Mencintaimu Karena Terbiasa

Mencintaimu Karena Terbiasa
Jangan Sakit


__ADS_3

"Navya ikut saya !"


"Eh, i.. iya baik Pak."


Kenapa suaranya begitu dingin? Entah sedang fokus pada pekerjaan nya atau karena menahan perih karena lapar, Navya tidak menyadari kalau Alvi sudah berada di depan mejanya dan langsung mengajaknya ikut keluar gedung. Navya langsung menyudahi pekerjaan nya yang belum selesai dan menyambar tas nya kemudian mengikuti Alvi yang sudah menunggunya di dekat lift.


Saat di dalam lift Alvi tidak bicara apapun. Navya memberanikan diri bertanya, Karena dia merasa Alvi tidak ada jadwal keluar di jam segini.


"Maaf Pak, bukannya hari ini tidak ada jadwal keluar kantor?"


"Saya ada urusan pribadi." Alvi menjawab namun tidak melihat ke arah Navya.


Akhirnya Navya mengikut saja kemana Alvi membawanya. Di dalam mobil sesekali Navya masih meringis pelan, walaupun dia berusaha agar Alvi tidak melihat, namun pria itu tau kalau dia sedang menahan lapar. Hal itu membuat Alvi jadi kesal.


Tiba-tiba mobil berhenti di sebuah apotek, Alvi turun tanpa bicara apapun. Navya heran, tidak biasanya sepupu suaminya itu bersikap dingin padanya. Ada apa sebenarnya.


"Kamu minum ini!"


Alvi menyerahkan obat lambung dan sebotol air mineral pada Navya.


"Cepat minum sekarang." Alvi meletakkan nya di tangan Navya. Lalu kembali dia melajukan mobilnya. Sementara Navya langsung meminum obat yang Alvi berikan.


"Terimakasih Pak.."


Tapi Alvi tidak menjawab, dia hanya fokus ke arah jalan raya. Sampai akhirnya dia berhenti di sebuah restoran.


"Bagaimana keadaan kamu?"


"Sudah baikan Pak."


"Kenapa Bapak bisa tau saya punya penyakit Maag dan waktu itu Bapak juga tau saya tidak bisa makan makanan pedas?"


"Saya hanya sering memperhatikan kamu tidak pernah memakan makanan pedas, dan terakhir kali kita ke proyek, kamu hampir pingsan karena belum sempat sarapan. Ayo turun." Dia kemudian membuka pintu mobil dan turun, mau tidak mau Navya juga ikut turun.


Saat mereka sudah duduk di sebuah lesehan. Sekarang wajahnya sudah sedikit melunak, dibandingkan saat keluar kantor tadi.


"Kamu pesan makanan, saya tau kamu belum sarapan kan!?"

__ADS_1


Seketika Navya menatap Alvi. Lalu dia tersenyum. "Bapak gak perlu repot-repot begini, nanti juga saya akan makan. Terimakasih banyak ya Pak, sudah peduli sama saya."


Saya bukan hanya peduli sama kamu, saya mencintai kamu.


"Saya cuma gak mau pekerjaan kamu terganggu, kalau kamu sakit saya juga yang repot kan!? Lagian ya, saya ini punya tanggung jawab menjaga kamu. Kalau kamu kenapa-kenapa pada saat bekerja, saya bisa di tuntut sama Tante Finny."


"Benar juga ya. hehehe...."


Sebenarnya Alvi belum lapar, namun Navya memaksanya untuk ikut makan juga walaupun belum waktunya makan siang.


Setelah acara makan siang mereka, Alvi mengantarkan Navya ke kantor tapi dirinya tidak ikut turun. Dia mengatakan nada urusan lain dan tidak akan kembali ke kantor lagi sampai sore.


"Saya akan minta Ryan mengantarkan kamu pulang nanti, karena saya tidak akan kembali ke kantor lagi sampai sore."


"Gak usah Pak. Saya bisa pesan taksi saja."


"Hmmm.. baiklah."


"Terimakasih Pak." Navya sudah turun dari mobil Alvi, sampai lelaki itu kembali memanggilnya dan membuat Navya menunduk untuk melihat si pengemudi.


