Mencintaimu Karena Terbiasa

Mencintaimu Karena Terbiasa
Menyesal


__ADS_3

"Apa? Mengundurkan diri?" Bima memberi tahu Alvi bahwa Navya sudah datang ke kantor tapi bukan untuk bekerja. Melainkan mengantarkan surat resign. Sebenarnya itu sudah diduga oleh Alvi. Hanya saja dia tidak menyangka secepat ini, mereka bahkan belum pernah bicara sejak pertemuan terakhir di rumah sakit.


"Iya.. Memang kamu berbuat apa padanya sampai-sampai dia mengundurkan diri jadi sekretaris mu?"


"Mungkin karena dia tau perasaan ku. Atau mungkin dia marah, sebab aku menyembunyikan hubungan Dafin dengan pacarnya."


Terdengar Bima menghela nafasnya. "Al, masih banyak wanita di luar sana yang rela datang untuk kamu. Kenapa kamu harus menghabiskan waktu menunggu hal gak pasti."


"Kak, kamu itu tidak akan mengerti hal begini, kamu kan tidak pernah jatuh cinta."


"Sembarangan kamu bicara." Tawa Alvi terdengar di seberang sana setelah meledek Bima.


"Tidak ada gadis yang membuat aku tertarik, seperti yang aku rasakan pada Navya. Dia sudah mencuri segala perhatian ku."


"Ya kamu benar, jika dilihat-lihat Navya itu cantik, baik, sopan dan lembut. Pantas saja kamu tergila-gila."


"Kak, aku kan sudah bilang jangan memandanginya terlalu lama!" Bima berhasil membalas ledekan Alvi. Lelaki itu mulai kesal.


"Kenapa kamu marah? Dia bukan istri mu kan!? Yang seharusnya marah itu Dafin, bukan kamu." Puas sekali bisa membalas meledek Alvi. "Jika Dafin memilih mempertahankan Navya. Apa yang akan kamu lakukan?"


"Aku akan bahagia apapun pilihan Navya. Aku hanya ingin memastikan dia bahagia."


"Al..."


"Kak, terimakasih sudah mengkhawatirkan aku. Aku tau yang aku lakukan. Aku akan kembali paling lama minggu depan."


"Ya.. ya... terserah kamu. Aku rasa gadis itu seperti kehilangan kamu. Dia tidak pergi sebelum aku memberitahu nya kemana kamu pergi." Senyum mengembang di wajahnya saat Bima menceritakan kedatangan Navya ke kantornya.


"Benarkah? Lalu kakak bilang apa padanya?"


"Jangan GeEr, dia hanya ingin menyampaikan pengunduran dirinya secara langsung padamu."


Bima tau wajah orang yang ada di seberang sana pasti berubah kecut. Bima tertawa, Alvi tidak menjawab perkataan nya karena kesal.


"Ya sudah masih banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan."

__ADS_1


"Iya... iyaa... Aku tutup ya kak."


Setelah menutup panggilan dari Bima, Alvi menatap layar ponselnya. Gambar Navya terpampang memenuhi layar benda pipih itu.


"Navya, kenapa aku tidak bisa melepaskan kamu." Sambil mengusap wajah tersenyum yang ada di layar ponsel nya.


Tiba-tiba ada sebuah pesan masuk. Alvi sampai mengedipkan matanya berkali-kali untuk memastikan pesan itu memang di kirim oleh Navya.


Navya:


'Pak, saya minta maaf atas sikap saya beberapa hari ini. Bukan maksud saya untuk menghindari Bapak, tapi saya masih bingung bagaimana saya harus bersikap jika kita bertemu. Saya mengerti sekali apa yang Bapak rasakan karena saya pernah ada di posisi itu.


Egois jika saya harus berpura-pura tidak tau atau tidak peduli tentang perasaan Bapak. Saya tidak akan bisa melakukan nya, karena Bapak sudah sangat baik pada saya. Jadi menurut saya, akan lebih baik jika saya resign saja. Agar bisa menjaga perasaan masing-masing. Mohon maaf atas sikap saya selama ini dan saya tidak bisa membalas semua kebaikan yang Bapak sudah kasi ke saya.'


Isi pesan yang panjang itu menerbitkan senyum di wajah Alvi. Ia boleh berbangga hati, gadis itu masih memikirkan perasaannya.


