Mencintaimu Karena Terbiasa

Mencintaimu Karena Terbiasa
Ziarah


__ADS_3

Restauran tempat pertemuan mereka dengan klien tidak begitu jauh dari rumah. Tidak sampai 10menit mereka sudah sampai di sana. Beruntung ada Ryan di sana. Sebelum Alvi masuk ke rumah Navya, dia lebih dulu meminta Ryan menemani kliennya.


Pukul 9 pagi mereka sudah selesai sarapan dan pembahasan mengenai kerjasama juga sudah rampung. "Yan, kamu bisa kembali dulu ke perusahaan. Saya masih ada urusan."


"Baik Pak."


"Navya , kamu ikut saya."


"Iya Pak."


Ryan menunggu mobil Alvi yang keluar duluan dari tempat parkir sebelum dia juga masuk ke mobil nya dan kembali ke kantor.


"Maafkan saya Pak. Karena saya, kita jadi terlambat untuk meeting."


"Tidak masalah, saya tadi meminta Ryan untuk menemui mereka dulu."


"Kamu baik-baik saja kan ?"


"Saya? Saya baik-baik aja kok Pak." Bingung dengan pertanyaan Alvi.


"Memangnya tidak apa-apa kamu meninggalkan Dafin dan sekretaris nya berdua saja di rumah?"


Seperti terhenyak, mendadak Navya tidak bisa bicara apapun. Navya bukan gadis polos, dia tau apa yang Alvi maksud. Teringat saat mendengar pembicaraan Dafin dan Hana ketika di hotel, hubungan mereka memang terlihat lebih dari sekedar hubungan Bos dan sekretaris nya.


"Apa kamu percaya? Sering menghabiskan waktu bersama bisa membuat orang merasa nyaman satu sama lain. Seperti Saya ke kamu."


"Ya?" Pandangan Navya sepenuhnya tertuju pada Alvi saat ini.


"Ya seperti kita, saya dan kamu juga kan sering menghabiskan waktu bersama dalam pekerjaan. Kita gak akan pernah tau, bisa saja saya merasa nyaman sama kamu atau sebaliknya. Tergantung bagaimana kita menyikapinya. Begitu juga dengan Dafin dan sekretarisnya."


"Ya Bapak benar juga. Tapi saya yakin hubungan Mas Dafin dan Kak Hana hanya sebatas pekerjaan, tidak lebih. Sama seperti saya dan Bapak. Mungkin kedekatan yang Bapak maksud itu karena memang Mas Dafin dan Kak Hana sudah lama saling mengenal. Jauh sebelum sekarang, dan kalau saya tidak salah mereka pernah satu sekolah. Kak Hana memang baik pada semua orang."


"Sepertinya Kamu sangat mengenal sekretaris Dafin itu?"


"Memang benar Pak. Kami sama-sama pernah tinggal di Panti Asuhan yang di rawat oleh almarhum orang tua saya dulu."


"Cinta Kasih. Nama panti asuhan tempat kamu tinggal dulu, Cinta kasih kan ?"

__ADS_1


"Bapak tau dari mana?"


Alvi tersenyum penuh arti. Membuat Navya malah makin penasaran.


"Saya mau kamu mengembalikan sesuatu pada saya."


"Saya? Apa ada barang bapak yang pernah saya ambil?" Navya coba mengingat lagi apa yang pernah dia ambil dari Alvi. "Atau bapak mau saya mengembalikan Gaun yang waktu itu pernah Bapak kasi yaa!?"


Ada Navya. Kamu sudah mengambil hati saya, perhatian saya dan waktu saya.


Alvi tertawa sambil geleng-geleng kepala.


"Saya akan beritahu ketika kita sampai di tujuan."


"Memang kita mau kemana Pak?" Navya semakin bingung saja di buatnya.


Bosnya malah tersenyum saja tanpa menjawab pertanyaannya. Rasanya ingin sekali dia mencubit pipi Navya, karena gemas melihat wajah bingung gadis itu.


***


"Kamu senang?"


Jelas. Navya mengangguk senang, dengan semangat dia ingin segera turun saat mobil Alvi terparkir dengan sempurna. Namun tiba-tiba Navya mengurungkan niatnya.


"Kenapa?"


"Hmmm saya biasanya bawain bunga kesukaan Ibu dan temannya."


"Oh itu... Kamu tenang saja. Tapi kita tunggu sebentar di sini ya." Navya semakin di buat heran dengan sikap Alvi. Pria itu malah mengeluarkan ponsel dari saku jasnya dan mencoba menghubungi seseorang.


