
"Maaf kan mami dan papi yang tidak pernah memberitahukan semua ini pada kamu." Finny duduk di samping anaknya yang masih merasa asing dengan status hubungan keluarga mereka dengan keluarga Mahendra.
Sementara Sultan dan Rima berada di depannya untuk ikut meyakinkan bahwa mereka memang memiliki hubungan darah. Dafin tidak bereaksi apapun saat Sultan dan Rima memeluk nya tadi. Hanya Rima yang menitikkan air mata di pipinya karena merasa bersalah tidak mencoba mencari tau keberadaan anak dan cucunya selama ini.
Saat datang tadi Dafin melihat istrinya dan Alvi sedang duduk berdua dan tanpa sengaja dia juga mendengar sebagian yang mereka bicarakan. Ketika dia bertanya apa maksud ucapan Alvi yang mengatakan bahwa dia adalah sepupu nya, Rima dan Finny datang lalu mengajaknya duduk bersama. Kemudian mereka menjelaskan apa yang harus Davin ketahui tentang hubungannya dengan keluarga Mahendra.
"Kamu pasti tidak menyangka kan Nak, selama ini kalian hanya berteman tapi ternyata Al adalah kakak sepupu kamu." ujar Rima.
"Ya, aku gak nyangka ternyata dunia ini sempit. Bahkan istri ku bekerja dengan sepupu ku."
"Ya,, kita bisa merasa lega. Navya bekerja dengan Alvi, jadi tidak akan ada yang berani macam-macam sama istri kamu. Ada Alvi yang akan menjaga nya." tambah Finny.
"Dengan senang hati Tante." Alvi tersenyum menanggapi ucapan Finny.
Davin masih menanggapi kabar itu dengan biasa saja. Baginya tidak ada bedanya menemukan anggota keluarga yang lain atau tidak. Ekspresi nya datar saja, dia lebih tertarik memperhatikan wajah berseri Alvian ketika Finny menitipkan menantu kesayangan nya pada kakak sepupu nya tersebut.
'Aku yakin, dia menyukai Navya. Tatapan matanya lebih dari kepedulian pada bawahan atau adik. Tatapan itu memiliki arti yang lebih dalam.'
Davin tersenyum miring. Seperti mendapatkan sebuah ide, dia akan melakukan sesuatu untuk memancing perasaan Alvi.
"Yah, Mami dan Nenek berhak bahagia. Kita bisa berkumpul sebagai keluarga besar sekarang. Dan apa aku punya hak untuk menolak?! Sepertinya tidak kan ? Karena mau tidak mau saat ini Al adalah kakak sepupuku. Benarkan Kak ?" Davin tersenyum sarkas pada Alvi. Bohong kalau Alvi tidak menyadari itu. Namun hanya dia, karena nenek dan ibunya tersenyum penuh bahagia mendengarnya itu.
"Panggil saja senyaman kamu Fin, jangan terlalu sungkan." Alvi menjawab dengan ramah.
Dafin membalas dengan senyuman. Lalu dia beralih pada gadis di sampingnya. "Dan mungkin aku bisa mengandalkan kakak sepupuku untuk menjaga wanita cantik ini selagi dia bekerja dan tidak di samping ku." ucapnya sambil mengelus wajah Navya dengan ibu jari nya. Jelas hal itu membuat pipi gadis itu panas dan merona. Sementara sang kakak sepupu yang melihat berusaha menahan gejolak di hatinya yang dia tutupi dengan senyuman ramah dan lembut.
__ADS_1
"Kamu bisa mengandalkan saya Fin, Navya akan aman saat bersama saya" Namun perkataan Dafin selanjutnya membuat Alvi membisu.
"Baiklah, tapi aku yang agak takut. Kamu akan berpindah ke lain hati, secara Kak Al lebih segalanya dariku." Navya bingung, dia mencoba mencerna kata-kata Dafin. Namun dia sadar Dafin selalu meminta dirinya berakting di depan umum maka dia mencoba menjalankan perannya sebagai seorang istri.
Sambil menggenggam tangan Dafin di pipinya, dia mengatakan dia tidak akan mengecewakan siapapun baik Dafin atau pun orang tua mereka. "Vya gak pernah berfikir seperti itu, Vya gak akan melakukan hal yang membuat mas Dafin ataupun Mami dan Papi kecewa. Vya janji."
