Mencintaimu Karena Terbiasa

Mencintaimu Karena Terbiasa
Meminta Izin


__ADS_3

Dafin masih tinggal di Panti Asuhan bersama Hana. Mereka memutuskan menginap atau malam sambil Hana membereskan barang-barang miliknya untuk di bawa pindah ke rumah Damar. Kalo ini mereka akan tinggal di rumah orangtuanya, karena Hana sedang hamil.


Lagipula mereka belum punya rumah. Dan Finny tidak mengizinkan mereka untuk tinggal di apartemen lagi. Rumah yang pernah di tinggali Dafin dan Navya akan di serahkan sepenuhnya atas nama Navya. Dafin mengatakan itu sudah Hak Navya.


Hana tidak mempermasalahkan semua itu. Baginya sekarang tidak ada lagi soal harta, keluarga adalah segalanya. Hana sudah sangat bersyukur Tuhan sangat menyayangi dirinya bahkan setelah dia melakukan banyak kesalahan. Dia masih diberikan anugerah yang sangat banyak dalam waktu yang bersamaan.


Kini dia tulus menganggap Navya sebagai adiknya. Mendoakan yang terbaik untuk kebahagiaan gadis itu. Melupakan masa lalu antara Navya dan suaminya, dia berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak akan mengungkit hal apapun dari masa lalu.


Hanya satu hal yang masih menjadi kekhawatiran Hana. Sikap Damar padanya masih sulit untuk di tebak. Mengenai dirinya dan Dafin yang sudah memutuskan untuk melanjutkan pernikahan, Damar sama sekali tidak menunjukkan protes dan tidak melarang. Namun Damar cenderung dingin padanya.


Tidak ada kata-kata nasehat yang ia dengar saat dirinya bersimpuh meminta restu. Damar diam saja, ekspresi wajahnya sulit di tebak yang di artikan Hana bahwa Damar belum sepenuhnya menerima dirinya.


Bukan hanya Hana, Dafin juga merasakan itu dari sang Ayah. Tidak ingin membuat istrinya banyak berfikir, Dafin lalu menenangkan Hana.


"Kamu tenang saja, lama kelamaan nanti Papi pasti akan luluh. Kalau yang kita tau Mami itu egois, tapi Papi jauh lebih keras kepala. Tapi Papi selalu ingin kebahagiaan untuk keluarga nya, makanya dia biarkan siapapun membuat keputusan sendiri. Jadi apapun konsekuensinya Papi tidak akan mau ikut menanggung nya. Kalau keputusan kita tepat, Papi akan ikut bahagia."


"Kamu yakin?"


"Yakin. Sebelum ini Papi meminta aku memilih antara kamu dan Navya. Padahal aku tau pasti, dia ingin aku memilih Navya.


Tapi dia ingin jawaban yang tegas dari ku."


Hana tampak berfikir, mencerna penjelasan Dafin.


Dafin mendekati Hana dan menangkup wajah gadis itu dengan kedua telapak tangannya.


"Sudah jangan terlalu dipikirkan. Sebenarnya Papi itu orang yang sangat perhatian kok, dia hanya belum yakin sepenuhnya sama kamu. Yang penting dia tidak menolak pernikahan kita sekarang, itu artinya dia ingin kamu membuktikan kesungguhan kamu menjadi istriku dan menantu yang baik mereka."


"Tapi kamu bantu aku yaa..."


"Aku akan selalu mendukung kamu. Besok kita akan pindah ke rumah Papi, kamu akan punya lebih banyak kesempatan untuk dekat dengan Papi. Mami juga akan membantu kamu."


Hana kemudian memeluk Dafin. "Terimakasih ya. Aku merasa tidak pantas untuk mendapatkan semua ini. Aku sudah jahat tapi kalian malah baik padaku."


"Tidak ada siapapun yang salah dalam hal ini. Hanya saja kita semua berada dalam situasi yang tidak tepat pada saat itu."

__ADS_1


"Apa Navya juga akan tinggal di rumah Mami?"


"Hmmm... aku belum tau. Tapi kemungkinan iya. Karena Mami tidak akan mengizinkan dia tinggal sendirian di rumah yang pernah kami tinggali. Kamu enggak masalah kan?"


Hana bangun dari bahu Dafin dan menggeleng cepat. "Enggak lah. Aku malah mau dia tetap tinggal bersama kita. Biar aku ada teman."


"Syukurlah. Ayo kita tidur, sudah selesai kan menyusun barang nya?"


"Iya sudah." Hana naik ke tempat tidur dan Dafin menarik selimut menutupi tubuh Hana sampai di dadanya.


***


"Selamat pagi Tante." Berdiri saat melihat Finny berjalan turun dari tangga, dia menghampiri lalu mencium tangannya.


"Al. Kebetulan sekali kamu datang. Kita sarapan bersama ya." Finny senang sekali mendapati keponakannya datang.


"Kamu cari Navya? Dia belum kayaknya."


"Al cari Tante." Finny terkejut. Tidak biasanya.


" Ada apa, apa terjadi sesuatu dengan toko kue, atau Nenek?"


"Kalau Tante tidak keberatan, ada yang ingin Alvi bicarakan dengan Tante dan Om."