"Nek, Al sudah sampai. Baik, Al tunggu nenek dan kakek di sini." Setelah mematikan sambungan telepon itu, Alvi masih fokus pada ponselnya dan menekan nomor lain dan menelpon seseorang lagi.


"Tante, sudah dimana? Ya, saya sudah sampai. Bersama Navya."


Gadis itu memfokuskan pandangannya pada Alvi saat namanya sebut dalam panggilan tersebut.


"Kamu akan mengetahui nya nanti." Ucapnya saat melihat tatapan penuh tanya di wajah Navya.

__ADS_1


Tidak berapa lama sebuah mobil yang tidak asing bagi Navya berhenti tidak jauh dari mobil mereka. Navya terkejut melihat Damar dan Finny keluar dari mobil tersebut. Dia langsung menghampiri mertuanya.


"Loh, Mami dan Papi kok gak bilang mau ke sini? Maksudnya kenapa gak ngajak Navya!? Kan bisa bareng."


Mereka berdua hanya tersenyum kaku dan melirik sekilas ke arah Alvi. "Apa kabar Tante dan Om?"


"Baik Nak. Apa Nenek belum sampai?"


"Mungkin sebentar lagi, tadi Nenek bilang mampir sebentar ke toko."


Navya menatap bergantian Alvi dan Finny, lalu melemparkan pandangan penuh tanya pada Damar yang dari tadi hanya diam. Tapi lagi-lagi hanya di jawab dengan senyuman oleh Damar.


"Mari kita masuk dulu saja Tante." Alvi merangkul Finny sambil berjalan masuk duluan ke area pemakaman. Sementara Damar mengajak Navya juga masuk.


"Pi? Sebenarnya ada apa sih? Apa yang terjadi antara Mami dan Pak Alvi?" Lagi-lagi Damar tidak menjawab dengan kata-kata, hanya menepuk bahu Navya dengan lembut.


Begitu sampai di depan makam yang tidak asing bagi Navya, bukan makam orangtuanya. Makam itu bertulisan Indra Mahendra dan Syifa. Kebingungan Navya semakin menjauh kala melihat dua orang yang tadi berjalan duluan sedang berpelukan dan wanita yang Navya panggil Mami itu terisak kencang dalam pelukan Alvi. Sementara Alvi mengusap punggung gemetar itu.


Belum terjawab apa yang sedang terjadi sebenarnya dengan pemandangan haru di depan sana, suasana tegang terjadi di dekatnya. Seorang pria dan wanita tua berdiri menatap Damar dengan cara yang berbeda.


Navya tau, dia mengenali mereka. Wanita tua itu terkejut, namun menatap penuh kasih pada Damar kemudian beralih pada Finny yang masih ada dalam pelukan Damar. Tapi pria tua yang masih menyisa ketampanan di dalam garis halus wajahnya itu terlihat tidak begitu senang dengan kebenaran Papi nya di sana. Damar menyalami mereka berdua. Meski seperti tidak senang, Sultan Mahendra tidak menepis tangan Damar. Sementara Rima malah langsung memeluknya.


Alvi yang sudah menyadari kedatangan kakek dan neneknya memberitahukan pada Finny. Saat melihat keberadaan kedua orangtuanya, tanpa menunggu lagi dia berjalan menuju mereka. Tanpa basa-basi dia memeluk sang ibu dengan erat, tak hanya Finny tapi Rima juga tak bisa membendung derai air matanya.


Beralih pada sang Ayah, Finny masih Ragu untuk mengungkapkan rasa rindu nya. Karena ekspresi datar Sultan padanya. "Lalu kau hanya merindukan Mamamu, apa Papa tidak bisa diberikan pelukan?" Ucapnya sambil merentangkan tangannya.


"Pa, Maafkan Finny Pa. Finny sangat merindukan Papa dan Mama. Finny hanya malu."


"Kenapa harus malu? Kalian bahagia, kalian sudah membuktikan bahwa cinta kalian benar-benar kuat dan tulus."


Tapi Finny menggeleng, lalu mengurai pelukannya dan dia menatap sang ayah. "Kebahagiaan Finny gak lengkap Pa, Finny tidak ada bersama kalian. Apalagi di saat-saat sulit kepergian Mas Indra." Dia menangis sesenggukan.


Navya mulai bisa membaca apa yang terjadi. Tapi dia tidak habis pikir, dunia begitu sempit untuk mereka, sehingga dia bisa berada di antara orang-orang yang memiliki ikatan satu sama lainnya.


Bersambung


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2