
Pagi yang indah bagi Alvi dan Navya. Pertama kalinya Alvi mendapati seseorang di sampingnya saat dia membuka mata. Walaupun keberuntungan sedang tidak berpihak padanya di malam pengantin mereka, namun pancaran kebahagiaan tidak berkurang dari wajah tampannya.
Alvi duduk di sofa sambil membuka laptopnya, menunggu istrinya yang sedang mandi. Rencananya hari ini mereka akan mampir ke Panti Asuhan. Karena kemarin tidak sempat menyapa adik-adik dengan baik, Navya ingin membeli beberapa kebutuhan untuk adik-adiknya. Alvi menyetujui keinginan itu.
Mendongak begitu mendengar pintu kamar mandi terbuka. Tersenyum saat Navya keluar sudah dengan mengenakan pakaian lengkap. Hanya rambutnya terlihat masih basah. "Maaf ya Mas, Vya kelamaan ya?"
Alvi menggeleng. "Gak masalah." Dia bangun dari sofa Kalau kita melakukannya berdua, mungkin akan lebih lama." Navya melotot, Alvi malah tertawa melihat reaksi Navya. Dia berjalan mendekati Navya.
"Rambut kamu masih basah, seperti ini bisa masuk angin." Memegang ujung rambut Navya. Lalu mengambil handuk kecil dari ruangan ganti, mengajak Navya duduk di sofa dan Alvi membantu istrinya mengeringkan rambut.
"Vya bisa sendiri Mas." Cegahnya tidak mau merepotkan Alvi.
"Sudah punya suami, tidak ada salahnya merepotkan."
"Makasih Mas."
"Ucapan itu harusnya sudah tidak berlaku lagi." Menjawab sambil terus mengeringkan rambut Navya.
"Jadi?"
Muach. Tiba-tiba mendaratkan kecupan di bibir Navya. Membuatnya terkejut.
"Begini caranya berterima kasih pada suami. Kamu paham?". Navya mengangguk sambil tersenyum malu-malu. DNA setelah itu Alvi benar-benar meminta Navya mengulang kembali berterima kasih padanya. Tapi bukan hanya kecupan, mereka melakukannya dengan durasi yang agak lama.
...💙💙💙...
Rencananya ingin sarapan bersama dengan anggota keluarga yang lain, tapi Alvi menahan istrinya agak lama sambil bermain salon plus-plus.
Akhirnya mereka turun saat semuanya sudah selesai makan. Menuju ke ruang makan dan berpapasan dengan sepupu Alvi yang langsung melontarkan candaan pada mereka berdua karena sarapan yang terlambat. Menggoda pasangan pengantin baru adalah hal yang menggemaskan, rona malu-malu terpancar di wajah Navya.
"Ehhem... ehhem... waduh sarapan udah habis. Telat sih turunnya."
"Cieeee... sampai telat bangun gini yang pengantin baru."
"Sudah jangan dengarkan mereka."
"Tidak apa-apa Mas. Vya hanya malu, kita sampai terlambat turun untuk sarapan bersama."
"Ya kalau kamu tidak sedang berhalangan, saya jamin kita akan turun setelah makan siang." Bisiknya di dekat telinga Navya. Membuat wajah gadis itu semakin memerah.
Setelah menyelesaikan sarapan, mereka berpamitan pada nenek dan bergegas menuju supermarket untuk membeli kebutuhan adik-adik. Navya membeli keperluan sekolah dan kebutuhan rumah. Alvi malah membeli banyak sekali bahan makanan dan cemilan.
"Mas, banyak sekali membeli Frozen food dan sayuran?"
"Tidak apa-apa kan, agar Bu Sarah tidak kerepotan harus berbelanja setiap hari."
"Iya sih, tapi kulkas di Panti gak akan cukup untuk menyimpan sebanyak ini."
__ADS_1
"Kamu tenang saja. Pasti bisa, aku tau caranya."
Entah lah apa yang di rencanakan Alvi, tapi Navya juga merasa tidak enak jika harus menolak niat baik suaminya.
"Kita ke toko kue sebentar, barang-barang itu biar kurir yang mengantarkan."
"Iya Mas. Sudah lama juga Vya gak mampir ke sana, sudah kangen sama cheese cake-nya InFy bakery."
"Kamu boleh makan apapun yang kamu suka. Nanti sekalian bawakan untuk Bu Sarah dan adik-adik juga."
"Terimakasih ya Mas. Mas perhatian sekali dengan mereka."
"eitsss... aku tidak menerima ucapan terima kasih. Ingat kalau kamu mau berterimakasih harus bagaimana?" Membuat pipi Navya kembali merona karena malu.
"Tapi kan ini masih di mobil."
"Oke. Kamu berhutang satu ciuman, tapi harus ada bunganya." Ucapnya sambil menoel dagu Navya.
"ihh apaan sih Mas." Malu Navya menutup wajahnya dengan tangan.
Menempuh perjalanan lebih dari setengah jam, akhirnya mereka sampai di tempat yang sudah dirindukan oleh Navya. Di rumah ini banyak kenangan tentang orang tua nya, juga merupakan tempat dia bertemu pertama kali dengan Alvi.
