Mencintaimu Karena Terbiasa

Mencintaimu Karena Terbiasa
Mengungkap Perasaan Alvi


__ADS_3

"Pak jangan beritahu Mami ya."


"Lalu jika saya pulang, siapa yang akan menunggu kamu di sini? Kamu bilang Dafin tidak akan datang."


"Saya mohon Pak, saya gak mungkin mengatakan bahwa saya kehujanan di taman kota gara-gara membuntuti Mas Dafin sedang bertemu kak Hana. Saya akan baik-baik saja Pak, besok saja saya yang akan menelpon Mami."


Alvi menarik nafasnya perlahan. "Oke kalau itu mau kamu. Tapi yakin, kamu tidak apa-apa di sini sendiri?"


"Gak apa-apa. Saya akan baik-baik saja. Lagian di sini banyak perawat dan dokter yang bertugas. Kalau ada apa-apa saya akan meminta bantuan mereka."


"Ya sudah, saya akan minta salah satu dari mereka untuk menjaga kamu di sini."


"Siap Bos." katanya sambil membuat gerakan hormat. Alvi tersenyum lebar sambil geleng-geleng kepala. Kenapa wanita ini masih bisa tersenyum, padahal hatinya sedang terluka.


Pada akhirnya dia khusus meminta seorang perawat untuk menemani Navya di ruangan nya. Kalau gadis itu membutuhkan bantuan. Tapi dia juga tidak jadi pulang, malah menginap di ruang tunggu yang ada di luar ruangan Navya tanpa sepengetahuan sekertaris nya itu. Takut terjadi apa-apa dengan Navya saat dirinya tidak ada.


***


Pukul tujuh pagi Dafin sampai di parkiran rumah sakit. Dia mencoba menghubungi Navya namun ponselnya mati karena baterai nya habis. Bertanya pada pusat informasi di ruangan mana Navya di rawat.


Setengah berlari dia menuju pintu Lift yang akan membawanya ke ruang VVIP tempat Navya di rawat. Di ruang tunggu sebelum masuk ke ruangan inap, Dafin bertemu Alvi yang sudah rapi dan bersiap-siap akan ke kantor.


"Kamu masih di sini kak?"


"Oh, kamu baru datang? Suami macam apa yang membiarkan istrinya bermalam di rumah sakit sendirian!?" ucapan sinis keluar dari mulutnya. "Demi wanita lain."


Dafin mendekati Alvi dan mencengkeram kerah bajunya. Ryan dengan cepat ingin melepaskan tapi Alvi mencegah Ryan mendekat.


"Kamu kan yang sudah memberitahu Navya tentang hubungan ku dengan Hana? Kamu sengaja kan?"


"Tanpa aku beritahu, cepat atau lambat bangkai pun akan mengeluarkan bau dengan sendirinya." Tersenyum sinis pada lelaki di hadapannya.

__ADS_1


"Kamu berharap Navya meninggalkan aku kan?"


"Mas Dafin??" Entah sejak kapan Navya sudah ada di sana. Berdiri di depan pintu kamarnya dengan tiang infus yang di pegang oleh perawat. Tadinya Navya ingin keluar dan melihat-lihat ke taman atas, karena dia merasa bosan di kamar. "Pak Alvi, kenapa pagi-pagi sudah ada di sini?"


Refleks Dafin melepaskan cengkeramannya di kerah baju Alvi. Wajah kedua laki-laki itu sama terkejutnya, yang paling terkejut tentu saja Alvi.


"Navya, bagaimana keadaan kamu? Kenapa kamu keluar?" Dafin mendekatinya.


"Apa maksudnya Mas Dafin bilang kalau Pak Alvi yang memberi tahu saya?"


"Vy, sebaiknya kamu masuk ke dalam ya. Kondisi kamu belum stabil." Alvi mengajak nya masuk lagi dan mengambil alih tiang infus yang tadi di bawa oleh suster. Navya menurut saja, masuk lalu duduk di atas ranjangnya. Dafin menyusul begitu juga Ryan. Suster yang tadi menjaga Navya diminta pergi oleh Ryan.


"Saya tau semuanya bukan dari siapapun. Saya mengetahuinya sendiri saat mendengar pembicaraan Mas Dafin di telepon waktu itu. Tapi kenapa Mas Dafin bisa menuduh pak Alvi yang memberi tahu saya?"


Navya lalu melihat Alvi. "Artinya Bapak sudah tau dari awal semua ini? Apa itu benar Pak?" Alvi tidak menjawab, juga tidak berani membalas tatapan Navya. Tidak menyangka sama sekali, kalau memang benar kenapa dia menyembunyikan semua itu dari Navya.


