
Dafin membawa Navya dalam dekapan dan memeluk nya erat. Gadis itu hanya diam, merasakan debaran jantung mereka yang seakan bersahutan.
"Maafkan aku. Maaf."
"Mas Dafin gak perlu minta maaf. Keadaan yang membawa kita seperti ini."
"Aku sayang kamu Navya."
"Vya juga sayang Mas Dafin. Vya akan tunggu sampai Mas Dafin siap menerima Vya sepenuhnya."
Dan melupakan masa lalu Mas Dafin, juga Hana.
***
Minggu ini sangat sibuk bagi Dafin dan Hana. Mereka hampir tidak pernah memiliki waktu khusus untuk berduaan selain urusan pekerjaan. Beberapa kali Damar juga datang untuk menghadiri Rapat. Bagaimana pun juga Damar masih pemegang saham terbanyak di Perusahaan, walaupun sekarang posisi pimpinan perusahaan di alihkan kepada Dafin. Ega baru saja menjemput Damar di kediaman nya untuk menuju kantor Wijaya Group. Sebenarnya Ega adalah orang kepercayaan Damar, namun dia meminta pria itu untuk membantu Dafin juga ketika Dafin di putuskan untuk memimpin perusahaan.
"Ga, apa ada yang ingin kamu katakan?"
Ega terlihat gugup, apa tidak masalah jika dia mengatakan pada Damar apa yang dia sudah ketahui.
"Kamu tidak perlu takut. Saya tidak akan membawa kamu dalam masalah itu. Kamu cukup mengatakan apa yang sebenarnya, dan saya yang akan mengatur hal lainnya."
"Mohon maaf Pak, apa yang Bapak curigai itu benar. Selama ini, apartemen milik Pak Dafin memang di tempati oleh wanita itu."
"Jadi benar hubungan mereka bukan sekedar teman. Bisa-bisanya Dafin melakukan ini."
"Yang lebih mengejutkan, mereka sudah menikah Pak. Saya baru mengetahui hal ini dari bawahan saya." Damar terlihat terkejut dan membuang nafas nya kasar, tangannya terkepal kuat, dia tidak menyangka hubungan Dafin dan Hana sudah sejauh itu. Dia kecolongan.
"Maafkan saya tidak sempat mencegahnya." Sesal Ega.
"Tidak apa-apa. Itu bukan salah kamu. Apa ada yang tau soal ini?"
"Setau saya tidak Pak. Memang berulang kali ada gosip beredar tentang mereka berdua punya hubungan khusus, tapi hanya sebatas membahas kedekatan antara Pak Dafin dan Hana saja. Saya usahakan untuk meredamnya."
__ADS_1
"Heemm... Kamu pastikan agar berita ini tidak bocor pada siapapun. Termasuk istri saya."
"Baik Pak."
Turun dari mobil, Damar tidak langsung menuju ke ruang rapat. Kerena rapat masih akan dimulai tiga puluh menit lagi. Ia datang ke kantor Dafin diikuti oleh Ega di belakang lelaki paruh baya itu. Tidak terlihat keberadaan Hana saat Damar melewati meja kerjanya. Gadis itu sedang berada di ruangan Dafin.
Damar langsung menyuruh Ega membuka pintu tanpa mengetuk, keterkejutan terlihat di wajah mereka berdua saat tau siapa yang sudah membuka pintu. Saat Hana sedang menjatuhkan kepalanya di bahu Dafin sambil memeluk tangannya.
"Ga, kamu gak bisa mengetuk pintu dulu?" Dafin yang sedang duduk di sofa dan Hana ada di sebelahnya terlihat gusar.
"Maafkan saya Pak." Ega menunduk sopan. Dan Damar yang melangkah masuk ke dalam seketika memberikan jawaban untuk Dafin. Hana refleks langsung berdiri, sementara Dafin masih diam.
Hana menunduk sopan ke arah Damar dan berjalan keluar dari ruangan itu. Damar mengalihkan pandangannya ke arah lain, saat Hana melewati dirinya.
"Ega, tinggalkan kami berdua."
"Baik Pak, saya permisi." Ega keluar dan menutup pintu. Damar duduk di sofa tempat dimana Dafin masih diam dan belum bicara apapun sejak Papi masuk ke ruangan nya.
"Apa ada yang ingin kamu katakan?"
