Mencintaimu Karena Terbiasa

Mencintaimu Karena Terbiasa
Mirip


__ADS_3

Mereka sudah duduk bertiga di Sofa ruangan pribadi Rima. Senyum di wajah Rima tidak luntur sedikitpun sejak kedatangan Navya.


" Navya, bagaimana rasanya bekerja sebagai sekretaris Alvi?"


" Pak Alvi baik kok Nek."


" Apa benar begitu?" Lalu dia sedikit mendekat kan wajahnya di telinga Navya. "Bukannya dia itu galak ?" Rima berbisik namun masih bisa di dengar Alvi.


" Nenek...!" Dia sedikit melotot mendengar pertanyaan nenek nya pada Navya.


" Tuh kan, kamu lihat sendiri itu. Dia bahkan melotot pada Nenek." Tapi Navya hanya tersenyum melihat interaksi antara cucu dan nenek itu.


" Kamu sudah punya pacar belum Nak?". Langsung saja Nenek Rima bertanya pada Navya.


" Hmmm... Saya..."


" Navya sudah bertunangan." Suara Alvi terdengar dingin saat mengucapkan status Navya. Dan Rima bisa membaca perubahan di wajah Alvi.


Sementara Navya tersenyum sekenanya, sebenarnya dia tidak mau membahas ini karena dia juga tidak begitu antusias dengan pertunangan itu.


Sikap Alvi malah memberikan ide di kepala Rima " Oh ya, beruntung sekali pria yang bisa mendapatkan kamu Nak. Kamu cantik, baik, lembut dan sopan." Rima melirik sang cucu yang tiba-tiba jadi membisu. Dia tersenyum dengan perubahan Alvi.


" Terimakasih Nek."


" Melihat kamu, Nenek jadi teringat seseorang. Kamu mirip sekali dengannya." Memperhatikan wajah Navya dari dekat sambil mengelus pipinya. Ucapan Nenek nya juga membuat Alvi menoleh sepenuhnya pada mereka berdua.


" Kalau Nenek boleh tahu, siapa nama orang tua mu Nak ?" Namun belum Navya menjawab itu, Alvi menyela pembicaraan mereka.


" Nenek..." Alvi menggeleng seakan memberi isyarat pada Rima.


Lalu Rima melihat wajah Navya yang tiba-tiba berubah sendu.


" Oh.. Maafkan Nenek sayang." Mengerti maksud dari teguran Alvi, lalu ia mengelus rambut Navya.


" Tidak apa-apa Nek. Mereka sudah meninggal sejak saya berumur 3 tahun. Sekarang saya tinggal bersama orang tua angkat saya "


" Nenek turut bersedih sayang, kamu pasti wanita kuat." sambil menggenggam tangan gadis itu.


" Vy, kamu nikmati dulu jus dan kue nya." Alvi mencoba mencairkan suasana.


" Wajah nya sangat mirip dengan Hafizah. Caranya berbicara dan sikap santunnya, benar-benar seperti Hafizah. Aku tidak mungkin salah. Tapi orang tuanya sudah meninggal. Apa mungkin mereka sudah meninggal. Aku harus mencari tahu. Aku yakin sekali wajah ini, senyumnya seperti Hafizah."


Sementara Navya yang sedang menikmati potongan kue keju merasa sangat mengenal ras khas dari kue tersebut. Rasanya sangat mirip dengan buatan Mami nya, Finny. Finny sering membuatkan mereka kue keju. Kue dengan isi krim keju yang manis dan gurih yang menjadi favoritnya juga semua orang di rumahnya.


" Kenapa sayang ? Apa ada yang kurang ?" Mereka memperhatikan Navya yang terdiam.


" Tidak Nek, kue nya enak banget. Vya suka. " jawabnya jujur.


" Kalau kamu suka, nanti nenek memberikannya untuk kamu bawa pulang."

__ADS_1


" Terimakasih Nek".


Perhatian mereka teralihkan dengan getaran dari dalam tas Navya. Sebenarnya Navya malas mengangkatnya, saat melihat nama yang tertera di layar ponselnya. Tapi tidak mungkin dia mengabaikan lagi, bisa-bisa kedua orang di depannya curiga.


" Maaf Pak, Nek, Saya angkat sebentar."


Rima dan Alvi mengangguk.


" Hallo... Mas Dafin."


" Aku jemput kamu. Mami menunggu kita di butik."


" Tapi mas, Vya masih di luar bersama Pak Alvi. "


" Ya udah kamu kirim lokasi kamu sekarang, aku jemput ke sana."


" Iya mas ."


Setelah menutup panggilan telepon dari Dafin, Navya lalu mengirimkan alamat toko roti tempat dia berada sekarang. Alvi merasa aneh dengan cara bicara Navya pada yang terkesan kaku. Navya seperti tidak sedang bicara dengan kekasihnya.


" Maaf Pak, saya ada keperluan. Mami minta saya dan Mas Dafin untuk fitting baju pernikahan."


" Ya sudah, saya antar kamu."


" Gak, gak usah Pak. Mas Dafin sudah menuju ke sini kok. Tadi saya sudah kirim alamat nya. Kalau begitu saya permisi ya Nek, Biar saya tunggu di depan saja."


" Lain kali kamu harus datang lagi ya Nak." Rima seakan-akan merasa dekat sekali dengan Navya, padahal baru pertama kali ini mereka saling bicara.


" Ayo saya temani kamu di luar." Alvi kemudian membukakan pintu untuk Navya.


