gumamnya. Alvi malah terkekeh sambil menggeleng. Beberapa orang juga tertawa melihat nya.


"Maukah kamu menerima saya menjadi suami kamu?"


Navya menutup mulutnya tidak percaya, tapi dia mengangguk setuju. Air matanya menetes tanpa ia sadari. Dia belum percaya dengan semua ini, biarlah ini mimpi atau bukan dia akan menerima nya. Tapi tepuk tangan para tamu itu terdengar nyata. Sentuhan tangan Alvi yang meraih jari dan menyematkan cincin di jari manisnya juga terasa nyata. Elma memberikan cincin pada nya agar dia menyematkan pada jari Alvi. Dan Alvi memberikan sebuket bunga mawar pada Navya. Pria itu langsung memeluknya, baru Navya menyadari bahwa itu nyata. Dia memejamkan mata dan air mata kembali menetes di pipinya.


"Saya gak mimpi kan Mas?" Bicara masih dalam pelukan Alvi.

__ADS_1


Alvi melepaskan pelukan lalu memegang bahunya. Menatap dalam mata Navya.


"Saya mencintai kamu Navya." Lalu mengecup keningnya. Ucapan dan kecupan Alvi adalah jawaban yang paling meyakinkan dirinya. Dia tidak sedang bermimpi.


Navya tersenyum lebar. Lalu memeluk Alvi lagi. "Terimakasih Mas."


"Saya yang harusnya berterimakasih. Kamu sudah mau menerima saya."


"Saya mencintai Mas Alvi."


Senyum Alvi semua lebar, dia bahagia mendengar ucapan cinta yang dinyatakan Navya padanya secara langsung.


"Terimakasih Navya. Terimakasih. Saya juga sangat mencintai kamu."


"Ehhhheemmmm" Ini suara Bima. Entah kapan dia sudah ada di atas panggung dan mengambil alih mikrofon dari tangan pembawa acara. Membuat Navya dan Alvi melepaskan pelukan mereka seketika.


Mereka salin pandang dan tersenyum malu-malu. "Kalian bisa lanjutkan nanti kan. Kami semua sudah lapar." Ekspresi berlebihan di tunjukkan Bima sambil mengelus perutnya. "Atau aku bisa mengantarkan kalian ke KUA sekarang." Semua tamu tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan Bima. "Jangan membuat aku iri, cepat sana turun." Alvi kemudian menggandeng tangan Navya dan turun dari atas panggung.


Kemudian Bima mempersilahkan para tamu yang hadir untuk menyicipi hidangan yang tersedia. Setelah lamaran Alvi berjalan dengan lancar, acara berubah menjadi acara santai. Beberapa penyanyi ibukota bergantian membawakan lagu andalan mereka. Menghibur para tamu. Di bawah Navya memeluk semua anggota keluarganya. Termasuk Sultan.


"Maafkan sikap kakek selama ini Nak." Tulus di ucapkan Sultan pada Calon cucu mantunya. Alvi menggeleng pelan, mengingatkan Kakek agar menahan diri untuk mengakui semua nya.


"Iya Kek. Tidak apa-apa. Terimakasih kakek sudah merestui Vya dan mas Alvi."


Benar-benar kejutan untuk Navya. Dia sama sekali tidak menyangka Lamaran yang disiapkan oleh Alvi ternyata untuk dirinya. Dia masih wanita yang dicintai Alvi.


Dan yang belum dia percaya, Elma adalah Diana, Eldiana Mauza, Desainer yang ternama. Selama ini hanya mendengar namanya, dan melihat fotonya saja. Entah kenapa dia sama sekali tidak mengenalinya, padahal mereka pernah bertemu di kantor Alvi. Dan selama dia kuliah, yang setiap hari menemani dirinya adalah Diana. Dengan penampilan berbeda dan nama yang di samarkan. Elma adalah singkatan dari Eldiana Mauza. Dia seperti mendapat double Surprise malam itu.


"Kamu terlalu fokus pada Pak Alvian. Jadi kamu tidak menyadari siapa saya."


"Tapi saat Mas Alvi membeli kan hadiah jam tangan itu ?"


"Beliau hanya mengganti jam tangan saya yang rusak. Saat itu membukanya karena tangan saya iritasi, tanpa sengaja tersenggol oleh Pak Alvi dan pecah. Saya sudah bilang tidak perlu di ganti tapi beliau tiba-tiba sudah membeli nya."


"Kak, jangan formal begitu. Biasa saja, seperti kita biasanya. Aku tidak nyaman."


"Tapi kamu calon istri Bos saya."


"Kak El adalah sahabatku, aja. selalu seperti itu." Dia memeluk Diana tanpa sungkan. Diana tersenyum karena Navya sama sekali tidak berubah. Padahal dia adalah calon istri bosnya, tapi dia tetap menganggap Diana sebagai sahabatnya.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2