Damar hanya memandang Dafin dalam diam. Dia tau anaknya ini keras kepala. Dan saat ini sepertinya bukan waktu yang tepat untuk bicara masalah hubungan antara dia dan sekretaris nya.
"Baiklah, rapat sudah mau dimulai." Damar bangun dari duduknya, sebelum membuka pintu dia berbalik dan menatap Dafin. "Selesai nanti temui Papi di Kafe Central. Ada yang mau Papi bicarakan." Kemudian dia keluar dari ruangan itu tanpa menunggu jawaban Dafin.
Hana menunduk tidak berani bahkan hanya untuk mengucapkan salam saat Damar melewati meja kerjanya bersama Ega di belakang nya. Menahan nafas sambil memejamkan mata sampai Damar dan Ega hilang dibalik pintu lift. Dia masuk ke ruangan Dafin.
"Sayang..." Langsung berlari mendekati Dafin yang masih setia di posisi nya sejak tadi.
"Kita ke ruang rapat sekarang." Dafin langsung bangun dari duduknya saat Hana masuk ke ruangan.
"Fin, apa Papi kamu lihat yang tadi?" Menarik tangan Dafin saya lelaki itu melewati dirinya.
Seketika Dafin berhenti di depan pintu yang masih tertutup dan berbalik ke arah Hana. "Aku tidak mau membahas ini sekarang Han. Rapat akan segera di mulai." Dafin yang kesal berjalan tanpa menunggu Hana. Gadis itu segera menyusul Dafin yang sudah keluar dari pintu.
__ADS_1
Selama Rapat berlangsung Hana tidak berani menatap Damar maupun Ega. Bahkan Hana tidak berani mengangkat kepalanya selain untuk menyampaikan laporan. Selebihnya ia hanya menatap meja sambil meremas jari-jarinya. Untung nya ia cukup profesional dalam pekerjaan, Hana dan Dafin menyelesaikan rapat dengan baik seperti tidak terjadi apa-apa beberapa jam yang lalu.
Selesai rapat Dafin keluar kantor tanpa berpamitan pada Hana, untuk menemui Papi di tempat yang sudah ditentukan.
"Fin, kamu kenapa pergi tanpa bilang dulu sama aku ?"
"Maaf Han, aku ada janji sama Papi. Kamu makan siang sendiri aja dulu ya." Dafin langsung mematikan panggilan dari Hana.
***
Dafin menyeruput coklat panas miliknya sementara sang Papi duduk di depannya menunggu Dafin membuka suara.
"Jadi apa yang ingin Papi bicarakan?" Ucapnya santai sambil meletakkan kembali gelas ke atas meja.
"Kamu tinggalkan Hana. Ceraikan dia."
Dafin terpaku. Tidak menyangka Papi tau sampai sejauh itu. "Kamu sudah menikah Dafin, Navya istri sah kamu."
"Sejak kapan Papi tau hal ini? Apa Ega berperan besar untuk informasi yang Papi dapat?"
"Tidak penting, yang Papi mau kamu harus tinggalkan gadis itu secepatnya sebelum Navya tau semuanya, juga Mami kamu."
"Maafkan Dafin Pi, Hana juga istri Dafin. Walaupun kami menikah siri, tapi pernikahan kami sah di mata agama. Dafin gak mungkin meninggalkan Hana."
"Kalau begitu, kamu ceraikan Navya."
Dafin diam, tidak dapat menjawab. Navya juga tidak bisa ia tinggalkan begitu saja. Ia juga mencintai gadis itu. "Jangan menambah penderitaan Navya, sudah cukup dia menderita selama ini. Jadi dari pada kamu menyakiti dia, lebih baik kamu lepaskan."
"Dafin mencintai mereka berdua Pi. Dafin gak bisa memilih antara mereka, keduanya memiliki tempat di hati Dafin."
"Kamu jangan serakah Dafin. Ini hanya akan menyakiti mereka berdua. Juga diri kamu sendiri." Papi masih berusaha menahan emosinya.
"Pi, maaf Dafin belum bisa bahas ini sekarang. Dafin belum bisa memilih antara mereka, keduanya penting untuk Dafin." Dafin mendorong kursi dan bangun dari duduknya . "Dafin duluan Pi." namun langkahnya terhenti saat pandangannya bertemu dengan tatapan mata seseorang yang entah sejak kapan sudah berada di sana.
__ADS_1
Bersambung