
Navya turun kembali, dia bergabung dengan Alvi serta kakek neneknya di meja makan. Menampilkan senyum, seakan tidak terjadi apapun dalam hatinya. Berpura-pura bahwa dia baru saja turun karena terlambat bangun tadi.
"Sepertinya kamu ingin membiasakan diri menjadi Tuan rumah. Sampai-sampai kami yang harus menunggu kamu untuk sarapan."
Kakek bicara tanpa melihat Navya yang masih berdiri di sebelah Rima. Gadis itu baru saja menyapa semua penghuni meja makan, belum duduk di kursinya.
"Maaf Kek."
"Mungkin Navya lelah, karena tadi malam dia mengerjakan tugas sampai larut." Alvian sedang memberikan pembelaan.
Navya masih tertunduk menerima apa yang kakek katakan. Kesalahpahaman itu membuktikan bahwa mereka memang tidak menyadari bahwa tadi Navya sudah turun. Bahkan mendengar apa yang mereka bicarakan.
"Sudahlah. Kita juga ga baru akan memulai sarapan. Sini sayang, duduk di sebelah nenek." Rima menepuk kursi kosong di sebelahnya. Di iyakan Navya, lalu dia menarik kursi dan duduk di samping Rima.
Alvi menatap gadis itu dalam diam. Navya tampak murung. Tapi masih berusaha menutupi suasana hatinya di depan Nenek. Alvi memperhatikan Navya sambil terus menyantap sarapan paginya.
Berpamitan pada kakek dan Nenek, Alvi lalu mengantarkan Navya kek kampus. Di perjalanan, gadis itu hanya diam saja. Menjawab atau tersenyum hanya jika Alvi menanyakan dan bicara sesuatu. Menanggapi sekenanya. Lalu dia akan diam lagi.
Sampai di parkiran kampus.
"Terimakasih Mas, sudah mangantar saya."
Alvi mengernyit. "Apa kamu harus sungkan begitu, sampai mengucapkan terimakasih."
"Maaf." Navya tersenyum, namun matanya tidak bisa menyembunyikan kesedihannya. Alvi memegang tangannya ketika Navya sudah akan membuka pintu mobil. Membuat gadis itu menoleh padanya.
"Apa yang kamu pikirkan?"
Navya tertegun. Bagaimana Alvi tau dia sedang memikirkan sesuatu.
Navya tersenyum lagi, menutupi kegundahan hatinya. "Saya, tidak ada."
"Navya, mata kamu tidak bisa membohongi saya." Navya terkekeh, Alvi begitu peka dengan perasaannya. Sejak dulu, saat dia belum menyadari bahwa Alvi menaruh hati padanya. Itu membuat hatinya hangat, lelaki yang masih memegang tangannya itu begitu peduli pada dirinya. Tapi sekali lagi, ucapan kakek tadi menyadarkan dirinya. Alvi berhak mendapatkan gadis yang lebih baik dari dia.
__ADS_1
"Terimakasih ya Mas, sudah peduli dengan saya. Tapi saya benar tidak apa-apa. Hanya lelah, tadi malam saya mengerjakan tugas yang harus di kumpulkan pagi ini."
"Kamu yakin?" Mengangguk meyakinkan Alvi. Perlahan melepaskan diri dari genggaman tangan pria itu. "Saya kuliah dulu." Kali ini dia meraih tangan Alvi, untuk menciumnya. Seperti istri yang sedang berpamitan pada suaminya. Membuat senyum lebar secerah mentari di wajah Alvi, sampai dia tidak menyadari Navya sudah turun dari mobilnya dan berjalan bersama Elma yang entah kapan sudah ada di sana.
Alvi melihat gadis itu sampai dia hilang di balik pintu utama gedung tinggi tempat Navya menempuh pendidikannya. Baru dia menghidupkan mesin mobil dan keluar dari area kampus menuju ke gedung pusat Mahendra Group yang di dirikan di kota itu.
Sebenarnya masih dua jam lagi kelas Navya akan dimulai. Dia hanya ada janji dengan Elma dan dua orang teman untuk mendiskusikan tugas kelompok dari dosennya. Mereka memilih taman belakang kampus untuk berdiskusi. Selain tidak begitu ramai, di sana ada beberapa tempat nyaman yang sering digunakan untuk belajar atau sekedar bersantai oleh mahasiswa setelah lelah mengikuti kuliah.
Bahkan Elma pun dapat melihat wajah tidak semangat Navya. Tidak ada ide-ide segar yang biasa ia tuangkan dalam diskusi mereka. Akhirnya Elma menyudahi saja diskusi mereka, karena Navya terlihat murung dan lebih banyak diam.
"Minumlah." Elma menyodorkan segelas es coklat di depan Navya. Coklat biasanya akan membuat suasana hati sedikit lebih nyaman.
"Terimakasih kak." Meraih gelas dari tangan Elma. Gadis itu duduk di depan Navya.
"Apa ada masalah?" Navya menoleh pada Elma. "Bukannya ingin ikut campur, tapi kamu bisa mempercayai aku jika ada yang membebani pikiran kamu."
