
Rima baru saja sampai di rumah setelah kembali dari Infy bakery. Sebenarnya sudah ada yang bertanggung jawab untuk mengelola toko kuenya, jadi Rima akan sesekali pergi berkunjung ke sana. Asisten rumah tangga menyambut nya setelah ia memasuki pintu utama rumahnya, dan mengambil alih beberapa barang yang dibawa Rima.
" Apa Tuan besar sudah pulang?"
"Sudah Nyonya, baru saja. Tuan besar ada di taman belakang. Tuan muda juga sudah pulang."
"Baiklah,,tolong buatkan saya teh hijau lalu antarkan ke taman belakang."
"Baik Nyonya. Tapi nyonya, tuan muda..."
Rima yang sudah akan melangkahkan kaki nya menuju ruang penghubung ke area taman seketika berhenti. "Kenapa Alvi?"
"Tuan muda mengalami insiden di proyek pengerjaan hotel, dan lengannya mengalami memar."
"Baiklah, saya akan melihatnya. Kamu lanjutkan pekerjaan kamu."
"Iya Nyonya."
Rima menemui suaminya dulu sebelum ke kamar Alvi.
"Kamu sudah pulang?"
"Ya, baru saja."
"Aku dengar Damar akan menikahkan anaknya. Rekan bisnis ku yang mengatakan."
"Dia cucu kita."
"Lalu apa dia pernah datang ke sini untuk meminta pengakuan kita ?" Rima terdiam.
"Mereka bahkan tidak pernah datang untuk meminta maaf. Sekarang dia menikahkan anak yang kamu sebut cucu itu tanpa memberitahu kita."
__ADS_1
Rima tidak menyangkal kata-kata suaminya, Finny dan Damar memang tidak pernah datang untuk mereka. Sebegitu marah kah anak itu pada kedua orangtuanya, sampai ia tidak pernah datang setidaknya hanya untuk tau kabarnya saja.
"Seandainya kita tidak terlalu keras padanya dulu. Dia pasti akan kembali pada kita."
"Aku sudah pernah bilang kan, aku pernah memaafkan mereka, aku sudah siap menerima mereka untuk menjadi bagian dari keluarga kita. Bahkan Indra dan Syifa menemui dia untuk meminta mereka datang. Tapi apa yang dia lakukan, dia malah mencelakakan mereka. Kamu lupa, Damar mencelakakan Indra dan Syifa." Perkataan Sultan itu membuka kembali luka di hati Rima. "Aku bahkan tidak memperkarakan kasus ini hanya karena permintaan mu. Seandainya dulu kamu biarkan aku melaporkan pada polisi, Finny bisa kembali pada kita."
"Maaf. Aku hanya ingin Finny bahagia. Finny mencintai Damar. Itulah yang aku lihat."
"Ya... Cinta memang membuat mu lemah. Sehingga anakmu mencintai orang yang salah dan kamu membiarkan nya."
Tanpa mereka sadari ada seseorang yang mendengar semua pembicaraan itu. Hatinya bergemuruh mengetahui sebuah kenyataan yang selama ini tidak pernah dia duga. Nenek punya seorang anak perempuan, itu artinya dia punya seorang Tante. Namun ada hal yang lebih membuatnya terluka, kematian orangtuanya adalah perbuatan seseorang.
Alvi meninggalkan tempat dia berdiri dan mendengar apa yang dibicarakan kakek dan neneknya, Dia merasa luka yang sudah lama dia tutup kembali terkoyak. Semakin menyakitkan saat ia tau bahwa kecelakaan itu adalah rekayasa.
"Damar Wijaya sudah merenggut masa kecil ku."
Alvi tidak bisa mencegah pikiran nya untuk tidak membenci Damar Wijaya.
Tok...tok...tok...
"Masuk Nek.." Wanita tua itu masuk ke dalam kamar cucunya lalu menghampiri Alvi yang sedang duduk di sofa lalu ikut mendudukkan dirinya di sana. Melihat lengan cucunya yang memar. "Kenapa kamu bisa jadi seperti ini?"
