Mencintaimu Karena Terbiasa

Mencintaimu Karena Terbiasa
Semangkuk Soto


__ADS_3

"Hampir saja, kalau kita berdiri lebih lama di sana, pasti akan basah kuyup." Hana melihat keluar jendela, hujan turun sangat deras. Banyak pengendara motor yang berhenti dan berteduh menunggu entah sampai kapan hujan akan reda, sebagian lain mencari tempat berteduh untuk memakai mantel yang mereka punya. Mobil-mobil melaju dengan kecepatan sedang sampai rendah, karena hujan mengganggu penglihatan saat mengemudi.


"Iya, hujannya deras sekali."


Navya bagaimana ya!? Dia di rumah sendirian.


"Aku senang sekali. Malam ini bisa sama kamu sayang. Rasanya aku pengen setiap hari sama kamu."


Hanya di tanggapi dengan senyuman oleh Dafin sambil menggenggam tangan Hana. Mereka baru saja lima menit masuk ke dalam mobil yang dikemudikan Dafin menuju apartemennya. Hujan turun dengan lebat secara tiba-tiba, seperti sedang menggambarkan kesedihan hati seseorang.


"Kamu mau makan apa?"


"Hmm... apa ya... ? Aku ingin makan nasi soto yang diberi perasan jeruk nipis, terus eskrim mangga. Duhhh masih menyebutkan saja, nikmat nya sudah terasa di mulut ku."


"Kenapa tiba-tiba ingin soto? Biasanya kamu gak suka makan nasi kalau sudah malam begini!? Trus cuaca sedang dingin, kamu yakin ingin makan eskrim?"


"Gak apa-apa sayang, sesekali kan gak masalah. Kenapa? Kamu takut aku gendut ya?" Langsung mode cemberut.


"Bukan begitu... Kamu kan yang selalu membatasi selera makan karena takut berat badan kamu naik. Aku gak pernah memaksa kamu untuk diet ketat."


Tapi ekspresi gadis itu masih belum berubah. "Coba deh kamu cari di internet, warung soto mana ya g masih buka jam segini. Kita akan langsung ke sana."


"Okee.." Cepat sekali berubah nya. "Sama toko eskrim juga yaa.."


"Iyaa..."


Hana kegirangan, Dafin bersedia menuruti keinginannya.


Lima belas menit kemudian mereka sudah sampai di sebuah ruko yang menjual soto dan beberapa menu lainnya sebelumnya mereka sudah mampir di toko eskrim dan membeli satu cup eskrim mangga yang di minta Hana. Sebenarnya sudah hampir tutup, beberapa karyawan sedang membersihkan meja dan menyusun kursi.


Dafin dan Hana turun dari mobil langsung menghampiri seseorang yang sedang membereskan beberapa mangkuk di meja, beberapa pelanggan baru saja meninggalkan warung nya. Mengobati lapar mereka.


"Selamat malam Mas, Mbak.." Siapanya ramah.


"Mas, apa masih buka?" Dafin bertanya karena melihat beberapa kursi sudah di susun.


"Maaf Mas sebenarnya sudah mau tutup, Alhamdulillah tadi rame yang mampir." Wajar saja, cuaca sehabis hujan sangat cocok untuk menikmati semangkuk soto hangat. Dengan isian bihun atau dengan sepiring nasi hangat. "Ada yang bisa saya bantu?" tanyanya dengan sopan.


Hana sudah hampir pupus harapan untuk menikmati semangkuk soto dengan perasaan jeruk nipis. Segar dan gurih rasanya...

__ADS_1


"Apa masih ada yang tersisa? saya ingin pesan soto? Istri saya sedang ngidam, lagi kepingin makan sota sekarang." Hana tentu saja terkejut dengan pernyataan Dafin. Bisa-bisanya memakai alasan ngidam. Lelaki muda itu kemudian beralih menatap Hana sebentar. Wajahnya sangat mengharapkan bisa menikmati soto saat ini juga.


Seorang wanita yang terlihat seumur dengan lelaki tadi datang mendekat pada mereka.


"Mbak, mohon maaf sebelumnya. Sebenarnya kuah sotonya masih ada , tapi isiannya sudah tidak lengkap. Hanya tinggal pilihan daging sapi dan ayam, kecambah dan bihunnya sudah habis. Apa mbaknya masih mau?" Memang hanya wanita yang bisa mengerti wanita.


"Saya juga sedang hamil muda mbak, rasanya ketika kita menginginkan sesuatu akan lebih nikmat jika kita mendapatkan saat itu juga." Ucapnya tersenyum sambil mengelus perutnya yang sudah mulai membuncit namun belum terlihat jika hanya sekilas pandang.


Hana sedikit sungkan, merasa agak tidak enak sebenarnya pada wanita itu. Karena Dafin berbohong hanya agar dia bisa menikmati soto.


