Mencintaimu Karena Terbiasa

Mencintaimu Karena Terbiasa
Sah!


__ADS_3

"Selamat pagi Om..."


"Pagi Al.. Ayo duduk."


"Terimakasih Om."


"Sini sayang duduk di sebelah Tante." Alvi lalu duduk di sebelah Finny. Alvi belum melihat Navya, gadis itu belum ada di sana saat dia masuk ke rumah itu.


Tiba-tiba terdengar kehebohan dari arah pintu kamar Dafin. Navya keluar dengan memegang ponsel yang menunjukkan wajah Dafin di layar. Dia bicara sambil berjalan menuju ke meja makan.


"Iya Mas. Ini ada Mami, Papi dan Pak Alvi. Udh ya, Vya mau sarapan terus berangkat. Mas juga mau meeting kan hari ini."


Semua penghuni meja makan menatap Navya yang masih bicara dengan Dafin. Lalu Navya mengarahkan kamera ke arah mereka satu persatu.


Finny mengambil alih ponsel dari tangan Navya.


"Dafin, heboh banget sih. Udah sana kamu pergi ketemu klien. Kita mau sarapan dulu."


"Mi, bilangin sama Navya jangan keluyuran kalo pulang kerja."


"Iya bawel..."


"Navya mana?"


"ini nih, dasar bucin." Ejek Finny sambil menyodorkan ponsel pada Navya lagi.


"Sayang, kamu dengar kan apa aku bilang tadi?"


Tiba-tiba pipi Navya memerah, panggilan mesra Dafin membuat Navya malu di depan mertuanya terutama ada Alvi di sana. Sementara itu, tanpa di sadari siapapun Alvi tersenyum sinis mendengar semua pembicaraan itu. Baginya semua itu palsu, cepat atau lambat Navya akan melihat kebenarannya.


"Iya.. iya Mas..."


"Ya sudah, aku tutup telponnya."


Navya akhirnya bisa bernafas lega, sejak pagi Dafin sudah menelepon dirinya. Jujur Navya memang senang dengan semua sikap itu. Tanpa berharap lebih untuk bisa mendengar kata cinta keluar dari mulut Dafin, Navya sudah bisa mensyukuri perubahan sikapnya.


"Dafin itu ya, sama kakak sepupu nya sendiri aja cemburu."


"Uhhhuuukkkkk.... uhhhhuuukkk....."


"Ya ampun Al, pelan-pelan dong makannya."


"Ini Pak minum dulu." Navya memberikan segelas air putih pada Alvi.


"Terimakasih."

__ADS_1


***


Hana berada di kamarnya bersama dua orang dari penata rias dan busana, dia sedang bersiap-siap. Dafin datang setelah selesai menelpon Navya tadi.


"Kamu darimana Fin?"


"Biasa sayang, Mami menelpon. Kamu cantik sekali." Memuji Hana yang sedang di tata rambutnya, wajahnya sudah di rias cantik dan gadis itu mengenakan gaun indah berwarna peach. Dia tersenyum senang mendengar kata pujian dari lelaki pujaannya itu.


"Kamu siap-siap dong, aku udah mau selesai nih."


"Hmmm... oke.. aku ganti pakaian dulu ya." Sembari mengusap pipi Hana dan meletakkan ponsel dan dompetnya di meja dekat Hana yang sedang di rias.


Selama ini Hana sangat percaya pada Dafin, karena tidak sekali pun Dafin pernah menyimpan rahasia apapun darinya. Termasuk rencana pernikahan dengan Navya yang dirancang oleh kedua orangtuanya. Tapi entah kenapa akhir-akhir ini Dafin sedikit berubah, menjauh saat menelepon seseorang, lebih sering melamun. Hal itu membuat Hana penasaran, dengan ragu dia membuka benda pipih yang ada di atas meja. Benar saja dugaan Hana, tidak ada panggilan masuk atau keluar atas nama Finny atau Damar, beberapa daftar panggilan terakhir hanya ada namanya dan Navya. Termasuk panggilan terakhir beberapa menit yang lalu. Bukan maminya Finny, tapi Navya.


Jarinya belum berhenti, dia membuka pesan pribadi dan mendapati beberapa pembicaraan singkat Dafin dengan Navya. Hana tersenyum kecut melihat itu. Sejak kapan Dafin seperti itu,


sejak kapan perhatian nya pada Navya jadi berlebihan begitu. Beberapa saat kemudian ada sebuah panggilan masuk dari benda pipih yang masih dia pegang, bertepatan dengan Dafin yang keluar dari ruang ganti.


