
"Mas Dafin... Udah selesai meeting nya ?"
Menyadari pintu kamarnya terbuka, dia bisa menebak siapa yang masuk. Lelaki itu berjalan masuk tanpa menjawab sapaan istrinya. Navya mendekati nya bermaksud ingin membantu Dafin membuka jasnya.
"Gak usah." Menepis dengan kasar tangan Navya hingga gadis itu tersentak. Kemudian dia duduk dan matanya menangkap ada beberapa paper bag di sudut ruangan. "Ambilkan aku air."
"Iya Mas." Lalu menuangkan air putih ke dalam gelas yang tersedia di atas meja dan memberikan padanya. Dafin meminumnya tapi matanya tidak beralih pada barang belanjaan Navya. Navya mengikuti arah pandangan Dafin.
"Itu tadi saya beli beberapa oleh-oleh Mas. Untuk Mami, Papi juga beberapa teman kantor."
"Aku tidak bertanya dan aku tidak peduli." Navya tertunduk diam. Kata-kata Dafin berhasil membuat Navya cukup tahu diri untuk tidak meneruskan pembicaraan.
Untuk beberapa saat tidak ada yang membuka suara, Navya berbalik hendak meninggalkan tempatnya berdiri. Hingga suara Dafin membuat langkahnya kakinya terhenti. "Ngapain kamu berduaan dengan Alvi siang tadi? Kalian janjian bertemu di sini?"
Navya berbalik menghadap suaminya itu. "Kami hanya kebetulan bertemu saja Mas."
"Kamu seenaknya berduaan dengan lelaki lain di luar sana, kamu gak mikir apa yang terjadi jika ada yang melihat kedekatan kalian?" Dafin terus bicara tanpa menghiraukan penjelasan Navya.
"Tapi Mas.." Dafin berdiri dan mendekati gadis itu.
"Kalau kamu mau menjalin hubungan dengan pria lain, setidaknya kamu bisa melakukan nya secara diam-diam. Jangan membuat malu keluarga ku." ucapnya seraya menekankan telunjuknya di kening Navya dan berlalu dari hadapan Navya.
"Tapi Mas, Vya memang gak tau soal keberadaan Pak Alvi di sini." Davin berhenti. "Dan Vya gak punya hubungan lain dengan Pak Alvi, selain dia adalah Bos Vya di kantor."
__ADS_1
"Terserah, aku hanya minta jaga sikap mu."
Dafin sudah berada di depan pintu kamar mandi, namun teringat sesuatu dan berbalik badan. Navya mengangkat kepalanya menatap Dafin. "Setelah ini bersiaplah, kita makan malam bersama dengan klien ku! Ingat jaga sikapmu." setelah mengucapkan itu dia masuk ke kamar mandi.
Navya menahan geram, kedua tangannya terkepal di samping tubuhnya. Kenapa Dafin tidak mau mendengar penjelasannya, dia memang tidak punya hubungan apapun dengan Alvi tapi kenapa Dafin seenaknya menuduhnya seperti istri yang selingkuh.
***
Pukul Tujuh malam mereka turun ke restoran untuk memenuhi janji makan malam bersama. Hana sudah menunggu mereka di sisi lain restoran agar berjalan bersama menuju tempat yang sudah di persiapkan. Awalnya mereka memesan meja di dekat kolam renang, namun klien Dafin mengabari bahwa ada seseorang yang mempersiapkan ruang privat untuk mereka. Dan disini lah mereka sekarang, sebuah ruang privat dengan meja makan berbentuk bundar di tengahnya dan di atasnya sudah tertata berbagai menu makanan lezat.
"Selamat malam Pak Dafin dan Bu Navya, mari silahkan duduk." Bagas yang merupakan direktur hotel tersebut menyambut mereka dan mempersilahkan mereka untuk duduk.
"Saya juga mengajak istri saya, agar bisa menemani Bu Navya mengobrol." Bagas memperkenalkan seorang wanita cantik di sampingnya. Setelah berjabat tangan mereka menempati kursi masing-masing. Dafin memperhatikan ruangan itu dengan seksama, selain terlihat mewah terkesan sekali ruangan itu tidak diperuntukkan bagi tamu pada umumnya. Di lengkapi dengan balkon yang langsung menghadap ke arah Pantai, mini bar, dan berbagai fasilitas mewah lainnya. Kemudian pandangan Dafin mengarah pada dua buah kursi kosong. Bagas yang seakan tau arti dari pandangan Dafin kemudian memberikan penjelasan.
"Maaf, saya tiba-tiba mengubah tempat makan malam kita. Ini karena permintaan dari atasan kami yang sekaligus merupakan pemilik hotel ini Pak. Beliau juga akan datang dan bergabung dengan kita dalam acara makan malam ini, mungkin sebentar lagi beliau tiba."
Dafin sendiri tidak menyadari bahwa Perusahaan yang bekerjasama dengannya sekaligus yang mengatur pendanaannya adalah anak perusahaan Mahendra Grup. Hal itulah yang dijadikan alasan Alvi untuk datang ke kota itu, padahal tanpa kehadiran dirinya pun segala urusan menyangkut hotel pasti akan beres sesuai standar yang dia mau. Karena orang-orang yang bekerja di Mahendra Grup sudah pasti lah mereka yang memiliki potensi luar biasa. Namun mendengar Navya ikut bersama Dafin, Alvi memutuskan untuk datang ke sana.