"Tidak apa-apa Mbak. Saya mau pakai daging sapi saja mbak. Jangan lupa potongan jeruk nipis ya Mbak "


"Baik. Silahkan duduk dulu ya Mbak dan Mas. Saya akan panaskan kuah sotonya dulu." Wanita itu dan suaminya kemudian pamit untuk menyiapkan pesanan yang di minta Hana.


Mereka duduk menunggu soto di sajikan. Dia mendekat pada Dafin dan memukul tangan Dafin. "Sayang, kamu gak harus berbohong kan. Bisa-bisanya memakai alasan aku ngidam."


Dafin tertawa. Dia juga refleks kenapa bisa mengatakan seperti itu. "Ya kalau aku tidak membuat alasan kamu sedang ngidam, apa kamu pikir mereka akan mau melayani kita. Sementara kamu lihat sendiri, mereka sudah akan menutup warungnya."


Benar juga, sebagian kursi sudah si susun ke atas meja. Lantai sudah di sapu bersih, seorang karyawan bersiap akan mengepelnya. Di urungkan karena mereka berdua tiba-tiba datang.


Tidak sampai sepuluh menit dua mangkuk soto sudah tersedia di hadapan mereka. Hana sudah tidak sabar ingin menyantap nya, segera mengambil sendok dan garpu. "Hati-hati masih panas Mbak." Wanita pemilik warung itu tersenyum lucu melihat tingkah Hana. Hana jadi malu sendiri.


"Silahkan dinikmati Mas, Mbak." Kali ini suaminya yang bicara. Lalu mereka masuk ke dalam.


Dafin memberikan lima lembar uang seratus ribu pada si pemilik warung.


"Ini kebanyakan Mas." Bingung dia menerima uang tersebut.


"Gak apa-apa Mas, ini rezeki Mas sama Mbaknya, juga buat si calon bayi." Kata Dafin.


"Alhamdulillah... Terimakasih banyak ya Mas. Semoga kandungan istri Mas juga sehat selalu." Hana lucu sendiri mendengar doa dari Si Abang penjual soto.


"Terimakasih ya Mbak, soto nya enak." Kali ini Han bicara pada istri nya.


"Sama-sama Mbak, terimakasih banyak "


Kemudian mereka beranjak dari warung soto itu. Pulang ke apartemen yang Hana tinggali. Malam ini sesuai janjinya pada Hana, dia Kana menginap di sana. Sebenarnya dia masih bingung, alasan apa yang akan dia berikan pada Navya. Sebab gadis ita hanya tau bahwa dia dan Hana berpacaran.


Hampir pukul satu dini hari mereka sampai di depan pintu apartemen. Dafin lupa bahwa ponselnya tertinggal di mobil. "Sayang, hp aku ketinggalan. Kamu masuk duluan ya, aku ke bawah dulu. "

__ADS_1


Hana yang sudah mengantuk mengiyakan saja.


Mengambil hp dari dalam mobil, lalu Dafin memeriksanya. Ada beberapa panggilan dan sebuah masuk pesan dari Alvi.


Begitu terkejut dia melihat foto yang Alvi kirimkan. Bagaimana bisa Navya ada di rumah sakit. Bersama Alvi.


Nafasnya menderu. Dia tidak terima. Menelepon Navya tapi tidak di angkat. Kemudian dia menelpon Alvi langsung.


"Apa yang terjadi?"


"Apa tidak sebaiknya kamu berterimakasih pada saya, saya sudah menyelamatkan istri kamu.


Oh tapi sepertinya tidak perlu, saya melakukannya karena peduli pada Navya, bukan karena dia istri adik sepupu saya."


"Kak? Kenapa dia ada di rumah sakit."


"Dia melihat kamu dan Hana."


"Maksud nya?"


"Saya tidak tau, mungkin dia mengikuti kalian sampai di tempat itu."


"......."


"Sebenarnya Navya tidak ingin saya memberitahu kamu. Harusnya saya senang. Tapi saya tidak mau jadi laki-laki jahat, kamu masih berhak tau keadaan Navya.


Baiklah, saya tutup telponnya."


Sambungan telepon diputus oleh Alvi tanpa menunggu jawaban Dafin. Lelaki itu masih diam bersandar di pintu mobilnya.


Aku yakin tadi Navya sudah tidur. Bagaimana dia bisa ada di sana. Bagaimana jika Al menghubungi Mami untuk memberi tahu keadaan Navya.


Suara dering ponsel membuyarkan lamunannya. Hana menelponnya dan bertanya kenapa dia lama sekali.


"Iya sayang, iya aku naik sekarang. Tadi aku masih mencari-cari, lupa dimana meletakkan nya."


***Bersambung


Pengumuman***

__ADS_1


Mohon maaf ya readers aku telat update, beberapa hari yang lalu anakku sedang sakit dan di opname. Sekarang dalam masa peminjaman, aku update satu dulu ya. Aku usahakan nanti malam akan update lagi..


Bab-bab seterusnya akan ada titik terang bagaimana akhirnya Navya harus memutuskan masa depan hubungan rumah tangga nya dengan Dafin.


__ADS_2