
Dafin benar-benar menepati kata-katanya. Dia memesan tiket pulang lebih cepat sehari dari rencana awal dan mengambil penerbangan pagi. Semua bukan hanya demi menjaga hati Hana, tapi memang Dafin tidak betah berlama-lama di sana sementara urusan pekerjaan nya sudah selesai.
"Saya antar kamu pulang, sekalian saya akan langsung ke kantor." Berbicara pada Hana saat mereka sudah tiba di Bandara. "Navya nanti di jemput supir."
"Baik Pak."
Navya hanya diam menuruti perkataan Dafin, bertanya pun tidak ada gunanya. Hanya saja kenapa di depan Hana, Dafin selalu bersikap apa adanya, seakan Hana tau pernikahan seperti apa yang mereka jalani.
"Tapi Mas, kalau mami tanya..."
"Aku akan hubungi mami nanti, Oh ya setelah sampai d rumah langsung kemas barang-barang milik mu. Kita akan pindah ke rumah baru hari ini juga."
Navya terkejut, secepat ini mereka akan pindah. Bukannya mereka baru saja kembali dari luar kota, dan apa yang akan di pikirkan keluarga nya nanti. Terkesan sangat terburu-buru.
Seolah paham apa yang Navya pikirkan, Dafin mengatakan dia sudah memberi tau orang rumah mengenai keputusan yang sudah dia ambil. Apa yang bisa Navya lakukan jika memang Dafin sudah bicara seperti itu.
"Aku dan Hana akan pergi sekarang, kamu tunggu saja supir di sini. Ingat langsung kemas barang-barang dan pakaian, sore nanti Ega akan menjemput mu."
"Iya Mas." Navya menatap punggung yang berjalan menjauh meninggalkan dirinya yang sendiri di sana. Tubuh itu terlihat sangat bebas berada samping Hana, mereka seperti sedang terlibat obrolan santai sambil berjalan menuju area parkir. Dan satu pemandangan yang tertangkap mata Navya saat mereka melangkah berdua. Hana hanya membawa sebuah tas selempang di bahunya, sementara suaminya mengambil alih koper milik Hana. Jelas sikap itu bukan khas seorang Dafin, yang tidak perduli pada orang lain kecuali kedua orangtuanya. Jika orang itu bukan seseorang yang spesial untuknya, sangat tidak mungkin dia akan melakukan itu.
"Mbak Navya !?"
Panggilan supir membuyarkan lamunan Navya tentang hubungan Dafin dan Hana. "Mari saya bawakan barang-barangnya."
"Eh,, iya Pak." Navya berjalan diikuti oleh supir sang Mami yang menjemput nya.
***
"Sayaaaang... kamu udah sampai!?" Suara heboh itu tak lain berasal dari Finny. Menyambut sang menantu dengan pelukan sayang. Kemudian dia menarik tangan Navya untuk menuju sofa tempat dimana dia duduk tadi. "Gimana-gimana ? Seneng gak di sana ? Kok udah pulang sih, mami pikir dua hari lagi kalian baru pulang. Eh Dafin tiba-tiba nelpon kalau kalian terbang pagi ini. Udah gitu sore nanti mau langsung pindah ke rumah baru. Heran deh mami sama Dafin." Finny bicara dalam satu tarikan nafas, Navya tersenyum melihat mertua nya.
__ADS_1
"Mami bicaranya pelan-pelan aja dong." Navya mengambil salah satu paperbag berisi oleh-oleh yang dia beli untuk Finny dan Damar. "Nih Vya beliin Mami dan Papi oleh-oleh, semoga suka yaa."
"Anak Mami baik banget, makasi ya sayang. Mami dan Papi lebih senang lagi kalau oleh-olehnya ada di sini." ucapnya seraya mengelus perut Navya sambil mengedipkan mata. "Jadi, gimana? Udah proses belum?"
"Mami apaan sih... Udah ah, Vya mau beres-beres dulu di kamar yaa" Untuk menghindari pertanyaan Finny, Vya memilih meninggalkan Finny dan berjalan menuju kamarnya.
"Loh, mami belum selesai bicara kok udah di tinggal !?"
"Iya Mami, nanti Vya turun lagi pas makan siang."
"Kayaknya dia malu..." Finny senyum-senyum sendiri melihat Navya yang sengaja menghindari dirinya. Padahal Navya menghindar karena nyatanya tidak ada hal yang perlu di cerita kan, di sana Dafin bahkan menganggap dirinya seperti orang lain.
Navya mulai membereskan barang-barang yang akan dia bawa pindah ke rumah baru yang Dafin maksud. Bermaksud ingin membereskan barang-barang Dafin, dia masuk ke kamar suaminya, tapi ternyata milik pria itu sudah tersusun rapi di sebelah tempat tidur. Sebuah koper besar dan beberapa dua buah kardus berisi barang-barang pribadi. Navya menelusuri kamar tersebut, sambil memperhatikan beberapa benda-benda yang tersusun rapi di sebuah meja dan rak kayu. Ada foto masa kecil Dafin di sana bersama Finny dan Damar. Navya mengambil bingkai foto itu, melihatnya dengan senyuman samar.
