
"Vy... Bangun Vy... Navya.... Hei.. Navya...!
Pria itu menepuk-nepuk pipi Navya yang ada di pangkuannya. Tercetak jelas kekhawatiran di wajahnya, karena Navya bahkan tidak merespon panggilannya sejak tadi. Tubuh lemah itu terasa sangat dingin dan bibirnya bergetar.
"Ryan hubungi dokter Anita, saya mau dia datang ke RS sebelum kita sampai."
"Baik Pak. Akan saya hubungi segera." Dengan sigap Ryan menekan nomor khusus yang langsung tersambung ke dokter Anita. Meminta nya segera bersiap di IGD.
Kamu sudah berjanji untuk tidak terluka Navya, kenapa kamu harus rela menyakiti diri kamu hanya kerena orang yang tidak peduli dengan perasaan kamu. Aku menyesal membiarkan kamu berjuang merebut cinta lelaki yang tidak punya hati itu.
"Yan, lebih cepat menyetir nya!"
"Iya Pak."
Ryan sedikit menambah kecepatannya, meskipun jalanan sepi tapi hujan masih mengguyur wilayah kota tidak mungkin baginya untuk ngebut karena dapat membahayakan dua orang yang ada di kursi belakang.
Alvi menggendong Navya dari dalam mobil menuju ruang IGD. Beberapa perawat datang menghampiri mereka. "Saya mau perawat wanita saja yang menanganinya."
Mengerti maksud si pemilik RS, akhirnya salah seorang perawat laki-laki berlalu dari hadapan Alvi setelah menundukkan kepalanya sopan. Dia memanggil satu temannya yang wanita untuk menggantikan dirinya.
Setelah menyerahkan Navya dalam penanganan tim medis, Alvi masih setia menunggu di depan ruangan itu. Ryan memberi nya pakaian baru untuk ia ganti, tadi baju dan celananya basah karena dia menggendong Navya di bawah guyuran hujan.
Setelah mengganti pakaian Alvi kembali ke depan IGD, Ryan memintanya untuk beristirahat sebentar tapi dia tidak mau. Ruang IGD terbuka, Navya akan dipindahkan ke ruang perawatan yang sudah di siapkan atas perintah Alvi. Sambil berjalan menuju ruang rawat, Alvi bicara dengan dokter wanita yang dia perintahkan untuk menangani Navya.
"Bagaimana keadaannya?"
"Ibu Navya mengalami hipotermia ringan, kami sudah mengganti pakaiannya juga memberikan obat penurun panas karena beliau juga demam. Selebihnya tidak ada yang perlu di khawatirkan."
"Heemm... Baiklah, Terimakasih."
"Sama-sama Pak." Dokter itu menundukkan kepalanya sebelum Alvi berlalu dari hadapannya. Dia menyusul Navya yang sudah masuk ke ruang rawat inap.
Alvi duduk di samping ranjang Navya. Ryan masih setia berdiri di belakang pria itu.
"Maaf Pak, apa sebaiknya Bapak menghubungi Nyonya Finny atau Pak Dafin dan memberitahu mereka keadaan Mbak Navya?"
"Ya, kamu benar. Dafin berhak tau keadaan Navya." Kemudian Alvi mengeluarkan ponsel dari kantong lalu mengetik sesuatu juga mengambil foto Navya yang sedang terbaring.
'Istri kamu ada di rumah sakit. Saya harap kamu punya hati sedikit saja untuk lebih peduli pada perasaan Navya.'
Pesan sudah terkirim namun belum dibaca oleh lelaki itu. Tapi Alvi tidak ingin mengabari Tante nya, keadaan akan kacau nanti. Mereka akan curiga kenapa Navya bisa ada di rumah sakit bersamanya bukannya bersama Dafin.
Alvi masih setia menunggu Navya. Dia duduk di sebelah ranjangnya sambil memandangi wajah gadis itu.
