
" Selamat Pagi Pak."
Dua orang staf sekretaris di Lantai khusus ruangan Presdir berdiri menyambut kedatangan Alvi yang diikuti pengawal sekaligus supir pribadinya yang baru.
" Pagi." Jawabnya singkat. Lalu langsung masuk ke ruangan nya.
" Gila, Pak Alvi Cool banget sih. Aku deg-degan setiap ngomong sama beliau." Salah satu staf nya sedang menetralkan degub jantunya.
" Ck,, Kamu ini, ingat tuh cicin di jari." tukas teman kerjanya.
Dia malah cekikikan, " Kan aku g lagi selingkuh, cuma mengagumi Pak Alvi aja." masih ngeles.
" Udah ah, lanjut kerja, bos gunung es udah Dateng." Lalu mereka tertawa bersama, tiba-tiba panggilan intercom berdering, mereka seketika terdiam, " Iya Pak" langsung menjawab.
" Panggil bagian HRD ke ruangan saya sekarang"
" Baik Pak".
Lalu dia dan temannya saling pandang dan tertawa tanpa suara, sambil mengelus dada.
" Kirain dia tau kita lagi ngomongin dia".
" Makanya,, udah ah... yuk kerja dulu deh", sahut temannya.
***
Kepala HRD sudah berada di dalam ruangan Alvi, dengan membawa beberapa CV pelamar calon Sekretaris sekaligus asisten pribadi.
Alvi melihat semua CV, namun tak ada yang sesuai dengan keinginannya.
" Hanya ini?" bertanya tanpa melihat staf HRD tersebut.
" I..iya Pak." Gugup dia menjawab.
Alvi menarik nafasnya, tidak menemukan kriteria yang sesuai dengan keinginannya.
" Eeemh,, sebenarnya ada satu CV lagi Pak, " Ragu dia mengatakan.
Alvi mengalihkan pandangannya, demi menatap si kepala HRD. Menunggu dia melanjutkan.
Sebelum melanjutkan perkataannya, dia menyerahkan satu map lagi berisi CV seseorang. Alvi menerima map tersebut, " Tapi ini wanita Pak."
Alvi membuka map tersebut dan melihat profil si pelamar. Tak lama dia tersenyum tipis, namun langsung mengubah ekspresi wajah nya seperti biasa saat sadar masih ada orang lain di ruangan itu.
" Saya mau dia!" Sambil meletakkan map itu di atas meja.
" Ta,, tapi Pak, dia seorang wanita dan sepertinya dia belum berpengalaman."
" Itu urusan saya." ucapnya dingin. "Kamu hubungi dia, mulai besok dia sudah bisa bekerja." sambungnya sambil beranjak dari kursi nya.
__ADS_1
" Kamu boleh keluar."
" Baik, Permisi Pak."
Alvi berdiri dipinggir jendela kaca, memandang lurus pada langit cerah diluar sana. Senyumnya terbit saat mengingat akan bertemu lagi dengan wanita yang beberapa hari lalu ia jumpai di Makam kedua orangtuanya. Namun setelah itu ada yang dia sadari, hingga membuat senyum di bibirnya lenyap. Dia kembali ke kursi meja kerjanya, lalu mengusap wajahnya.
"Kenapa aku jadi memikirkan dia, pekerjaan ku masih banyak".
***
Navya mengendarai mobil nya keluar dari parkiran Gedung PT. Sinar Mega. Karena masih jam 9 pagi dia berencana akan mengunjungi Panti Asuhan tempat dia dan orangtuanya tinggal dulu, " Aku sudah lama tidak ke Panti, aku rindu pada mereka semua. Sebaiknya aku beli beberapa bahan makanan dan camilan untuk mereka."
Tiba-tiba ponselnya berdering, Navya menjawab menggunakan earphone. " Hallo...."
" Assalamualaikum sayang..."
" Waalaikumsalam mami...."
"Kamu dimana Nak ? Sudah jalan pulang?"
"Vya baru aja keluar dari kantor mi, baru selesai interview."
" Jadi gimana sayang, kamu diterima gak?"
" Masih dipertimbangkan sih mi, kalo diterima nanti Vya akan dihubungi lagi. O ya Mi, Vya boleh izin ke panti gak ? Vya kangen sama Bu Sarah dan semua nya mi"
"Oh gitu... Boleh kok sayang. Tapi jangan lama-lama ya. Mami tadinya mau ngajakin kamu belanja beli bahan makanan untuk bikin masakan kesukaan kak Dafin. Besok pagi pesawatnya mendarat. Kamu ingat kan Dafin besok pulang."
" Kalo gak ngerepotin kamu, boleh deh sayang."
" Mami apaan sih,,sama anak sendiri juga. Skalian Vya mau beli camilan buat semuanya yang ada di Panti. Ya udah mami duduk cantik aja di rumah ya, Ntar Vya beli semua yang mami minta."
