
Walaupun tidak sebesar milik Damar, namun rumah itu cukup besar untuk mereka tinggali berdua. Memiliki sebuah kolam renang dan taman di bagian belakang. Navya menyukai nya. Ega menjemput nya tadi, seperti apa yang Dafin katakan.
Perabot di dalam rumah itu juga sudah terisi lengkap. Bahkan mobil Naya sudah terparkir di sana.
"Kak Ega."
"Panggil saja saya Ega Bu, apa ada yang bisa saya bantu?" Navya selalu begitu, walaupun dia merupakan majikan Ega tapi dia tidak bisa memanggil seseorang yang lebih tua dengan hanya menyebut namanya. Maka dia tak perduli sudah beberapa kali Ega memintanya untuk memanggil nama saja.
"Mas Dafin masih di kantor ya? Kira-kira dia pulang jam berapa?"
Ega sedikit terkejut saat Navya bertanya tentang keberadaan Dafin. "Hmm iya Bu. Saya belum tau, Ibu bisa bertanya pada sekretaris nya. Bu Hana."
"Oh iya benar."
"Kalau begitu saya permisi Bu, saya harus ke kantor."
"Kak Ega ga minum dulu? Eh tapi tadi saya cek ke dapur belum ada apa-apa. Maaf ya kak."
"Tidak usah repot-repot Bu. Saya permisi."
"Makasih ya Kak."
Ega sedikit membungkuk pada Navya untuk berpamitan kemudian pergi dari sana. Ega tidak enak karena sudah berbohong, nyatanya Dafin sedang ada di apartemen Hana bukan di kantor. Dia merasa kasihan pada Navya, gadis itu sangat baik. Namun Dafin malah mengkhianati nya dan memilih menjalin hubungan dengan Hana. Bahkan pada usia pernikahan yang belum genap seminggu.
***
Setelah Ega berpamitan dari sana, Navya berniat menyusun pakaian dan barang-barang yang dia bawa di kamarnya. Sampai sebuah pesan masuk ke ponselnya.
Mas Dafin
Kamar ku di lantai bawah dan kamar mu di lantai atas.
Navya melupakan hal ini, dia tersenyum kecut. Kenapa dia begini, apa harapannya pada pernikahan ini terlalu tinggi. Tapi tidak masalah, Navya akan tetap berusaha mewujudkannya menjadi pernikahan sempurna, setidaknya dimulai dari hubungannya dengan Dafin. Setelah membalas pesan itu Navya menyusun pakaian Dafin di lemari kemudian dia beralih ke kamarnya di lantai atas.
__ADS_1
Mengingat bahwa belum ada persediaan bahan makanan di rumah nya, Navya memutuskan untuk berbelanja. Waktu sudah menunjukkan pukul lima sore, takut Dafin akan tiba di rumah saat dia tidak ada maka Navya mengirimkan pesan singkat untuk mengatakan bahwa dia akan pergi belanja. Pesan itu di baca namun tidak dibalas, Navya sudah biasa dengan sikap itu. Dia bergegas pergi agar bisa cepat kembali.
***
Selain hanya berjarak sepuluh menit dari gedung perusahaan Mahendra Grup, beruntung komplek perumahan yang dipilih Dafin untuk hunian mereka lengkap dengan berbagai fasilitas sarana publik termasuk supermarket. Navya memilih untuk berbelanja di sana agar bisa cepat sampai di rumah dan membuat kan makan malam untuk suaminya.
Navya membeli berbagai produk, dari kebutuhan pribadi, dapur dan berbagai keperluan untuk perawatan rumah. Tak lupa cemilan dan minuman serta vitamin Navya beli. Saat akan mengambil sebuah benda di etalase paling atas, Navya sedikit kesulitan. Namun dia tetap berusaha untuk menjangkau benda itu, saat sudah tersentuh jarinya tiba-tiba benda itu jatuh dan refleks Navya menunduk dan menutupi kepalanya dengan kedua tangan.
Beberapa detik, karena tidak merasakan ada benda yang jatuh dia membuka matanya.
"Kamu gak apa-apa kan?" Orang yang bertanya itu sedang memegang sebuah botol sampo berukuran besar.
"Pak Alvi !? Ya ampun, makasih ya Pak. Bapak selalu aja tiba-tiba datang buat nolongin saya. Seperti superhero aja."
