Mencintaimu Karena Terbiasa

Mencintaimu Karena Terbiasa
Kejutan Alvi


__ADS_3

Navya benar-benar diganggu dengan pikirannya yang penasaran, kenapa Alvi tidak menghubungi dirinya sama sekali selama seharian ini. Sampai hari menjelang sore pun pria itu tetap tidak membalas pesan yang ia kirim, sekali Navya melakukan panggilan juga tidak di jawab.


Dia masih menunggu Elma di area parkir. Cukup lama Navya berada di sana. Tadi Elma mengatakan dia akan ke perpustakaan untuk mencari buku. Rasanya Navya ingin pulang saja, suasana hatinya saat ini membuatnya tidak bersemangat. Dia menghubungi Elma, mengatakan akan pulang duluan saja. Gadis itu meminta maaf karena sudah membuat Navya menunggu.


"Tidak apa-apa kak. Aku duluan ya." Mematikan panggilan tersebut lalu memasukkan ponselnya ke dalam tas. Dia. sejalan menyusuri trotoar menuju ke arah jalan raya.


Pikiran nya masih tentang Alvi. Sikap Alvi yang berubah seharian ini. Apa pria itu lelah, sudah jenuh menunggu atau dia sudah menemukan gadis lain yang menarik perhatiannya. Navya tiba-tiba kesal sendiri dengan pikirannya. Kenapa dia harus perduli, dulu dia sendiri kan yang mengatakan akan ikhlas kalau Alvi menemui wanita lain. Tapi kenapa rasanya Alvi seperti sesumbar dengan ucapannya, katanya akan setia dan sabar menunggu Navya. Lalu secepat itu dia langsung melupakan kata-katanya.


Masih berjalan dengan pikirannya yang campur aduk, Navya tidak menyadari kalau lampu di depannya sudah berubah berwarna merah sebagai tanda berhenti untuk pejalan kaki. Tapi dia tetap melangkah sambil menunduk, beberapa mobil membunyikan klaksonnya berulang untuk menyadarkan Navya. Menyadari dia hampir melangkah ke tengah zebra cross Navya menjerit saat melihat sebuah mobil melaju ke arahnya, tapi tiba-tiba tangannya ditarik oleh seseorang dengan cepat dan membawanya ke pinggir dalam posisi memeluk.


Jantung Navya berdebar, rasa takut bercampur lega. Untuk beberapa waktu dia tidak melepaskan pelukan itu. Sangat erat dan nyaman, Navya merasa tenang di dalam dekapan pria yang sudah menyelamatkan dirinya.


Tepukan di bahu nya menyadarkan Navya, dia seperti mengenal wangi tubuh itu. Tidak asing. Hingga pria itu bersuara.


"Sudah tidak apa-apa. Ada saya di sini." Membuat Navya buru-buru melepaskan pelukannya. Menatap wajah orang yang memeluk dirinya tadi. Navya menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Tidak menyangka dengan apa yang ia lihat.


Alvi tersenyum puas. Rencananya mengejutkan Navya berhasil. Walaupun buka. seperti ini awalnya. Navya yang hampir tertabrak mobil, itu di luar skenario yang ia rencanakan.


"Mas Alvi ????" Berteriak juga akhirnya. Alvi mengangguk, masih terus tersenyum. Lalu Navya memeluk lagi dirinya. Kali ini Alvi yang terkejut. Tidak menyangka kan mendapatkan reaksi Navya yang seperti ini. Navya memeluk nya, wajah Alvi memerah. Hanya karena Navya memeluk dirinya, gadis itu tidak dapat melihat. Alvi sebisa mungkin menetralkan debaran jantungnya. Karena Navya pasti merasakannya. Alvi berdeham, membuat Navya tersadar dan melepaskan pelukannya.


Suasananya jadi canggung di antara mereka. Navya merapikan rambutnya ke belakang telinga. Sementara Alvi menggaruk tengkuknya yang tidak terasa gatal.

__ADS_1


Lali Lagi melihat ke sekelilingnya, sebuah taman di belakang halte bus. "Ayo kita ke sana." Navya mengiyakan dan berjalan mengikuti langkah Alvi. Sampai akhirnya duduk di sebuah bangku taman yang menghadap ke sebuah kolam air mancur. Suasana sore yang indah, beberapa anak bermain di atas rerumputan hijau di tempat itu. Sementara orang tua mereka duduk di bangku seperti yang Alvi dan Navya lakukan.


"Bagaimana kabar kamu?" Alvi membuka percakapan lebih dulu.


Navya mengubah posisi duduknya. Mirip menghadap Alvi. "Menurut Anda, bagaimana kabar saya kalau seharian ini saya mencoba menghubungi tapi tidak ada balasan sama sekali?"


