
"Navya, kamu mau kan memberikan aku kesempatan lagi?" Navya masih diam, menatap tangan mereka yang bersatu di bawah genggaman tangan Finny. Jantung Navya berdebar, bukan karena janji yang Dafin ucapkan. Tapi dia bingung bagaimana menjawabnya. Navya belum yakin dengan semua ini, dengan keadaan ini.
Semua orang menunggu, Damar tersenyum melihat kesungguhan anaknya yang ingin memperbaiki keadaan rumah tangganya bersama wanita yang tepat.
Perlahan Navya menarik tangannya. "Maafkan Vya."
Tatapan ketiga orang itu serentak tertuju padanya. Navya menunduk. Bukan mengintimidasinya, hanya saja mereka tidak menyangka bahwa Navya akan bersikap begitu. Gadis itu seperti tidak yakin dengan kata-kata Dafin. Dia ingin menolak.
Navya menarik nafasnya perlahan. Mencoba memantapkan hatinya, dia harus yakin dengan jawabannya.
"Navya,,," Ucapan Dafin terhenti ketika Damar mengangkat tangannya agar Dafin jangan bicara dulu. Damar yakin ada yang ingin menantunya katakan.
"Maafkan Navya Mami, Papi.. Jujur selama ini Navya menjalani pernikahan ini sungguh-sungguh. Meskipun Mas Dafin tidak meminta Vya bersandiwara, tapi Vya melakukan itu dengan sungguh-sungguh. Vya mencoba mencintai Mas Dafin meskipun awalnya Vya tidak mencintai, bahkan saat tau hubungan mas Dafin dan Hana pun, Vya tetap ingin mempertahankan pernikahan ini. Tetap mencoba menjalankan peran Vya sebagai istri yang baik. Dengan harapan Mas Dafin menyadari perasaan Vya tulus dan dia akan berubah."
"Sekarang saat keinginan itu sudah terpenuhi Vya malah merasa aneh. Harusnya Vya senang kan, Mas Dafin lebih memilih Vya daripada kak Hana tapi tidak tahu kenapa Seperti ada yang mencegah hati ini untuk menerima Mas Dafin."
"Apa karena Hana??" Dafin sedikit gusar.
Tapi Navya diam saja tidak menjawab pertanyaan itu. Karena bukan hanya itu yang membuat ragu. Ada perasaan aneh yang mengatakan dia tidak berhak memiliki Dafin.
"Baik, aku akan secepatnya berpisah dengannya jika itu yang membuat kamu masih ragu." Kata Dafin mantab.
"Enggak Mas. Vya gak tau. Tolong beri Vya waktu untuk berfikir dan memutuskan." Katanya yakin, sambil menatap Finny dan Damar bergantian. "Mi, Vya bukannya menolak permintaan Mami. Tapi Vya tidak mau salah mengambil keputusan lagi."
Finny menatap suaminya yang mengangguk pelan seraya membujuknya agar mau memberikan kesempatan pada Navya untuk berfikir. Damar juga menepuk bahu Dafin, meminta agar anak laki-laki nya itu bersabar dan membiarkan Navya untuk membuat keputusannya sendiri.
__ADS_1
Finny kemudian memeluk Navya, gadis itu menjatuhkan kepalanya di bahu Finny. Ada seberkas air mata yang menetes dan membasahi baju sang Ibu. "Nak, maafkan kami yang sudah membuat kamu sedih. Kali ini Mami tidak akan memaksa."
Damar juga mendekat dan mengusap kepala Navya. "Kamu jangan sedih, apapun yang kamu pilih, Papi akan selalu mendukung kamu. Papi selalu ingin yang terbaik untuk kalian berdua."
Dafin tidak dapat berkata-kata lagi, dia juga tidak bisa memaksa Navya saat ini. Dafin menyadari sudah berulangkali dia menyakiti Navya, tidak mungkin semudah itu Navya bisa menerima dirinya. Dan soal Hana, Dafin memang belum menemui gadis itu sejak pertengkaran terakhir mereka di depan rumah. Dafin akui, dia masih menyayangi Hana. Rasa kecewanya pada Hana sebagian besar di karenakan dia begitu menghargai wanita itu, dia selalu membuat Dafin tersenyum. Tapi perbuatannya sudah mengecewakan Dafin dan keluarga nya. Dafin tidak ingin mengecewakan Damar dan Finny dua kali karena Hana.
Dia harus segera menyelesaikan semuanya. Keluarga mereka harus bertemu dengan Hana, Pak Yamin dan Bu Sarah. Agar Navya juga semakin yakin untuk mempertahankan pernikahan mereka lagi.