Navya menghela nafasnya. Benar, mungkin dengan bicara pada seseorang dia bisa membuat lega hatinya. Lagipula Elma, walaupun baru sebulan ini mengenal nya, dia adalah gadis yang baik. Dia bahkan hanya memiliki Navya sebagai teman akrab. Dia selalu bersama Navya kemanapun dan selalu bersedia direpotkan saat Navya meminta bantuannya.
"Kakak tau Alvian Zander Mahendra atau Sultan Mahendra?"
Dia lalu merubah ekspresi wajahnya, menyadari Navya masih murung dan tidak menanggapi ocehannya. "Kenapa dengan mereka?" Elma kembali ke Navya.
"Rumah tempat aku tinggal adalah milik mereka." Elma terkejut, itu artinya tempat yang selama sebulan ini ia tinggali juga kan.
"Jadi orang yang selama ini mengirimkan kamu bunga setiap pagi adalah....." Navya menjawab dengan anggukan.
"Mas Alvi menyukai aku kak. Alvian Mahendra. Pewaris keluarga Mahendra itu."
Elma terlihat takjub dengan pengakuan Navya. "Lalu apa masalah nya? Itu artinya kamu akan menjadi Nyonya keluarga Mahendra kalau kamu menerimanya." Elma menggoda Navya.
"Tidak sesederhana itu kak. Keluarga Mahendra memiliki satu cucu laki-laki lagi, anak dari putri mereka. Sepupu Mas Alvi." Elma semakin bingung saja, apa hubungannya dengan sepupunya.
"Aku adalah mantan istri sepupu nya kak."
__ADS_1
***
Bergulir lah cerita masa lalu Navya. Dari pertemuan nya dengan Alvi, hubungan antara dia dan Dafin. Sampai apa yang ia dengar pagi tadi dari pembicaraan kakek nenek dan cucu kesayangan mereka.
Elma turut prihatin dengan cerita Navya. Selam sebulan ini Navya hanya mengatakan dia banyak di bantu oleh Alvi. Tanpa menjelaskan detail hubungan mereka. Jadi hanya berfikir Alvi adalah kekasih Navya.
"Kamu tidak akan tau sebelum mencoba. Tidak ada salahnya jika kamu memberikan kesempatan pada hati kamu sendiri untuk menerimanya."
"Awalnya aku sudah memantapkan hati kak. Setelah kebersamaan kami kemarin aku memutuskan untuk membuka hati walaupun dia selalu mengatakan tidak ingin aku menerimanya hanya karena kebaikannya. Tapi aku pikir tidak ada salahnya, seiring waktu aku mungkin akan bisa mencintai dia. Dan setelah masa kuliah ku selesai, kami bisa lebih serius menjalani hubungan.
Tapi ucapan Kakek ada benarnya, aku begitu percaya diri, menganggap tinggi diriku sendiri. Sampai-sampai aku berniat merentangkan waktu agar dia menunggu aku selesai kuliah, baru menanggapi serius perasaannya. Aku lupa statusku, siapa aku, bahkan jika aku menyambut uluran tangannya lebih awal, dia akan kesulitan dengan gunjingan orang."
Memang siapa yang berani menggunjing Presdir Mahendra Group. Batin Elma.
"Tapi dia tidak pernah kan memperdulikan status kamu. Jika itu menjadi pertimbangan, harusnya ada banyak gadis yang lebih tinggi status sosialnya dari pada kamu. Bahkan dia selalu ada untuk kamu walaupun kamu janda dari adik sepupunya."
"Aku tau kak, mungkin dia akan tidak peduli dengan omongan orang-orang. Tapi aku, aku tidak begitu saja mengabaikan. Aku di sampingnya akan membuat hidupnya tidak nyaman."
"Jadi bagaimana, apa yang akan kamu lakukan sekarang?"
"Aku ingin menjauh kak."
"Tapi dia datang ke sini untuk dekat dengan kamu."
"Aku tau kak, aku akan berusaha menjauh. Mengurangi intensitas pertemuan kami."
"Dia juga sibuk bekerja, aku juga akan menyibukkan diri dengan kegiatan perkuliahan."
"Navya, bukannya itu akan melukai hati nya? Dia sudah melakukan apapun untuk kebahagiaan kamu."
"Tapi aku lakukan ini untuk kebaikan Mas Alvi kak. Untuk kebahagiaannya dan keluarganya. Aku tidak pantas mendapatkan semua perhatian dan cintanya."
"Kamu mencintai nya?"
__ADS_1
Navya tertegun. Entah, itu yang dia masih bimbang juga dengan hatinya. Dia bahagia saat Alvi ada di dekatnya. Alvi memberikan perhatiannya. Akan merasa ada yang kurang saat pria itu terlambat memberi kabar atau jika Alvi tidak sempat menghubungi dirinya lewat panggilan video. Karena sama halnya seperti yang Alvi rasakan, akhir-akhir ini wajah lelaki itu akan menjadi obat lelah bagi Navya. Setelah melihat Alvi, dia akan bisa tidur nyenyak. Dia sudah terbiasa dengan Alvi dan perhatian nya.