Mencintaimu Karena Terbiasa

Mencintaimu Karena Terbiasa
Penasaran


__ADS_3

Hana mungkin bisa percaya diri dengan ketulusan cinta Dafin untuknya. Dan bukannya tidak percaya Dafin akan bertahan di sisi nya, tapi dia masih di hantui keadaan, dimana kepedulian Dafin pada Navya bukan lagi kepura-puraan dan sandiwara yang harus ditunjukkan di depan orang lain untuk meyakinkan meyakinkan bahwa pernikahan mereka baik-baik saja. Suatu saat, bukan hal yang mustahil jika mereka berdua akan saling mencintai.


Begitu pun saat Dafin pamit untuk pulang, meski berat dia harus tetap memberikan senyum tulusnya pada lelaki yang ia cintai itu. Tidak ingin membebani pria yang sudah berstatus suaminya itu dengan segala kecurigaan dan kecemburuan yang berlebihan. Dia harus memberikan waktu dan kesempatan pada Dafin untuk memperjuangkan hubungan mereka. Agar ada kejelasan untuk masa depan mereka. Walaupun dia cemburu saat Dafin pulang ke rumah Navya, tapi dia harus meyakinkan diri bahwa Dafin akan memegang janjinya untuk tidak menyentuh Navya. Tapi Hana akan selalu berusaha agar Dafin tidak lalai akan janjinya.


Dafin baru masuk ke dalam rumah padahal Alvi sudah beranjak dari tadi. Dia merenungkan perkataan Alvi, