
Alvi baru saja sampai di Vila pribadi milik kakeknya. Rima menyambut dirinya dengan sangat senang. Beberapa minggu sudah dia tidak bertemu dengan cucu kesayangannya.
"Kenapa kamu jadi kurus begini?" Hal pertama yang ia bahas saat bertemu sang cucu.
"Nenek, jangan bilang nenek mau menyuruh Al menikah dengan alasan agar ada yang mengurus Al."
Neneknya kikuk. "Kamu lihat dulu, dia memang sudah lama tinggal di negara ini. Sejak SMA dia pindah ke sini. Tapi dia dibesarkan di negara kita, anaknya sopan dan cantik."
"Nek, Al belum berminat. Jangan bahas ini dulu, Alvi dan Ryan lapar." Katanya sambil berjalan menuntun Rima di sampingnya ke arah ruang keluarga.
"Al, apa benar yang Bima katakan?" Rima berhenti dan memukul bahu Alvi keras, tapi malah tangannya sendiri yang sakit.
"Kan, jadi sakit tangan Nenek. Memang dia bilang apa ke Nenek?"
"Kamu tidak suka perempuan." Baru saja Alvi ingin marah, namun Rima melanjutkan ucapannya. "Selain Navya."
Alvi terpaku, kemudian tersenyum pada Rima.
Mereka sudah sampai di ruang keluarga, membantu Rima duduk dan Alvi sendiri duduk di depan neneknya sementara Ryan berdiri di belakang Alvi.
"Al, Navya itu istri sepupu kamu. Lagipula masih banyak rekan bisnis kakek yang memiliki anak gadis cantik. Nanti kami akan kenalkan kamu dengan beberapa dari mereka."
"Nek, kalau Dafin tidak bisa membahagiakan Navya, Alvi gak akan menyerah. Al tidak akan rela Navya di sakiti oleh Dafin."
"Maksud kamu?"
"Nanti Nenek akan tahu sendiri nanti. Atau
Nenek bisa tanya Tante." Membuat Rima semakin bingung saja. "Oh ya, kapan kakek kembali? Ada hal yang mau Alvi bicarakan dengan kakek."
"Sebentar lagi, kakek hanya pergi melihat perkebunan. Sebaiknya kalian makan dulu saja sambil menunggu Kakek pulang." Sebenarnya Rima sangat penasaran dengan apa yang terjadi, tapi dia mencoba menahannya. Dia akan menghubungi Finny nanti.
***
__ADS_1
Navya akan ke rumah sakit untuk menemani Finny cek up. Kondisi kesehatan wanita itu agak sedikit menurun beberapa hari ini. Sedikit banyak dia pasti memikirkan apa yang terjadi dalam keluarga nya. Walaupun dia mengatakan dia baik-baik saja, namun tubuhnya berbohong.
Damar memaksa istrinya untuk pergi memeriksa diri ke dokter. Dan di sini lah mereka. Sudah membuat janji dengan seorang dokter, mereka berjalan menuju ruangan praktek. Navya ikut masuk ke dalam bersama Finny.
Selesai pemeriksaan Navya menuju ke bagian instalasi Farmasi untuk mengambil obat Finny. setelah sebelumnya dia mengantarkan Finny ke dalam mobil terlebih dahulu.
Di saat menunggu tiba-tiba dia mendengar nama seseorang yang ia kenal di panggil. Awalnya dia pikir hanya nama yang kebetulan sama, namun saat melihat dua orang yang tidak asing berdiri tepat di depannya Navya terkejut.
"Ibu, Kak Hana...?!" Navya mendekati mereka. Kekhawatiran tercetak jelas di wajahnya. "Ibu kenapa di sini? Ibu sakit? Atau kak Hana?" Melihat mereka berdua bergantian. Hana tampak sedikit pucat.
"Ah itu... iya Nak... Ibu akhir-akhir ini sering pusing. Jadi Ibu minta tolong Hana untuk mengantarkan Ibu ke rumah sakit."
"Jadi kakak sudah kembali ke bersama Ibu ya?!" Melihat Hana, tapi gadi itu hanya diam dan tidak menjawab. "Lalu bagaimana keadaan Ibu sekarang?"
"Ya, Ibu tidak apa-apa kok. Hanya kecapean saja kata dokter."
Navya memegang tangan Bu Sarah yang sedikit bergetar. "Bu, maafkan Vya ya. Vya belum sempat menjenguk Ibu dan adik-adik di Panti."
