
Navya bekerja cukup baik menurut Alvi. Dia bisa mengurus semua kegiatan dan jadwal Alvi selama di kantor. Beberapa kali ia pernah melakukan kesalahan, namun Alvi bisa memaklumi nya. Walaupun Navya sudah sangat ketakutan bila Alvi akan memarahinya. Tapi itu tidak terjadi. Sekarang mereka sedang ada di ruangan private sebuah restauran, ada janji makan siang sambil membicarakan kerja sama bisnis dengan seorang rekan Alvi.
" Maaf Pak sepertinya Pak Chandra akan sedikit terlambat, karena terjebak macet. Beliau meminta saya menyampaikan maaf ke Bapak atas keterlambatannya dan mengatakan Bapak boleh makan siang duluan tanpa harus menunggunya." Navya menjelaskan setelah dia menghubungi asisten rekan bisnis mereka.
" Hmm.. Ya Sudah kita makan duluan saja."
" Baik Pak, saya akan minta pelayan bawakan makanan Bapak."
" Sekalian saja sama punya kamu." Titahnya.
" Saya pak ?" Navya bingung. Apa dia tidak salah dengar, apa pantas dia makan satu meja dengan bos nya.
" Emmm.... Saya akan makan di luar saja Pak." Kata Navya tidak enak.
" Gak apa-apa, dari pada saya harus makan sendirian di sini."
" Baik pak. " Turuti saja pikirnya, dari pada membantah.
Dua orang pelayan menghidangkan makanan mereka di atas meja.
" Silahkan di nikmati Tuan." mereka mempersilahkan.
" Terimakasih mbak." kata Navya, sementara Alvi hanya mengangguk saja.
Navya masih berdiri di samping meja, masih ragu untuk duduk.
" Vy, Kamu mau makan sambil berdiri !?" Alvi bicara sambil menatap Navya.
" I..Iya.. baik Pak."
Mereka mulai menyantap makanannya dalam diam. Alvi makan dengan santai, sementara Navya makan dengan perasaan gugup. Bagaimana tidak, dia makan satu meja dengan bosnya di restauran privat, berdua saja. terasa aneh dan tidak nyaman. Jika karyawan yang lain tahu hal ini, dia tidak akan selamat dari gosip yang aneh-aneh.
" Makanannya gak enak Vy ? Atau kamu gak suka?" Alvi memperhatikan Navya yang sedari seperti orang yang tidak selera makan.
" oh,, enak kok pak." Jawabnya gugup.
" Ya sudah, habiskan makanan nya. Sebelum Pak Chandra datang."
" Iya, baik pak." Navya berusaha mengunyah makan siangnya dengan cepat. Benar juga pikirnya, kalau sampai rekan bisnis bosnya melihat dia makan bersama bos, dia akan di anggap tidak sopan sebagai bawahan. Alvi tersenyum melihat tingkah Navya yang buru-buru ingin menghabiskan makanannya.
" Gak perlu buru-buru banget juga Vy. Kamu bisa tersedak."
Dan benar saja, Vya betul-betul tersedak. "Uhhhkkk uhhhukkk..." Alvi memberikan air putih pada Navya yang langsung diterima gadis itu dan meminumnya.
__ADS_1
Alvi geleng kepala, "Kan sudah saya bilang, pelan-pelan saja."
" Maaf Pak.." Duhhh malunya. Dia lalu mengeluarkan sebuah sapu tangan biru dari dalam tas nya untuk menyeka basah di bibirnya.
Alvi mengamati itu, ada sesuatu yang menjadi perhatian Alvi. Sapu tangan itu, dia sepertinya mengenali benda itu.
Setelah mereka selesai makan rekan bisnisnya belum juga tiba. " Saya akan hubungi asisten Pak Chandra lagi ya pak !?"
" Gak usah Vy, Gak apa-apa. Seperti nya memang dia ada hambatan dalam perjalanannya. Biasanya dia selalu tepat waktu. Lagian jadwal saya setelah ini kosong kan !?"
" Iya Pak, hanya ada undangan perjamuan di Hotel Bintang nanti malam." Navya mengingatkan.
Ngomong-ngomong Navya belum sempat meminta izin untuk pulang cepat. Dia ragu, takut Alvi tidak mengizinkan. Sepertinya ini saat yang tepat, setelah ini Alvi hanya akan kembali ke perusahaan dan tidak ada jadwal pertemuan apapun. " Mmm.. Pak saya boleh minta izin ?"
Alvi yang sedang disibukkan dengan ponselnya mengangkat kepalanya melihat Navya, " Izin apa ?"
" Sebenarnya malam ini saya ada acara keluarga, mami saya minta saya pulang lebih cepat. Itu pun kalau bapak mengizinkan." Ucapnya sungkan.
Wajah Alvi sedikit kecewa, tapi dia berusaha menguasai nya. " Saya pikir jadwal kamu kosong, rencananya saya ingin mengajak kamu menemani saya dalam perjamuan nanti malam."
" Hahh!" Dia hampir seperti berteriak. " Duhh maaf Pak, ma.. maksud saya kenapa saya ? Itu... Bapak bisa bersama.."
