Mencintaimu Karena Terbiasa

Mencintaimu Karena Terbiasa
Cemburu


__ADS_3

Alvi memperhatikan akhir-akhir ini Navya terlihat ceria. Dia bukannya tak tau kenapa Navya seperti itu, hanya saja itu membuatnya merasa sakit. Jelas Navya sedang merangkai harapan semu, karena Dafin tidak benar-benar sedang mencoba untuk menerima hubungan mereka.


Seperti saat ini, Navya sedang ada di ruangan nya untuk membacakan agenda Alvi hari ini. Wajah itu berseri, Alvi suka melihatnya tapi Alvi benci dengan apa yang menyebabkan senyum di wajah itu.


"Itu saja agenda Bapak untuk hari ini."


"Kamu kelihatan bahagia sekali?"


"Hah?"


"Wajah kamu, sepertinya kamu sedang senang."


Lanjutnya tanpa mengalihkan pandangannya dari dokumen di atas meja kerjanya.


Navya lantas meraba pipinya, apa benar begitu terlihat suasana hatinya. Navya mengakui dalam hati ia memang sedang merasa senang, pasalnya hubungannya dengan sang suami sedikit lebih baik sekarang.


"Saya senang, hubungan kamu dengan Dafin berjalan baik." Seakan tau isi hati Navya, kali ini dia menatap gadis yang berdiri di hadapannya sambil tersenyum.


Navya terdiam, bingung harus menjawab apa. Apa maksudnya Alvi tau kalau selama ini dia dan Dafin pura-pura menjadi pasangan yang bahagia.


"Jangan terkejut, saya ini masih bagian dari keluarga kalian. Wajar kalau saya tau bahwa sebenarnya kalian itu dijodohkan. Tante Saya yang mengatakan itu."


"Dan mertua kamu bilang, dia sangat bahagia. Melihat kalian lebih cocok menjadi pasangan suami-istri daripada menjadi kakak dan adik yang dulu tidak pernah akur."


"Mungkin kebersamaan bisa membuat dua orang yang dulunya jauh menjadi dekat, karena terbiasa dengan keberadaan satu sama lain." Hanya itu yang bisa Navya katakan, dia tidak mau Alvi mengorek lebih jauh bagaimana hubungannya dengan Dafin selama ini. Navya merasa sedikit tidak nyaman, seolah Alvi tau sandiwara mereka.


"Saya permisi Pak." Navya pamit keluar dari ruangan Alvi, dan hanya dibalas anggukan oleh Bosnya.


Alvi mengusap wajahnya kasar. Dia lelah sebenarnya, lelah menyembunyikan kebenaran dari Navya. Dia hanya ingin gadis itu bahagia, bukan terjebak dalam kebohongan Dafin. Seolah Dafin sudah menemukan cara untuk balas dendam padanya. Alvi ingin mengatakan bahwa kepergian Dafin dan Hana bukan hanya urusan pekerjaan, tapi ada hal lain yang akan mereka lakukan.


Ryan


Pak Dafin memesan tiket perjalanan untuknya dan gadis itu Pak. Selain itu mereka juga melakukan reservasi di sebuah resort untuk pernikahan.


Alvi


Menikah?


Ryan


Benar Pak. Dari laporan orang utusan saya, Pak Dafin dan kekasihnya akan menikah di kota itu, tanpa diketahui siapapun.


Apa tindakan yang Bapak ingin kami lakukan?


Alvi


Biarkan saja.


Ryan


Baik Pak.

__ADS_1


Di satu sisi dia tidak ingin Navya terluka, dia ingin memberitahu semuanya sekarang. Namun dia juga egois, membiarkan Navya terluka karena rencana balas dendam Dafin akan menjadi jalan baginya untuk memasuki hati Navya.


Maafkan Saya Navya.


***


"Kak, aku akan menjemput Navya lebih awal."


Sejak mengetahui Alvi adalah kakak sepupu nya, Dafin mulai membiasakan dirinya untuk memanggil Alvi dengan sebutan kakak.


"Apa terjadi sesuatu?"


"Tidak ada, hanya saja kami perlu berkemas. Dia akan tinggal bersama Mami untuk beberapa hari karena aku ada pekerjaan di luar kota."


"Baiklah..."


"Terimakasih.."


Alvi menutup sambungan telepon dari adik sepupunya itu. Lalu memanggil Navya ke ruangan nya.


"Ada apa Pak?" Tanya Navya setelah ia menutup pintu.