"Vy!"


"Saya mohon, jangan sakit dan jangan sakiti diri kamu..." Navya terkejut dengan kata-kata Alvi yang tiba-tiba itu. Apa maksudnya? Namun lelaki itu langsung melajukan kembali mobilnya menuju jalan raya.


Sementara Navya kembali kebingungan dengan ucapan Alvi yang terdengar aneh.


"Ryan saya tidak kembali ke kantor. Kamu awasi Navya dan satu lagi, kamu harus pastikan dia aman sampai di rumah saat pulang nanti."


"Baik Pak."


Isi pesan yang Alvi kirimkan untuk Navya.


***


Pagi tadi Dafin tidak langsung berangkat ke kantor, dia lebih dulu mendatangi apartemen milik Hana. Sejak semalam Hana tidak mengangkat panggilan telepon dari Dafin. Dia tau Hana tidak baik-baik saja sejak dia meninggalkan gadis itu semalam.


Dafin masuk saja, dia tau Hana pasti masih di sana. Dan benar saja, saat Dafin masuk ke dalam unit itu, Hana sedang berbaring di sofa.

__ADS_1


"Gak salah aku datang ke sini." Ujar Dafin sambil mendekatinya. Sementara gadis itu tidak berkutik sedikit pun dari posisinya. Dafin berjongkok di hadapannya sambil merapikan rambut yang menutupi wajahnya.


"Aku tau kamu gak akan datang ke kantor, makanya aku ke sini."


"Lebih baik kamu ke kantor, nanti Bapak Damar Wijaya mencari-cari anak kesayangannya."


Dafin hanya tersenyum. Lalu mengecup kening Hana.


"Biarkan saja. Anaknya sedang ingin bersama kekasihnya."


Hana tersenyum kecut. "Maksudnya selingkuhan?!"


"Minggu depan ada pertemuan di luar kota, ayo kita pergi dan menikah di sana." Hana langsung bangun dari tidurnya.


"Kamu serius?" Dafin mengangguk yakin. "Ya sebenarnya aku mau kasih kamu kejutan, tapi sepertinya kamu gak sabar menunggu sampai Minggu depan. Dari pada aku harus terus-menerus melihat wajah ini cemburu, terpaksa aku beritahu sekarang."


"Tapi...."


"Cukup. Buang semua keraguan kamu. Aku akan membela kamu. Tapi setelah kita menikah, kamu tau kan konsekuensi nya? Sekali pun aku adalah suami kamu, kita tidak bisa tinggal bersama selagi aku belum menceraikan Navya."


"Jadi tolong jangan membebani pikiran kamu terlalu banyak soal hubungan ku dengannya dan percaya padaku. Dari awal aku tidak ingin menyakiti kamu dan aku tidak suka kamu tersakiti lagi apalagi karena aku."


Hana tersenyum senang. "Aku janji, aku akan sabar untuk kamu." Kemudian dia memeluk Dafin dengan erat.


Setidaknya jika kita sudah menikah, kamu tidak akan pernah membiarkan nama Navya masuk ke dalam hati kamu. Dengan begitu baru aku bisa tenang.


"Sekarang bisa kita ke kantor sekretaris ku?"


"Oke .. Aku bersiap-siap dulu." Hana melepas pelukannya pada Dafin kemudian mengecup bibir pria itu sekilas lalu dia beranjak menuju kamarnya.


Tiba-tiba langkah nya berhenti benar berbalik. "Oh ya, kamu sudah sarapan?"


"Hmm.. Belum.. Aku belum sarapan." Dafin terkejut dan sedikit terbata menjawab pertanyaan Hana. Faktanya dia memang sudah sarapan, buatan Navya tadi. Jika Hana tau, mungkin akan sia-sia saja Dafin membujuk nya saat ini.


"Oke, sebentar ya... Nanti aku akan buatkan kopi dan roti isi kesukaan kamu."


"Tidak, tidak usah. Kita sudah terlambat. Nanti kita pesan saja setelah sampai di kantor."

__ADS_1


"Oke..."


__ADS_2