
Navya mengerjapkan matanya perlahan, sambil merasai lengan kekar yang melingkar memeluk tubuhnya dan satunya lagi ada di bawah kepalanya.
Netranya sudah terbuka sempurna, bibirnya tersenyum melihat sang suami yang tertidur dengan wajah tenang, wajah mereka hanya berjarak tiga ruas jari. Hembusan nafasnya teratur menandakan pria tampan itu masih terlelap. Tangan Navya terangkat menelusuri setiap lekuk siluet wajah itu. Jari-jarinya menari, mulai dari menyentuh dahi, alis, tulang hidung yang mancung. Dia tusuk-tusuk pipinya sambil sesekali tersenyum lucu, mengusap rahangnya yang tegas dengan punggung jari dan menyentuh bibir yang tadi malam begitu agresif memberikan kecupan bertubi-tubi di beberapa bagian tubuhnya, dan tidak jarang juga memberikan tanda merah di permukaan kulit Navya. Mengingat itu membuat Navya kembali tersipu dan wajahnya merona.
Tiba-tiba bola mata hitam itu terbuka, memandang lurus ke dalam mata Navya. Membuat perempuan itu terkejut dan gelagapan. Refleks ia ingin menggeser tubuhnya karena terkejut saat Alvi tiba-tiba terbangun dan menangkap basah sang istri yang sedang mengeksplor seluruh wajahnya. Namun secepat itu pula Alvi mengeratkan pelukannya, mengunci tubuh sang istri membuatnya tidak bisa bergerak menjauh.
"Ma...mas..." Ia masih gugup berdekatan dengan Alvi seperti ini, padahal malam tadi mereka lebih dari sekedar berdekatan.
"Hmmm...." bibir itu mengulum senyum melihat kegugupan istrinya.
"eehmm.. Kamu udah bangun ya."
"Menurut kamu?"
"He..he... maaf, aku gak bermaksud mengganggu tidur kamu." Navya mengalihkan pandangannya, karena Alvi masih memandangi dirinya dengan sangat intens.
"Ehhmm, itu bisa lepas dulu gak. Aku mau membersihkan diri."
"Kamu mau lari dari tanggungjawab?"
"Hmm?"
__ADS_1
"Kamu sudah membangunkan ku, diam-diam menyentuh wajahku, sekarang kamu mau pergi begitu saja."
"Tapi ini sudah pagi Mas, kamu juga harus ke kantor kan."
"Bagaimana ya, tapi gara-gara tadi ada tangan nakal yang diam-diam menyentuh wajahku, jadinya aku ingin dipeluk lagi, dicium lagi, dan lagi...... " sambil menarik pinggul Navya agar menempel dengan tubuhnya.
"iiiihh Mas, apa sih." Rajuknya sambil menggoyangkan tubuhnya mencoba melepaskan diri dari pelukan Alvi.
"Vy... Kamu mencoba menggoda aku lagi."
"Hah??" Tidak ambil pusing dengan ucapan Alvi, Navya masih merengek dan berusaha melepaskan diri dari dekapan suaminya. "Mas, ayo bangun. Nanti kita kesiangan."
Alvi benar-benar sudah tidak tahan lagi, gerakan Navya membuat hasratnya kembali bangkit. Tanpa sengaja paha Navya bersentuhan dengan sesuatu yang mengeras di bawah sana, dan gerakan tubuhnya berhenti seketika. Sementara Alvi memejamkan matanya merasakan gejolak dalam dirinya.
Seketika Alvi mengubah posisi dirinya, tubuhnya sudah ada di atas tubuh wanita itu. Dan selimut yang tadi menutup tubuh mereka tanpa sadar sudah entah kemana terbangnya.
Alvi mendekatkan wajahnya dengan wajah Navya, hingga nafasnya terasa menyentuh kulit wajahnya. "Kamu tidak berniat untuk bertanggung jawab sayang?"