"Soal apa?" Mereka berdua menolah pada asal suara. Entah sejak kapan Damar sudah berdiri di tengah anak tangga.


Dia pikir Alvi akan membahas soal penyebab kecelakaan yang merenggut nyawa orangtua Navya. Karena Damar tau beberapa waktu ini Alvi mencari informasi tentang kejadian dua puluh tahun yang lalu. Berjalan turun tapi matanya tidak beralih dari Alvi.


"Soal Navya."


"Ayo kita sarapan dulu, baru kita bicara." Finny mengarahkan mereka berdua untuk berjalan menuju meja makan.


"Tante akan panggil Navya ya, kamu ngobrol sama om dulu." Menepuk bahu Alvi lalu dia meninggalkan kedua pria itu di meja makan.


"Apa yang akan kamu bahas? Soal kecelakaan dua puluh tahun lalu? Atau soal perasaan kamu."

__ADS_1


Alvi tersenyum. "Saya tidak akan membuat orang yang saya sayangi bersedih. Membahas penyebab meninggalnya orangtuanya yang justru merusak posisi saya. Yang bahkan belum punya tempat di hati nya."


"Lalu apa tidak terlalu buru-buru, kalau kamu mau bicara perasaan dengan gadis yang bahkan belum mengesahkan perceraian nya."


"Om jangan khawatir, saya tidak akan terburu-buru. Menunggu Navya mencintai saya tidak akan membuat saya bosan."


Finny dan Navya muncul di belakang Alvi. "Ayo kita makan dulu. Pasti Al belum sarapan kan?" Finny duduk di sisi kanan suaminya sedangkan Navya duduk di sebelah Finny.


"Terimakasih Tante."


"Pagi Navya."


"Pagi Mas." Damar dan Finny terkejut dengan panggilan Navya ke Alvi. Tapi mereka tidak membahas nya lebih lanjut.


Setelah sarapan mereka duduk di ruang keluarga. Navya duduk di sebelah Finny, dengan wajah yang harap-harap cemas. Berdoa dalam hati agar Finny memberikan izin untuk Navya melanjutkan pendidikannya di bidang desain perhiasan.


Itu adalah cita-cita Navya sejak dulu, tapi dia cukup tau diri untuk memilih dimana di ingin kuliah. Walaupun Damar sudah menyerahkan keputusan di tangannya saat itu. Dan satu lagi yang jadi pertimbangan nya adalah Finny. Dia tidak tega meninggalkan wanita itu untuk berkuliah di luar negeri. Jadilah dia menyerahkan semua keputusan pada Papinya. Kemanapun Damar mendaftarkan dirinya, Navya akan menjalani pendidikan itu dengan baik.


"Ada apa sih ini Vy? Sampai kamu harus meminta Alvi untuk bicara dengan kami."


Lalu tanpa menjawab pertanyaan itu, Alvi memberikan sebuah buku gambar tebal kepada Tantenya. Ada banyak sekali gambar desain perhiasan di sana, dan terdapat catatan kaki bertuliskan nama Navya. Finny menoleh pada sang putri di sebelahnya. "Jujur, Mami belum paham maksudnya sayang."


Navya menggenggam tangan Finny. Tapi dia belum menjawab, malah melihat laki-laki di depannya. "Itu semua hasil karya Navya Tante. Ada cita-cita terpendam di balik hasil coretan tangan nya itu." Navya tertunduk tidak berani menatap Finny.


Kini Damar yang melihat ke arah Navya saat istrinya memberikan tatapan bingung. "Navya, apa kamu ingin kuliah lagi? Di luar negeri?"


Ya, Damar mengerti maksudnya. Tapi tentu saja membuat Finny terkejut dan langsung menoleh pada Navya. "Benar itu Nak?"


Dengan cepat Navya mengangguk. "Sayang, kamu tega meninggalkan Mami?" Wanita itu sudah gusar. "Bukan hanya itu, Mami lebih khawatir kalau kamu di sana sendirian. Siapa yang akan mengurus kamu nanti, kalau kamu sakit atau kamu nggak suka dengan makan di sana. Nanti kamu tersesat. Siapa yang akan menjaga kamu di sana "


Alvi tersenyum, begini rupanya yang Navya maksud. Finny benar-benar menganggap Navya masih seperti gadis kecil yang belum bisa berjalan sendiri. "Tante, tenang saja. Navya aman di sana. Saya akan jamin keselamatan Navya, tempat tinggal dan transportasi sudah saya urus semuanya." Damar memperhatikan Alvi bicara, cukup cekatan juga keponakan istri nya ini. Dia bahkan sudah mengurus semua keperluan Navya.


"Tapi Al, Tante tidak bisa jauh dari Navya. Tante takut dia kenapa-kenapa. Tante akan merasa bersalah, seperti yang sudah terjadi. Tante belum bisa memaafkan diri Tante karena sudah membuat Navya terluka dalam pernikahannya dengan Dafin."


"Sayang, kamu harus percaya pada anak kamu. Navya pasti bisa menjaga dirinya."

__ADS_1


"Mami gak bisa, mami gak setuju Navya belajar di luar negeri." Finny melepaskan tangan Navya. Lalu berjalan keluar menuju taman belakang. Meninggalkan mereka bertiga.


Bersambung


__ADS_2