Mencintaimu Karena Terbiasa

Mencintaimu Karena Terbiasa
Kejutan


__ADS_3

Navya sudah ada di dalam kamarnya. Memandangi dua buah koper yang ada di samping ranjangnya. Satu sudah penuh, sementara yang satunya masih terisi beberapa potong pakaian nya.


Navya tersenyum. menghibur dirinya. Kemungkinan Finny benar-benar tidak akan mengizinkan dia pergi. Jadi mulai sekarang dan selamanya dia harus mengubur dalam cita-citanya lagi. Lebih dalam hingga dia tidak perlu menggalinya lagi. Dia mengambil apa yang sudah ia susun ke dalam koper. Mengembalikan lagi ke lemari.


"Navya!" Sebuah ketukan bernada panik terdengar dari pintu kamarnya. Segera dia berlari dan membuka pulang kamarnya.


"Ada apa Kak?" Hana terlihat panik berdiri di depan pintu kamarnya. "Dafin dan Alvi bertengkar di luar, Mami jadi shock dan pingsan."


Navya terkejut. Dia langsung berlari menuju ke tempat dimana tadi mereka sedang bicara. Terdengar keributan antara Dafin dan Alvi, Papi mencoba melerai keduanya sementara Finny sudah berbaring di sofa beralaskan paha Damar.


"Mami... " Gumamnya. Secepatnya dia menghampiri Finny dan memeluknya.


"Mi, bangun Mi. Maafkan Vya." Dibelakang nya kedua pria itu masih adu mulut.


"Berhenti semuanya!!"


Mereka membeku saat mendengar teriakan Navya. Dia sudah berlinang air mata, karena merasa bersalah. Hanya karena keinginan nya pergi ke luar negeri, keluarga nya jadi bertengkar seperti ini.


"Tolong Mas Alvi dan Mas Dafin berhenti." Ucapnya sambil terisak. "Vya sudah memutuskan gak akan pergi." .


Dia menatap Alvi dengan rasa bersalah. "Maafkan Saya ya Mas, maaf saya harus membatalkan semuanya."


"Mas Dafin tolong berhenti, kasihan Mami." sudah berair kedua netra hitam miliknya. Navya tidak terfikir lagi kenapa Dafin dan Alvi malah jadi bertengkar begitu. Padahal tadi mereka kompak ingin membujuk Maminya.


Navya hanya fokus pada keadaan Finny yang saat ini sedang tidak sadarkan diri.


Sambil menangis dia memeluk Finny. Navya teringat saat dulu di sekolah dasar dia meminta izin ingin ikut darma wisata sekolah tanpa di dampingi. Karena beberapa kali teman-temannya mengejeknya anak manja. Malah membuat dirinya tidak jadi ikut sama sekali, karena kesehatan Finny drop. Malam sebelumnya Navya merajuk dan tidak mau makan sebab wanita itu tentu saja menolak permintaan Navya. Finny jadi kepikiran sendiri, merasa bersalah pada Navya tapi tetap tidak mau memberi izin. Jadilah dia stress dan membuat nya di rawat


"Mi, kalau Mami gak mau Vya pergi. Vya akan tetap di sini buat Mami. Jangan sakit Mi, tolong. Maafkan kalau permintaan Navya membuat Mami sakit lagi.


Alvi sebenarnya tidak tega mengerjainya. Navya sampai menangis begitu. Air mata Navya adalah salah satu hal yang ia benci.


Perlahan Finny bangun dan duduk. Tapi Navya masih menangis.


"Sayang...." Mengusap kepala Navya.


"Kamu janji kan tidak akan meninggalkan Mami?" Navya mengangguk sambil masih menangis.


"Kamu janji tidak akan pergi dari hidup Mami." Mengangguk lagi. Semua yang ada di sana mengulum senyum.


"Kamu janji yaa, akan menjaga diri kamu di sana. Jangan pernah melupakan apa yang sering Mami nasehat kan kepada kamu." Mengangguk lagi sambil terisak.


"Janji ya Kamu harus cepat kembali, kalau kuliah kamu sudah selesai." Seketika kepalanya terangkat, menatap wanita yang sedang duduk di depan nya.


Finny tersenyum. Menunjukkan paspor Navya yang ia pegang. "Mami?"

__ADS_1


Kali ini Finny yang mengangguk yakin.


"Pergilah Nak. Mami akan mendoakan kamu agar kamu berhasil dan selalu bahagia."


Navya melihat ke sekelilingnya, mereka semua tersenyum. Merasa sedang di kerjai oleh mereka. Termasuk Damar yang ada di sebelah Maminya.


Seketika dia langsung memeluk Finny. Tetap saja dia masih menangis, malah semakin kuat.


Finny tertawa. "Kenapa tangisnya jari semakin kuat begini sih?"


"Vya takut Mi. Takut Mami kenapa-kenapa lagi gara-gara Navya. Jangan mengerjai Vya dengan cara seperti ini lagi, Vya takut."


"Sudah-sudah... Mami tidak apa-apa. Kamu gak pernah bikin Mami sakit kok. Memang keadaan mami yang lemah."


"Jadi Vya boleh pergi?" Katanya sambil mengurangi pelukan mereka.


"Iya boleh. Tapi dengan satu syarat."


"Apa syaratnya?" Mengusap jejak air mata di pipinya.


"Harus cepat kembali."


Navya tersenyum. Lalu mendekatkan wajahnya ke telinga Finny dan berbisik. Membuat semua orang penasaran dengan apa yang sebenarnya Navya katakan pada Ibunya.


"Vya ingin memberikan waktu lebih baik untuk Mami dan kak Hana. Biar kalian semakin akrab."