Jantung Navya yang sejak tadi sudah berdebar, semakin kencang debarannya. Dia bukannya tidak mengerti maksud Alvi tapi Navya masih merasa malu. Sekelebat bayangan penyatuannya dengan Alvi malam tadi terproyeksi dalam ingatan. Semakin gugup dan malu, hingga pipinya kini semakin merah seperti kepiting rebus. Tanpa sadar dia menggigit bibirnya. Navya tidak tahu saja, Alvi yang melihat itu gemas dan semakin tidak tahan untuk langsung meraup bibir ranum itu.
Serangannya yang tiba-tiba membuat Navya tak bisa melakukan apapun selain pasrah dan menikmati ciuman itu. Meskipun agak kaku dia berusaha mengimbangi gerakan lembut bibir sang suami.
__ADS_1
Tidak tau apa yang terjadi pada dirinya, Alvi merasakan candu terhadap istrinya. Mencumbu Navya seakan membangkitkan semangat dalam dirinya. Setelah mereka melakukannya untuk pertama kalinya tadi malam, Alvi sebenarnya terpancing lagi untuk melakukannya saat Navya yang tertidur tidak sengaja menyibakkan selimut yang menutupi tubuhnya yang tanpa sehelai benangpun.
Tapi menyadari sang istri sangat kelelahan, sebab sentuhannya bahkan tidak membuat gadis itu terbangun, dia mengalah akhirnya. Tersenyum menertawakan dirinya sendiri, dia mengecup pucuk kepala Navya lalu memeluknya dan menarik selimut untuk menutupi tubuh mereka. Segila itu ia terhadap wanita yang ia sebut istri ini.
Dan pagi ini, tidak ada alasan bagi Navya untuk menghindar. Karena dia sendiri pun menginginkan sentuhan suaminya. Untuk keduakalinya mereka melakukannya, rasa perih masih dirasakan Navya. Tapi Alvi menggumamkan kata maaf sambil mengecup kening saat kedua matanya yang meloloskan beberapa tetes cairan bening ketika merasakan perih itu.
Ajakan Alvi yang hendak menggendong tubuhnya ke kamar mandi di tolak mentah-mentah oleh Navya. Tidak habis pikir, apa suaminya tidak punya rasa lelah ya.
"Kamu gak capek Mas?"
Alvi tertawa geli sambil mengusak rambut Navya. "Kamu mikirin apa sih. Aku cuma mau membantu kamu mandi. Pasti masih sakit kan? Biar aku gendong kamu ke kamar mandi agar kamu bisa berendam air hangat. Mungkin bisa sedikit mengurangi rasa sakitnya."
Oh, jelas wajah perempuan itu langsung memerah malu. Malu sekali dia, bisa-bisanya dia berfikir mesum begitu. Tapi mesum sama suami sendiri kan gak masalah. 😁✌️
"Oo..ooh..."
"Tapi kalau kamu mau, aku gak masalah." Mendekatkan bibirnya di telinga Navya, "Mungkin kita bisa mencobanya di bathtub." ucapnya jahil.
Wajahnya kini memanas mendengar ucapan Alvi dan bibirnya yang sengaja menyentuh daun telinga Navya. "Iihhh Massss...." Refleks dia memukul sang suami dengan bantal dan menarik selimut untuk menutupi seluruh tubuhnya. "Vya gak kuaaat...." Sontak hal itu mengundang tawa Alvi dan akhirnya Navya juga ikut tertawa di bawah selimutnya.
Dan pagi yang manis itu di tutup dengan mandi air hangat yang menyegarkan tubuh. Alvi memang mandi bersama sang istri, tapi dia tidak setega itu untuk melakukannya lagi. Dia hanya membantu Navya mandi dan menggosok punggungnya, ya walaupun akhirnya dia sendiri harus menghabiskan waktu sedikit lama di kamar mandi setelah Navya selesai. 🤭🤭
__ADS_1
Bersambung..
Udah dulu ya....