
Begitu memasuki halaman rumah, sebuah mobil mewah yang tidak asing di mata Navya sudah terparkir di carport. Mensejajarkan letak mobilnya, kemudian dia masuk dan membawa beberapa kantung plastik belanjaan ke dalam. Dafin sedang ada di ruang tengah dan menonton TV, mungkin lebih tepatnya TV yang menonton Dafin. Karena nyatanya lelaki itu sama sekali tidak menikmati acara yang disiarkan oleh benda berbentuk persegi berukuran besar itu, dia hanya memainkan ponselnya.
"Mas Dafin udah pulang?" Dia hanya menoleh tanpa menjawab, kemudian kembali memfokuskan pandangannya ke layar ponsel. Dia bahkan tidak perduli tangan istrinya sedang penuh dengan banyak barang belanjaan.
Navya Kembali melewati nya untuk mengambil sisa belanjaan yang masih ada di mobil, dia melirik gadis itu dengan ekor matanya tanpa Navya sadari. Lalu kembali sibuk berbalas pesan dengan Hana.
Brukkkk
Dafin terkejut mendengar suara benda jatuh dari arah luar. Dia bergegas menuju sumber suara. Begitu sampai di pintu depan, dia melihat banyak sekali benda berserakan sementara Navya sibuk mengumpulkan dan memasukkan lagi ke dalam kantung plastik. Tanpa Dafin sadari dia ikut membantu Navya mengumpulkan barang belanjaan yang berserakan.
"Kamu tuh kalo gak bisa angkat sendiri jangan sok kuat!"
Navya hanya diam, mana berani dia menyuruh Dafin membantu membawakan barang-barang itu, dia bertanya tadi pun Dafin tidak menjawab. Masih sibuk mengumpulkan, tiba-tiba tangan mereka sama-sama memegang satu botol cairan pencuci piring sehingga kedua tangan itu saling bersentuhan. Mereka saling memandang dan terdiam untuk beberapa detik. Dafin yang pertama kali tersadar dari suasana canggung itu dan melepaskan tangannya.
"Kamu bawa ini semua!" Memerintah Navya untuk membawa satu kantung plastik, sementara dia beralih untuk mengangkat sekarung beras serta satu kantung plastik dari dalam mobil Vya dan membawa nya ke dalam.
Bohong jika Navya tidak senang dengan sikap Dafin, dia tau kalau Dafin adalah pria yang baik. Dia hanya pernah merasa kecewa dan membuat hatinya tertutup.
"Terimakasih Mas." Saat Dafin meletakkan apa yang dia bawa ke dalam dapur. "Mas mau kopi?"
"Tidak perlu."
"Emmm Mas.. Vya mau minta izin." Dafin menghentikan langkahnya. Navya melanjutkan kata-katanya saat melihat Dafin diam dan menunggu. "Vya masuk masuk kerja besok. Sebenarnya cuti Vya masih ada dua hari lagi, tapi..."
"Alvi yang minta kamu masuk kerja?"
"Bukan, bukan gitu Mas. Malah Vya yang minta masuk kerja aja."
"Terserah kamu." Vya mengartikan itu sebagai tanda setuju.
"Makasih Mas."
Setelah selesai urusan menyusun keperluan dapur Navya memutuskan untuk membuat makan malam. Karena Dafin sedang ada di rumah, Navya membuatkan juga untuk suaminya.
Urusan memasak selesai, makanan sudah tertata rapi di atas meja, dapur juga sudah bersih. Naik ke kamarnya untuk membersihkan diri, dia melewati kamar Dafin. Sepertinya pria itu masih ada di dalam, karena saat Navya membersihkan peralatan dapur tadi dia melihat Dafin masuk ke kamar nya. Navya melanjutkan langkahnya menuju kamar atas.
__ADS_1
Hampir dua puluh menit Navya menghabiskan waktu untuk menyelesaikan ritual mandinya. Setelah mengenakan pakaian santai dia kemudian turun untuk makan malam. Mengetuk kamar Dafin dan mengajak nya makan malam bersama.
Tok..tok...tok
"Mas Dafin, Vya udah siapin makan malam."
Tidak ada jawaban.
