
Alvi dan Diana berduaan di bawah langit sore, sebuah meja di hias khusus dengan bunga-bunga dan lilin aromaterapi. Udara yang sejuk dan bunga-bunga yang tumbuh di sekelilingnya membuat kesan suasana romantis begitu terasa.
Alvi menarik kursi agar Diana duduk. Kemudian Alvi duduk di depannya. Diana tersenyum tersipu saat Alvi memuji kecantikannya. Pria itu menggenggam tangan Diana dengan lembut sambil mengucapkan kata-kata mesra.
"Izinkan saya mencintai kamu Di."
"Tapi dia?" Gadis itu menunjuk Navya yang berdiri di belakang Alvi. Menoleh sebentar lalu menatap lagi Diana di depannya.
"Di, aku dan dia tidak pernah ada hubungan apapun. Kami hanya teman dekat."
Kecewa tidak lagi bisa di bendung olehnya saat mendengar ucapan Alvi pada Diana.
Ting Tong.. Ting Tong...
Suara bel mengagetkan Navya, membangun gadis itu dari lamunannya yang. Buru-buru dia
berjalan ke arah pintu, mengintip siapa yang datang. Lalu dia membuka pintu kamarnya.
Seorang pelayan wanita berdiri di depan pintu kamarnya dengan memegang sebuah troli.
"Saya membawa kan makanan atas nama Bapak Alvian Mahendra." Navya mengangguk dan mempersilahkan nya masuk. Mendorong masuk troli yang berisi makanan dan minuman. Kebetulan sekali dia sedang lapar.
Setelah menyusun makanan di atas meja, pelayan itu menyerahkan sebuah paper bag pada Navya. "Ini ada titipan untuk Ibu dari Pak Alvian."
"Terimakasih." Lalu pelayan undur diri itu keluar dari kamarnya.
*Dia mengirimkan makanan. Dan ini, apa ini? Baju ganti. Kenapa dia repot-repot mengirimkan semua ini.
Kalau ingin menyuruhku makan, dia kan bisa memanggilku ke bawah. Atau dia mau makan berdua saja dengan Diana*.
Navya melihat jarum jam, biasa kalau dia dan Alvi meeting dengan klien dulu, seharusnya memang sudah selesai. Lalu jika mereka ingin makan malam berdua, kenapa harus mengajak dirinya. Bukankah ini terlalu merepotkan, Navya bisa saja membuat rencana mereka gagal kan.
Benar saja, ini hanya bentuk tanggung jawab Mas Alvi. Karena janjinya pada Papi dan Mami untuk menjagaku. Harusnya aku pulang sendiri saja tadi. Tapi...
Heran lagi kan, kenapa Alvi bisa tau kalau Navya tidak pulang dengan Elma. Tiba-tiba saja Alvi sudah ada di sana dan menjemputnya. Seharusnya Navya mengatakan sudah di jalan biar dia tidak ada dalam situasi seperti ini, terjebak bersama orang yang sedang kasmaran. Tapi kan tadi dia tidak tau kalau Alvi akan meeting, dan ada Diana di dalam mobilnya.
Navya kesal sendiri jadinya. Tidak bisa menahan diri, dia akhirnya turun ke bawah. Tidak menyentuh makanan yang di bawa pelayan tadi, padahal perutnya lapar sekali.
Dengan yakin dia berjalan ke arah restauran, mencoba mencari tau Diana dan Alvi.
Tapi kalau mereka meeting di ruangan private bagaimana....
__ADS_1
Pikirannya menerawang lagi, kalau di ruangan privat dan meeting sudah selesai. Apa yang mereka berdua lakukan. Navya menggeleng, lalu berbalik.
Kan itu bukan urusan ku. Aku yang mengatakan kalau mas Alvi berhak untuk bahagia. Meskipun bukan aku.
Pikirannya menyadarkan dirinya bukan siapa-siapa untuk Alvi. Namun hatinya membawa langkahnya masuk ke area restoran. Navya mengedarkan pandangannya mencari.
Matanya menangkap sosok yang ia kenali. Tersenyum hangat pada gadis di sampingnya. Entahlah. Navya bingung mengartikan apa yang ia rasakan saat ini. Senyum itu sangat jarang Alvi berikan pada wanita lain, selain dirinya dan nenek, atau mungkin sekarang pada Mami. Sekarang ia tersenyum pada Diana.
Navya menunduk, tersenyum sendu. Kenapa begini rasanya. Dia sendiri kan yang belum yakin dengan hatinya. Belum yakin untuk menerima Alvi. Lalu Alvi memilih gadis lain sebagai pelabuhan hatinya, kenapa Navya harus bersedih.
Dia berbalik, pergi dari tempat itu.
***
"Terimakasih atas kunjungan Om. Al yakin kerjasama ini akan berjalan dengan baik. Al janji."
