Mencintaimu Karena Terbiasa

Mencintaimu Karena Terbiasa
Ungkapan Cinta AlviNa


__ADS_3

Acara berlangsung meriah dan hangat. Sambil mencicipi kuliner yang sudah tersedia, pada tamu menikmati hiburan yang tersedia. Beberapa teman Navya ketika bekerja di PT. Sinar Mega, tempat awal pertemuannya dengan Alvi. Mereka mengucapkan selamat pada Navya saat mereka mengetahui gadis itu akhirnya menjadi calon istri bos mereka.


Beberapa dari mereka merasa bangga, yang dulu pernah bergosip tentang Alvi dan Navya memiliki kedekatan khusus akhirnya terbukti.


"Benar kan apa kataku? Hubungan mereka lebih dari bos dan sekretaris."


Ada yang Bahkan tidak menyangka, Alvi memilih Navya yang seorang janda. Padahal masih banyak gadis yang rela mengantri untuk bisa dekat dengan dirinya.


Tidak sedikit para gadis yang mencibir Navya, baik itu karyawan wanita ataupun putri para konglomerat yang menjadi rekan bisnis Mehendra Group. Karena rasa iri mereka dengan takdir yang didapat gadis itu. Dulu dia pernah menikah dengan sepupu Alvi yang notabenenya adalah pewaris Wijaya Group. Tanpa mereka tahu entah sejak kapan hubungan itu kandas malah sekarang Navya resmi diumumkan sebagai calon istri Presdir Mahendra Group. Keberuntungan Navya malah menjadikan mereka menatap nya tidak suka, tapi tidak dapat berbuat apa-apa. Bahkan Alvi pun tidak pernah melirik mereka sama sekali.


Navya sedang duduk bersama teman-temannya sesama staf di kantor Alvi. Lalu pria itu datang untuk meminta Navya ikut dengannya.


"Ayo ikut saya."


Gadis itu mengangguk menyetujui ajakan Alvi lalu berpamitan pada teman-temannya.


"Kita mau kemana?"


"Saya akan menunjukkan sebuah tempat istimewa untuk kamu." Menggandeng tangan Navya, Alvi membawa gadis menuju sebuah taman di sisi lain resort. Di ujungnya tertulis sebuah kata "AlviNa Resort n Hotel" Dengan lampu yang menyala dan berukuran besar.


"AlviNa?"


"Hmmm..."


"Kenapa AlviNa?"


Alvi menarik nafasnya, menggeleng lalu tersenyum melihat kepolosan gadis yang sedang ia genggam tangannya. Dia membawa Navya duduk di sebuah gazebo kayu yang di sediakan di tempat itu.


"Kamu ini kenapa jadi lola begini ?" Mengusap kepala Navya dengan sayang. Hingga rambutnya sedikit berantakan. "Apa kamu tidak mendengar apa yang saya katakan dalam sambutan tadi?" Navya menggeleng.


"AlviNa itu singkatan dati Alvi Navya. Yaitu Saya dan kamu. Saya persembahkan resort ini untuk kamu, untuk kita.

__ADS_1


Wajah Navya bersemu. Alvi meraih tangan Navya dan menggenggamnya di dadanya. "Saya mencintai kamu Navya."


"Saya juga mencintai Mas Alvi." Mereka saling berpandangan di bawah langit malam yang di penuhi bintang-bintang dan cahaya bulan.


***


Acara selesai. Mereka sudah kembali ke kamar masing-masing. Dua hari kemudian akan dilakukan pertemuan keluarga. Untuk membicarakan lebih lanjut rencana pernikahan Navya dan Alvi.


Navya sekamar dengan Diana. Sampai detik itu dia masih belum percaya bahwa Elma adalah Diana, Eldiana tepatnya. Mereka tidak tidur, Navya merengek pada Diana agar dia menceritakan semua yang terjadi.


Kenyataan siapa Elma sebenarnya tidak membuat hubungan mereka jadi berubah, malah sikap mereka masih sama sebagaimana biasanya mereka berinteraksi.


Mereka berdua sudah membersihkan diri, berganti piyama dan duduk di kasur.


"Sekarang kakak ceritakan, siapa kakak sebenarnya?" Diana tertawa mendengar pertanyaan Navya, seakan-akan dia adalah detektif yang sudah ketahuan menyamar. Tapi gadis itu benar-benar penasaran. Bagaimana dua orang yang sama, bisa berpenampilan berbeda dan tanpa mengundang kecurigaan.