"Hanya kecelakaan kecil di proyek Nek."
"Nenek akan hubungi Dokter untuk periksa tangan kamu."
"Tidak usah Nek, Al sudah ke dokter tadi."
"Wah,, tumben kamu mau langsung ke dokter? Biasanya kalau bukan nenek yang memaksa kamu tidak mau."
"Navya yang memaksaku Nek." Al malu mengakui nya.
__ADS_1
"Wah wah... sudah ada satu orang lagi yang bisa menaklukkan kamu ternyata." Rima terkekeh mendengar nya.
Lalu mereka sama-sama tenggelam dalam pikiran masing-masing. Mereka sama-sama sudah jatuh cinta pada Navya, Rima menemukan kelembutan hati Hafizah dalam diri Navya, Alvi juga merasakan kenyamanan ketika bersama Navya. Rima kemudian membuka suara untuk mencairkan suasana. "Apa masih sakit ?" bertanya sambil memegang tangan Alvi yang membiru.
"Tidak terlalu, ini juga sudah tidak bengkak. Dokter sudah memberikan obat tadi."
"Ya sudah,kamu istirahat saja. Jangan lupa turun saat makan malam."
"InFy." Kata itu menghentikan langkah Rima yang sudah akan membuka pintu kamarnya. "Apa arti nama Toko kue Nenek itu?"
Rima membeku. Kenapa Alvi bisa sampai memikirkan hal itu. Biasanya dia adalah orang yang tidak terlalu banyak ingin tau, apalagi hanya sekedar penamaan Toko.
Karena Rima tidak menjawab Alvi kembali bersuara. "Ada seseorang yang bertanya pada Al, tapi Al tidak bisa menjawabnya." Alvi mencoba menunjukkan wajah polos laku terkekeh.
Akhirnya Rima kembali ke tempat dia duduk tadi. Wajahnya menjadi sendu.
"Mungkin sudah saatnya nenek menceritakan hal ini padamu. Suatu saat jika nenek dan kakek mu sudah tiada, kamu harus mencari mereka. Karena hanya mereka lah kerabat dekat kamu."
Alvi yang masih setia mendengarkan cerita sang Nenek tidak menjawab apapun.
"InFy adalah Indra dan Finny, nama kedua anak nenek. Yaitu Papamu Indra dan Finny saudara kembarnya. Tante mu satu-satunya."
"Lalu dimana dia sekarang?"
"Nenek juga tidak tau pasti. Dia menikah tanpa restu kami, memilih pergi bersama seseorang yang ia cintai. Hanya itu yang bisa nenek ceritakan pada kamu. Nenek akan keluar dan menyiapkan makan malam." Alvi mengangguk saja.
"Hanya itu, kenapa nenek tidak memberitahu soal kematian papa dan mama. Apa karena dia suami Tante. Kenapa merahasiakan semua ini dariku. Aku berhak tau semuanya. Sekarang nenek ingin aku mencari mereka dan melanjutkan hubungan keluarga. Tapi Jika memang benar Damar Wijaya adalah penyebab kematian orangtuaku, bagaimana aku bisa bersikap tenang dan ramah pada mereka."
Alvi mengambil ponsel di atas meja untuk menghubungi seseorang.
"Saya punya satu tugas lagi untuk kamu. Kamu selidiki Damar Wijaya dan istrinya, serta kecelakaan yang menyebabkan kedua orangtuaku meninggal. Apakah benar ada hubungannya dengan Damar Wijaya! Segara kabari saya perkembangannya."
__ADS_1
Alvi bukanlah orang yang gegabah dalam mengambil keputusan. Walaupun dia dingin seperi kakeknya, namun dia juga di bimbing oleh neneknya untuk selalu berfikiran positif dalam segala keadaan. Saat ini walaupun ia sedikit terpancing dengan pembicaraan kakek dan neneknya, dia tetap akan menyelidiki dulu apa sebenarnya yang terjadi.
Bersambung