"Sejak kapan Pak?"


"Navya, saya bisa jelaskan..." Kata-kata Ini sudah menjawab pertanyaannya, berarti benar Alvi tau semuanya. Navya tersenyum miris. Dia merasa bodoh sekali. Setelah Papi, orang yang tau hubungan Dafin dengan Hana adalah Bos nya. Lalu kenapa mereka menyembunyikan itu darinya, apa mereka begitu senang melihatnya tersiksa dan sakit hati.


"Navya biarkan saja menjelaskan semuanya."


"Maaf Pak, Saya kecewa sama Bapak. Saya bingung sekarang harus percaya sama siapa lagi. Bapak tega sekali sama saya." Tangisnya pecah lagi. Kedua pria itu tidak ada yang berani mendekat untuk memeluk atau sekedar menenangkannya.


"Saya mencintai kamu." Benar, memang itulah alasannya. Selain Navya, Dafin juga terkejut dengan pertanyaan Alvi.


Saya melakukan ini karena saya mencintai kamu. Saya tidak mau kamu terluka, saya sembunyikan semua itu dengan harapan hubungan Dafin dan kamu semakin membaik. Berharap Dafin bisa memilih kamu di bandingkan Hana. Karena kamu mencintai Dafin, saya hanya ingin kamu bahagia dengan pilihan kamu, orang yang kamu cintai."


"Hanya itu alasannya. Saya mencintai kamu."


Kali ini Alvi beralih menatap Dafin. "Kalau saya mau, saya bisa saja memberitahu kamu sejak awal. Tapi belum tentu saya bisa memiliki kamu atau membuat kamu jatuh cinta sama saya. Saya hanya tidak mau kamu terluka. Bahkan saya tidak sanggup mengatakan bahwa mereka sudah menikah."

__ADS_1


Navya terlalu shock, dia mendadak pusing. Benarkah apa yang ia dengar sekarang. Selain kenyataan orang yang selama ini selalu baik padanya, selalu menolongnya, ternyata menyimpan rasa yang lain. Dia juga harus menerima kenyataan lain yang lebih menyakitkan.


Dafin yang tidak bisa membendung emosi pun memukul Alvi namun di tepis oleh pria itu. Ryan juga sudah siap sedia menghalangi.


"Cukup Mas! Tolong tinggalkan saya.


Saya pusing sekali." Semuanya masih membingungkan untuk nya. Terlalu tiba-tiba dia tau semua kenyataan ini.


"Vya, tolong dengar kan aku." Dafin mendekati ranjang Navya, berusaha memberi penjelasan.


Tapi gadis itu sama sekali tidak ingin melihat Dafin, dia memejamkan mata lalu membelakangi pria itu.


Alvi juga menghampiri nya, di sisi yang lain. "Navya, saya minta maaf. Saya sudah membuat kamu kecewa. Tapi perasaan saya benar-benar tulus. Kamu istirahat saja, nanti saya akan minta dokter memeriksa kamu. Saya pergi dulu." Alvi berlalu dari sana, berjalan keluar dari ruangan diikuti oleh Ryan tanpa menunggu jawaban Navya yang memang samasekali enggan berbicara.


Dafin masih berusaha membujuk Navya, walaupun gadis itu tidak menanggapi samasekali. Akhirnya setelah dokter datang dan meminta nya keluar atas perintah Alvi, baru Dafin bersedia keluar dan duduk di ruang tunggu.


Masih merasa pusing dan pikiran nya kacau, Finny datang dengan kehebohannya karena Navya yang baru memberitahu bahwa dia di rawat di rumah sakit.


Wanita itu kesal, begitu datang dia memukul kepala Dafin dengan tas nya.


"Kamu ini, kenapa baru mengabari Mami sih?"


"Maaf Mi, Dafin cuma gak mau merepotkan Mami dan Papi malam-malam."


"Terus, kenapa kamu di sini? Bukannya menemani istri kamu di dalam."


"Dafin kan menunggu Mami."


"Alah... Alasan kamu." Memukul lagi, kali ini bahunya. "Suami itu harus siaga, kalau Navya hamil gimana? Kamu gak boleh sering-sering meninggalkan dia." Finny langsung masuk ke dalam, meninggalkan Dafin yang masih bingung dengan kata-kata sang ibu.


Hamil apanya, aku baru sampai tahap mencium bibirnya saja. Tapi kalau Hana....

__ADS_1


"Dafin!" Byaaarrrrr!!! Lamunannya berakhir sudah. Suara Mami membuyarkan nya.


Bersambung


__ADS_2