
Pasangan pengantin baru itu keluar dari kamar saat matahari sudah bersinar cerah di luar sana. Neni yang sudah sejak tadi berada di apartemen mereka untuk menyiapkan sarapan dan membersihkan rumah diam-diam mengulum senyum melihat kedua majikannya keluar dari kamar dengan rona wajah bahagia. Si pria dengan senyuman secerah mentari menggandeng tangan si wanita yang tersipu-sipu dengan pipi yang merona.
Kedua majikannya itu biasanya selalu bangun pagi-pagi dan bergegas menyambut rutinitas mereka di kantor atau di kampus, tapi kali ini Neni dan seorang pelayan yang ia bawa sudah hampir selesai dengan pekerjaan tapi keduanya belum juga keluar dari kamar mereka. Jelas saja Neni sudah menduga apa yang terjadi.
"Selamat Pagi Tuan dan Nona."
"Pagi... " Alvi menjawab seraya menarik kursi untuk di duduki oleh Navya.
"Pagi Neni.." Kali ini adalah suara Navya.
"Selamat menikmati sarapannya. Saya akan membersihkan ruangan yang lain." Pamitnya undur diri dari ruang makan. Navya mendudukkan tubuhnya sambil mengikuti langkah Neni yang berjalan menuju kamar mereka. Dia mengerjap, mengingat sesuatu kemudian matanya membola menyadari bahwa Neni akan masuk ke kamarnya.
"Kamu kenapa sayang?" Heran Alvi melihat gelagat Navya.
"Itu.. ehmm Mas... Neni mau membersihkan kamar?"
"Memang kenapa?" Alvi yang juga menoleh melihat Neni lalu kembali menatap Navya di depannya. "Memang sudah seperti itu setiap hari kan?"
"Mas, sprei nya.." Ucapnya pelan sambil menunduk malu. Tapi Alvi masih bisa mendengar. Alvi membentuk huruf O di bibirnya yang diselingi senyuman.
"Gak apa-apa. Itu kan hal yang wajar, toh kita sudah menikah."
"Tapi Vya kan malu Mas. Harusnya tadi aku bersihkan dulu."
"Sudahlah, kamu tenang saja itu bukan masalah bagi Neni. Ayo makan."
Navya hanya mengangguk sambil menatap pintu kamarnya yang tertutup dan Neni sudah masuk ke dalamnya.
"Kamu istirahat saja dulu di rumah, besok baru ke kampus." Navya mengantarkan Alvi sampai ke depan pintu apartemennya. Lalu dia menunduk demi membisikkan sesuatu untuk menggoda istrinya "Kamu pasti lelah kan?"
__ADS_1
Navya refleks memukul lengan suaminya. "Iiihh Mas, apa sih. Malu tau, masih ada Neni dan pelayan di sini.."
"Haha.. Ya sudah, aku berangkat ya. Kamu istirahat, jangan lupa makan siang. Dan..." Alvi menggantung kalimatnya, melihat ke belakang Navya untuk memastikan bahwa tidak ada orang. Kemudian dia mengecup bibir mungil itu. "Kamu persiapkan tenaga untuk nanti malam." Bisiknya lagi. Membuat pipi sang istri kembali memanas dan menampilkan semburat merah.
Kemudian beralih mengecup kening Navya. "Aku berangkat ya. Aku akan minta Diana ke sini nanti."
Navya mengangguk, dia masih terpaku di tempatnya menatap langkah Alvi sampai menghilang di belokan menuju Lift. Suaminya itu ya ampun, sejak kapan menjadi seperti itu. Seorang Alvian Mahendra yang terkenal tidak banyak bicara, sekarang setelah menjadi suaminya malah senang sekali menggodanya.
...💙💙💙...
"Bagaimana kak?"
"Aku sudah mengurus semuanya. Kapan kamu dan Navya kembali?
"Dua hari sebelum acara kami akan sudah sampai di tanah air."
"Baiklah. Semua urusan di perusahaan juga sudah aman. Semoga tidak ada kendala sampai acara selesai nanti."
"Ya.. ya... ya... hanya terima kasih." Ryan tersenyum mendengar cibiran Bima dari ponsel milik Alvi.
"Hahaha.. iya baiklah, setelah resepsi pernikahan ku, kakak boleh mengambil cuti tiga hari dan berlibur."
"Hanya itu?" Rasanya dia sangat lelah, dalam tiga bulan terakhir Alvi menyerahkan sebagian besar urusan perusahaan di luar dan di dalam negri pada Bima. Termasuk juga mengurus persiapan pernikahannya dan Navya.
"Semua biayanya aku yang tanggung. Kakak bebas memilih resort mana yang kakak mau."
"Yesss!" Bima berseru senang. Akhirnya dia bisa bebas tugas walaupun hanya tiga hari saja.
