
Beberapa hari ini Navya sangat betah berada di kamar. Dia sudah berfikir matang-matang. Memutuskan akan resign dari kantor Alvi. Jelas dia tidak bisa menghindari Alvi selamanya, karena hubungan Alvi dengan keluarga Finny sangat dekat. Kapan pun mereka bisa saja bertemu. Tapi dengan berhenti jadi sekretaris lelaki itu, intensitas pertemuan akan jauh lebih berkurang dan akan bisa menjaga perasaan Alvi serta ketidaknyamanan dirinya sendiri.
Dia tidak marah pada Alvi. Hanya saja, Navya tidak akan bisa menganggap perasaan Alvi semu sehingga dia harus berpura-pura tidak tau dan bersikap seperti biasanya. Tidak mungkin.
Bohong kalau kita bisa mengabaikan rasa cinta seseorang dan tetap ada di dekatnya sementara tidak mungkin bagi kita untuk membalasnya. Itu akan menyakiti nya lebih dalam. Keputusan yang baik adalah Navya harus menjauh. Jadi dia sudah mempersiapkan surat pengunduran dirinya. Besok dia akan mengantarkan pada Alvi langsung sekalian dia ingin meminta maaf karena beberapa hari ini sudah mengabaikan semua pesan dan panggilan Bos nya.
Selain soal Alvi, Navya sudah merencanakan akan bertemu lagi dengan Hana. Dia ingin meminta maaf dan meluruskan kesalahpahaman di antara mereka. Meminta maaf atas nama Finny. Hana dan dirinya hanya korban dari kesalahpahaman. Tidak ada salahnya mengakhiri semuanya dengan baik-baik.
"Mas Dafin". Navya tersenyum miris ketika menyebut nama itu. Sulit baginya untuk bertahan sekarang. Dafin tidak hanya mencintai Hana, mereka juga sudah menikah. Dia dulu masih bisa bertahan dengan pernikahan mereka yang bahkan tidak di anggap oleh Dafin, tetap berusaha menjadi istri yang baik. Tapi sekarang, Dafin bahkan memiliki istri selain dirinya. Tidak ada wanita yang sanggup berbagi.
Setelah sarapan, Navya pamit pada Finny untuk pergi ke kantor menemui Alvi. Menyampaikan surat pengunduran dirinya. Finny terkejut awalnya. Dia semakin curiga ada apa sebenarnya yang terjadi dengan menantunya itu.
Namun dia merasa belum saatnya mengorek masalah sebenarnya. Karena Navya tidak akan buka suara sebelum dia yakin untuk menceritakan semuanya. Akhirnya Finny hanya mengelus kepala gadis itu dan memeluk nya.
"Mami yakin kok dengan keputusan kamu. Asal apapun yang membuat kamu nyaman dan tenang. Mami akan bersedia mendengarkan ketika kamu sudah siap untuk menceritakan masalah kamu yang sebenarnya."
"Maafkan Vya ya Mi. Pasti Mami kepikiran kenapa sikap Vya begini."
"Gak apa-apa sayang. Mami yakin kok pasti anak Mami punya alasan yang kuat untuk semua ini. Mami akan selada untuk kamu."
"Makasih ya Mi."
***
Navya berangkat sendiri ke kantor. Sudah sepuluh menit dia sampai di parkiran. Persiapan yang ia pikir sudah matang ternyata belum sempurna. Sampai di sini dia bingung lagi bagaimana nanti harus bicara dengan Alvi. Apa bersikap seperti biasanya atau datang dan langsung saja menyerahkan surat pengunduran dirinya dan pergi.
Sambil berfikir bagaimana sikapnya saat bertemu Alvi nanti, Navya baru menyadari dari tadi tidak tampak Mobil Alvi di area Parkir khusus Presdir. Dilihat lagi, memang tidak ada. Tidak mungkin jam segini Alvi belum datang, atau sedang ada meeting mendadak di luar kantor.
Beberapa menit kemudian terlihat sebuah mobil masuk dan menempati parkiran khusus yang hanya boleh di huni mobil Presdir.
"Apa beliau ganti Mobil?" Gumamnya.
Terlihat seorang laki-laki yang tidak dikenalnya keluar dari sana. Lalu berjalan masuk ke dalam gedung perusahaan. Navya coba menelpon Ryan untuk bertanya apakah Alvi ada di kantor. Namun panggilan itu tidak di angkat. Sejenak dia berfikir untuk menghubungi Alvi langsung, tapi dia urungkan.
__ADS_1
Akhirnya dengan yakin dia masuk saja. Jika Alvi tidak ada, dia akan menitipkan saja surat pengunduran dirinya pada pihak HRD. Tidak sulit bagi Navya untuk langsung naik ke lantai ruangan Presdir karena sampai detik itu dia masih pegawai Mahendra Group.
Beberapa orang yang berpapasan dengannya menyapa ramah, mengenali dirinya sebagai sekretaris pribadi Alvi. Para wanita kebanyakan agak sinis merasa iri. Itu sudah makanan sehari-hari Navya saat bekerja di sini sebab mereka tidak seberuntung dirinya yang bisa berada di dekat Bos mereka dalam waktu yang lama. Bahkan setiap mereka menyapa Alvi pun pria itu hanya mengangguk saja.
Dia sampai di lantai tempat biasanya dia bekerja. Beberapa staf di lantai itu terkejut melihat kedatangan Navya. Mereka yang heboh karena beberapa hari Navya tidak datang, mengatakan dunia mereka seperti jungkir balik. Segalanya yang mereka lakukan salah di mata lelaki itu.