"Aku pernah bekerja di kantor Pak Alvi sebelum. Sebagai direktur keuangan. Tapi ketika dia memutuskan untuk kembali ke negara ini, aku juga memilih mengundurkan diri. Mengatakan aku ingin melanjutkan pekerjaan Desain ku. Beliau sangat mendukung itu, sampai dia membuatkan aku sebuah butik dan membantu pemasarannya."


"Menjaga kamu adalah tugas yang paling penting, karena kamu wanita berharga untuk Pak Alvi. Jadi aku tidak boleh menolaknya."


"Tapi aku sama sekali tidak menyangka kakak yang seorang desainer tapi jago sekali bela diri. Dan bisa berpenampilan berbeda dari aslinya."


"Hahaha... Sebagai wanita kita juga perlu membekali diri dengan hal-hal seperti itu. Ternyata ada gunanya juga, aku bisa menjaga kamu wanita kesayangannya Pak Alvi."


"Aku berfikir kakak adalah wanita pilihan nya, aku jadi malu sendiri sekarang."


"Kenapa malu, harusnya kamu senang. Sebentar lagi aku harus memanggil kamu dengan sebutan yang lebih sopan, Bu Navya atau Nyonya Mehendra."


"Hahaha... kedengarannya agak aneh. Aku gak suka."


"Tapi anda akan menjadi istri Bos saya, jadi saya harus bersikap sopan." Sudah mulai di praktekkan oleh Diana. Navya semakin tertawa, merasa aneh dan lucu dengan gaya bicara Diana.

__ADS_1


"Sudah.. sudah kak... perutku sakit." Diana memperhatikan Navya tidak yang sedang tertawa bahagia. Sepertinya ada kelegaan di wajah cerianya malam ini, selain karena obrolan mereka, kebahagiaannya pasti juga karena cintanya akhirnya menemukan jalannya.


"Kak...?"


Kali ini nada suaranya serius.


"Hmmm..."


"Menurut kakak, apa aku pantas bersanding dengan Mas Alvi?" Pertanyaan itu berhasil membuat Diana menoleh pada Navya.


"Kenapa masih berfikir begitu?"


"Dia terlalu baik kak. Sangat baik. Sementara aku, tidak ada yang istimewa dari diriku."


"Navya, apa besarnya cinta Pak Alvi belum bisa membuat kamu percaya kalau kamu itu istimewa untuk beliau." Kali ini Diana mengubah posisi duduknya, sepenuhnya menghadap Navya. "Coba kamu dengar kan kata hati kamu sendiri, apa kamu benar-benar mencintai Pak Alvi?"


"Iya kak, aku mencintai Mas Alvi. Aku yakin dengan hati ku."


"Itu sudah cukup buat dia, menurut ku. Kamu lihat sendiri apa yang dia lakukan hanya untuk membuat kamu bahagia dan merasa nyaman di dekatnya. Bukan agar kamu membalas cintanya. Itu artinya dia bukan terobsesi untuk memiliki kamu. Tapi dia memang benar-benar mencintai kamu."


Benar yang Diana katakan. Sejak dia tau Alvi mencintai dirinya, Navya juga menyadari kalau sikap Alvi selama ini padanya selalu membuat dirinya nyaman dan aman berada di dekat pria itu. Tidak sekali pun dia mencoba mengadu domba hubungan Navya dengan Dafin, padahal dia tau saat itu rumah tangga mereka tidak baik-baik saja.


Alvi bahkan selalu berusaha menguatkan dirinya, memberikan saran yang baik untuk hubungannya dengan Dafin. Padahal kalau dia mau, Alvi bisa saja menghasut Navya agar segera berpisah dengan Dafin. Atau memberitahukan hubungan Dafin dengan Hana. Alvi hanya selalu menjaga perasaannya, agar Navya tidak terluka.


Diana meraih tangan Navya, meyakinkan lagi hati gadis itu.


"Beliau hanya ingin kamu bahagia Navya, dan kali ini Pak Alvi sudah berhasil meyakinkan dirinya sendiri bahwa beliau bisa membuat kamu bahagia selamanya. Sekarang giliran kamu yang harus memberikan kepercayaan itu padanya."


"Kakak benar, aku tidak boleh mengecewakan dia lagi. Mas Alvi sudah melakukan banyak hal untuk ku. Aku harus memberikan kepercayaan padanya untuk bisa menjaga aku dan mencintaiku. Aku tidak mau kehilangan dia lagi."


Diana tersenyum mendengar ucapan Navya. Akhirnya gadis itu mendapatkan kepercayaan dirinya untuk bisa menjadi pendamping Alvi.

__ADS_1


__ADS_2