Mencintaimu Karena Terbiasa

Mencintaimu Karena Terbiasa
Ucapan Terimakasih


__ADS_3

Sudah tiga hari Alvi tidak datang ke kantor. Navya agak khawatir sebenarnya, tidak biasanya Alvi begini. Ryan juga tidak mengatakan apapun jika Navya bertanya. Dia hanya bilang Alvi tidak tau apa-apa.


Seperti dua hari sebelumnya, dikarenakan Alvi yang tidak masuk kantor, Navya bisa pulang lebih awal. Dia sudah di perbolehkan Dafin untuk membawa mobil sendiri lagi hari ini. Karena hari masih sore, Navya memutuskan untuk berbelanja di supermarket komplek agar bisa cepat sampai di rumah.


Dengan mendorong troli, Navya berjalan di lorong etalase sabun dan sampo sambil mencari-cari merk yang biasa dia pakai, tanpa sengaja dia menabrak seseorang yang sedang berdiri di depannya.


"Upss... Maaf.. maaf Mas. Saya gak sengaja." Navya buru-buru menunduk sambil meminta maaf. Tapi pria itu malah tersenyum lucu melihat gadis dihadapannya.


"Gak masalah. Sudah biasa di tabrak sama kamu." Seketika Navya mengangkat kepalanya,. dan terkejut melihat seorang yang sangat dia kenal.


"Ya ampun... Pak Alvi... Maafin saya Pak."


"Kamu memang hobinya menabrak saya ya..!?" Canda Alvi namun dikatakan dengan mimik wajah serius.


"Ihh, Bapak. Mana saya tau kalau itu Bapak. Lagian saya gak sengaja. Maaf ya Pak."


"Ini sudah kesekian kalinya loh.."


"Iya sih, ya tapi kan saya udah minta maaf." Tiba-tiba Navya memperhatikan wajah Alvi secara intens, ada memar di dekat bibir nya yang masih terlihat walaupun sudah agak memudar.


Alvi heran karena Navya mendadak diam dan memandangi dirinya.


"Kenapa kamu melihati saya begitu?"


"Apa itu karena Mas Dafin kemarin ?" Tanyanya sambil menunjuk dengan tangan kearah bagian wajah yang memar.


"Oh, ini.." Alvi memegang ujung bibirnya yang masih memar. "Ini tidak apa-apa kok."


"Apa karena ini Bapak tidak masuk kantor beberapa hari ini?"


"Bukan.. Saya memang ada urusan."


"Gak mungkin. Mas Ryan bilang, Bapak tidak enak badan. Saya minta maaf ya Pak. Karena kecerobohan saya, waktu itu saya gak tau kalau laki-laki itu mau berbuat kurang ajar, saya pikir dia hanya mau bertanya sesuatu. Tapi ternyata hanya modus." Navya tertunduk menyesal. Keteledoran saat seseorang pria dengan lancang duduk di sebelahnya dan berpura-pura menanyakan sesuatu namun pada akhirnya dia menunjukkan gambar tidak senonoh dari ponselnya kepada Navya, dan selanjutnya pria itu berusaha untuk melakukan hal-hal yang kurang ajar padanya. Membuat keadaan orang-orang di sekitarnya menjadi buruk, Dafin yang salah paham dan Alvi yang menjadi korban salah sasaran kemarahan Dafin.


"Sudah, saya gak apa-apa kok. Kalau saya jadi Dafin juga pasti akan melakukan hal yang sama. Mana ada pria yang akan diam saja jika wanita yang dia cintai di sentuh oleh orang lain. Saya memaklumi itu."


"Tapi, bahkan kemarin saya belum berterima kasih sama Bapak. Mas Dafin malah memukul Bapak tanpa bertanya apa yang sebenarnya terjadi. Saya sangat menyesal."


Alvi tersenyum melihat Navya yang manyun, seperti anak kecil yang menyesal karena baru saja berbuat salah.


"Menggemaskan."


"Jadi kamu merasa bersalah sama saya?"


"Enggak, yang salah kan sama Bapak kan Mas Dafin."

__ADS_1


"Lantas?"


"Tapi kan semua gara-gara saya... "


"Ya terus ? Kan saya sudah bilang saya tidak apa-apa."


"Gimana kalau saya traktir Bapak makan malam. Sebagai tanda ucapan terimakasih dan sekaligus permintaan maaf dari saya dan Mas Dafin."


"Sama Dafin juga?" Basa-basi sebentar, karena dia akan sangat senang kalau bisa makan berdua dengan Navya. Selama tiga hari tidak melihat gadis ini, hidupnya terasa hambar.


"Ya enggaklah Pak. Kan sekarang Mas Dafin gak ada di sini.." Tepat sesuai keinginannya.


"Oke, tapi saya yang menentukan tempatnya ya."


"Eh itu, tapi jangan yang mahal-mahal ya Pak. Saya kan belom gajian."


"Saya bisa potong dari gaji kamu..." Ucapnya sambil meninggalkan Navya di belakang sambil tersenyum lebar.


"Loh, kok malah jadi gini sih."


