
"Sudah malam Nak, masuklah
dan istirahat."
Dia mengiyakan ucapan Damar. "Papi juga ya, selamat tidur." Damar bangun duluan dan diikuti Navya. Navya sudah membuka pintu kamar saat Damar memanggilnya..
"Navya..."
"Ya Pi.."
"Besok kembalikan sweater nya ke Alvian." Lalu dia berjalan menuruni tangga, meninggalkan Navya yang masih terpaku setelah mendengar apa yang dia ucapkan barusan.
Navya hanya bisa tersenyum mengetahui siapa sebenarnya yang memberikan baju hangat itu padanya. Pantas saja dia tidak asing dengan aroma wangi dari sweater yang sedang dikenakannya. Sepertinya dia akan membawa nya tidur.
***
"Tante titip Navya ya Al." Finny memeluk keponakannya saat berpamitan untuk pulang.
Hal yang sama juga dilakukan oleh Damar. "Semangat." Bisiknya sambil menepuk bahu Alvi.
"Makasi om."
Finny dan Navya tersenyum heran melihat keakraban keduanya. Tidak biasanya seperti itu, mereka selalu bersikap dingin satu sama lain jika bertemu. Kali ini berbeda. Tapi mereka juga merasa senang dengan perubahan sikap keduanya.
"Kami pamit ya sayang, kamu jaga diri. Kalau ada apa-apa langsung hubungi Alvi. Mami percayakan kamu padanya." Bicara dengan Navya lalu melirik Alvi di sebelahnya.
"Mami apaan sih, Mas Alvi juga punya kesibukan di sini. Jangan membebaninya."
"Saya tidak masalah. Tante dan Om bisa percaya sama saya."
"Hati-hati ya Mami, Papi..."
Pasangan suami istri itu kemudian berjalan masuk ke ruang tunggu penumpang. Sementara Alvi dan Navya juga beranjak dari Bandara. Alvi mengantar Navya ke kampus, setelahnya dia akan ke kantor. Ada banyak pekerjaan yang harus dilakukan.
"Saya akan jemput kamu nanti." Saat mobil Alvi sudah melewati gerbang kampus.
"Tidak usah Mas, saya akan pulang sama kak Elma nanti. Mas pasti sibuk kan."
"Baiklah. Kalau sudah sampai di rumah jangan lupa menghubungi saya."
"Iya Mas."
***
Elma membereskan barang-barang nya deng agak terburu-buru.
__ADS_1
"Kak, kenapa terburu-buru begitu?"
"Vy, maaf. Aku harus buru-buru. Ada yang harus segera aku lakukan. Kamu pulang sendiri saja ya."
"Oh, iya gak masalah kak. Tapi kakak mau kemana?"
"Oh, itu... ehmm ada teman lama ku yang datang ke sini. Jadi kami berjanji untuk bertemu."
"Tidak harus terburu-buru begitu kak, dia kan yang ingin bertemu. Dia pasti menunggu."
"Dia akan melakukan penerbangan malam nanti, jadi waktunya sangat singkat. Aku pergi sekarang ya Vy." Elma segera pergi dan meninggalkan Navya yang masih terheran-heran melihat sikap aneh Elma hari ini.
Sejak tadi bertemu sebelum kelas di mulai, dia selalu menelpon. Beberapa kali ada panggilan yang tidak bisa ia abaikan saat jam kuliah sedang berlangsung, jadi selama mau tidak mau harus permisi keluar dan menerima telepon. Harusnya temannya itu tau jika Elma sedang ada kuliah, agar tidak menggangu.
Navya baru saja keluar dari kelasnya saat ada getaran handphone di tas. Dia tersenyum melihat nama si pemanggil.
"Saya ada di tempat parkir sekarang."
"Hah?" Kenapa bisa ke sini. Bukannya tadi tidak jadi menjemput.
"Navya?"
"Iya Mas, Vya sudah selesai kok. Akan ke sana sekarang."
Gadis itu berjalan sambil melihat ke sekelilingnya, siapa tau ada yang mencurigakan. Apa Alvi menyuruh seseorang mengikuti dirinya. Kenapa bisa tau kalau hari ini dia pulang sendiri. Dan yang paling penting, dari mana dia tau jam kuliah Navya sudah selesai kuliah. Tapi Navya tidak menemukan hal yang mencurigakan, seperti orang berbaju hitam dan memakai kacamata hitam yang sedang memata-matai nya.
Navya jadi geli sendiri, menggeleng sambil menertawakan dirinya. Untuk apa Alvi melakukan itu, jelas Alvi tau itu akan membuat dia tidak nyaman.
Navya sudah bisa mengenali mobilnya bahkan dari jauh. Dia berjalan agak cepat agar Alvi tidak terlalu lama menunggu. Sedikit lagi dan dia sudah tiba di depan mobil ketika Alvi membuka kaca depan. Terlihat seorang gadis cantik yang duduk di kursi penumpang di sebelah Alvi.