"Dafin sudah meminta izin pada saya agar kamu bisa pulang cepat hari ini. Kamu boleh siap-siap sekarang." Lagi-lagi bicara tanpa melihat orangnya.


"Terimakasih Pak. Saya permisi."


"Hmmm..."


***


"Kamu keluar sekarang, jangan buat aku nunggu kamu..."


"Iya Mas... Vya turun sekarang."


Navya berniat akan berpamitan dengan Alvi, namun Bos nya ternyata tidak ada di ruangan. Lalu Navya bertanya pada temannya.


"Pak Alvi baru aja keluar, waktu kamu lagi ke toilet tadi." Temannya memberitahu.


Navya memutuskan mengirimkan pesan saja Alvi, namun lagi-lagi panggilan masuk dari Dafin.


"Kamu lama banget sih, aku sudah sampai."


"Iya..iyaa.. Mas.. Vya turun sekarang."


Navya berjalan dengan terburu-buru. Begitu keluar dari lift menuju pintu lobi utama dia sedikit berlari, begitu juga saat menuruni anak tangga Navya tidak dapat menjaga keseimbangannya dan membuat heelsnya patah. Tubuhnya hampir saja terjatuh jika saja tidak ada sepasang tangan yang dengan sigap menangkapnya.


"Kamu tidak apa-apa?"


Karena terkejut, Navya sampai tidak bisa bicara apapun. Dia hanya menatap Alvi. Dan posisi mereka saat ini menjadi pusat perhatian beberapa orang yang ada di sana. Beruntung saat itu belum jam pulang kantor, jadi tidak begitu banyak karyawan yang berlalu lalang.


Menyadari tatapan orang-orang, Alvi berusaha menyadarkan Navya dengan membantunya berdiri. Navya refleks menggerakkan tubuhnya untuk berdiri tegak.

__ADS_1


"Awww!"


Dia merasakan nyeri di kakinya. Ternyata heelsnya yang patah tadi menyebabkan kakinya terkilir.


"Kaki kamu sakit?"


"Iya Pak, sedikit."


"Kamu kenapa terburu-buru begitu. Kan bisa lebih hati-hati sedikit."


"Iya Pak, saya.... " Ucapannya terhenti karena ponselnya berdering. "Maaf Pak."


"Ya Mas Dafin, sebentar Vya ke sana." Dan panggilan itu diputuskan begitu saja.


"Dimana Dafin?" Sambil mengarahkan pandangannya menelusuri area parkir mencari kebenaran mobil Dafin.


"Ada di seberang jalan Pak, Saya duluan ya Pak." Tapi saat melangkahkan kakinya lagi-lagi Navya merasakan nyeri.


"Sepertinya kaki kamu terkilir, sepatu kamu juga rusak. Ayo saya bantu kamu berjalan."


"Tidak usah Pak, saya bisa tahan kok." Navya menolak, dia mengira Alvi akan menggendongnya.


"Gak mungkin, kaki kamu terkilir. Saya akan memapah kamu sampai di mobil Dafin."


Kali ini Alvi tidak memperdulikan pandangan para karyawannya di sana ataupun penolakan Nabya, dia dengan sigap membantu Navya berjalan menuju ke seberang jalan. Dafin yang ternyata sudah menunggu Navya di sana, tampak terkejut melihat Alvi sedang memapah istrinya.


"Apa-apaan mereka?"


Entah kenapa dia merasa tidak senang dengan pemandangan di depannya. Akhirnya dia turun dari mobil dan menghampiri dua orang yang dia kenal itu saat mereka masih berada di pertengahan jalan.


Dafin memandang Alvi tidak senang. Melihat sekilas tangan yang tengah merangkul gadis di sebelahnya.


"Kenapa?"


Bertanya saat dia sudah ada di depan mereka.


"Kaki Navya terkilir, saya membantunya berjalan."


Pandangan Dafin bergerak menuju ke kaki Navya dan mendapati heel di sepatu kanannya patah.


"Biar aku saja."


Dia melepaskan tangan Alvi dari bahu Navya dan langsung menggendong istrinya.


Ciee istri..! 🤭


"Mas Dafin, Vya bisa jalan aja kok."


"Berisik!" Tanpa permisi Dafin meninggalkan Alvi sambil menggendong Navya menuju ke mobil nya. Alvi hanya tersenyum tipis melihat kepergian suami istri itu.


Bersambung..

__ADS_1


__ADS_2