Navya bingung sendiri. Tapi melihat Alvi yang sudah berjalan duluan dan meninggalkan dirinya, Navya segera menyusul setengah berlari.


Sebelumnya mereka menikah kasir untuk membayar dulu belanjaan yang ada di dalam teori masing-masing, dan Navya mengembalikan mobilnya ke rumahnya. Selanjutnya dia pergi bersama Alvi ke restoran pilihan Alvi.


"Kenapa Pak Alvi mau makan di sini sih? Ini kan restoran mahal." Navya menelan ludah saat Alvi membawanya ke sebuah restoran paling mewah di kota itu. Mereka pernah meeting di sana dengan klien dari luar negeri. Navya tau harga makanan di sana.


"Ayo turun !" Ajaknya sambil membuka safety belt- nya.


"I..iya Pak."


"Habis separuh gaji ku."


Pelayan mempersilahkan mereka untuk masuk, dan mengantarkan mereka ke meja di dekat taman dengan kolam ikan di tengahnya. Suasana di sana sangat nyaman dan menenangkan. Sesaat Navya terkesima dengan suasana di tempat mereka berada sekarang.


"Pak, saya gak tau kalau di restoran ini ada tempat seperti ini."


"Ya karena biasanya kalau kita meeting selalu memesan private room."


"Iya juga ya Pak."


"Jadi apa saya sudah boleh memesan?"


"Hmmm.. Iya Pak. Silahkan."


Alvi mulai memesan makanan yang dia inginkan, Navya malah mengikuti tulisan yang di baca Alvi. Sambil sesekali dia meringis melihat nominal harganya.

__ADS_1


"Kenapa makanan di sini gak ada yang biasa aja sih. Aku bingung mau pesan apa."


"Kamu mau saya yang pilihkan? Saya yakin kamu pasti suka. Steak di sini enak." Alvi tau Navya sedang bingung.


"He..he.. Iya boleh Pak. Saya juga bingung mau pesan apa."


Akhirnya Alvi memesankan makanan yang ia yakin Navya akan suka. Dan benar saja, Navya sangat menyukai menu tersebut. Dia memakannya dengan lahap, Alvi tersenyum lucu melihat Navya yang menghabiskan makanannya dengan antusias. Seakan dia lupa harus membayar mahal untuk semua itu.


"Kamu sudah selesai? Kita pulang sekarang, takut nanti Dafin salah paham lagi sama saya."


"Haha... gak lah Pak. Tadi juga saya sudah izin kok." Tapi ngomong-ngomong soal izin, dari tadi Navya mengirimkan pesan, namun belum ada balasan dari suaminya. Refleks Navya memeriksa ponselnya, karena dia tidak merasa ada bunyi balasan terdengar dari tadi sejak pertama dia mengirimkan pesan.


"Kenapa belum dibaca. Apa sesibuk itu sampai dia tidak bisa membalas pesan."


"Kenapa Vya?"


"Oh, ini saya dari tadi mengirim pesan ke Mas Dafin, tapi belum di baca."


"Apa dia marah?"


"Enggak sih, memang tadi dia bilang akan lembur dan pulang agak malam. Tapi biasanya masih bisa membalas pesan.


"Oh, mungkin dia sedang meeting penting."


"Iya juga ya Pak. Hmmm.. saya minta bill dulu ya Pak."


Tapi Alvi malah tersenyum sambil melihat Navya.


"Kenapa Bapak senyum-senyum begitu? Ada yang aneh di muka saya?"


"Iya ada."


"Masa sih Pak!?" Melihat wajahnya menggunakan layar Hp nya.


"Kamu cantik." Alvi beranjak dari kursinya setelah mengatakan itu. Dan aksinya membuat Navya terheran-heran. Mereka bahkan belum membayar, kenapa Alvi malah pergi begitu saja. Tapi dia langsung mengambil tas dan mengejar bos nya.


"Pak, kita belum bayar loh." Ujarnya saat sudah bisa mensejajari langkah Alvi. Lalu kelak itu berhenti yang membuat Navya juga refleks berhenti.


"Maafin saya, bukannya saya mau ngerjain kamu. Tapi saya sudah membayar duluan bahkan sebelum kita datang ke sini."


Navya semakin bingung, bukannya tadi dia yang menawarkan untuk mentraktir. Kenapa malah Alvi yang membayar.


"Kamu menemani saya makan saja itu sudah jadi hadiah buat saya. Saya senang sekali. Terimakasih ya."


Tatapan mereka bertemu beberapa detik sebelum akhirnya Alvi yang memutusnya dengan berjalan duluan ke arah parkiran mobil. Sementara Navya merasa ada yang aneh dengan cara Alvi menatap nya, ini pernah terjadi. Namun Navya selalu menganggap nya biasa. Dia hanya tidak mau ada kesalahpahaman di dalam keluarga mereka. Masih terpaku di tempatnya berdiri, sampai Alvi membunyikan klakson mobilnya yang membuat Navya tersadar dan kemudian setengah berlari menuju mobil Alvi.

__ADS_1


__ADS_2