
Navya pulang saat Dafin sudah sampai di rumah lebih dulu. Saat pintu kamar terbuka dia langsung menghampiri Navya.
"Vya kamu dari mana saja? Kenapa tidak mengangkat telepon? Pesanku juga tidak kamu balas."
Navya tersenyum. Dafin benar-benar mengkhawatirkan dirinya. Sejak siang tadi Dafin menelponnya, mengirim pesan. Bertanya kemana, dimana, sedang apa. Seandainya sejak dulu dia melakukan itu, Navya tidak akan semudah ini akan merelakan dirinya. Mengalah untuk Hana dan anaknya.
Tapi siang tadi ada yang menggelitik hatinya, ketika Dafin mengirimkan pesan padanya. Perhatian lelaki itu begitu tulus, terasa sekali kerinduan dalam kata-katanya.
"Maaf Mas, Vya menyelesaikan beberapa pekerjaan di kantor Pak Alvi."
"Bukankah kata Mami kamu sudah resign." Navya berjalan duduk di sofa. Dafin menutup pintu lalu mengikuti langkahnya.
"Memang benar, tapi ada beberapa pekerjaan yang harus Vya rampungkan sebelum keluar dari perusahaan. Sebelum kita meninggalkan sesuatu, kita harus selesaikan dulu apa yang sudah menjadi tanggung jawab kita." Katanya mantab.
Dafin sedikit heran dengan sikap Navya sore ini. Sejak beberapa hari yang lalu jangan kan bicara, gadis itu bahkan menghindari dirinya. Sejak siang tadi juga tidak menjawab panggilannya, tapi sore ini Navya bersikap seperti tidak ada apa-apa. Bicara dengan lembut sambil tersenyum padanya. Malah membuat Dafin agak takut.
"Vy, kamu tidak sedang merencanakan sesuatu akan?"
Navya mengerutkan dahinya. "Maksud Mas Dafin ?"
"Ya aku hanya merasa sikap kamu agak aneh."
"Mas Dafin terlalu banyak berfikir. Vya hanya mencoba melakukan apa yang seharusnya. Bukankah Mas Dafin ingin memulai nya dari awal lagi. Ayo kita perbaiki semuanya."
Dafin terkejut dengan apa yang dikatakan gadis yang masih berstatus istri nya itu. Dia masih membisu, tidak menanggapi.
"Mas ? Vya akan memberikan Mas Dafin kesempatan. Mas Dafin mau kan?" Memegang tangan pria di depannya.
"I..iyaa..." Dafin jadi kikuk. Membuat Navya menyipitkan matanya, curiga dengan gelagat Dafin.
"Mas, jangan bilang Mas Dafin masih ragu."
"Aku... Bukan... Maksud ku aku senang kalau kamu sudah memutuskan. Aku hanya tidak menyangka kamu sudah memaafkan aku dan memberi aku kesempatan."
"Besok siang Vya akan mengajak Mami dan Papi bertemu kak Hana. Kita harus membuat semua nya jelas, agar tidak ada kesalahpahaman lagi di masa depan."
"Ya benar, kita harus menyelesaikan semuanya. Jangan sampai berlarut-larut. Nanti aku yang akan bilang pada Mami dan Papi."
"Iya Mas... Ya sudah, Vya mau mandi dulu ya Mas. Setelah itu kita makan malam bersama."
Dafin mengangguk dan tersenyum.
__ADS_1
Saat Navya menghilang di balik pintu kamar mandi, raut wajah Dafin berubah. Dia memejamkan matanya. Kemarin dia meminta Navya memberinya kesempatan untuk menjalani pernikahan mereka, memulai dari awal lagi. Tapi entah kenapa ketika dia mulai memenangkan hati istrinya, dia merasa ada yang menusuk. Hati nya seperti akan kehilangan sesuatu yang berharga.
Tadi siang dia tertidur di sofa di dalam kantornya. Bermimpi berjalan bersama Hana, bergandengan tangan. Perlahan Hana melepaskan tangannya sambil tersenyum tapi ada air mata di wajah gadis itu. Hana mundur perlahan menjauh darinya, semakin lama semakin jauh.
