Mencintaimu Karena Terbiasa

Mencintaimu Karena Terbiasa
Jarum Suntik


__ADS_3

Alvi dan Navya sedang dalam perjalanan pulang. Alvi hanya diam saja selama perjalanan, Navya berfikir Alvi kelelahan. Dia menoleh sebentar kebelakang, ternyata Alvi terlihat seperti menahan sakit sambil memegang lengannya yang tadi tertimpa balok kayu.


"Pak, tangan bapak sakit ya?" Navya terlihat panik.


"Tidak apa, saya bisa tahan." Alvi masih mencoba menutupi rasa nyeri itu. Di awal tadi memang tidak begitu sakit, namun lama kelamaan rasanya semakin menyiksa.


"Mas Ryan bisa minggir sebentar." Navya meminta Ryan untuk menghentikan mobilnya di pinggir jalan. Dia langsung melepas sabuk pengaman lalu turun dari mobil untuk pindah ke kursi belakang Diaman Alvi berada.


"Bapak kesakitan seperti ini malah bilang gak apa-apa. Coba jas nya di buka, saya mau lihat lengan Bapak." Alvi menurut saja, dia membuka jas hitamnya di bantu Ryan. Setelah itu Navya menggulung lengan baju Alvi, terlihat memar yang memerah dan sedikit bengkak.


"Ya ampun Pak, sampai seperti ini pasti sakit sekali kan. Saya tadi sudah bilang sama Bapak kan kita periksa dulu, tapi Bapak gak mau." Kekhawatiran Navya membuatnya lupa bahwa dia sedang bicara dengan bosnya. Navya terus mengomel. Hal itu malah membuat Alvi tersenyum, dia sampai tidak merasakan sakit di lengannya yang memar.


"Mas Ryan kita jalan lagi saja, nanti berhenti di Rumah sakit terdekat." Seketika Alvi membeku, dia menjadi tegang mendengar perintah Navya.


"Jangan Yan, kita pulang saja." Ryan diam-diam menahan tawa, tapi Alvi menyadari itu. Dia melotot kepada Ryan.


"Tapi Pak, Bapak harus ke dokter, saya takut ini akan semakin parah." Navya tetap memaksa.


"Mas Ryan, jalan aja sekarang."


"Iya Mbak." Ryan segera masuk lagi ke dalam mobil lalu menjalankan mobilnya tanpa meminta persetujuan Alvi, dan tidak berani melihat bosnya.


Sekita lima menit mereka tiba di sebuah rumah sakit kecil. Navya menuntun Alvi turun dan membawanya untuk di periksa. "Bapak kenapa jadi gemetar begini? Apa makin sakit?"


Alvi tidak menjawab, tapi peluh sudah membanjiri dahinya. "Sabar ya Pak, sebentar lagi kita bertemu dokter." Hal itu bukannya menenangkan Alvi, malah semakin membuatnya gelisah.


Sementara Ryan di belakang tertawa tanpa suara. "Mungkin sakit di lengannya tidak seberapa dibandingkan ketakutan Pak Alvi sama dokter dan jarum suntik".


Navya menemani Alvi bertemu dokter, sementara Ryan menunggu di luar.


"Vy, kita pulang saja. Saya tidak apa-apa." Alvi masih menolak bahkan saat sudah ada di ruangan dokter.


"Pak, kita sudah di sini. Gak mungkin pulang dong."

__ADS_1


"Mari Pak biar saya periksa."


"Ayo Pak" Navya memaksa dan menarik tangan Alvi yang tidak sakit.


"Tapi saya gak mau di suntik!"


"Hah!" Navya lantas tertawa sambil menutup mulutnya. Jadi dari tadi Alvi bersikeras tidak mau dibawa ke dokter karena ini.


"Jangan tertawa!" Bahkan dokter tersenyum melihat mereka berdua. Kemudian dia mulai memeriksa luka memar pada lengan Alvi.


"Saya akan berikan resep obat pereda nyeri dan untuk mengurangi memar nya ya Bu. Nanti bisa ditebus di apotek." Menuliskan sesuatu di kertas dan memberikannya pada Navya.


"Untuk sementara suami ibu tidak boleh mengangkat beban berat dulu ya. Agar tidak semakin bengkak."