Mereka berjalan keluar dari ruangan pribadi Rima, dan duduk di sofa lobi toko kue itu. "Dafin belum datang kan, Kamu tunggu di sini saja dulu. Ada yang mau saya ambil di mobil."


Navya mengangguk sambil mendudukkan tubuhnya di sana. Tidak lama kemudian Alvi sudah masuk kembali ke dalam toko dan menghampiri Navya sambil memberikan 2 buah paperbag yang tadi dia bawa dari butik. "Buat kamu."


"Apa ini pak?" Bingung. Dia juga belum mengambil apa yang diserahkan Alvi padanya.


"Ini untuk kamu, saya beli ini di butik yang tadi." Mengambil tangan Navya dan menyerahkan paper bag itu. Navya sudah akan bersuara, menolak, "Ini perintah. Dilarang menolak!" Tegasnya.


Dan apalagi yang akan Navya ucapakan selain terimakasih. Sebenarnya dia tidak enak, siapa dia hingga mendapatkan sesuatu dari bosnya. Apalagi harga pakaian yang tersedia di butik tersebut tergolong fantastis. Bukan Navya tak biasa dengan harga barang-barang branded , uang yang selama ini ia dapatkan dari Damar dan Finny lebih dari cukup untuk dia belanjakan. tapi Navya memang tak terlalu suka dengan barang mahal. Dia hanya suka memakai apa yang nyaman menurutnya. Terkadang Finny lah yang sering membelikannya barang-brang mahal.


Mereka keluar, stelah Dafin menelpon bahwa dia sudah sampai. "Harusnya bapak gak perlu memberikan apa-apa seperti ini, saya jadi gak enak."


" Gak apa-apa, anggap saja itu bonus buat kamu. Jangan lupa kamu pakai di acara kantor kita nanti."


" Sekali lagi terimakasih ya Pak. Saya permisi."


Lalu dia masuk ke dalam mobil Dafin. Dafin membuka kaca mobilnya untuk menyapa Alvi.


" Al, aku gak turun ya. Mami udah nunggu"

__ADS_1


" It's Ok.." Jawab Alvi dengan senyum.


Di tutup dengan bunyi klakson mobil nya, Dafin dan Navya pun berlalu dari tempat itu. Alvi masih berdiri di sana sampai mobil itu hilang dari pandangan matanya.


***


" Kamu belanja ?" Dafin tiba-tiba memecah keheningan di antara mereka. Dia memperhatikan barang-barang yang terletak dikursi belakang yang tadi dibawa Navya.


" Oh, ini pemberian Pak Alvi. Dan yang itu kue keju, Nenek Pak Alvi yang memberikannya."


" Baik banget bos kamu, kamu belum genap sebulan kan bekerja dengan Alvi?" Dan kenapa Dafin jadi cerewet begini.


" Saya gak tahu Mas, saya hanya menerima nya untuk menghargai Pak Alvi."


Dan mereka tidak ad yang bicara lagi hinga mobil itu berhenti di sebuah parkiran butik yang tak kalah terkenal dengan yang Navya datangi bersama Alvi tadi.


Di dalam sana sudah ada Finny dan seorang wanita pemilik butik tersebut. " Kamu masuk dulu, nanti aku menyusul. Di dalam ada Mami."


" Baik Kak."


Lalu Navya berjalan masuk ke dalam, seorang karyawan mengantarkannya ke sebuah ruangan tempat dimana Finny berada.


" Mami.."


" Sini sayang, masuk. Ini loh Mel calon mantu ku." Finny menepuk tempat kosong di sebelah nya. Sebelum duduk, Navya menyalami Melly, dia mencium tangannya.


" Cantik sekali sayang. Kamu ketemu di mana sih Fin." Ucapan Melly yang merupakan istri dari temannya Damar sekaligus pemilik butik itu berhasil membuat pipi Navya merah.


" Hahaha.. kamu bisa aja. Sebenarnya Navya ini anak angkat aku. Kamu ingat kan waktu dulu kita ngadain reuni di puncak, selain Dafin, aku dan mas Damar membawa seorang anak perempuan."


" Oh aku ingat. Ya ampun, kamu sudah besar."


"Vy, dimana Dafin?" Finny bertanya karena tidak melihat keberadaan putra nya saat Navya datang.


" Tadi mas Dafin suruh Vya masuk duluan Mi, kayaknya dia lagi ada urusan sebentar."


" Dasar anak itu, biar mami hubungi dia." Namun belum sempat Finny menekan nomor Dafin, pintu di depan sana terbuka. Memunculkan sosok yang dipertanyakan oleh Finny. " Kamu dari mana saja Fin?"


" Oh, Dafin ada telpon dari kantor mi."


Dan selanjutnya, sesuai tujuan mereka datang ke sana. Navya dan Dafin melakukan fitting untuk busana pernikahan dan resepsi. Seperti pasangan calon pengantin pada umumnya, Dafin dan Navya seharusnya sangat antusias saat memilih pakaian untuk hari penting mereka. Namun kehebohan itu malah terlihat dari sang Mami. Mereka berdua hanya pasrah saja. Bahkan saat Finny meminta mereka berpose untuk difoto, Dafin dan Navya terlihat kaku.


bersambung


Assalamualaikum... Hai...


Aku update lagi.


Masih penulis pemula,, maaf kalau masih banyak typo.

__ADS_1


Mohon dukungannya ya, sangat berharap Like, komen, kritik dan saran...


__ADS_2