"Mbak, Bapak ada ?" Langsung saja bertanya.
"Kamu mencari Pak Alvi?"
Navya mengangguk. Belum dia sempat menjawab tiba-tiba panggilan intercom di meja salah seorang dari mereka berbunyi.
"Sepertinya beliau tau kamu datang." Kata seorang temannya sambil menunjuk CCTV dengan ekor matanya. Secepatnya dia mengangkat panggilan itu.
"Iya Pak?"
Sementara temannya yang lain tidak berani lagi bersuara, dia melanjutkan pekerjaan masing-masing seperti saat sebelum Navya datang.
"Kamu disuruh masuk sekarang."
"Terimakasih Mbak."
Navya mengetuk pintu lalu membukanya. Bahkan pintu yang ia pegang belum tertutup, tampak wajahnya terkejut mendapati bukan Alvi yang duduk di meja kerja Presdir. Namun Navya tetap melanjutkan langkahnya masuk dan menutup pintu.
"Se.. selamat siang Pak."
"Ya, siang. Silahkan duduk." Bima mempersilahkan Navya duduk namun pandangan matanya tidak beralih dari tumpukan Map di depannya.
"Maaf Pak, kalau boleh Saya ingin bertemu dengan Pak Alvi."
"Maaf juga, tapi saat ini saya yang di percaya oleh Alvian untuk menggantikannya sementara. Jadi kalau kamu ada keperluan dengan perusahaan bisa melalui saya. Tapi kalau kamu ada keperluan pribadi dengan Alvi, kamu bisa hubungi dia langsung." Sudah bicara kalimat panjang namun matanya tetap tidak mau memandang Navya.
Navya terdiam. Siapa sebenarnya orang di hadapannya ini. Dia bahkan tidak memanggil Pak Alvi dengan sebutan 'Pak'. Siapa pun tidak pernah bilang kalau Alvi punya seorang kakak. Atau orang ini adalah sepupu nya. Batin Navya.
__ADS_1
Bima melihat Navya sekilas karena gadis itu tidak bereaksi dan tenggelam dalam pikirannya sendiri.
"Hey Nona. Apa Anda datang ke sini untuk melamun?" Bima menjentikkan jarinya di depan wajah Navya. Hingga membuat gadis itu tersadar dari lamunannya.
"Oh, ehhm... maaf Pak. Saya datang ke sini untuk menyerahkan surat pengunduran diri saya." Mengeluarkan sebuah amplop coklat dari tas nya. "Sebelumnya saya adalah sekretaris Pak Alvian. Dan sekarang saya memutuskan untuk berhenti bekerja. Tapi karena Pak Alvi tidak ada di tempat saya mohon tolong sampaikan ini pada beliau." Sambil menyerahkan amplop coklat yang tadi ia pegang, diletakkan di atas meja dan mendorongnya ke arah Bima.
"Oh begitu, ok nanti saya akan sampaikan jika dia sudah kembali."
"Baik Pak, terimakasih." Navya berdiri, namun kakinya masih enggan melangkah. Dia masih penasaran kemana sebenarnya Alvi pergi dan siapa lelaki di depannya ini.
Bima tau Navya masih berdiri di sana, seperti masih ada yang ingin ia katakan.
Sial. Aku pikir dia sudah akan pergi. Kalau kamu terlalu lama di sini, aku bisa sakit leher.
"Ada lagi yang ingin kamu katakan?"
"Boleh saya tau Pak Alvi kemana?" Tanya Navya sambil meremas jari-jarinya agak takut, sebab sejak tadi Bima bersikap dingin padanya. Mungkin karena Navya datang di saat dia sedang sangat sibuk.
Mau tak mau Bima menghentikan pekerjaannya dan melihat penuh wajah gadis yang berdiri di depannya. Pantas saja dia melarang ku berlama-lama memandang gadis ini, dia benar-benar imut dan cantik. Bahkan dengan wajah lugu begitu dia terlihat menggemaskan. Dasar bucin, dia takut aku jatuh cinta pada Navya ini, padahal dia sendiri saja belum tentu bisa memiliki nya."
"Saya kan sudah bilang tadi, jika anda punya keperluan pribadi silahkan hubungi saja sendiri." Dengan nada agak tinggi.
Navya terkejut. Kenapa laki-laki ini marah, dia kan hanya bertanya. "Maafkan saya. Saya permisi." Gadis itu menundukkan kepalanya sopan dan berlalu dari hadapan Bima.
Bima menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Dia gemas, kenapa juga juga dia harus menuruti kata-kata Alvi untuk secepatnya membuat Navya meninggalkan kantornya jika sewaktu-waktu gadis itu datang.
Saat Navya memegang handle pintu, Bima bersuara yang langsung membuat Navya berbalik melihat nya lagi. "Alvi akan kembali seminggu lagi jika kamu ingin bertemu dengannya."
Navya tersenyum yang malah membuat Bima terpaku. "Terimakasih banyak Pak." Menunduk lagi dan keluar dari ruangan itu.
Ya ampun, Alvi sialan. Aku harus berlagak jadi orang yang culas agar gadis ini tidak nyaman, dan segera pergi. Tapi bahkan dia ini tidak marah sama sekali. Malah menunduk hormat padaku. Tidak salah bocah itu bucin tingkat dewa. Bukan hanya cantik di wajah tapi juga hati.
Bersambung
__ADS_1