"I.. iya.. tidak apa-apa kok Mbak. Kami permisi duluan ya, Ibu dan Hana masih ada urusan." Navya merasa ada yang aneh dengan mereka berdua. Seperti ada yang di sembunyikan. Baru di sadari ternyata Hana dan Sarah belum sempat mengambil obat mereka karena saat nama Hana dipanggil Navya langsung menghampiri mereka.
"Ah, iya. Mereka kerabat saya."
"Mereka belum menerima obatnya Bu." Petugas tersebut memegang kantong plastik berisi obat dan kertas resep obat.
"Oh, biar saya saja yang menebus nya Mbak. Nanti akan saya berikan pada mereka."
"Baik, terimakasih Bu." Membayar obat Hana sambil Navya membaca resep yang di berikan oleh petugas tersebut. Navya merasa ada yang aneh.
Tadi bukannya Bu Sarah bilang Ibu yang sakit. Lalu kenapa di sini tertulis nama pasien nya adalah Hana.
Memang benar, tadi nama yang di panggil petugas untuk menebus obat adalah nama Hana bukan Bu Sarah. Jadi siapa sebenarnya yang sakit sih.
Bahkan yang lebih membuat Navya terkejut lagi adalah nama dokternya bertitel Sp.OG. Dari sana Navya ketahui mereka baru saja mendatangi praktek dokter kandungan. Itu artinya....
__ADS_1
Kak Hana.
Apa Mas Dafin tau hal ini. Aku harus memastikannya dulu, sebelum semuanya terlambat. Apa ini adalah jawaban keraguan ku. Hati kecilku mengatakan untuk melepaskan saja Mas Dafin, mungkin inilah jalannya.
Drrrt.... Drrrttt....
Suara dering Hp membuyarkan lamunan Navya. Nama Finny tertera di sana.
"Ya Mi... Ini Vya udh selesai kok. Maaf ya Mi."
"Sebaiknya aku antar Mami pulang dulu sebelum menemui dengan Kak Hana dan Bu Sarah."
Navya bergegas menuju ke mobilnya karena Finny sudah menunggu dengan Ega.
"Kenapa lama sekali sayang?" Navya sudah masuk ke dalam mobil. Ega langsung membawa mereka keluar dari pelataran parkir rumah sakit.
"Oh itu Mi, tapi petugasnya salah memberikan obat nya. Untung saja Vya teliti membacanya jadi Vya tukar dulu." Seraya memberikan obat nya kepada Finny.
"Ooh... Mami pikir kamu ketemu siapa gitu. Soalnya tadi Mami kaya liat abu Sarah. Tapi Mami juga gak yakin."
"Mungkin Mami salah liat. Vya gak ketemu siapa-siapa kok di sana."
"Ya mungkin saja. Tapi Mau ingin sekali secepatnya bertemu dengan mereka sayang. Ingin masalah kalian cepat selesai."
"Iya Mi, nanti kalau Mami udah lebih sehat kita akan buat pertemuan dengan Bu Sarah dan Kak Hana."
"Nak, apa kamu mencintai Dafin?" Pertanyaan Finny langsung saja membuat Navya kembali menarik nafasnya berat.
"Mi, kita bahas ini nanti ya. Mami kan janji memberikan Vya waktu untuk berfikir. Walau sebesar apapun cinta Vya pada Mas Dafin, kak Hana masih punya hak atas Mas Dafin. Sebelum semuanya jelas, biakan Vya memikirkan pilihan Vya."
Finny menggenggam tangan Navya. "Iya sayang, maafkan Mami ya. Mami hanya tidak ingin kehilangan kamu. Kamu tau kan kalau Mami sangat sayang sama kamu."
"Iya Mi, Mami tenang aja. Vya akan selalu ada untuk Mami kok. Vya gak akan meninggalkan Mami." Ibu dan anak itu berpelukan dengan erat. Ega melirik dari kaca apa yang dilakukan kedua wanita itu.
__ADS_1
Dan aku juga butuh waktu, untuk membuktikan bahwa Kaka Hana benar-benar hamil. Jika itu benar terjadi, Mas Dafin tidak boleh begitu saja meninggalkan nya. Anak di rahimnya tidak bersalah, tidak boleh menerima hukuman atas kesalahan orang tua nya. Navya.
Bersambung