Pertanyaan itu membuat Alvi tersenyum, apa itu artinya Navya mengkhawatirkan dirinya. "Tapi saya ada di depan kamu sekarang."


"Tapi gak lucu, Mas Alvi menghilang seharian ini. Menelpon nenek tapi tidak menghubungi saya." Wajahnya cemberut, tapi itu membuat Alvi malah jadi gemas padanya.


"Itu memang rencana saya. Tapi saya tidak suka cara kamu, kebiasaan melamun kamu itu jangan di pelihara. Kalau tadi kamu kenapa-kenapa saya tidak akan memaafkan diri saya."


"Ya memang itu salahnya Mas, gara-gara memikirkan Mas yang hilang kabar saya jadi gak fokus. Hampir tertabrak mobil." Keluar begitu saja ucapannya.


Dia jadi kikuk. Tanpa sadar dia mengatakan bahwa dia mengkhawatirkan dan memikirkan Alvi seharian ini. Navya memalingkan wajahnya ke arah lain. "Enggak kok, siapa bilang. Saya hanya sedang memikirkan tugas saya yang belum selesai. Besok sudah harus di kumpulkan."


Alvi geli sendiri dengan tingkah Navya. Mengkhawatirkan dirinya, tapi tidak mengakui. "Saya pikir setelah tidak bertemu selama sebulan, kali ini saya bisa mendapat kabar baik." Ekspresi sedih yang di buat-buat sebenarnya, tapi Navya tetap merasa bersalah.


"Maaf..." Hanya itu yang bisa ia katakan. Hening beberapa saat, Alvi maupun Navya diam, tenggelam dalam pikiran masing-masing.


"Tapi ngomong-ngomong, kenapa Mas Alvi bisa ke sini? Katanya setelah dua bulan baru bisa datang?" Akhirnya ada bahan untuk buka suara lagi.

__ADS_1


"Saya selesaikan semua pekerjaan saya lebih cepat, proyek hotel dan resort hanya tinggal menunggu peresmian saja. Saya tidak sabar menunggu dua bulan untuk bertemu kamu."


Navya mengangguk paham, ada yang perasaan haru yang menyeruak di hatinya. Pria di sebelahnya itu rela bekerja keras untuk menyelesaikan tugasnya lebih cepat, hanya agar bisa menemui dirinya secepatnya. Tapi dia bahkan belum siap memberikan jawaban pada Alvi.


"Hemmm kalau saya perhatikan, kenapa Mas Alvi terlihat lebih kurus." Navya melihat lagi ke arahnya.


"Itu karena saya tidak bersama kamu, saya jadi tidak selera makan."


"Apa sih.. Gombal." Navya malah jadi salah tingkah. Kembali menghadap ke depan.


"Ya memang benar. Makanya saya memutuskan akan tinggal di sini sampai kamu selesai kuliah . Saya akan ambil alih cabang Mahendra Group di sini, agar bisa selalu bertemu dengan kamu."


"Yang benar? Mas Alvi akan menetap di sini?" Tanpa sengaja menyentuh lengan Alvi.


Alvi mengangguk yakin. Navya tanpa sadar memperlihatkan ekspresi bahagianya. Tapi ketika melihat senyuman Alvi, dia jadi malu sendiri dengan reaksi yang ia berikan. Melepaskan tangannya dari lengan Pria itu dan mengalihkan lagi tatapan matanya.


Entah apa yang membuat kamu masih ragu Navya, tubuh kamu menunjukkan reaksi bahwa kamu sudah mulai menerima keberadaan saya. Tapi mulut kamu masih mengatakan belum siap. Tapi apapun itu saya tidak akan pernah berhenti berjuang, karena saya yakin kamu adalah jodoh saya.


Alvi menatap gadis di sebelahnya dengan penuh kasih. Bukan Navya tidak menyadari Alvi menatap dirinya dalam diam. Sungguh Navya tidak tau harus bersikap bagaimana, jadi dia hanya melempar pandangan ke arah anak-anak yang sedang berlarian di depan sana.


"Saya lapar. Ayo kita makan." Tanpa aba-aba Alvi berdiri dan meraih tangan Navya, membuat gadis itu refleks ikut berdiri. Dia tidak menolak tangannya digandeng oleh Alvi, hanya menatap tautan tangan mereka sambil mengikuti kemana langkah Alvi akan membawanya. Senyum mengembang di bibirnya pria itu, karena tidak ada penolakan dari Navya. Begitu pula Navya yang entah kenapa dia merasa genggaman tangan Alvi seolah memberikan kehangatan dan perlindungan padanya. Sehingga membuat dirinya merasa nyaman. Mereka menyusuri jalanan kota dengan bergandengan tangan dan senyum merekah di bibir mereka masing-masing. Orang-orang yang melihat akan menyangka mereka adalah sepasang kekasih.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2