"Oh ya, jangan lupa kakak harus mengundang Bagas."
__ADS_1
"Hah, dasar bucin. Untuk apa kamu sengaja mengundang dia, agar dia bisa melihat kemesraan mu dan Navya."
"Tidak, aku mengundang nya hanya karena dia teman kecil Navya dulu."
Siapa yang percaya kan, tentu saja Alvi ingin menunjukkan hak kepemilikannya. Bahwa Navya adalah istrinya , tidak ada celah sedikitpun untuk Bagas mendekati Navya. Padahal siapa sih yang berani mengganggu Navya, kalau tidak mau berurusan langsung dengan Alvian Mahendra.
Alvi yang dulunya adalah pria yang bersikap tenang dalam segala hal, kali ini tidak bisa terlihat baik-baik saja jika ada orang yang mengganggu istri kesayangannya. Meskipun Bagas pasti sudah tidak akan berani bahkan untuk menyapa Navya, tapi tetap saja Alvi ingin memberikan ketegasan pada siapapun agar jangan pernah mendekati Istrinya.
...💙💙💙...
Selain pihak dari keluarga Mahendra, Damar juga tidak kalah sibuk ikut mempersiapkan resepsi pernikahan putri kesayangannya. Dia dan juga sang istri antusias sekali menyambut acara nanti. Seluruh keluarga dan rekan bisnisnya tidak ada yang terlewat untuk dikirimi undangan.
Apa yang dilakukan Damar adalah untuk membayar semua rasa bersalahnya selama ini pada Navya. Gadis kecil yang sudah membawa kebahagiaan dalam hidupnya dan sang istri tapi harus merasakan penderitaan karena keegoisan keluarganya.
"Papi kelihatan bahagia sekali ya Mi."
Hana memperhatikan gerak gerik sang ayah mertua yang sedang mengecek daftar tamu undangan sambil sesekali bibirnya menyunggingkan senyuman.
Finny tersenyum menanggapi ucapan menantunya yang perutnya sudah tampak membesar itu. Mereka berdua sedang memilih aksesoris yang akan dipakai nanti saat acara, mencocokkan dengan gaun mereka. Sedikit banyak dia tau apa yang ada di dalam pikiran Hana. "Papi ingin menebus rasa bersalahnya sayang. Papi pernah bilang, seandainya dulu kami menemui kakek lebih dulu untuk meluruskan kesalahpahaman. Kejadian buruk itu tidak akan menimpa Navya orang tua nya. Padahal itu sudah takdir dari yang Kuasa."
Hana mengangguk, dia juga paham akan hal itu. Tapi melihat kasih sayang berlimpah yang Navya dapatkan, membuat Hana terkadang merasa agak iri. Sedikit banyak hal itu disebabkan hormon kehamilan, perasaan orang hamil kan terkadang berubah-ubah. Seringkali berprasangka buruk dan terlalu berlebihan memikirkan hal-hal sepele.
"Sayang, kami semua juga sayang sama kamu. Jangan merasa kalau kasih sayang kami berbeda untuk kalian. Semuanya sama. Kamu dan Dafin juga punya tempat spesial di hati kami." Hana tersenyum, memang dia juga menyadari Finny begitu menyayangi dirinya. Tapi Damar, terkadang masih belum terang-terangan menunjukkan kasih sayangnya pada Hana. Sesekali dia hanya bertanya dengan kaku saat Hana baru pulang memeriksakan kandungan. "Bagaimana kondisi bayi dan ibunya? Jangan terlalu lelah, ikuti semua saran dokter." Tapi hal itu pun sudah menjadi hal yang istimewa bagi Hana, bukankah itu artinya sang kakek mengkhawatirkan keadaan anak yang ia kandung saat ini.
Dafin juga sering menghibur dirinya. Mengatakan bahwa Papi memang seperti itu, agak gengsi untuk menunjukkan perhatiannya. Apalagi dulu hubungan mereka memang kurang dekat. "Yang paling penting kan Papi juga sayang dan sudah menerima kamu." Ya itu adalah hal yang paling penting.
Padahal tanpa Hana tau, Damar selalu menghubungi dokter kandungan Hana secara khusus setiap jadwal pemeriksaan. Menanyakan secara detail perkembangan kandungan, kondisi janin dan menanyakan soal kesehatan ibunya. Dia juga sudah mempersiapkan segala sesuatunya untuk proses persalinan nanti. Mulai dari tim dokter, kamar dan fasilitas terbaik untuk calon cucu pertamanya, penerus keluarga Wijaya.
Begitulah Damar, dia terlalu gengsi menunjukkan rasa sayang pada menantu dan calon penerusnya. Padahal dia sangat peduli.
__ADS_1
Bersambung