"Sayang, Ega nelpon nih."


"Oh, iya..."


Dafin menerima panggilan Ega di depan Hana. Jelas saja, karena Ega yang menelpon, pembicaraan itu berisikan tentang pekerjaan.


"Sudah siap cantik?" Dia mengulurkan tangannya pada Hana untuk membantu Hana berdiri. Hana tersenyum menyambut uluran tangan itu, sambil berjanji pada dirinya sendiri bahwa dia tidak akan pernah melepaskan genggaman itu, sekalipun Dafin yang memintanya.


***


Menempuh waktu lima belas menit, akhirnya tiba di tempat mereka akan mengucapkan janji pernikahan. Meskipun tidak ada keluarga yang menyaksikan pernikahan itu, namun baik Hana maupun Dafin sudah sangat yakin untuk melaksanakannya. Dafin memang merasa bersalah pada Navya karena pernikahan ini, namun dia meyakini cinta nya pada Hana tidak pernah berubah. Atau dia sudah mencintai kedua wanita itu tanpa dia sadari.


Hana takjub dengan kejutan yang di buat oleh Dafin. Sebuah Vila di tepi pantai yang didekorasi dengan sangat indah menjadi tempat pernikahan mereka sekaligus tempat mereka akan berbulan madu. Hana sangat bahagia, apalagi saat mereka sudah di nyatakan "Sah" sebagai pasangan suami istri.


"Sayang.... " Hana berjalan mendekati Dafin yang sedang berdiri di balkon sambil memandang lautan biru di depan sana. Gadis itu memeluk nya dari belakang.


"Aku bahagia sekali... Walaupun sebenarnya bukan pernikahan diam-diam seperti ini yang aku harapkan. Aku sudah tidak memiliki siapapun di dunia ini, selain kamu. Setidaknya aku ingin menjadi seorang menantu yang di kasihi oleh kedua orang tua kamu. Semoga suatu saat mereka akan mengerti alasan kita melakukan ini, bahwa aku sangat mencintaimu dan kita saling mencintai."


Dafin berbalik, memandang wajah Hana lembut.


"Aku yakin, walaupun tidak dalam waktu dekat ini, suatu saat Mami dan Papi akan menerima kamu dan pernikahan kita."


Merapikan rambut Hana yang tertiup angin, menyelipkan nya di balik daun telinga.


"Kamu harus sabar lagi ya..." Kemudian Dafin mengecup lembut bibir Hana, mencoba meyakinkan bahwa Dafin juga sangat mencintai dirinya.


"Maafkan aku Navya."

__ADS_1


***


"Uhhukk uhhukkk"


"Kamu gak apa-apa? Ini minum dulu..."


Alvi memberikan segelas air putih pada Navya, tidak tau kenapa tiba-tiba dia bisa tersedak seperti itu. Padahal dia tidak sedang makan apapun.


"Terimakasih Pak."


Alvi malah tertawa.


"Emangnya apa yang lucu Pak?"


"Saya juga tidak tahu, tadi pagi kamu yang memberikan saya air minum saat saya tersedak, siang ini kenapa kita jadi bergantian?!"


"Ha...Ha..ha... benar juga ya Pak."


"Mungkin kita soulmate."


"Haah?"


"Ayo kita makan siang dulu."


"Eh tapi Pak, saya harus segera pulang."


"Kenapa? Kamu takut Dafin marah?"


"Bukan begitu Pak, tapi saya sudah janji kalau akan langsung pulang setelah meeting."


"Tapi saya lapar."


"Saya minta maaf ya Pak." Navya menampilkan wajah menyesal dan merasa bersalah, yang malah membuat Alvi menjadi gemas sendiri melihatnya.


Alvi menghela nafas, dia tidak bisa memaksa Navya. Terlebih dia memang selalu luluh terhadap gadis di depannya.


"Hhmmm... ya sudah... saya mau apa lagi. Ayo saya antar kamu pulang."


"Siapp Bos."


Alvi tersenyum sambil geleng-geleng kepala dengan cara Navya memanggil dirinya.


"Kenapa kamu menunjukkan wajah imut begitu padaku Navya, jangan salahkan aku jika aku semakin jatuh hati padamu."


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2