Mencintaimu Karena Terbiasa

Mencintaimu Karena Terbiasa
Saatnya Mengakhiri..


__ADS_3

Alvi sudah beberapa kali menatap bayangan pria tampan di dalam cermin di kamarnya. Hari ini dia hanya akan menemani Navya bertemu dokter di rumah sakit. Tapi lelaki itu harus memastikan penampilan nya sudah sempurna, seperti orang yang akan pergi berkencan saja.


Padahal saat dia bangun tidur pun dirinya sudah tampan dari sananya apalagi saat ini dia sudah mandi dan mengenakan setelan jas seperti biasanya. Rambut di sisir rapi, tubuh yang wangi membuatnya makin sempurna.


Navya baru saja menelpon Alvi, mengatakan dia akan berangkat. Jarak dari rumah Damar ke rumah sakit adalah dua kali lipat jarak dari rumah Alvi. Tapi Alvi bergegas berangkat, karena dia ingin sudah ada di sana sebelum Navya sampai.


***


Alvi tersenyum saat sebuah mobil lewat di depan mobilnya yang terparkir di depan rumah sakit terbaik di kota itu. Dia hafal sekali warna dan plat nomornya.


Navya keluar dari mobilnya, begitu juga Alvi. Lelaki itu berencana mengejutkan Navya dengan diam-diam mengikutinya masuk ke dalam lobi rumah sakit.


Terlihat gadis itu mengambil ponsel dari dalam tasnya, meletakkan di telinga nya, dan terasa getaran di kantong jas Alvi. Sementara Alvi hanya tersenyum karena ia yakin Navya sedang menghubungi dirinya untuk mengabari bahwa dia sudah tiba di rumah sakit.


Tapi beberapa detik kemudian, Alvi berlari sekencang-kencangnya menuju ke arah Navya yang sedang berjalan sambil masih terus memegang Hp nya.


"Aaaaaaaaa....." Jeritan Navya terdengar ketika sebuah tangan kekar tiba-tiba menarik lalu mendekap tubuhnya dan bersamaan dengan itu sebuah mobil mengerem mendadak di samping mereka.


Jantung mereka sama-sama berdebar. Alvi yang ketakutan saat sebuah mobil hampir menabrak Navya, masih mendekap tubuh mungil itu di dadanya. Sementara Navya masih terpaku, mencerna apa sebenarnya yang terjadi.


Perlahan Navya mendorong tubuh itu, untuk melihat siapa orang yang sedang memeluknya.


"Pak Alvi?"


"Kamu tidak apa-apa kan? Hampir saja..."


Navya menatap Alvi tapi Lelaki itu tidak menyadari. Sampai saat tatapan mereka bertemu dan membuat Navya tersadar.


"Kamu kenapa Navya?"


"Oh, saya nggak apa-apa Pak. Makasih ya Pak, lagi-lagi Bapak selalu datang tepat waktu untuk menyelamatkan saya. Semakin panjang saja daftar hutang budi saya."


"Yah... Mungkin sudah takdir saya memang akan selalu menjadi penjaga kamu."


Navya tersenyum mendengar guyonan Alvi.


"Bapak ada-ada saja. Terimakasih lagi ya Pak, maafkan saya yang tidak berhati-hati."


"Iya sama-sama. Ayo segera masuk, jangan sampai kamu terlambat sampai di Panti nanti siang."

__ADS_1


Navya mengangguk dan berjalan di samping Alvi, masuk ke dalam gedung rumah sakit.


Kalau kamu mau, saya dengan senang hati bersedia selalu menjadi penjaga dan pelindung kamu. Tapi mungkin saya harus bersabar lagi, karena setelah ini saya tau kamu akan butuh waktu untuk menenangkan diri dan pikiran kamu.


***


Setelah menemui pihak rumah sakit juga dokter kandungan yang menangani Hana dan mendapat hasil pemeriksaan kehamilan Hana, mereka bergegas berangkat menuju ke Panti Asuhan Cinta Kasih. Alvi menawarkan untuk mengantarnya, sementara mobil Navya akan di antar ke rumah oleh orang bawahan Ryan.


"Harusnya Bapak tidak perlu mengantar saya, Bapak tidak ke kantor?"


"Tidak masalah, masih ada Kak Bima di sana. Kerena saya memintanya mengurus perusahaan untuk sementara."


Sebenarnya Navya penasaran siapa Bima itu. Apa hubungan Alvi dengannya. Selama bekerja dengan Alvi beberapa bulan ini Navya tidak pernah mendengar nama Bima sebelumnya. Tapi ada hal yang lebih penting sekarang.


"Ayo naik, kamu tidak mau kan Dafin dan Tante Finny sampai lebih dulu."


"Iya Pak."


Alvi membawa mobilnya keluar dari area parkir rumah sakit yang berdiri dibawah naungan Mahendra Group tersebut. Petugas keamanan memberi hormat saat mobil melewati gerbang rumah sakit.


***


Dia berdebar saat melihat seorang laki-laki yang keluar dari balik kemudi dan diikuti sepasang suami istri. Beberapa anak yang sedang bermain di halaman mengenali mereka, bergantian mencium tangan ketika tamu tersebut. Tak lama terdengar suara mereka mengucapkan salam dan suara anak-anak memanggil Ibu dan Ayah nya, memberi tahu bahwa ada tamu yang datang.


