Mencintaimu Karena Terbiasa

Mencintaimu Karena Terbiasa
Pulang


__ADS_3

"Hana!"


Gadis itu berjalan dengan hentakan kesal saat tau Dafin sedang mengejarnya. Dafin meraih tangan nya yang membuat Hana menghentikan langkahnya.


"Kamu ngapain nyusul aku sih?" Dia bahkan tidak ingin menatap Dafin.


"Han.. Aku khawatir sama kamu." Hana tersenyum kecut mendengar ucapan lelaki itu.


"Kamu urusin aja istri kamu yang kamu bangga- banggakan itu." Dafin tau Hana sedang tidak baik saat ini. Sadar bahwa mereka belum berjalan terlalu jauh dari ruangan tempat acara makan malam, Dafin membawa Hana ke tempat yang lebih sepi dan jauh dari jangkauan orang lain.


"Hana, jangan gini dong. Kamu tau sendiri keadaannya kan."


"Tapi kamu gak perduli sama aku! Kamu sibuk sama Navya."


"Iya aku tau, aku minta maaf. Oke?!"


Hana masih belum terima dengan sikap Dafin. Dia tetap tidak ingin memandang wajah Dafin.


"Heii... Lihat aku. Aku disini sekarang. Sama kamu. Aku tinggal kan Navya buat kamu." Ucapnya seraya mengarah kan wajah Hana untuk menatap dirinya.


"Seandainya kamu benar-benar meninggalkan Dia buat aku."


"Itu pasti, aku akan lakukan itu buat kamu. Tapi gak sekarang sayang. Kamu harus sabar.


"Aku udah lama nunggu kamu Fin, aku udah cukup sabar."


"Iya aku tau, Maafin aku ya. Aku janji aku akan ada buat kamu."


"Aku mau pulang!"

__ADS_1


"Oke, aku antar kamu ke kamar."


"Nggak, aku mau pulang. Aku udah pesan tiket. Aku gak bisa liat kamu sama Navya. Kalian tinggal dalam satu kamar, aku gak tau apa yang akan terjadi pada kalian."


"Han, kami gak mungkin.."


"Siapa yang tau Dafin, hubungan kalian sah. Apapun yang terjadi, sadar atau pun tidak, kalian bisa melakukan apapun. Aku mau pulang."


"Oke, aku ikut sama kamu. Kita pulang!" Hana terkejut dengan keputusan Dafin. Gadis itu terdiam dan memfokuskan pandangannya pada laki-laki di hadapannya. "Ayo!" Kemudian Dafin menarik tangan nya.


"Dafin tunggu!"


"Kenapa? Kamu gak percaya sama aku?"


"Tapi Fin...!?"


"Aku udah bilang kan sama kamu, aku akan lakukan apapun buat kamu. Aku gak peduli apapun." Dafin hendak melanjutkan langkah mereka tapi seketika Hana menarik tangan Dafin dan membuatnya berhenti. Apa yang terjadi jika Dafin nekat pulang hanya karena dirinya, bukan soal Navya. Tapi bagaimana kontrak kerjasama dengan Perusahaan Mahendra. Hana tidak akan menjadi wanita egois untuk Dafin. Dia tidak boleh menyusahkan lelaki nya.


Laki-laki itu tersenyum, dia mengusap bahu Hana dan mengecup kepalanya. "Makasih Hana, Aku percaya, kamu wanita yang hebat."


"Tapi Aku gak mau kembali ke ruangan itu."


"Oke, aku antar kamu ke kamar ya." Hana mengangguk. Dafin mengantarkannya sampai ke depan pintu kamar.


"Aku gak bisa nemenin kamu sekarang, tapi setelah acara makan malamnya selesai aku akan menemui kamu." Berkata sambil memegang pipi Hana.


Gadis itu menyentuh tangan hangat Dafin yang berada di pipinya." Aku baik-baik aja, kamu kembali lah ke acara itu. Jangan sampai mereka curiga."


Dia menepuk kepala Hana dengan sayang. "Ya sudah, Aku pergi."

__ADS_1


***


Navya merasa aneh, tadi Dafin pamit ke toilet hanya untuk membersihkan noda di jasnya, tapi sudah lima belas menit berlalu pria itu tidak juga kembali. Alvi menangkap kekhawatiran di wajah Navya, pun gadis itu beberapa kali melihat ke arah pintu yang tak kunjung memunculkan sosok Dafin begitu juga Hana.


"Coba kamu telpon saja?" Suara Alvi membuat Navya menoleh padanya.


"Oh,,hmmm... gak apa-apa kok Pak, mungkin sebentar lagi Mas Dafin balik."


Beberapa saat kemudian Dafin kembali dan duduk di sebelah Navya tanpa berniat untuk menjelaskan apapun. Dia bertingkah seolah tidak melakukan sesuatu yang membuat orang penasaran setelah dia meninggalkan tempat itu hampir setengah jam dengan alasan akan ke toilet.


Dafin sudah kembali, tapi dimana Hana. Navya mencoba bertanya pada Dafin, mungkin saja dia bertemu dengan Hana.


Menarik sedikit jas Dafin Naya kemudian bertanya dengan sedikit berbisik "Mas tau kak Hana kemana? Dia keluar dari tadi, tapi belum kembali."


"Mungkin dia lelah dan kembali ke kamar. Kamu tidak perlu memikirkan dia." Dia menjawab santai, seakan-akan dia sudah tau keberadaan Hana. Navya sedikit merasa aneh, namun mencoba untuk berfikir positif saja.


"Oh ya, bukannya Bapak Dafin dan Bu Navya ini pengantin baru?" Suara Bagas yang bertanya. "Jika anda berdua mau, saya bisa menyiapkan paket liburan Honeymoon, kalian bisa menikmati berkeliling di kota ini dengan fasilitas dari hotel kami." Penawaran dari Bagas. "Dan kami bisa menyiapkan ulang kamar Anda khusus untuk pasangan honeymoon."


Penawaran itu membuat hati Alvi berdenyut, namun dia harus bisa menguasai mimik wajahnya. Untuk menutupi itu, dia menimpali penawaran Bagas. "Ya, kalian bisa mencoba nya dan itu semua gratis. Anggap saja sebagai hadiah pernikahan dari saya.." Alvi memberikan senyum tulus nya, padahal jujur dia sedang tidak baik-baik saja.


Dengan takut-takut Navya melirik ke arah Dafin untuk melihat ekspresi pria di sampingnya. Dafin malah tersenyum dengan ramah pada Alvian, "Wah, saya sangat tersanjung dengan kebaikan kalian. Tapi saya mohon maaf, dengan berat hati kami harus menolak." Menoleh kepada Navya lalu membelai rambut gadis itu lembut. "Kami harus kembali besok, benar kan sayang." Memberikan isyarat mata pada Navya agar ikut membenarkan kata-katanya.


Dengan cepat Navya mengerti maksud dari ucapan Dafin. " Iya Pak, maafkan kami. Mungkin lain kali kami akan mencoba penawaran dari Bapak Bagas."


Meskipun merasa sedikit aneh dengan penolakan pasangan suami istri di hadapannya, namun Alvi merasa lega. Tapi lega hanya untuk sehari ini saja. Navya dan Dafin adalah suami istri, mereka akan banyak menghabiskan waktu berdua. Mengingat itu jantung Alvi kembali berdenyut.


"Baiklah, kalian bisa langsung menghubungi Bagas bila suatu hari nanti berniat liburan di kota ini."


"Akan dengan senang hati Pak."

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2