Mencintaimu Karena Terbiasa

Mencintaimu Karena Terbiasa
Kepikiran Terus


__ADS_3

Sikap Navya malam dan tadi pagi tidak seperti biasanya. Semalam setelah masuk kamar, Dafin tau Navya belum tidur tapi gadis itu tidak bicara apapun. Berbaring membelakangi Dafin. Memang sih kemajuan hubungan mereka masih sebatas berciuman saja, tidak lebih. Tapi Navya tidak pernah cuek kepada nya seperti itu.


Apalagi tadi pagi, Navya bahkan tidak membangunkan Dafin seperti biasanya. Sarapan dan kopi pun tidak tersedia di meja makan. Istrinya sudah pergi pagi-pagi sekali.


"Sayang, kamu kenapa?" Hana yang merasa Dafin juga berbeda pagi ini. Mobil baru saja keluar dari area parkir apartemen Hana.


"Aku? Nggak kenapa-kenapa."


"Ya kamu diam aja dari tadi. Udah sarapan?"


Dafin menggeleng.


"Tumben, biasanya istri kamu tuh rajin banget."


Entah kenapa jawaban Hana kali ini membuat Dafin berdecak kesal. Namun sebisa mungkin dia menahan itu. Bingung dengan sikap Navya, dia tidak ingin menambah masalah karena bertengkar dengan Hana lagi.


"Aku buru-buru sayang, Navya juga sedang sibuk jadi dia tidak sempat membuat sarapan. Kita bisa sarapan bersama di kantor kan." Berusaha merubah mimik wajahnya tersenyum, agar tidak merusak mood Hana juga.


"Oke..."


***


Sampai siang ini semua pesan dan panggilan Dafin belum juga mendapatkan jawaban dari Navya. Sikap Navya yang diam begini membuat Dafin benar-benar bingung. Dia coba mengingat lagi kejadian apa yang tiba-tiba membuat gadis itu berubah.


Pikiran nya menerawang ketika mereka sedang di atas ranjang dan hampir saja terjadi sesuatu antara keduanya. Tiba-tiba Hana menelpon dan menggagalkan semuanya.


Apa dia marah karena itu? Tapi saat dia menyuruh Navya untuk tidur duluan, gadis itu bersikap biasa-biasa saja, tidak menunjukkan kalau dia sedang kesal. Atau jangan-jangan dia mendengar pembicaraan dengan Hana di telepon!? Tapi kenapa dia tidak marah atau membahas nya. Pasti tidak mungkin dia mendengar nya.


Dafin rasanya penasaran. Kenapa Navya berubah jadi cuek begitu padanya. Dulu bahkan saat Dafin memperlakukannya buruk, Navya selalu berusaha menjadi istri yang baik untuknya.


***


Navya tidak mematikan Hp nya, hanya menonaktifkan nada dering dan pemberitahuan pesan. Dia masih tidak tau harus bagaimana menghadapi Dafin. Rasanya dia masih kesal, ingin rasanya dia marah tapi kalau Dafin bilang tidak peduli dengan perasaannya bagaimana? Toh dari awal memang Dafin tidak benar-benar menginginkan pernikahan mereka. Waktu enam bulan yang pernah Navya dengar, itu saja yang jadi isi pikirannya. Sampai-sampai semua pekerjaan nya kacau. Untung Alvi selalu mentolerir kesalahan nya.


Dalam perjalanan menuju ke kantor Navya sudah merasa lebih baik. Bicara dengan Alvi membuat dirinya lebih termotivasi. Dia Kana berusaha merebut perhatian Dafin. Dia akan pura-pura tidak tau hubungan suaminya dengan Hana. Dia juga harus mempertahankan rumah tangganya.

__ADS_1


Dia membalas pesan singkat yang dikirim Dafin padanya sejak pagi dan siang tadi. Meminta maaf karena sikap nya tadi pagi dan beralasan dia sedang buru-buru makanya tidak sempat membuat sarapan dan membangunkan Dafin. Sebenarnya alasan itu terlalu aneh bagi Dafin, tapi begitu Navya membalas pesannya sudah membuat Dafin lega.


Hana yang masuk ke dalam ruangannya pun tidak dia sadari. Memperhatikan pria nya sedang tersenyum sendiri, raut wajahnya berbeda dari beberapa jam yang lalu.


"Ehhem.."


Dafin sangat pandai menguasai keadaan. Dia berusaha setenang mungkin saat mendengar suara Hana.


"Kamu kenapa senyum-senyum sendiri?" Masih curiga dengan gelagat Dafin.


"Sini sayang, aku liat ada kafe bagus baru buka. Sepertinya tempatnya bagus." Ucapnya sambil dia bangun dari kursi kerjanya dan berjalan menuju sofa yang diikuti oleh Hana. Lalu menunjukkan gambar di Hp nya pada Hana.


"Nanti malam kita ke sana, kamu mau?"


"Mau sayang." Hana mengangguk antusias. "Udah lama juga kan kita gak makan malam romantis." Sambil bergelayut manja di lengan Dafin.


Sebelum melepaskannya karena tiba-tiba ada suara ketukan pintu. Hana langsung berdiri dan Dafin mengambil laporan yang tadi dibawa oleh Hana. Ternyata yang datang adalah Ega dan seseorang dari divisi pemasaran, masuk setelah Dafin mempersilahkan mereka.


"Saya permisi dulu Pak Dafin." Hana pamit saat Ega dan orang itu duduk di Sofa yang tadi dia duduki.