"Saya yang pertama kali bertemu dengan kamu, meskipun saat itu kita belum mengerti caranya mencintai. Kenapa saya harus mencintai kamu saat takdir mempermainkan kita, seandainya pun kami tidak menikah dengan Dafin duluan saya mungkin takut untuk menyatakan perasaan saya. Seandainya kamu tau, penyebab meninggalnya orang tua kamu."
Tadinya ia bicara sambil menatap Navya. Perlahan dia menundukkan kepala, menyesali pertemuannya dengan Navya yang tidak tepat waktu. Selain terhalang ikatan pernikahan, juga terhalang masa lalu yang kemungkinan membuat Navya enggan mengenal dirinya lagi.
Bukan salah dirinya, tapi apa bisa Navya menerima keluarga Alvi yang sudah melibatkan orang tuanya dalam konflik keluarga besarnya.
"Kamu pasti membenci aku dan keluargaku."
"Ben...ci siapa...Pak?" Alvi mematung, Navya sadar. Apa dia mendengar semua yang Alvi katakan.
__ADS_1
"Pak?" Memanggil lagi karena Alvi tidak menjawab.
"Oh bukan apa-apa... Kamu... sudah sadar? Apa yang kamu rasakan, mau saya panggil dokter?" Alvi sudah bangun dari duduknya untuk meminta Ryan memanggil dokter saat tangan Navya yang lemah menyentuh tangan Alvi untuk mencegah nya beranjak.
"Saya gak apa-apa Pak. Bapak bisa di sini saja, saya tidak mau sendirian." Alvi menuruti keinginan gadis itu, akhirnya mengangguk dan duduk kembali di tempatnya.
Sejenak Alvi diam saja, bingung mau bicara apa. Dia takut Navya mendengar apa yang ia katakan tadi. Dia jadi salah tingkah sendiri.
"Pak.."
"Hemmm ya, kamu butuh sesuatu?"
"Boleh saya minta ambilkan air?"
"Oh oke. Saya bantu kamu duduk dulu ya.." Membantu Navya untuk duduk lalu menuangkan air putih dan memberikan pada Navya.
"Bapak yang membawa saya ke sini.."
"Iya, saya menemukan kamu pingsan si Taman kota."
"Maaf ya Pak, saya sering sekali merepotkan Bapak..'
"Daripada meminta maaf, saya lebih suka kamu berterima kasih."
Navya tersenyum dengan kondisi nya yang masih lemah. "Terima kasih banyak ya Pak."
"Gak masalah. Itu sudah kewajiban saya."
"Pak..."
"Boleh gak saya merepotkan lagi?"
"Apapun akan saya lakukan buat kamu."
"Saya lapar Pak."
Mendengar itu Alvi malah tertawa pelan.
"Kok Bapak ketawa sih?" Navya malah jadi cemberut. "Yaudah gak jadi deh Pak. Saya mau tidur aja." Gadis itu malah menurunkan tubuhnya lalu masuk ke dalam selimut dan membelakangi Alvi.
Please Navya... Jangan begini. Tingkah kamu sangat menggemaskan bagi saya, membuat saya semakin sulit untuk melepaskan kamu..
Bukannya membujuk, Alvi malah pergi keluar kamar. Saat mendengar pintu tertutup Navya berbalik pelan, dan tidak mendapati Alvi di ruangan itu.
"Apa aku keterlaluan ya. Pak Alvi jadi pergi gara-gara aku ngambek. Padahal dia udah nolongin aku tadi."
Alvi keluar dari kamar tanpa berpamitan, Navya pikir Bosnya itu pulang karena dia merajuk. Dia meminum lagi air putih untuk menahan rasa laparnya. Akhirnya Navya ketiduran sambil menahan lapar.
Lima belas menit kemudian, Alvi masuk lagi ke kamar inap Navya dengan dua kantong plastik di tangan nya. Dia tersenyum melihat Navya yang tertidur namun wajahnya seperti tidak nyaman.
Apa dia begitu lapar, sampai-sampai tidur pun dia tidak tenang.
"Vy... Ayo bangun. Saya bawakan bubur ayam untuk kamu."
__ADS_1
Navya membuka matanya perlahan. Terkejut melihat Alvi ada di kamar nya lagi. Segera dia bangun dan Alvi berusaha membantu.