Hari itu kebetulan Yamin sedang tidak bekerja, dia menyambut masuk Dafin dan orangtuanya. Sarah mengetuk pintu kamar Hana, meminta gadis itu keluar dan menemui mereka.


"Bu, apa yang harus Hana katakan nanti. Hana takut Tante Finny tidak mau memaafkan Hana. Hana malu Bu."


Sarah memeluk anaknya, memberikan ketenangan. "Nak, mereka semua adalah orang-orang baik. Kamu hanya harus menyesali apa yang sudah terjadi. Ibu yakin mereka akan memaafkan kamu."


Hana memejamkan matanya, menarik nafas dan menghembuskan perlahan. Meyakinkan dirinya bahwa apapun yang akan dikatakan dan di putuskan keluarga Dafin nanti, dia akan menerima semuanya dengan ikhlas. Termasuk perceraian nya dengan Dafin.


Melepaskan pelukan sang ibu, lalu mengusap perutnya.


Nak Papa kamu datang. Tapi maaf, setelah ini kita harus berpisah darinya. Karena ada yang lebih berhak atas dirinya daripada kita. Maafkan Mama ya sayang. Kamu adalah kekuatan mama, tolong jangan benci mama kerena harus menjauh kan kamu dengan papa.


Hana mengikuti langkah Sarah menuju ruang tamu. Entah kenapa tiba-tiba rasa mual menyerang perutnya. Padahal beberapa hari sebelum ini Hana tidak pernah mengalami morning sickness sama sekali. Tapi Hana mencoba menahannya. Dia harap semuanya akan secepatnya berakhir.


Nak tolong Mama ya, jangan seperti ini. Jangan sampai mereka tau keberadaan kamu.

__ADS_1


Sarah duduk di dekat suaminya. Hana masih berdiri di samping Sarah, ragu untuk maju menyalami Finny dan Damar. Yamin dan Sarah menganggukkan kepala, sekali lagi meyakinkan Hana.


Akhirnya Hana memberanikan diri maju, mendekat untuk mencium tangan Finny dan Damar.


Nak ini kakek dan nenek kamu. Hana


Tiba saatnya dia berhadapan dengan Dafin. Lelaki itu tidak menepis tangan Hana, membiarkan Hana mencium tangannya. Namun matanya menatap ke arah lain. Entah kenapa tidak sanggup menatap gadis di depannya. Begitu juga Hana, dia hanya menunduk. Yang dia pikir adalah Dafin sudah sangat benci padanya sampai-sampai tidak ingin melihat dirinya.


Nak ini adalah Papi kamu. Hana


Hempp! Hana tiba-tiba menutup mulutnya. Perutnya bergejolak lagi. Tapi Hana mencoba menahannya, lalu segera duduk di sebelah Sarah.


Kenapa Hana pucat begitu. Apa dia sakit. Dafin diam-diam memperhatikan Hana.


Pembicaraan itu di mulai oleh Damar dan Finny terlebih dahulu. Meminta maaf atas kekecewaan yang di rasakan Hana. Tentu saja hal itu malah membuat Hana merasa tidak enak. Dalam hal ini dialah yang banyak melakukan kesalahan. Kenapa malah mereka yang meminta maaf.


Tapi Hana tidak bisa banyak bicara, tubuhnya sedikit bergetar menahan mual yang belum mereda. Hana menghambur berlutut di pangkuan Finny. Dia menangis. Menyesal atas apa yang sudah ia lakukan. Sarah dan Yamin ikut membantu anaknya bicara, sebab Hana yang terbata-bata karena sambil menangis.


Juga menjelaskan bahwa Hana sudah mengetahui mereka adalah orang tua kandungnya. Finny mengangkat Hana untuk bangun dari posisinya. Membawa duduk di sebelahnya.


"Nak, Tante sangat menyayangi kamu. Tante maafkan apapun yang sudah terjadi, Tante yakin kamu hanya terbawa emosi saja."


"Terimakasih Tante dan Pak Damar. Saya merasa sangat malu, padahal selama ini kalian sangat perhatian pada saya. Tapi saya malah menyakiti hati kalian."


"Hari ini saya sudah ikhlas, jika pernikahan saya dan Dafin harus berakhir. Karena memang seharusnya begitu. Sejak awal saya hanya memanfaatkan keadaan saja. Saya akan mendoakan Navya dan Dafin, agar mereka selalu bahagia."


Finny memeluk Hana dengan sayang.


"Terimakasih ya Nak. Tante sudah tau, kamu adalah anak yang baik. Karena dulu Hafizah selalu membanggakan kamu."


Tiba saatnya untuk mengakhiri semuanya. Dafin membuka sebuah map untuk ditandatangani dirinya dan Hana. Berkas perceraian mereka.


Hana merasakan perih di dalam hatinya saat sedang memegang pena di tangan nya.


Akhirnya, selesai sudah. Kebersamaan yang aku impikan harus berakhir sekarang. Di lengkapi dengan tatapan kebencian dari orang yang sangat aku cintai. Hana


"Berhenti Kak!"


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2