Dafin terbangun saat Ega masuk ke kantor nya lalu menggoyangkan tubuhnya. Memberikan HP yang sedang berdering, ada panggilan masuk dari Maminya.
Finny menanyakan Navya padanya, karena Navya pergi dari pagi dan belum pulang. Saat itu Dafin yang masih belum mendapatkan kesadaran sepenuhnya hanya langsung mengiyakan rengekan sang Mami yang memintanya menghubungi Navya. Dafin langsung mengirimkan pesan singkat pada Navya.
***
"Mi, besok kami memutuskan akan menemui Hana dan keluarga Pak Yamin di Panti Asuhan."
Dafin buka suara. Mereka sedang ada di ruang keluarga. Finny menyambut baik rencana anak dan menantunya.
"Mami dan Papi ikut ya. Vya mohon jangan marah lagi sama kak Hana. Vya yakin Dia sudah menyesali perbuatannya."
"Iya sayang. Mami dan Papi akan ikut. Mami sudah memaafkan Hana kok. Itu tidak sepenuhnya salahnya Nak, dia hanya kecewa pada Mami. Itu pasti adalah alasannya."
"Maksud Mami?" Malah Navya yang agak jadi bingung sekarang.
Akhirnya terungkap pada Navya alasan kenapa Hana begitu marah padanya. Dia selalu mengatakan Navya merebut posisi nya di keluarga Wijaya dan di sisi Dafin.
"Seharusnya kak Hana yang menjadi anak Mami kan. Kalau saja kecelakaan itu tidak terjadi."
"Nak, itu semua sudah takdir. Memang begitu lah jalannya. Jika tidak terjadi kecelakaan itu, kemungkinan Hana tidak akan pernah tau siapa orangtuanya. Kerena mereka tidak berani mengatakan pada Ibu dan Ayahmu siapa mereka sebenarnya.
Dan juga kesalahpahaman yang terjadi pada Hana, itu semua karena ketakutan Pak Yamin dan Bu Sarah. Mereka menunda-nunda untuk bicara jujur pada anaknya. Mereka takut Hana tidak akan percaya atau Han akan membenci mereka."
"Sampai saat ini, Mami juga tidak tau apakah mereka sudah mengatakan kebenaran ini pada Hana tau belum."
Navya mengusap air matanya. "Mi, kalau dulu kak Hana yang ada di posisi Vya sekarang. Apa Mami juga akan meminta Mas Dafin untuk menikahinya?"
Dafin, Damar dan Finny terkejut dengan pernyataan Navya. "Navya, apa maksud kamu bertanya begitu?"
"Vya hanya bertanya. Tidak ada maksud apapun. Karena dari awal posisi Vya seharusnya adalah milik kak Hana." Dafin melirik Maminya. Lalu Navya juga menoleh pada Finny yang raut wajahnya berubah. "Mi, maafkan Vya. Bukan maksud Vya menyinggung perasaan Mami."
Navya mendekati Maminya, memeluk wanita yang sudah merawatnya dari kecil itu. Finny memegang tangan Navya yang sedang memeluknya. Wanita itu tersenyum.
"Sayang bukan seperti itu. Sayangnya Mami pada kamu belum tentu bisa sama jika itu adalah Hana kan. Bukan berarti Mami tidak menyayangi dia. Dan semua bukan karena siapa ada di posisi mana.
Takdir lah yang memilih kita Nak, sehingga kita bisa bertemu. Seiring berjalannya waktu, kamu sudah membuat Mami terbiasa dengan kehadiran kamu. Mami sangat bahagia karena kamu melengkapi keluarga kami. Mami sangat menyayangi kamu, mencintai kamu. Membuat Mami takut kehilangan kamu, anggaplah jika Mami egois. Ya benar Mami memang egois. Lalu keegoisan itu malah membuat anak-anak Mami menderita.