"Om percaya sama kamu. Kamu persis seperti Papa kamu, semangat dan penuh dengan ide-ide segar. Pantas jika Tuan Sultan mempercayakan Mahendra Group berasa di tangan kamu."
"Terimakasih banyak Om." Mereka bersalaman, Alvi tersenyum hangat pada teman lama Papanya. Salah satu sahabat Indra yang juga berperan dalam keberhasilan Alvi memimpin Perusahaannya. Sejak ia tinggal di luar negeri bersama nenek dan kakeknya, lelaki seolah mengganti tempat Indra sebagai ayahnya. Dia mendidik dan mengajarkan semua hal tentang bisnis pada Alvi.
Sekilas Alvi seperti melihat bayangan orang yang dia kenal berada di sana. Alvi menoleh untuk memastikan, tapi tidak ada siapapun.
Mungkin aku salah lihat. Dia ada di kamar ketika pelayan mengantarkan makanan dan pakaian gantinya.
"Oh bukan apa-apa Om. Mari, Alvi antar Om."
Dia mengantarkan sahabat Papanya yang datang dengan sekretaris nya ke depan lobi. Mobilnya sudah siap di depan lobi.
"Kapan kamu menikah? Pria mapan dan tampan pasti banyak yang mengejar." Tertawa sambil menepuk bahu Alvi yang sudah ia anggap seperti anaknya sendiri.
"Om tunggu saja, Al akan kabari jika sudah waktunya. Yang pasti Om dan Tante harus datang."
"Pasti. Om akan meluangkan waktu untuk datang, Tante kamu pasti juga sangat senang." Sebelum naik ke mobil dia mendekat ke Alvi lalu membisikkan sesuatu.
"Ngomong-ngomong sekretaris kamu cantik dan pintar. Kenapa harus susah-susah mencari."
Alvi terkekeh dengan ucapan pria itu. "Al bisa di bunuh Om. Diana sudah bertunangan."
"Hahaha... Om kira dia masih belum mempunyai kekasih."
Diana mendengar sebenarnya, dia hanya tersenyum kikuk dan berpura-pura tidak mendengar percakapan mereka.
__ADS_1
"Om tenang saja, sebentar lagi. Alvi akan mengabari jika semua sudah di persiapkan. Doakan saja semoga semua berjalan lancar."
"Baiklah, Om akaan selalu mendoakan kamu. Om pergi dulu ya." Al menunggu sampai mobil meninggalkan halaman resort lalu masuk ke dalam lobi. Langkah nya terhenti saat Diana mendekatinya.
"Maaf Pak, saya juga mau izin."
"Kamu sudah akan pulang? Dengan siapa?"
"Iya Pak. Hmm... tunangan saya sudah datang menjemput, dia sedang menunggu di sana."
Menunjuk seorang pria yang sedang duduk di kursi taman.
"Oh ya sudah. Kamu hati-hati."
"Baik Pak, terimakasih." Alvi mengangguk lalu masuk untuk menemui Navya.
Alvi menekan tombol bel kamar Navya. Tapi tidak ada jawaban atau tanda-tanda akan membukakan pintu. Berulang kali Alvi mengetuk dan menekan bel. Dia mulai panik. Lalu mencoba menelepon, tapi tetap hasilnya nihil. Teleponnya juga tidak di angkat. Bibir nya bergumam menyebutkan nama Navya. Wajahnya sudah sangat panik, takut terjadi apa-apa dengan Navya. Alvi memutuskan untuk meminta pihak hotel membuka pintu.
"Mas Alvi?" Navya berdiri tepat di depannya. Menatap bingung lelaki yang masih mencemaskan dirinya. Refleks Alvi langsung memeluk Navya dengan erat. Terlihat sekali raut kecemasan di wajahnya, debaran jantungnya yang berdegup cepat dapat di rasakan oleh Navya.
"Syukurlah kamu baik-baik saja." Cukup lama dia memeluk Navya.
"Eehm Mas... " Suara Navya menyadarkan Alvi atas tindakannya dan perlahan melepaskan pelukannya.
"Kamu dari mana saja? Kenapa tidak mengangkat telepon saya?"
Jadi sekarang dia harus bagaimana, harus senang atau tidak karena Alvi mengkhawatirkan dirinya. "Mbak Diana dimana Mas?"
"Navya, saya sedang mengkhawatirkan kamu. Kenapa kamu jadi bertanya soal Diana?"
"Ehhm saya hanya jalan-jalan keluar sebentar. Saya bosan di kamar."
"Lalu handphone kamu?"
"Ketinggalan di kamar sepertinya."
Alvi menghela nafas lega mengetahui Navya baik-baik saja.
"Kamu sudah makan?" Navya menggeleng.
"Ya sudah kamu mandi dan ganti pakaian dulu, saya akan tunggu di bawah."
__ADS_1
"Iya Mas."