" Saya gak punya pacar " sanggahnya sambil terkekeh. " Saya berfikir untuk mengajak kamu untuk menemani saya sebagai sekretaris."
" Tapi maaf saya nggak bisa Pak." Navya benar-benar merasa tidak enak sekali menolak bosnya.
" Haha... Gak masalah, keluarga lebih penting. Lagian acara ini kan bukan pertemuan untuk pekerjaan. Saya izinkan kamu pulang cepat hari ini."
" Baik Pak, Terimakasih Pak."
Alvi tersenyum. Sebenarnya dia masih ingin bertanya pada Navya soal keberadaan Navya di makam orangtuanya waktu itu, apa hubungannya dengan mereka. Belum sempat dia bicara, pelayan sudah mengantar Tamu mereka ke ruangan itu.
" Maaf bro, sudah lama ya nunggunya." Chandra berjalan masuk ingin merangkul sahabatnya.
Tapi Alvi memberi isyarat pada Chandra untuk menjaga sikap nya. Mereka sedang dalam mode bekerja, dan ada Navya di sana. Asisten Chandra sudah biasa dengan sikap santai mereka namun Navya masih orang baru di sana. Dia sedikit terkejut dengan sapaan Chandra pada bosnya.
" Oh, Selamat siang Pak Alvi. Maaf membuat Anda menunggu " Dia langsung memperbaiki situasi.
Alvi menyambut jabatan tangan Chandra. "Selamat siang Pak Chandra. Perkenalkan ini sekretaris saya, Navya. "
Navya yang sempat bingung mencoba mengambil sisi positif, dia berfikir memang klien bosnya ini mempunyai sifat yang santai begitu. Tidak kaku seperti bos dan kakak angkatnya. Dia berjabat tangan dengan Chandra, selain klien bisnis juga merupakan sahabat baik Alvi.
" Waaah.. Anda benar-benar sangat cantik mbak Navya. " pujinya jujur.
__ADS_1
Navya hanya tersenyum,, tapi Alvi melotot kepada Chandra, beruntung Navya tidak melihatnya. Buru-buru dia ngajak Alvi duduk sambil mengusap-usap punggung nya untuk mencairkan suasana yang hampir mencekam (mencekam menurut Chandra) "huhh! bisa-bisa proyekku gagal kalau aku buat suasana hatinya kacau" . Sementara asisten Chandra menahan tawanya. Sudah biasa dengan kelakuan bos nya saat bertemu sahabatnya.
Navya menanggapi pujian itu dengan senyuman saja.
Mereka mulai membicarakan hal yang berkaitan dengan pekerjaan. Serius. Mereka akan profesional bila menyangkut pekerjaan, Alvi sangat tegas. Dengan siapa pun dia bekerja sama, dia ingin semua hasilnya memuaskan. Beberapa temannya yang menjadi rekan bisnisnya juga paham sifat tegas Alvi, maka mereka tidak akan mencampurkan hal pribadi saat membicarakan pekerjaan dan menjalankannya dengan sangat hati-hati.
Pukul 15.00sore meeting mereka selesai. Bersama-sama berjalan keluar dari restoran tersebut. " Kami duluan." Pamit Alvi
" Baiklah.. Jangan lupa nanti malam." Ujar chandra.
" Ya, Aku pasti datang." Kata Alvi sedikit tidak bersemangat.
Mereka berpisah di area parkir restauran, dengan menaiki mobil masing-masing.
" Chandra itu teman saya, Vy. Maaf jika sikapnya sedikit tidak sopan." Alvi membuka suara saat mereka sudah berada di mobil.
" Gak apa-apa pak, saya gak masalah." Apa berani dia protes, dia cuma sekretaris.
Alvi tidak tidak lagi menyahuti jawaban Navya. Mereka hanya diam.
Begitu mereka sampai di depan lobi Gedung megah PT. Sinar Mega, " Vy, kamu turun duluan. Saya masih ada urusan. Saya izinkan kamu pulang cepat hari ini." Nada bicara Alvi terasa dingin.
" Baik Pak, terimakasih."
" Hhmmm"
"Kalo dia ada urusan, kenapa repot-repot mengantar aku ke kantor sih. Aku bisa naik taksi." Navya berfikir sambil berjalan masuk ke dalam gedung untuk mengambil barang di meja kerjanya.
***
Saat Navya akan membuka pintu mobilnya, Ponsel di tasnya berdering. Buru-buru dia mengambil dan menjawab panggilan itu. " Ya Mi.."
"Sayang, kamu langsung ke Salon aja ya. Nanti kita langsung ke Hotel." sahutan dari seberang saja.
" Tapi mi, pakaian Vya kan masih di rumah. Nanti Vya berangkat sendiri aja." Navya bingung, tadi sang Mami tidak mengatakan kalau dia harus ke salon.
"Gak perlu sayang, kamu ke sini sekarang. Mami udah booking buat kita berdua. Okee!?"
" Ya udah iyaaa... Vya ke sana sekarang."
Bersambung
Hai haiii 🥰🥰🥰 Aku Update lagi nih. Makasih yang sudah mampir. Mohon tinggalkan jejak ya, biar aku makin semangat lanjut nulisnya.
__ADS_1
Klik favorit, like dan komen. 🙏🙏🙏🙏🙏