Seperti kebaikan dan perhatian yang tulus ia berikan selama ini mendapatkan balasan.


Navya bahkan tidak mempermasalahkan dirinya yang sudah menyembunyikan soal hubungan Dafin dan Hana. Itu artinya gadis itu tidak marah padanya. Menghindari Alvi yang beberapa hari ini Navya lakukan hanya karena takut menyakiti hatinya nya, bukan karena marah atau kecewa.


"Pak.. Bos..." Ryan menggoyangkan tangannya di depan wajah Alvi. Baru lelaki itu tersadar.


"Oh... hahaha... kamu sudah datang."


Kemudian dia berdiri dari kursinya, tanpa menjawab tatapan penuh tanya di wajah Ryan.


"Ayo cepat selesaikan semuanya. Aku ingin segera kembali dan bertemu Navya." Katanya sambil berjalan. Semakin heran Ryan, tapi dia menurut saja dan mengikuti langkah Alvi.


***


Navya pulang ke rumah dan mendapati Dafin sudah berada di dalam kamar mereka. Di sebelahnya duduk ada sebuah tas.


"Kamu udah pulang?"


"Mas mau pergi?" Matanya menunjuk pada tas yang ada di sebelah Dafin.

__ADS_1


"Kita akan pulang ke rumah."


Navya menghela nafasnya. "Tapi saya masih ingin di sini." Sambil berjalan melewati Dafin.


"Navya, kita sudah bukan anak kecil lagi. Kita harus selesaikan masalah kita. Perang dingin begini tidak akan menyesuaikan masalah."


"Lalu apa yang Mas Dafin akan lakukan untuk menyelesaikan semuanya?"


"Mami sudah tau semuanya." Kata-kata Dafin sontak membuat Navya menoleh sepenuhnya pada suaminya.


"Papi yang memberitahu. Dan aku menyesal, sudah termakan kata-kata Hana selama ini. Padahal aku juga tau, Mami sangat peduli padanya. Tapi dia tega membuat aku mengabaikan perasaan Mami, mengecewakan Mami. Dia tidak tulus mencintai aku, dia hanya terobsesi dengan kehidupan mewah."


Bukannya menanggapi ucapan Dafin, Navya malah lari keluar kamar. Dia ingin menemui Finny. Dafin mengikuti langkahnya. "Mami ada di taman belakang." Saat mendapati Navya kebingungan mencari-cari Maminya. Gadis itu langsung menuju taman belakang.


Benar saja di sana Finny sedang duduk dan di temani Damar. "Mi?"


Mereka berdua menengok ke arah asalnya suara yang memanggil. Navya berjalan lagi mendekati Finny yang tengah duduk di gazebo di pinggir kolam. Gadis itu langsung memeluk wanita yang sudah ia anggap sebagai ibunya itu.


"Mi, Vya minta maaf." Sambil terisak di pelukan Finny.


Finny yang ikut menitikkan air mata mengusap-usap punggung Navya sambil mengangguk. "Mami juga minta maaf."


"Enggak Mi, Vya salah. Vya udah bohong sama Mami. Vya gak jujur sama Mami."


"Udah sayang, ini bukan salah kamu sepenuhnya. Mami juga salah, harusnya Mami tidak memaksa kalian. Harusnya Mami tidak egois dengan keinginan Mami sendiri."


Finny melepaskan pelukannya, menghapus air mata di wajah putri sekaligus menantunya. "Sudah sayang, jangan merasa bersalah. Kita bisa mulai lagi dari awal." Finny meminta Navya duduk di sampingnya, lalu pandangannya beralih pada Dafin seraya meminta lelaki itu juga duduk di sisi yang lain.


"Dafin sudah berjanji pada Mami, dia akan berubah. Ya kan Fin?" Finny menyatukan tangan mereka berdua di atas pahanya.


"Navya, aku menyesal sudah menyia-nyiakan kamu. Sudah mengecewakan Mami dan Papi.


"Sekarang di hadapan Mami dan Papi, aku berjanji akan memperbaiki semuanya. Dan tentang Hana, kamu jangan khawatir. Kita akan bicara padanya, karena aku sudah memutuskan untuk berpisah dengannya."


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2