"Terimakasih Sayang. Kamu memang paling pengertian pada siapapun."


"Kak, titip Mami ya... Tenang saja, Beberapa bulan ini kak Hana aman kok berkat keponakan Vya yang ada di perut kakak." Hana bingung apa yang dimaksud oleh Navya. "Kakak akan selamat dari ajakan shopping berjam-jam ala Mami."


Mereka tertawa. Mengingat kebiasaan Finny bisa menghabiskan setengah hari hanya untuk berbelanja.


"Dasar kamu ya.." Lalu mereka berpelukan lagi, menyalurkan kasih sayang yang sangat dalam.


***


Beberapa hari kemudian tiba jadwal keberangkatan Navya sesuai yang tertera di tiket pesawatnya.


Navya hanya di antar oleh Alvi, dia tidak mau terlalu banyak orang. Karena dia tidak akan bisa menahan tangisnya nanti.


"Saya akan mengunjungi kamu dua bulan lagi."


"Jangan repot-repot, saya tau Mas Alvi sangat sibuk. Datang saja saat pekerjaan Mas sudah rampung."


"Sebenarnya saya ingin ikut kamu, mengantarkan kamu dan memastikan kamu sampai di sana dengan selamat. Tapi kamu tau kan proyek hotel kita itu, tinggal tiga puluh persen lagi pembangunannya dan saya harus segera menyelesaikannya.

__ADS_1


Navya mengangguk paham. "Kak Bima sudah sangat bising, tidak sabar ingin kembali ke negaranya."


Sekarang dia tersenyum. Alvi berbeda sekali hari ini. Dia agak uring-uringan, terlihat dari cara dia bicara di telepon dengan Bima dan Ryan tadi. Kesal ketika kendaraan yang menyalip mobilnya tadi saat mereka dalam perjalanan ke Bandara.


Mantan bos nya itu tidak biasa nya gampang kesal pada orang lain, setidaknya saat dia bersama Navya.


"Mas baik-baik saja kan?"


"Tidak." Tapi Alvi kikuk dengan jawabannya sendiri.


" Eehm maksud saya, saya tidak apa-apa."


Dia sudah berjanji tidak akan mengungkit apapun tentang perasaanya, untuk membuat Navya nyaman di dekatnya. Apalagi untuk mengatakan bahwa dia tidak rela jauh dari Navya. Tapi mulai beberapa jam lagi dia akan berpisah jauh dari Navya. Itu lah yang membuat mood nya jadi buruk sejak malam tadi.


"Kenapa kamu tidak mau naik pesawat pribadi saya saja."


Navya hanya tersenyum dan tidak menjawab, tapi Alvi tau maksudnya.


"Oke. Saya paham."


"Kalau ada apa-apa kamu hubungi saya ya."


Gadis itu mengangguk. Dia tersenyum lucu melihat tingkah Alvi hari ini. Teringat saat dia bilang Navya tidak usah memperdulikan perasaannya. Semua perhatian yang Alvi berikan padanya sudah jelas sekali itu wujud dari ungkapan perasaannya. Dulu mungkin Navya tidak peka. Tapi sekarang semua begitu jelas.


Pasti bukan kebetulan mereka sering tidak sengaja bertemu di sebuah tempat. Alvi yang selalu datang di saat Navya dalam keadaan genting, pasti itu hanya akal-akalan lelaki itu saja yang mengatakan dia kebetulan ada di sana. Sekarang Navya baru menyadarinya, banyak sekali kebetulan-kebetulan yang Alvi ciptakan di antara mereka.


Sampai saat ini, dia selalu ingin menjadi orang yang paling di repotkan perihal Navya. Bagaimana mungkin Navya bersikap masa bodoh dengan perasaan laki-laki itu.


"Sepertinya saya sudah harus masuk Pak." Alvi melihat jarum jam di tangannya. Dia menghela nafasnya berat. Tinggal beberapa saat lagi. Seandainya dia diperbolehkan memeluk gadis di depannya ini, Alvi ingin sekali memeluk nya lama, sambil mengatakan dia akan selalu merindukannya.


"Ingat, kamu harus jaga diri kamu dan Fokus pada kuliah kamu."


"Kalau ada apa-apa langsung hubungi orang-orang yang ada di rumah."


"Siapa Bos...!" Navya memberikan sikap hormat pada Alvi.


"Saya serius Navya."


"Iya saya juga serius kok. Terimakasih untuk semuanya ya Mas. Maaf kalau saya selalu merepotkan."


"Ya sudah kamu masuk. Sebentar lagi jadwal keberangkatan kamu." Sambil melihat layar yang menampilkan beberapa jadwal keberangkatan pagi itu.


Sesuatu dilakukan Navya yang membuat Alvi terpaku, saat gadis itu tiba-tiba memeluk dirinya. "Terimakasih banyak." Alvi yang masih tidak percaya dengan kejutan yang diberikan Navya tidak menyadari kalau gadis itu sudah melepaskan pelukannya dan berjalan menjauh melewati pintu pemeriksaan. Dia kemudian berbalik dan mendapati Navya menghadap kepadanya, tersenyum sambil melambaikan tangan.


Hahh... Navya tidak tau saja, apa yang baru saja dia lakukan sudah membuat lelaki itu semakin memupuk rindu, bahkan saat Navya belum hilang dari pandangan matanya Alvi sudah merindukan gadis itu. Tapi hanya bisa tersenyum melepaskan kepergian gadis yang ia cintai. Berharap ketika mereka bertemu kembali, Navya sudah bisa membuka hatinya.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2