" Iyaa deh... Hati-hati ya sayang mami, Salam buat Bu Sarah yaa."
" Siaaap Ibu Ratu ku... Assalamualaikum..."
" Waalaikumsalam... Dasar anak nakal..!" Kemudian panggilan itu terputus. Finny terkekeh dengan julukan anaknya padanya. Tapi dia bahagia Navya bisa tumbuh menjadi anak yang ceria.
***
Vya baru keluar dari mobilnya saat dia tidak sengaja melihat Dompet seseorang jatuh, dan orang tersebut tidak menyadari nya. Navya buru-buru menutup pintu mobil seraya menguncinya. Lalu dia mengambil dompet itu dan mengejar si pemilik. " Maaf, Permisi.." Panggilnya.
"Iya, Ada apa nak !?" Seorang wanita tua berbalik saat Navya memanggil nya.
"Maaf Nek, Saya menemukan dompet ini terjatuh dari tas nenek saat di parkiran tadi. Apa ini milik nenek ?" sambil menyerahkan nya pada si pemilik.
"Benarkah ? Tunggu sebentar. " Menoleh pada seorang wanita yang lebih muda di samping nya, " berikan tas ku!" Lalu wanita menyerahkan tas kepada si Nenek, dan mulai merogoh isinya mencari-cari sesuatu di dalam tas nya. "Benar, dompetku tidak ada di dalam tas." Dia mengambil dompet itu seraya berterimakasih kepada Navya.
"Kamu baik sekali Nak, sekali lagi terimakasih ya.." ucapnya pada Navya sambil menyentuh pipinya lembut. "Dia mirip sekali dengan Hafizah". Lama dia terdiam menatap Navya.
__ADS_1
" Maaf Nek, saya permisi dulu." Pamitnya dengan sopan
Navya berlalu dari hadapan si nenek yang masih menatap kepergiannya.
"Nyonya, ada apa ?" Tanya asisten rumah tangganya.
"Tidak apa-apa."
***
Sudah memasukkan barang-barang belanjaannya ke dalam mobil, Navya kemudian duduk di depan kemudi bersiap menyalakan kuda besinya. Ponselnya kembali berdering.
" Hallo..."
"Selamat siang, dengan mbak Navya Putri?"
" Iya Pak, ini Saya sendiri."
"Saya dari PT. Sinar Mega, Selamat Anda diterima bekerja sebagai sekretaris pribadi di PT. Sinar Mega. Dan Besok pagi anda sudah bisa mulai bekerja. Ingat jangan sampai terlambat ya."
" Oh iya, baik. Terimakasih banyak Pak atas informasinya." Navya senang sekali.
"Sama-sama mbak. Baiklah, selamat siang."
" Selamat siang."
" Eh, tapi bukannya Presedir nya menginginkan sekretaris pribadinya itu seorang pria, kenapa jadi aku yang terpilih.." Navya sedikit heran, " Tapi ya sudah lah. Pokoknya aku harus bekerja dengan baik." Dia menyemangati dirinya sendiri.
Dia mulai melajukan kendaraannya menuju ke Panti Asuhan Cinta Kasih. Bu Sarah dan Pak Yamin suaminya serta penghuni Panti lainnya menyambut Navya dengan bahagia. Bu Sarah dan suami nya dulu adalah yang bekerja membantu Hafizah dan Wisnu mengurus Panti. Sepeninggal orang tua Navya, mereka berdua lah yang di percayai oleh Damar dan Finny untuk sepenuhnya mengurus Panti asuhan tersebut.
Damar, Finny dan Navya selalu meluangkan waktu mereka untuk datang ke sana. Karena itu mereka sangat menyayangi Navya dan keluarga Damar.
" Bu Sarah, hari sudah sore. Navya pamit pulang ya." Ia undur diri.
" Iya Vya, hati-hati ya Nak.. Makasi Lo udah mampir. Lain kali ajak Bu Finny dan Pak Damar sama itu, siapa ya namanya?! Anak nya Bu Finny?"
"Oo Kak Dafin, kebetulan besok pagi kak Dafin sampai di sini Bu. Selama ini kan Kak Dafin di LN, kuliah sambil ngurus usaha papi yang di sana. Ntar kapan-kapan kami ke sini sama-sama."
Navya beranjak dari sana, dan menyalami suami istri itu. Anak-anak penghuni panti juga menyalami Navya.
" Hati-hati kak Vya..." Ucap mereka.
" kapan-kapan datang lagi ya kak!"
Navya tersenyum. " Okeee... Assalamualaikum."
" Waalaikumsalam....."
Navya melambaikan tangan sambil melajukan mobilnya keluar dari area Panti Asuhan.
__ADS_1
Bersambung