"Kamu bisa pelan sedikit..?!"
"Loh kok Bapak balik lagi?"
"Memang saya kemana?"
"Kan tadi Bapak marah karena saya cuekin Bapak."
"Siapa bilang? Saya keluar beliin kamu makanan. Katanya kamu lapar kan. Ini saya beli bubur ayam buat kamu." Membukakan wadah bubur lalu menuangkan kuah hangat nya ke atas bubur ayam yang juga masih hangat. Aroma gurih langsung menyeruak di hidung Navya saat Alvi meletakkan semangkok bubur di meja dekat ranjangnya.
"Mau saya suapi?"
"Hmm.... saya bisa sendiri Pak." Ucapnya sungkan.
"Oke .." Alvi menarik meja dan membawanya di depan Navya. Lalu meletakkan mangkok bubur di hadapannya.
Navya mulai makan, satu sendok, dua sendok, enak, rasanya nikmat bubur ayam gurih dan hangat di lengkapi dengan kerupuk dan kacang goreng. Sementara Alvi membuka satu lagi bungkusan yang ia bawa, berisikan sate Madura. Wanginya juga menggugah selera. Entah karena aroma bumbu sate yang wangi atau Navya yang lapar, dia melirik Alvi yang memasukkan satu tusuk sate ke mulutnya.
"Kamu mau?"
"Hah! Enggak Pak, saya makan bubur saja." Merasa malu, Navya melanjutkan suapan bubur nya.
"Aaaa...." Terkejut saat Alvi menyodorkan satu tusuk sate ke arahnya. "Ayo makan. Nanti kamu gak bisa tidur gara-gara membayangkan sate ini." Ucapnya geli.
Navya agak cemberut mendengar ledekan Alvi tapi dia tetap membuka mulutnya dan memakan dari suapan tangan Alvi. Mereka sama-sama tersenyum dan melanjutkan melahap makanan masing-masing.
"Saya akan pulang setelah Dafin sampai di sini. Tadi saya sudah mengirimkan pesan padanya." Sudah selesai makan dan Alvi membantu Navya meminum obatnya.
"Dia gak akan datang Pak."
"Maksud kamu?" Memilih berpura-pura tidak tau saja.
"Oh ya, kenapa Bapak bisa ada di sana?"
"Ah, itu, saya kebetulan lewat bersama Ryan. Tanpa sengaja melihat kamu yang hampir pingsan.
Navya terlihat berfikir, saat itu kan hujan deras kenapa mereka bisa dengan mudah mengenali seseorang di dalam guyuran hujan deras begitu. Navya merasa aneh. Alvi tau Navya agk tahu dengan jawabannya.
"Lalu kamu, sedang apa malam-malam di Taman Kota?"
Navya terlihat menunduk, pandangannya sendu. "Saya bodoh banget ya Pak. Udah tau disakiti tapi saya malah ingin bertahan."
"Mas Dafin menemui Hana di sana, saya mengikuti mereka. Saya mendengar percakapan mereka, mendengar dia mengatakan dia akan selalu ada untuk Hana."
"Salah saya apa sih Pak, saya gak pernah ingin orang tua saya meninggalkan saya, saya juga tidak minta di rawat oleh Mami, tapi kenapa Mas Dafin begitu ingin menyakiti hati saya." Tanpa bisa dibendung, air matanya kembali mengalir. Alvi tidak sanggup melihat tangis Navya, ia menggenggam tangan Navya berusaha memberikan ketenangan dan mengusap pipi gadis itu.
"Saya tidak suka melihat kamu menangis begini, apalagi untuk orang yang tidak peduli dengan kamu."
Navya terdiam terpaku.
"Saya tidak menyuruh kamu meninggalkan Dafin, saya akan mendukung apapun keputusan kamu. Tapi kamu harus tau, saya gak mau kamu menyimpan sakit dan luka kamu sendirian, saya akan selalu ada untuk kamu kapanpun kamu membutuhkannya."
__ADS_1
Bersambung