
Pukul sepuluh malam Damar dan Finny memutuskan untuk pulang. Navya menawarkan mereka untuk menginap, tentu saja itu membuat Dafin tidak nyaman. Padahal Navya hanya berbasa-basi, namun jika Finny menyetujui itu bukannya mereka akan dalam masalah. Mereka harus tidur dalam satu kamar agar Finny tidak curiga. Untung nya Damar mengajak istrinya untuk pulang, hingga Dafin bisa bernafas lega.
"Kamu sengaja ya !"
"Maksud Mas ?"
"Ya kamu ngapain nawarin Mami untuk menginap di sini?"
"Enggak Mas, Vya cuma kasian kalau Papi harus nyetir malam-malam begini."
"Halah... alasan kamu!"
Dafin meninggalkan Navya di depan pintu.
"Mas, Vya masih mau bicara." Dafin berhenti namun tidak membalikkan tubuhnya.
"Tadi Papi bilang mau mencari kan kita asisten rumah tangga."
Seketika Dafin berbalik menghadap Navya. "Gak usah manja. Kamu kerjakan semua sendiri. Aku gak suka ada orang lain di rumah ini."
"Tapi Mas...."
"Kenapa? Kamu keberatan mengerjakan semuanya? Bukannya sudah tugas kamu sebagai seorang istri untuk melakukan tugas rumah?"
Navya menunduk dan menggeleng pelan.
"Pokoknya Kamu harus bilang sama papi kalau kamu menolak memakai jasa asisten rumah tangga."
"Baik Mas, nanti Vya akan bilang ke Papi." Mengalah, cuma itu yang dia bisa lakukan.
"Tapi Mas, boleh Vya minta satu hal?"
__ADS_1
Dafin sudah akan beranjak dari tempatnya berdiri, berdecak namun dia tidak jadi bergerak.
Navya buru-buru mengatakan apa yang ingin dia sampaikan. "Bisa tidak sedikit saja Mas menghargai apa yang aku lakukan. Jika tidak bisa sebagai seorang istri, setidaknya hargai aku sebagai manusia. Manusia yang tinggal serumah dengan Mas Dafin."
"Kamu sudah mulai berani ngatur-ngatur aku sekarang?" Sambil menatap tajam Navya.
"Bukan begitu Mas, tapi kita hanya tinggal berdua di rumah ini. Meskipun Mas tidak menerima pernikahan ini, kita tetap tinggal serumah. Aku cuma mau Mas menganggap aku ada di hadapan Mas, walaupun sebagai orang asing. Agar aku tidak merasa seperti tinggal sendirian. Apapun yang Mas Dafin butuhkan, biarkan Vya berusaha untuk memenuhinya." Dafin tidak menjawab, dia hanya menarik nafas panjang lalu berbalik dan berjalan menuju kamarnya. Meninggalkan Navya yang hanya bisa menunduk karena kalimat panjangnya tidak di tanggapi oleh Dafin.
"Ambilkan pakaian kerja aku untuk besok dan perlengkapan ku yang ada di kamar kamu lalu pindahkan ke kamar bawah." Ucapnya saat sampai di depan pintu kamar kemudian masuk dan langsung menutup pintu.
"Iya Mas." Navya terkejut, tapi dia tersenyum lalu segera melakukan apa yang diperintahkan Dafin.
***
Waktu sudah menunjukkan pukul enam pagi, seperti biasanya Navya sudah selesai dengan pekerjaan rumahnya. Sarapan juga sudah rapi di atas meja, dia tetap membuatkan untuk Dafin meskipun nanti pria itu tidak akan memakannya. Dia berniat naik ke kamarnya dan bersiap untuk pergi ke kantor, namun sebelum itu dia menuju kamar Dafin untuk membangunkan lelaki itu. Tapi sebelum Navya mengetuk, pintu kamar itu sudah terbuka.
Dafin sudah bangun dan sudah memakai kemeja. Pakaian itu yang Navya ambilkan tadi malam untuk nya. Lalu dia bejalan menuju meja makan.
"Iya Mas." Sesaat kemudian Navya sudah membawakan nya ke hadapan Dafin.