__ADS_1
Dengan alasan janji Mami pada Ibumu, Mami ingin terus menjaga kamu. Tapi sebenarnya Mami yang sudah takut jika suatu hari kamu menikahi orang lain, kamu akan meninggalkan Mami. Kamu akan melupakan Mami. Maka muncul keinginan untuk menjadikan kamu istri Dafin, agar kamu tidak akan pernah pergi dari kehidupan Mami."
Navya terhenyak. Dia sungguh beruntung. Bagaimana dia bisa membalas kasih sayang yang di berikan wanita ini, dia sudah separuh hidupnya untuk merawatnya, mencintai dirinya. Namun kesalahan Finny adalah dia ingin mengikat Navya terus di sisinya. Mencintai seseorang bukan berarti kamu harus selalu ada di samping nya kan, Navya bahkan tidak pernah berfikir bisa meninggalkan Finny dan Damar.
Finny adalah hidupnya. Apa yang sudah dilakukan Finny untuk dirinya sejak orangtuanya meninggal tidak bisa di bayar dengan apapun.
"Maafkan Mami ya Dafin, Navya.... Mami sudah memaksa kalian menjalani pernikahan tanpa memikirkan perasaan kalian." Seketika Finny menoleh pada anak lelakinya.
"Fin, pernikahan kamu dan Hana?"
"Jika Mami menginginkan Dafin dan Navya bersama, Navya sudah menyetujui untuk kami memulai lagi dari awal." Dafin bicara namun tidak menatap mata Maminya.
"Lalu kamu dan Hana...."
"Mi, jangan lagi membahas Hana, dia tidak pernah mencintai Dafin. Dai hanya mengambil keuntungan dari Dafin. Jika yang Mami ingin Dafin bersama Navya, besok Dafin akan selesaikan semuanya dengan Hana." Navya memperhatikan mimik wajah Pria itu, masih terlihat kebimbangan di matanya.
"Dafin ke kamar duluan Mi, Pi."
Mereka menatap punggung Dafin yang melewati pintu kamar. Menghilang saat pintu nya tertutup.
"Mami, Dafin sudah memutuskan akan memilih Navya. Jangan membahas lagi soal Hana. " Damar mencoba meyakinkan istri nya.
Tapi Finny berfikir, apakah Hana tidak pernah mencintai Dafin. Apa benar pernikahan itu hanya siasat Hana untuk mendapatkan keuntungan menjadi bagian dari keluarga Wijaya. Mereka sudah lama bersama, tidak mungkin di hati Hana tidak ada rasa pada anaknya.
Dan Dafin pernah mengatakan dia mencintai Hana. Segampang itukah dia bisa menghilangkan rasa cintanya pada gadis itu. Finny jadi obat pada gadis itu. Tapi genggaman tangan Navya membuatnya tersadar lagi. Gadis di sebelahnya juga mencintai Dafin. Jika Dafin sudah menentukan pilihannya, Finny hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk kebahagiaan mereka.
"Mami sedikit pusing. Mami ingin istirahat."
Navya mengangguk melepaskan pelukannya. Lalu mengantarkan Maminya ke kamar.
Maafkan Vya Mi. Vya sengaja menyinggung soal Kak Hana. Agar Mami juga tau, Kak Hana juga benar-benar mencintai Mas Dafin. Dibalik semua dendam yang ia rasakan, dia tulus mencintai Mas Dafin. Bahkan Mami akan segera menjadi Nenek sebentar lagi.
Navya harap besok semuanya berjalan dengan baik. Mami harus tau, kemanapun Navya pergi, Mami adalah satu-satunya wanita yang paling Navya cintai. Navya yakin Ibu pun pasti tidak akan keberatan jika Navya memberikan cinta Navya lebih banyak kepada Mami.
Bersambung
Terimakasih atas dukungan kalian...
Jangan lupa klik Favorit, Like dan Komentar yaa... 🙏🙏🙏🥰🥰🥰🥰
Yang mau kasi hadiah juga boleh, semoga para readers di lancarkan rezekinya... 😍😍😍💙💙💙💙
__ADS_1