Navya seperti mengingat sesuatu, "Pemilik hotel, itu berarti.....!?"
Belum sempat Navya menebak siapa yang akan datang, tiba-tiba pintu terbuka, dan dugaannya tidak salah.
"Selamat malam semua..." Alvian dan Ryan muncul di hadapan mereka seraya memasuki ruangan itu.
__ADS_1
Mereka semua yang ada di dalam ruangan tersebut berdiri untuk menyambut Alvi dan Ryan. Dafin menatap Alvi dengan ekspresi yang sulit di tebak.
"Apa kabar Bapak Dafin Wijaya..!?" Dia menyapa Dafin sambil mengulurkan tangannya.
Dafin tersenyum tipis "Seperti yang Anda lihat, saya baik.." Kemudian mereka berdua tertawa bersama dan saling berpelukan. Semua yang ada di sana heran melihat sikap mereka kecuali Navya dan Ryan yang sudah mengetahui hubungan antara Dafin dan Alvi.
"Perkenalkan ini Hana, sekretaris ku." Dafin memperkenalkan Hana di samping kirinya, lalu mereka berjabat tangan. "Dan yang ini kamu sudah tau.." ucap Dafin sambil menunjuk Navya dengan ekor matanya.
"Ya, yang ini sekretaris ku." Alvi menjawab sendiri dan berhasil membuat Bagas dan yang lainnya semakin terheran-heran.
"Tapi malam ini dia hanya istri ku" Dafin mengatakan nya sambil memeluk bahu Navya dengan erat di hadapan Alvi. Alvi menatap tangan itu, tangan yang dengan erat menyentuh bahu Navya. Namun yang bisa dia lakukan adalah tersenyum untuk menutupi rasa hati nya yang sedikit memanas.
"Tentunya... Kecuali Navya ingin gaji lembur." Alvi mencoba menggoda Navya yang di balas dengan senyuman oleh pasangan itu. "Haha... saya tidak akan menggangu pasangan yang ingin berbulan madu." Sebenarnya dia sedikit nyeri mendengar ucapannya sendiri. "Karena kesepakatan bisnis kita sudah deal maka malam ini kita rayakan dengan acara makan malam sederhana ini."
Setelah nya Ryan menjelaskan pada mereka yang belum mengetahui apa sebenarnya hubungan antara Alvi, Dafin dan Navya sambil menikmati acara makan malam mereka. Mereka mengagumi Navya yang masih memilih berkarir meskipun suaminya merupakan seorang direktur suatu perusahaan.
Dafin juga menambahkan bahwa dia bangga memperistri Navya, seakan-akan dia menunjukkan bahwa dia adalah laki-laki yang beruntung bisa mendapatkan Navya. Dafin benar-benar menjalankan sandiwara nya dengan sangat baik di hadapan semua orang.
Hana mendadak merasa bosan dengan keadaan itu, apalagi melihat Dafin selalu menempel dengan Navya. Mungkin alasan Dafin hanya untuk menjaga sikap di depan orang lain, namun bukan tidak mungkin hal itu bisa membuat mereka semakin dekat. Dan selain Hana, hanya Ryan yang tau bagaimana Alvi sedang berusaha menahan sesak di hatinya melihat Dafin dengan Navya. Nyatanya mereka bersikap bukan sebagai diri mereka sendiri, tidak terkecuali Dafin dan juga Navya yang sedang bersandiwara menjadi pasangan suami istri yang harmonis.
Beberapa saat yang lalu saat makan malam masih berlangsung sempat terjadi suasana yang sedikit canggung antara mereka. Navya tiba-tiba tersedak, secara bersamaan Alvi dan Dafin menyodorkan air putih untuknya. Navya mengambil air yang dari tangan Dafin tanpa menyadari Alvi juga memberikan segelas air padanya. Hal itu tidak luput dari perhatian semua orang, namun tak ada yang berani membuka suara mereka. Bahkan terkesan mereka berpura-pura tidak melihatnya. Dafin menangkap tatapan berbeda dari Alvi untuk Navya saat mereka sama-sama memberikan gelas berisi air itu pada Navya. Dia yakin ada sesuatu di antara mereka.
Merasa sudah tidak bisa menahan dirinya untuk tetap tenang, Hana berpamitan untuk pergi ke toilet. Tapi sepertinya Dafin menyadari bahwa Hana hanya mencari alasan untuk keluar dari ruangan itu. Kemudian Dafin sengaja menumpahkan minuman di ujung jas nya, seketika Navya mengambil beberapa lembar tisu berniat ingin membantu membersihkan noda namun Dafin menolak.
__ADS_1
"Tidak apa, biar aku bersihkan di toilet saja." Dafin berjalan keluar ruangan dengan alasan akan ke toilet. Yang sebenarnya dia ingin menemui Hana.
Bersambung