"Aku juga mau roti isi." Navya terkejut, pasalnya waktu sudah hampir setengah tujuh.
"Tapi Mas, Vya harus siap-siap ke kantor karena ada meeting pagi ini. "
Dafin menoleh kesal. "Kamu gak dengar apa yang aku bilang? Aku mau roti isi. Bukannya tadi malam ada yang bilang akan melakukan apapun!?" Navya terdiam. Iya, dia yang mengatakan itu dan sekarang dia harusnya tidak menyia-nyiakan kesempatan ini.
"Iya Mas, Vya akan buatkan sebentar."
"Hmmm..." Dafin menyeruput kopinya sambil menunggu Navya. Beberapa menit kemudian Navya sudah kembali membawa roti isi yang Dafin minta. Setelah itu dia meminta izin bersiap-siap untuk ke kantor.
Navya bergegas turun ke bawah. Sudah pukul tujuh lebih saat dia keluar dari kamarnya. Dia sudah tidak mendapati Dafin di ruang makan, itu artinya pria itu sudah berangkat tanpa memberitahu dirinya. Navya merasa sudah tidak sempat untuk sarapan, apalagi menyiapkan bekal. Akhirnya dia memasukkan masakannya ke dalam lemari pendingin. Dengan terburu-buru dia berangkat bekerja.
__ADS_1
Navya sedang terburu-buru, namun saat akan masuk ke dalam mobil dia melihat ban mobilnya kempes. Dia merasa sangat sial pagi ini, belum sempat sarapan malah sekarang ban mobil kempes. Navya melihat jarum jam di tangannya, ia harus segera berangkat. Ada meeting penting pagi ini.
Akhirnya dia memutuskan untuk berjalan keluar dari halaman rumahnya, mungkin saja ada taksi yang lewat. Baru saja dia sampai di depan pagar rumahnya, sebuah mobil yang tak asing berhenti tepat di depannya. Saat kaca mobil terbuka ia melihat Alvi tersenyum dari kursi belakang.
"Kamu belum berangkat?"
"Iya Pak, saya lagi nunggu taksi. Soalnya mobil saya bannya kempes."
"Kalau begitu ayo bareng sama saya saja." Tanpa pikir panjang, dia segera naik saat Ryan sudah membuka pintu bagian depan.
Entah bagaimana Alvi bisa kebetulan lewat di depan rumahnya, tapi Navya beruntung dia tidak akan terlambat, walaupun ia sedikit tidak enak pada Alvi. Harusnya sebagai karyawan, dia sudah berada di kantor sebelum bosnya.
Pukul sepuluh pagi, meeting sudah selesai dan Alvi kembali ke ruangannya. Sementara Navya juga tengah di sibukkan dengan pekerjaan di meja kerjanya. Sebenarnya perutnya sudah sangat lapar, namun dia mencoba menahannya sampai jam makan siang. Sambil mengerjakan pekerjaannya sesekali dia meringis menahan perih lambungnya, tapi dia hanya meminum air putih untuk sekedar meredakannya.
"Vy, kamu sakit?" Tanya seorang teman kerja nya saat tak sengaja melihat Navya meringis memegangi perutnya.
"Enggak kok Mbak. Aku cuma lapar, tadi pagi belum sempat sarapan."
"Kamu sibuk banget ya, pasti repot kan harus ngurusin suami, rumah dan harus bekerja."
Navya hanya nyengir saja.
"Kamu izin makan dulu sana."
"Nanggung Mbak, lagian sebentar lagi udah mau jam makan siang." Di saat bersamaan Ryan yang akan masuk ke ruangan Alvi berjalan melewati mereka yang sedang mengobrol. Seketika Navya dan temannya terkejut.
Merasa tidak enak temannya langsung buru-buru kembali ke mejanya sambil mengingat kan Navya untuk segera mengisi perutnya.
"Hmm... ya udah, nanti kamu langsung makan. Aku lanjut kerja ya."
Yang di balas anggukan saja oleh gadis itu. Tanpa sengaja hal itu di dengar oleh Ryan namun dia seperti tidak mendengar apapun dan langsung masuk ke ruangan Alvian.
__ADS_1