Navya bengong dengan ucapan dokter. Sementara Alvi tersenyum tipis.


"Saya belum menikah dok."


"Ooh masih berpacaran, saya pikir sudah menikah." Dan kenapa Navya harus menjelaskan, wajar saja dokter berfikiran seperti itu melihat Navya begitu mengkhawatirkan keadaan Alvi.


"Saya gak tau kalau Bapak takut sama dokter." Navya masih merasa geli melihat kejadian tadi, tidak menyangka bahwa seorang Alvian Mahendra yang terlihat tegas dan dingin tapi takut pada jarum suntik.


"Belum puas kamu tertawanya?"


"Maaf Pak.." Navya diam dan tak berani meledek Alvi lagi. Namun Alvi tidak bisa menyembunyikan bahagianya, dia merasa beruntung, kecelakaan kecil tadi membuatnya bisa berlama-lama dengan Navya bahkan bisa mendapatkan perhatian Navya seperti ini. Walaupun ia harus menahan malu karena Navya jadi mengetahui bahwa dia takut pada jarum suntik.


Beberapa saat kemudian Ryan datang dan memberikan obat serta dua botol air mineral kepada Navya. Navya langsung membuka botol air itu dan memberikan obat pada Alvi untuk di minum. "Bapak bisa kan minum obatnya?" Tampak Ryan tak bisa menahan tawanya mendengar pertanyaan itu.


"Ryan, kamu mau saya kirim kamu ke pelosok?" Ryan seketika diam membeku. Navya menahan tawanya, takut Alvi juga memarahinya. "Saya bukan anak kecil, saya bisa minum obat." Langsung saja dia menelan beberapa macam obat yang dokter berikan.


Hari sudah sore saat Navya turun dari mobil Alvi. "Terimakasih Pak, Maaf untuk insiden tadi."


"Saya baik-baik saja Navya, itu bukan salah kamu."

__ADS_1


"Saya permisi turun Pak, Bapak jangan lupa minum obatnya."


"Hhm... Terimakasih."


Setelah turun dari mobil, Navya menundukkan kepalanya kemudian mobil itu melaju meninggalkan kan area rumah keluarga Damar.


"Kamu puas menertawakan saya Ryan."


"Maaf tuan. Saya tidak sengaja."


"Tidak sengaja tapi kamu tertawa beberapa kali tadi."


"Kamu memanfaatkan keberadaan Navya."


"Karena Tuan tidak akan pernah marah dihadapan dia kan."


"Ya benar. Yang saya minta kamu selidiki, apa sudah kamu dapat kan informasi nya?"


"Sudah Tuan, Bu Navya pernah tinggal di Panti Asuhan Cinta kasih hanya sampai dia berusia tiga tahun. Tapi dia bukan anak terlantar, orangtuanya yang mengurus anak-anak di sana. Lalu mereka meninggal dunia dalam kecelakaan, tapi setelah saya selidiki kecelakaan itu ada hubungannya dengan Tuan besar Mahendra."


"Kakek?? Ada apa dengan kakek dan orang tua Navya?"


"Saya belum tau pasti Tuan Muda, tapi mobil mereka di kejar oleh orang-orang suruhan Tuan besar dan menyebabkan mereka mengalami kecelakaan."


" Panti Asuhan Cinta Kasih, aku pernah beberapa kali datang ke sana bersama nenek dulu. Jika saputangan yang Navya punya waktu itu benar milikku, artinya dia adalah gadis yang aku tolong saat terakhir aku datang ke sana."


Senyum terkembang di bibirnya saat membayangkan Navya. Namun seketika senyum itu pudar saat mengingat bahwa sebentar lagi Navya akan menikah dengan Dafin, bukan dirinya jika dia harus menghancurkan kebahagiaan orang lain hanya untuk kepentingan dirinya sendiri dan fakta bahwa kematian orang tua Navya ada hubungannya dengan sang kakek, semua itu membuat seakan Navya sudah tak akan bisa di jangkau lagi olehnya.


"Sepertinya ada hal yang kakek dan nenek sembunyikan dariku. Aku harus mencari tau."


"Ryan, terus selidiki semuanya. Laporkan pada saya sekecil apapun informasi yang kamu dapatkan"


"Baik Tuan muda."

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2