"Terimakasih sayang.. Kamu memang anak Mami yang paling baik." Finny bangga pada menantunya. Sementara Dafin tersenyum puas, bukan karena kata-kata Navya yang berusaha meyakinkan dirinya dan keluarganya. Namun dia melihat sorot mata kekecewaan di netra milik Al. Pria itu menatap sendu ke arah lain untuk menyembunyikan perasaannya daripada melihat perlakuan Dafin yang sedang memeluk bahu Navya di sebelahnya. Sekali lagi tidak lain hanya untuk membuat Alvi merasa tidak nyaman.
"Nenek senang sekali kita bisa berkumpul seperti ini sekarang. Kalian harus saling menjaga dan saling mendukung." Rima fokus menatap ke arah Dafin dan Alvi secara bergantian. Rima tau jelas bagaimana perasaan Alvi kepada Navya. Namun bukan hal yang baik jika dia mengorbankan perasaan cucunya yang lain. Lagi pula Navya dan Dafin terlihat bahagia.
"Dafin juga senang Nek, akhirnya Dafin tau bahwa Dafin masih memiliki Nenek dan Kakek."
Hal itu membuat Sultan dan Rima menatap penuh sayang pada cucu mereka.
"Kamu dan istri kamu harus sering-sering main ke sini. Rumah kalian tidak jauh dari sini kan?" Sultan yang bersuara.
Tatapan Dafin beralih ke pada sang Ayah yang dari tadi terlihat tidak banyak bicara. Bisa dibilang hampir sama dengan sang Kakek. Mereka hanya akan bicara jika ada yang bertanya sesuatu. Dafin menangkap ada sesuatu yang terjadi antara mereka. Alvi juga tidak terlihat begitu akrab dengan Damar, mereka bicara sekedarnya saja.
"Pasti ada alasan kenapa dulu keluarga ini terpisah. Papi biasanya sangat ramah pada semua orang. Tapi Kakek seperti belum bisa menerima kehadiran Papi di sini. Aku harus mencari tahu apa sebenarnya yang sudah terjadi di masa lalu."
Di sela waktu obrolan mereka, Ryan datang dan bermaksud menemui Alvi.
"Maaf Pak, ada sambungan telepon dari klien."
"Oh iya baik. Maaf semua, Al permisi ke ruang kerja dulu." Pamitnya pada seluruh anggota keluarga.
__ADS_1
Alvi sedikit lega dengan datangnya Ryan, walaupun dia masih ingin melihat wajah Navya di sana. Namun ketika Navya bersama Dafin malah akan membuat dirinya merasa tidak nyaman. Mungkin dia terlihat jahat, karena menyimpan perasaan pada istri sepupunya. Namun saat mengetahui Dafin menduakan Navya, Alvi merasa dia memiliki tanggung jawab menjaga Navya. Karena dia tidak ingin gadis itu terluka. Dan dia tidak akan membiarkan siapapun melukai Navya.
'Aku akan cari tau apa sebenarnya yang Dafin inginkan dengan menikahi Navya. Jika memang dia mencintai Navya seperti apa yang dia tunjukkan di depan umum, kenapa dia selalu meluangkan waktu bersama Hana. Sepertinya hubungannya dengan Hana sudah berjalan lama dari pada dia dan Navya."
"Pak?" Ryan sedikit meninggikan suaranya setelah beberapa kali memanggil Bosnya namun tidak disahuti oleh Alvi. Seperti bicara sendiri, Alvi bahkan tidak mendengarkan segala ocehan Ryan tentang perusahaan.
"Kamu membentak saya!?" Tiba-tiba marah saat menyadari Ryan memanggil namanya dengan intonasi yang tinggi.
"Maafkan saya Pak.." Ryan menundukkan kepalanya.
"Saya suruh kamu jelaskan penanganan proyek yang ada di kota XX, kenapa kamu malah santai begini?"
"Saya sudah bicara dari tadi, tapi Bapak sepertinya belum fokus dan tidak mendengarkan saya." Posisi Ryan masih tertunduk tidak menatap Alvi.
"Jadi salah saya?" marah lagi kan..
"Maafkan saya Pak. Saya akan ulangi lagi."
"Hmmm...."
Epilog.
'Aku memanggilnya lima kali tapi dia tidak mendengar kan aku, malah sekarang dia jadi marah dan aku harus mengulang laporanku. Harusnya kan aku yang kesal."
Author : Sabar ya Yan, anggap aja itu salahmu yang lagi ganggu dia menghayal kan Navya.
__ADS_1
Ryan : ðŸ˜