"Hana tolong buatkan kopi."


Hana agak kesal sebenarnya, sejak pagi dia tidak punya waktu ngobrol berdua dengan Dafin. Karena banyak sekali pekerjaan yang harus dia selesaikan akibat cuti yang dia ambil kemarin. Tapi memang begitulah jika mereka sedang di kantor, apalagi ada Ega yang selalu mengawasi mereka. Hana jadi tidak leluasa dekat dengan Dafin.


Sebenarnya kedekatan keduanya tidak jarang menjadi buah bibir di lingkungan kantor. Walaupun setiap hari Dafin selalu menurunkan Hana di perempatan sebelum area gedung, tapi beberapa kali ada karyawan yang tidak sengaja melihat mereka berada dalam satu mobil yang sama. Apalagi saat jam pulang kantor, Hana yang selalu menempel di dekat Dafin mengundang kecurigaan karyawan lain. Tapi siapa mereka berani menguak rahasia Bos mereka, jadi kebanyakan dari mereka memilih tidak terlalu peduli. Apalagi Ega yang pernah mendengar mereka membicarakan hubungan pernikahan Dafin dan Navya, menegur dengan tegas. Jadi tidak ada yang berani membahas lagi soal itu.


***


Siang ini Finny sedang berkunjung ke Panti Asuhan. Sudah lama sekali sejak Navya menikah dan bekerja, dia tidak kesan melihat keadaan anak-anak yang kurang beruntung itu.


"Ibu sehat?"


"Saya sehat-sehat saja Bu Sarah. Bagaimana keadaan di sini?" Perkembangan anak-anak?


"Kami baik-baik saja Bu, semu kebutuhan tercukupi. Semua berkat Ibu dan Tuan Damar. Terimakasih banyak sudah memberikan perhatian penuh untuk kami semua di sini."

__ADS_1


"Jangan sungkan Bu, anak-anak di sini juga anak-anak saya."


"Oh ya Bu, beberapa hari yang lalu Mas Dafin dan Mbak Navy datang mengunjungi kami."


"Benarkah? Mereka tidak bilang kalau mau datang."


"Sepertinya mereka langsung datang setelah pulang dari kantor. Kerena masih memakai pakaian kerja."


"Bagaimana mereka Bu? Apa yang Bu Sarah lihat dari mereka berdua." Sarah merasa sedikit bersalah, sejak tahu hubungan tersembunyi antara Hana dan Dafin dia merasa sangat bersalah, pada Finny terutama pada almarhum Hafizah yang sudah sangat banyak membantu dirinya.


"Iya Bu, saya senang dan bersyukur sekali melihat hubungan mereka semakin baik dan semakin dekat."


"Saya benar-benar tidak menyangka kalau perkembangan hubungan mereka akan secepat ini. Mudah-mudahan semakin baik, saya sudah tidak sabar ingin menimang cucu." Finny tertawa bahagia membayangkan sudah memiliki cucu dari anak-anak nya.


Di tanggapi senyuman saja oleh Sarah. Dia bingung mau berkata apa lagi, dia sebenarnya tidak tahan menyimpan itu sendiri. Ingin bicara pada suaminya juga dia belum berani. Dia tidak ingin Navya tersakiti, sudah banyak yang dilakukan orang tua Navya untuk keluarga nya. Bahkan sekarang semua itu masih di lanjutkan oleh orangtua angkat yang sudah menjadi mertuanya. Yang terjadi antar Hana dan Dafin sudah pasti akan menyakiti banyak orang. Karena dia juga merasa kecewa,


"Bu Sarah? Melamun apa?" Finny menggoyang tangan Sarah karena melihatnya sedang melamun.


"Hah... hahaha.. tidak ada Bu. Saya hanya teringat almarhum Bu Hafizah dan Pak Wisnu. Kalau mereka masih hidup, mungkin akan bisa melihat kebahagiaan Mbak Navya saat ini."


"Iya benar. Saya juga merindukan mereka. Oh ya, bagaimana dengan Hana? Apa kalian sudah mengatakannya? Dia harus tau semuanya, dia sudah dewasa. Jika suatu hari ada lelaki yang ingin meminang Hana, semuanya akan berjalan lebih baik."


Ucapan Finny semakin membuat Sarah terbebani. Lelaki itu kenapa harus Dafin.


"Kami belum siap Bu. Kami takut dia tidak bisa menerima nya. Dia bahkan tidak pernah ingin tau siapa orang tuanya. Dia pernah bilang, dia menganggap mereka sudah tiada." Tanpa di sadari air mata menetes dari mata Sarah.


"Kami takut dia tidak mau menerima ataupun percaya pada kami."


Finny mendekat dan memeluk Sarah. Memberi kekuatan pada wanita itu. "Bu Sarah tenang saja, kita berdoa saja agar semua akan mudah nanti. Saya akan bantu Ibu dan Pak Yamin."


"Bagaimana caranya Bu?"


"Saya kan pikiran lagi nanti. Tapi saya akan minta bantuan Dafin. Hana saat ini bekerja sebagai sekretaris Dafin, mereka juga bersahabat dari dulu. Jadi saya yakin Hana pasti mau mendengarkan Dafin."


"Semoga saja Bu. Maaf karena saya sudah banyak merepotkan Ibu dan keluarga."

__ADS_1


"Dengan senang hati." Finny tersenyum tulus pada Sarah.


Bersambung


__ADS_2