"Mas ?" Dia terus mengetuk pintu kamar itu, namun tetap tidak ada tanda-tanda keberadaan seseorang di dalam nya. Ragu-ragu Navya memutar handle pintu, perlahan pintu terbuka. Kamar itu gelap, sepertinya tidak mungkin ada orang di dalamnya.
"Mas Dafin ? Kita makan bareng yuk?" Navya mencari saklar lampu dan menyalakan penerang itu. Kemudian menempelkan telinganya di pintu kamar mandi. Namun tidak juga terdengar suara apapun dari sana. Keluar dari kamar itu lalu membuka tirai jendela, dan dia hanya bisa menghela nafas saat mengetahui bahwa mobil Dafin tidak ada di carport.
Kecewa, pasti. Setidaknya Dafin bisa mengatakan padanya jika ingin keluar rumah. Navya mencoba untuk berfikir positif. Dia memutuskan menyantap makan malamnya sendiri, walaupun begitu dia tetap mengirimkan pesan pada Dafin bahwa dia akan makan duluan dan tidak menunggu Dafin. Mungkin dia terlihat bodoh, tau Dafin tidak perduli padanya namun dia tetap ingin menjadi istri yang baik.
Sementara di tempat lain, Hana membaca pesan singkat yang Navya kirimkan kepada Dafin.
"Sayang, kamu tega banget sih. Istri kamu udah masakin loh." Sambil menunjukkan pesan yang tertera di layar ponsel Dafin. Pria itu baru saja kembali dari toilet.
"Terus, kamu mau aku pulang dan makan malam sama dia ?" Dafin menggoda Hana.
"Ya enggak dong, tapi kamu kan bisa ajak aku makan bareng sama dia." mengatakan dengan nada mengejek.
***
Waktu sudah menunjukkan pukul 10 lewat 30 menit, tapi Dafin belum pulang. Sebenarnya tidak ada yang Navya takutkan saat sendirian di rumah itu. Dia hanya mengkhawatirkan keadaan Dafin. Ingin menghubungi namun dia sendiri tidak yakin Dafin akan mengangkat panggilan darinya. Pesannya saja hanya di baca tanpa berniat membalas. Tiba-tiba sebuah panggilan masuk berbunyi dari benda pipih miliknya, ia pikir itu Dafin ternyata bukan.
"Halo Pak..?"
"Vy, kamu di rumah?"
"Iya Pak, kenapa Pak ?"
"Sudah makan malam?"
"Sudah Pak.. Bapak kenapa nanyain saya?" Navya benar-benar heran dengan bos nya ini, kenapa tiba-tiba bertanya seperti ini padanya.
__ADS_1
"Hmmm... saya cuma mau memastikan, besok kamu jadi masuk kerja?"
"Saya sudah bicara ke Mas Dafin, dia udah izinkan saya masuk kerja besok. Kenapa Pak?"
"Besok saya jemput kamu, kita akan meeting di luar dengan klien."
"Tapi Saya biasanya bawa mobil Pak."
"Saya jemput saja, kita akan sarapan bersama di Restauran X."
"Baik Pak."
"Ya sudah, kamu hati-hati di rumah."
Loh kok?? Kenapa seakan-akan dia tau Navya sedang sendirian di rumah.
"Iya Pak."
Lalu panggilan itu terputus begitu saja, tapi Navya lagi-lagi dibuat bingung dengan sikap Alvi terhadap nya..
Epilog
"*Saya mendapatkan rekaman suara percakapan Pak Dafin dan Hana dari orang suruhan saya Pak."
"Kirimkan pada saya sekarang!"
"Baik Pak."
"Bagaimana Navya?"
"Ibu Navya sedang berada sendirian di rumah yang baru saja mereka tinggali."
"Kamu pantau terus Navya, kalau perlu kamu beli unit yang ada di depan nya. Agar kamu lebih leluasa menjaganya. Tapi ingat, jangan melewati batas privasinya."
"Baik Pak!"
__ADS_1
Aku benar-benar tidak menyangka Dafin akan melakukan hal ini pada Navya, jika aku benar Tuhan sedang memberikan aku kesempatan untuk merebut hati gadis itu. Maafkan aku Dafin*.
Bersambung