"Seandainya aku tidak pernah masuk dalam keluarga mereka, Mas Dafin sangat bahagia karena memiliki orang tua seperti Mami dan Papi. Mungkin benar aku sudah menghancurkan kebahagiaan Mas Dafin, aku sudah merebut sebagian kasih sayang mereka. Maafkan Vya Mas. Vya gak ada maksud untuk merebut kasih sayang Mami dan Papi. Tapi Vya akan berusaha menjadi istri yang baik untuk Mas Dafin."
Kemudian meletakkan kembali foto tersebut. Dia beralih pada sebuah foto anak kecil, yang tidak lain adalah foto Dafin sewaktu masih SD, Navya tersenyum melihat itu lalu mengambil nya. Tanpa sengaja dia menjatuhkan sebuah foto anak perempuan, seumuran dengan Dafin Yang ada di dalam foto yang Navya pegang. Di belakangnya tertulis "Selalu berikan aku senyuman ini."
"Vy, kamu di sini ternyata. Mami cariin di kamar "
"Iya Mi. Maaf. Tadi Vya mau beresin barang Mas Dafin tapi ternyata sudah rapi. Tinggal di bawa aja."
"Oh itu, Dafin memang udah beberes dari sebelum pesta pernikahan. Dia udah gak sabar mau pindah ke rumah kalian. Kayaknya dia gak sabar pengen berduaan aja sama kamu di rumah baru kalian." Finny tersenyum senang saat mengatakan itu. "Ya walaupun Mami akan kesepian, tapi Mami gak keberatan. Biar kalian punya waktu berdua lebih banyak."
Bukan, bukan seperti itu tujuan Dafin. Dafin hanya tidak ingin terlalu banyak bersandiwara di depan orang tua mereka karena pernikahan itu bukan seperti hubungan normal pada umumnya.
Navya kemudian memeluk Finny dengan erat.
"Maafkan Vya ya Mi."
__ADS_1
"Loh, kok minta maaf. Mami malah senang, sekarang kalian sudah menikah. Dafin akan jaga kamu, jadi tanggung jawab Mami pada Ibu Hafizah tidak berhenti hanya sampai kamu dewasa."
Mami sebaik ini, jelas saja Mas Dafin merasa aku sudah merebut perhatian Mami. Maaf karena Vya udah bikin Mas Dafin gak bahagia, bikin keharmonisan keluarga Mami terganggu. Mas Dafin sudah cukup baik untuk membiarkan Vya tinggal di sini, Vya gak akan pernah benci pada nya sekali pun dia sangat membenci Vya. Dia sangat menyayangi Mami dan Papi, sampai-sampai dia rela mengorbankan kebahagiaan nya demi menikah dengan Vya sesuai keinginan Mami. Vya yang udah bikin Mas Dafin menderita.
"Vya minta maaf karena harus ninggalin Mami. Vya harus nurut kan sama Mas Dafin."
Finny tertawa mendengar ucapan Navya seraya mengurai pelukannya.
"Sayang, kamu kan gak pindah keluar kota, kita masih di dalam kota yang sama. Dafin bilang dia kasihan sama kamu. Karena jarak dari rumah kita ke kantor kami dan Dafin cukup jauh. Jadi dia beli rumah di komplek perumahan yang dekat sama kantor kamu dan gak begitu jauh ke kantor Dafin."
"Oh ya, katanya kamu gak mau pakai ART, kamu yakin?"
Navya terkejut mendengar pertanyaan itu, dia merasa tidak pernah bicara apapun pada Dafin. Bagaimana dia bisa memutuskan untuk tidak ingin memakai jasa ART.
"Oh, iya Mi. Navya mau ngurus rumah dan Mas Dafin sendiri. Biar merasakan jadi seorang istri."
"Tapi kamu kan juga bekerja. Atau kamu berhenti saja jadi sekretaris Alvian."
"Gak apa-apa Mi, daripada Vya di rumah sendirian. Yang ada Vya bosan."
"Hmm... benar juga sih. Ya udah kita makan dulu yuk. Papi udah nungguin tuh di bawah. Keburu Ega datang juga."
Navya menuruti ajakan Finny untuk menuju meja makan. Mereka turun dan melahap makan siang bersama dengan Damar yang sudah menunggu nya dari tadi.
Epilog.
Kruuuk.. kruuukkk....
"Kenapa Finny dan Navya lama sekali sih."
__ADS_1
Ada yang kelaparan karena menunggu Sang ibu dan anak yang asyik ngobrol.
Bersambung