"Berarti saya harus pakai kostum seperti Superman dong!" Mereka berdua tertawa bersamaan.
Kemudian mereka berjalan bersama seraya mencari beberapa barang kebutuhan yang belum di dapatkan.
"Makasih ya Pak. Udah nolongin saya lagi."
"Kan tadi kamu bilang saya superhero. siap sedia memberikan pertolongan pada siapapun."
Alvi bicara sambil tertawa, dia sadar ada perubahan aneh di wajah Navya saat dia bicara tadi.
"Oh ya, kamu sama Dafin?"
"Enggak Pak, Mas Dafin masih di kantor. Tadi begitu sampai di Bandara, dia langsung ke kantor." Alvi merasa heran dengan jawaban Navya. Pasalnya tadi Ryan menghubungi Dafin dan mengatakan dia tidak ada di kantor. Melainkan sedang istirahat di rumah karena tidak enak badan.
"Bapak kapan balik ? Trus sendiri aja ke sini?"
"Saya siang tadi sampai dan langsung ke kantor. Ada klien yang menunggu untuk bertemu. Ini saya mau pulang, sekalian ada yang mau di beli jadi saya mampir ke sini."
"Bapak pasti sibuk banget ya, maaf ya Pak saya gak bantuin Bapak. Gimana kalau besok saya masuk aja?"
__ADS_1
"Kamu serius? Cuti kamu masih ada dua hari lagi Lo... "
" Saya gak apa-apa Pak, cutinya biarin aja tapi saya tetap masuk kerja. Lagian nanti bosan di rumah, soalnya saya dan Mas Dafin baru pindah ke komplek sini. Jadi kami hanya tinggal berdua, kalau dia pergi kerja saya sendirian di rumah. Mending saya kerja."
"Kalian tinggal di komplek ini, bisa kebetulan sekali. Saya juga tinggal di sini."
"Yang benar Pak?"
"Iya benar, Saya dan Nenek tinggal di blok Intan Nomor 1. Tapi ngomong-ngomong Kamu yakin besok mau masuk kantor, tapi saya gak enak sama Dafin."
"Bapak tenang aja, nanti saya yang bicara sama Mas Dafin."
"Ya terserah kamu aja."
Navya tersenyum mendengar jawaban Bos nya. "Makasih ya Pak ." Dan Alvi tidak mungkin tidak merasa senang dengan keputusan Navya, dia sudah rindu dengan kehadiran Navya di kantor.
Setelah membayar belanjaan yang di bumbui dengan perdebatan antara bos dengan sekretaris nya, akhirnya mereka keluar dari supermarket tersebut. Pasalnya Alvi bersikeras untuk membayar belanjaan Navya, namun gadis itu menolak. Bagaimana tidak, isi trolinya penuh, apa yang akan orang lain katakan jika tau bos nya yang membayar untuk semua barang yang dia beli sebanyak itu. Sementara Alvi hanya membeli beberapa produk saja, itu pun dia tidak memerlukan keranjang untuk membawanya. Sampai-sampai mereka sempat menjadi pusat perhatian beberapa orang di sana. Malah ada yang tertawa geli melihat pertengkaran mereka, mengira mereka adalah pasangan yang baru menikah dan sedang berbelanja bersama lalu berdebat hanya untuk menentukan siapa yang membayar. Akhirnya Alvi mengalah dan membiarkan Navya membayar sendiri apa yang dia beli.
"Saya duluan ya Pak. Terimakasih karena sudah membantu saya." Menutup pintu belakang mobilnya setelah Alvi membantu nya memasukkan beberapa kantong plastik besar berisi belanjaan ke dalamnya.
"Jangan sungkan. Kamu hati-hati ya."
"Siap Bos." Kemudian melajukan mobilnya meninggalkan tempat parkir supermarket itu.
*Epilog.
"Lihat mereka, imut sekali... Bahkan mereka berebut untuk membayar belanjaan mereka."
"Iya, aku mau suami seperti itu. Padahal dia sudah memberi kan uang belanja pada istrinya, tapi dia bersikeras ingin membayar kan."
"Kalau aku jadi kakak itu, aku akan dengan senang hati menyimpan uangku."
Tiga orang gadis yang sedang mengantri di kasir membicarakan Alvi dan Navya*.
__ADS_1
Bersambung