Mencintaimu Karena Terbiasa

Mencintaimu Karena Terbiasa
Orang Kepercayaan


__ADS_3

"Sampai kapan sih Navya cuti. Baru satu hari saja rasanya berat sekali menghadapi mood Pak Alvi yang berubah-ubah."


"Bagaimana Navya bisa bertahan dengan sikap galaknya Pak Alvi sih?!" Mereka pusing dan kerepotan karena harus mengerjakan tugas Navya juga. Ingat saat mereka salah memesan makan siang untuk Lagi, malah mereka sendiri yang harus menghabiskan.


Mereka staf sekretaris Mahendra Group, tugasnya hampir sama dengan Navya. Tapi mereka lebih sering mendapatkan tugas dari Ryan atau wakil direktur. Sementara Navya yang merangkap asisten pribadi lebih cenderung bekerja di bawah perintah Alvi dan mengurus keperluan pribadi Alvi. Jadi saat Navya cuti, mereka otomatis harus mengambil alih beberapa pekerjaan Navya. Kecuali menemani meeting di luar kantor dah beberapa hal lain, yang hanya akan di gantikan oleh Ryan.


"Tapi entah kenapa aku suka kalau mendengar dia bicara, tegas, cool banget dan berwibawa. Kalau dia sedang bicara dengan pacarnya bagaimana ya? Tetap tegas atau lemah lembut!?" Membayangkan apa yang ia ucapkan soal Alvi.


"Kamu ini, tadi mengeluh karena di marahin pak Alvi. Sekarang malah dipuji-puji. Ingat calon suami."


Temannya malah terkekeh. Siapa yang akan tahan dengan pesona Presdir muda, ganteng, kulit mulus seperti oppa Korea, pewaris tunggal Mehendra Group. Hanya Navya saja yang tidak peka dengan segala perhatian bos nya itu. Padahal Alvi bersikap begitu hanya padanya saja. Bahkan orang lain saja bisa melihatnya, sampai-sampai mereka pernah digosipkan memiliki hubungan khusus.


"Yaaa kalau saja aku berasal dari keluarga terpandang atau terkenal, aku gak akan malu-malu untuk mengejarnya. Mana tau jodoh kan.." Menghayal lagi padahal dia sudah memiliki tunangan.


"Woyy... sadar wooyy... kita ini cuma remahan kerupuk kalau di bandingkan sama Pak Alvi yang paripurna. Tapi aku juga penasaran, tipe idealnya Pak Alvi itu seperti apa ya!?"


"Nah kan!! Kamu juga penasaran..."


Mereka asyik dengan obrolan tentang Bos mereka. Hingga tidak menyadari ada seseorang yang memperhatikan mereka dari tadi.


"Eehhheemmm!!!" Kedua pasang mata itu melotot, melihat pria itu berdiri di depan meja mereka bersama Ryan.


"Pak Bima."


"Bisa-bisanya kalian mengobrol saat jam kerja. Apa Pak Alvian begitu baik sehingga kalian bisa seenaknya begini?"


Diam tidak berani menjawab, bahkan untuk meminta maaf. Karena kalau di jawab akan semakin panjang urusannya. "Lanjutkan pekerjaan kalian, saya mau semuanya selesai sore ini. Saya tunggu di ruangan Pak Alvi."


"Baik Pak."


Bima masuk ke ruangan Alvi diikuti oleh Ryan di sampingnya. Sebelum menutup pintu, Ryan keluar lagi. Meminta salah satu dari mereka untuk membawakan coklat dingin dan puding buah. Lalu dia masuk lagi.


"Kenapa Pak Bima datang yaa?!" Yang satu bertanya pada temannya.

__ADS_1


"Udah ah, kamu ngomong terus. Aku mau pesan puding buah dulu." Sambil membuka aplikasi pemesanan online. Dia juga penasaran sebenarnya, tapi menu yang di minta Ryan harus secepatnya ada di meja Alvi.


Bima adalah orang penting di Mahendra Group. Tepatnya orang kepercayaan Sultan Mahendra. Dulu sebelum Tahta kekuasaan di Mehendra Group diserahkan pada Alvi, Bima adalah orang yang menghuni ruangan Alvi saat ini. Dia bekerja di bawah perintah Sultan, mengikuti jejak sang Ayah. Yang sampai saat ini masih setia di samping Kakek Alvi itu. Jadi dia akan selalu menginginkan kesempurnaan dalam hasil kerja karyawannya. Karena tidak mau sedikit pun kesalahan sampai di depan mata Sultan Mahendra.