Seakan ingin menunjukkan bahwa sudah ada yang duduk di sana ketika kaca itu di turun kan. Gadis itu hanya menundukkan kepalanya singkat tanpa bicara apapun pada Navya.
"Ayo Vy, masuk." Navya lalu bergeser untuk membuka pintu bagian belakang. Dan masuk ke dalam mobil.
"Saya ada meeting mendadak sore ini, kamu tidak apa-apa kan kalau kamu ikut saya dulu. Karena arahnya berlawanan dengan rumah, tidak sempat jika harus mengantarkan kamu dulu."
"Iya Mas, tidak apa-apa."
Navya melirik gadis yang ada di depan. Sejak tadi dia hanya diam. Gadis cantik itu adalah yang dia lihat di kantor Alvi kemarin. Tapi sudah dua kali bertemu, gadis itu sama sekali belum pernah memperkenalkan dirinya Navya. Malah setiap mereka bertemu dia selalu berusaha memalingkan wajahnya. Hanya menunduk sebentar lalu beralih menatap ke arah lain.
Mobil sudah melaju di jalan raya, bergabung dengan mobil lainnya. Navya merasa agak tidak nyaman sebenarnya. Alvi lebih banyak berinteraksi dengan gadis di sebelahnya, memang mereka hanya bicara pekerjaan. Tapi kan ada dirinya juga di sana. Karena tidak ada yang mengajak nya bicara akhirnya Navya malah tertidur dalam perjalanan. Alvi tersenyum lucu melihat dari kaca, Navya terlelap.
"Pak, harusnya saya duduk di belakang saja tadi."
Alvi meletakkan tangan nya di bibir. Meminta gadis itu untuk tidak bicara. Mungkin saja Navya belum begitu lelap.
__ADS_1
Mereka tiba di sebuah resort, tidak jauh dari Villa tempat mereka merayakan ulangtahun Papi beberapa hari yang lalu.
"Vy, Navya... Bangun." Alvi menepuk-nepuk pipi Navya untuk membangunkannya.
Navya menggeliat namun belum membuat matanya. Alvi merasa gemas melihat tingkah gadis itu. "Navya, kita sudah sampai." Perlahan matanya terbuka lalu terkejut saat melihat Alvi ada didepannya.
"Mas? Maaf, Vya ketiduran."
"Tidak apa-apa. Diana sudah memesan kamar untuk kamu untuk beristirahat."
"Diana?"
Diana siapa?
"Diana, sekertaris saya."
Oh iya, Navya lupa. Mereka ke sini bertiga. Jadi namanya Diana.
"Ayo turun. Kamu tidak apa-apa kan sendiri ke kamar?"
"Iya Mas."
Alvi memberikan kunci kamar pad Navya. Lalu dia keluar dari mobil Alvi. Ternyata Diana ada di sana, tepat di belakang mobil. Menunggu Alvi membangunkan dirinya.
Diana tersenyum padanya sambil menundukkan kepalanya. Navya membalas dengan senyuman.
"Ini Diana. Saya belum pernah memperkenalkan kamu kan?" Alvi bicara dengan Navya. "Dia sekretaris saya."
"Dania perkenalkan ini Navya. Kalian sudah pernah bertemu kan di kantor, beberapa hari yang lalu."
Diana mengulurkan tangannya dan disambut oleh Navya. "Perkenalkan saya Diana." Gadis itu sangat cantik, persis seperti pertama kali Navya melihatnya ketika di kantor Alvi. Tapi yang belum hilang dari pikiran Navya adalah, wajahnya benar-benar seperti tidak asing baginya.
"Vy, saya dan Diana harus bertemu Klien. Kamu naik sendiri ke kamar tidak apa-apa kan?" Suara Alvi membuyarkan lamunannya.
Navya mengangguk. Dan kedua orang itu langsung pergi meninggalkan dirinya, masih berdiri di tempatnya. Alvi sedikit aneh, tidak biasanya dia membiarkan Navya sendirian.
Kemudian dia menepuk pelan kepalanya. Apa yang aku pikirkan, hanya berjalan ke kamar saja. Kenapa Alvi haru mengkhawatirkan dirinya.
Sambil berjalan pikiran Navya kembali tertuju pada kedua orang itu. Alvi terlihat sangat dekat dengan Diana. Tapi dulu dia juga begitu kan. Mengingat dirinya yang dulu pernah menjadi sekretaris Alvi. Sampai-sampai orang di kantor ada yang membuat isu mereka memang hubungan khusus.
Eh tapi,, dulu awalnya Pak Alvi tidak mau mempunyai sekretaris wanita. Sekarang mengapa, Diana.
Navya menggeleng. Navya terlalu menganggap tinggi dirinya, bisa-bisanya dia berfikir dulu karena dirinya, Navya, maka Alvi mau menerimanya sebagai sekretaris pribadi. Lalu Diana, apakah karena Alvi memang merasa nyaman dengan Diana.
Bersambung
__ADS_1