Begitu mobil memasuki gerbang, Navya terkejut dengan apa yang ia lihat. Sebuah mobil pick up membawa banyak barang-barang dan sebuah kulkas besar. Anak-anak penghuni Panti Asuhan yang sudah pulang sekolah antusias mengelilingi bak mobil tersebut. Sarah tersenyum saat mengenali mobil yang berhenti di depannya.
Navya keluar dari mobil, mendekati Sarah dan mencium tangan wanita itu. "Bu, ada apa?"
"Terimakasih Nak Alvi." Menyapa Alvi saat pria itu keluar dari mobil. "Harusnya tidak perlu repot-repot begini."
"Tidak apa-apa Bu, biar anak-anak senang." Navya menatap suaminya, masih agak bingung sebenarnya tapi perlahan dia mengerti setelah melihat beberapa benda yang tadi ia beli ada di antara barang-barang yang sudah di angkat kurir ke dalam rumah.
Bu Sarah masuk ke dalam rumah menyusul anak-anak yang sudah masuk untuk melihat barang-barang yang di beli Navya.
Navya dan Alvi masih berada di luar saat mobil pick up meninggalkan halaman panti. Navya mendekati suaminya yang bersandar di pintu mobilnya.
Muach.
Tiba-tiba mendaratkan ciuman di pipi Alvi dan memeluk pria itu. "Vya gak tau bagaimana harus berterima kasih sama Mas. Banyak sekali hal yang sudah mas lakukan."
"Kamu hanya harus selalu ada di sisiku dan mencintaiku. Itu sudah cukup membuat aku bahagia." Alvi membalas pelukan Navya dengan erat dan mengusap rambut istrinya.
"Makasih ya Mas."
"Ehmm.... kamu lupa sesuatu?"
"Aww" Navya mencubit pinggang Alvi. Pria itu tertawa. Tapi Navya mengecup bibir Alvi. Lalu masuk ke dalam meninggalkan Alvi yang masih terkejut dengan apa yang baru saja Navya lakukan. Sambil tersenyum bahagia dia berjalan masuk menyusul istrinya.
Alvi masih berada di depan pintu saat mendengarkan percakapan antara Navya, Sarah dan beberapa anak-anak.
__ADS_1
"Ada banyak mainan, siapa yang memberikan ini?"
"Kak Bagas yang memberikan kak."
"Bagas ke sini Bu? Kapan ?" Navya beralih pada Sarah.
"Tadi pagi. Tapi tidak lama, dia hanya mampir sebentar. Katanya masih ada urusan, tapi lain kali dia akan datang lagi."
"Sudah lama sekali Vya tidak bertemu Bagas. Vya kangen sama dia."
"Kalau tadi kalian datang agak pagi, mungkin bisa bertemu. Tapi memang Bagas buru-buru sekali. Dia ada pekerjaan ke luar kota. Ibu bahkan tidak sempat membuat teh."
"Ibu ada kontaknya, biar Vya bisa menghubungi nya kapan-kapan."
"Ehhhem..." Terlihat Alvi sudah ada di depan pintu.
"Mas, sini duduk." Navya mengulurkan tangannya agar Alvi duduk di sebelahnya, dan disambut oleh pria itu.
"Sayang, aku haus."
"Oh, iya Ibu sampai lupa. Sebentar ibu buatkan dulu ya."
"Terimakasih Bu."
"Jangan sungkan, kalian duduk saja dulu ya atau mau berjalan-jalan di taman belakang. Biar nanti Ibu antar teh ke sana."
"Iya Bu."
Navya mengajak Alvi berjalan-jalan di taman belakang, dulu tempat itu adalah tempat favorit Hafizah. Dia menanam banyak bunga dan beberapa pohon buah-buahan, tempat yang nyaman untuk bersantai. Sampai sekarang temannya masih di rawat. Ada sebuah gubuk kecil di bawah pohon mangga, Navya dan Alvi sudah duduk di sana sambil menikmati hembusan angin. Bu Sarah sudah menghidangkan teh dan cheese cake yang tadi mereka bawa. Sementara dia masuk lagi ke dalam, untuk menyiapkan makan siang.
Navya belum menyadari kalau dari tadi Alvi lebih banyak diam. Navya malah sedang asyik menikmati keindahan taman dan bunga-bunga yang masih terawat. Mengingatkan dirinya akan sosok Bundanya yang dulu sering mengajaknya merawat tanaman bersama.
"Mas sini dong, kenapa diam di sana?"
Alvi hanya tersenyum sekenanya sambil menggeleng.
Sepertinya Mas Alvi agak aneh.
Akhirnya Navya mendekat, ikut duduk di sebelah suaminya.
"Mas kenapa? Apa tidak enak badan?" Sambil menempelkan punggung tangannya di kening Alvi. "Tapi gak panas kok."
Alvi malah meraih tangan Navya, menciumnya lalu menggenggamnya. "Vy?"
"Hmm?"
"Siapa Bagas?"
__ADS_1
Bersambung