Begitu Alvi kembali dari luar negeri, Bima bertukar tempat dengan Alvi. Dia yang mengurus cabang perusahaan yanga ada di negara A. Usia tiga tahun di atas Alvi, tapi kejeniusan tidak diragukan dalam perkembangan perusahaan.


Kedatangannya kali ini adalah permintaan Alvi. Selain Ryan, Alvi lebih leluasa bicara dengan Bima.


"Ha...ha...ha..."


"Jangan tertawa kak. Tidak ada yang lucu."


"Yang lucu itu kamu. Kalau suka, katakan saja. Kenapa harus di pendam."


"Kak, dia masih berstatus istri orang."


"Istri sepupu tepatnya." Mengejek lagi.


"Sudah lah kak. Kedatangan mu hanya membuat ku kesal saja."


"Terimakasih kak. Aku percayakan semua padamu."


"Ingat jangan lama-lama. Aku juga banyak pekerjaan. Aku tidak mau terus di sini apalagi di suruh menyelesaikan semua pekerjaanmu."


"Iya... iya... " Alvi keluar dari ruangannya diikuti oleh Ryan.


Alvi meminta Bima mengganti kan posisinya untuk sementara waktu di Perusahaan. Ada hal yang harus ia kerjakan sambil menenangkan pikirannya yang galau, karena Navya masih membuat jurang pemisah di antara mereka.


"Dasar bucin, laki-laki seperti dia bisa galau juga. Itu sebabnya aku benci para wanita, jatuh cinta itu membuat repot saja."


Dasar kamu saja yang jomblo Bim, nanti kena karma baru tau rasa. Author 😏


***

__ADS_1


Setelah menceritakan kisah masa lalu, sekarang giliran Sarah yang meminta Hana untuk memaafkan dirinya. Hana tidak menanggapi apapun dari cerita Sarah. Dia sulit menggambarkan perasaannya saat ini. Entah harus sedih atau bahagia. Tapi dia menangis sambil memeluk erat Ibunya, tangannya memegang kertas hasil tes DNA yang di tunjukkan Sarah.


Hana itu yang bisa ia lakukan. Ingin marah karena dia telah mereka memilih menitipkannya di panti asuhan, tapi ia lega bahwa ternyata orangtuanya masih hidup dan ada di dekatnya selama ini. Bahkan mereka ikut andil dalam membesarkan dirinya. Jadi apa alasannya dia harus marah.


"Bu, Hana mau pulang saja ke Panti. Hana ingin memeluk Bapak." Dia sudah tenang. itulah pertama yang ia ucapkan.


"Nak, kamu tidak marah pada kami?"


Hana menggeleng dan tersenyum. Lalu menggenggam tangan Sarah. "Bu, Hana mengerti apa yang kalian lakukan semata-mata untuk kebaikan Hana. Kalian ingin Hana bahagia, hanya saja Hana kecewa. Kenapa baru sekarang membuka rahasia ini. Seandainya Hana tau sejak awal."


"Sekali lagi maafkan ibu Nak. Kekurangan kami membuat kami tidak yakin kamu bisa menerima kenyataan ini. Kami tidak bisa memberikan kenyamanan untuk kamu."


"Tapi semua yang Hana dapatkan dari orang lain malah membuat Hana tidak nyaman sekarang. Hana malu ada di sini, malu dengan kesuksesan yang Hana raih. Karena Hana sudah membuat orang yang menolong Hana kecewa."


"Malu sekali rasanya, Hana sudah jahat sekali pada Navya dan Tante Finny. Hana mau minta maaf pada mereka, pada Dafin juga, tapi Hana belum berani menemui mereka."


"Sabar ya Nak, kita tunggu sampai waktu yang tepat. Nanti ibu akan bantu bicara dengan Bu Finny dan Pak Damar. Mereka orang-orang baik,


Dia menghela nafasnya. "Hana mau pulang dulu saja Bu, Hana tidak pantas tinggal di sini."


"Baiklah Nak. Ayo ibu bantu membereskan barang-barang kamu."


"Iya Bu."


Setengah jam kemudian mereka selesai membereskan baju dan barang-barang pribadinya. Hana mendorong koper miliknya keluar dari pintu apartemen. Dia menatap ke dalam sebelum menutup pintunya. Semua bayangan indah bersama Dafin di dalam unit itu menjadi hal yang akan selalu ia kenang. Matanya berkaca-kaca lagi dan tiba-tiba rasa pusing menyerang kepalanya.


"Kenapa sayang?"


"Tidak apa-apa Bu. Mungkin terlalu banyak menangis makanya pusing."


"Kamu yakin?"


"Yakin Bu. Nanti Hana istirahat di rumah saja."

__ADS_1


"Ya sudah ayo kita pulang."


Bersambung


__ADS_2