***
Hana sedang ada di halaman belakang. Tadi dia bermain bersama anak-anak Panti yang lain sambil mengurus kebun kecil mereka. Sekarang dia duduk di kursi kayu sambil memandangi wajah seseorang di layar ponselnya. Mengusap-usap wajah itu sambil mengelus perutnya. Sesekali dia tersenyum namun kesedihan di matanya tidak dapat ia sembunyikan.
Yamin mendekati anak perempuannya itu dan duduk di sampingnya. Buru-buru Hana menyembunyikan HP nya, namun Yamin masih sempat melihat gambar yang terpampang di layar benda pipih itu tadi.
"Ayah, sudah pulang?" Hana tersenyum dan mencium tangan laki-laki paruh baya yang baru beberapa hari ini ia ketahui sebagai ayah kandungnya. Meskipun begitu, tidak ada kecanggungan di antara mereka karena memang Hana sudah lama menganggapnya sebagai orang tuanya sendiri.
"Hana tadinya ingin membantu Ibu tapi Hana tidak tahan bau dapur, jadi ibu bilang Hana di sini saja menemani adik-adik bermain. Tadi juga kami merawat tanaman di kebun." Sambil menunjukkan beberapa peralatan berkebun yang disimpan di sebelahnya kursinya.
"Tapi jangan terlalu lelah. Kamu juga harus istirahat."
Hana tersenyum. Dia bahagia, Yamin dan Sarah sangat menyayanginya. Bahkan jika mereka bukan orangtua kandungnya, Hana harusnya bersyukur mendapatkan kasih sayang tulus dari mereka. Bukannya malah memelihara rasa iri dengki nya pada Navya.
Hana meletakkan kepalanya di bahu sang Ayah. "Terimakasih ya Yah. Maafkan Hana yang sudah banyak menyusahkan Ayah dan Ibu."
"Nak... Apa kamu yakin dengan keputusan kamu?"
__ADS_1
Tidak. Dia ingin sekali memberi tahu pada Dafin yang sebenarnya. Tapi dia sudah tidak punya muka di hadapan Dafin, keluarga nya dan juga Navya. Mungkin saja, Dafin sudah tidak percaya lagi padanya. Dia paham betul, laki-laki itu kalau sudah kecewa akan sulit untuk percaya. Biarlah apa yang ia lakukan sekarang menjadi penebus kesalahan nya.
"Gak apa-apa Yah, yang penting Ayah sama Ibu ada untuk Hana. Hana yakin bisa melewati ini semua. Biarlah pengorbanan Hana ini sebagai penebus kesalahan Hana terhadap mereka. Hana tulus ingin mereka bahagia."
"Tapi kamu masih istri sah Dafin Nak."
"Hana akan minta Dafin menceraikan Hana Yah. Hana sudah yakin dengan keputusan Hana."
"Baiklah Nak, kami hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk kamu. Apapun yang menurut kamu terbaik, Ayah akan serahkan semua di tangan kamu."
"Benar Nak, Ibu juga akan selalu mendukung kamu. Kita akan hadapi bersama. Kamu gak sendirian, ada Ibu dan Ayah di samping kamu sayang." Sarah yang tiba-tiba datang lalu duduk di sisi lain Hana. Gadis itu kemudian beralih memeluk sang Ibu.
"Terimakasih ya Bu. Hana sayang kalian."
"Nak kalau kamu sudah siap dan bersedia, kita harus segera datang ke keluarga Pak Damar untuk meminta maaf. Mereka harus tau bahwa kamu sudah menyesal dan berubah."
"Tapi Ibu sama Ayah harus berjanji, tidak akan memberitahu mereka."
"Ibu tidak akan memaksa Nak, meskipun mereka berhak tau. Jika kamu tidak ingin memberitahu maka Ibu dan Ayah akan ikut kemauan kamu."
"Hana tidak mau, karena kami, Navya kehilangan kebahagiaannya lagi Bu. Dafin itu miliknya Navya, bukan Hana. Hana juga yakin Dafin bisa bahagia bersama Hana."
Sarah menitikkan air matanya sambil memeluk untuk menguatkan anaknya.
"Ibu jangan menangis." Menghapus jejak air mata di pipi sang Ibu. "Hana bahagia kok di sini. Kita bisa tinggal bersama, ada adik-adik yang lain juga. Nanti anak Hana juga pasti akan senang punya banyak teman di sini."
__ADS_1
Sarah hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk anaknya. Semoga ada takdir membawanya pada kebahagiaan.
Bersambung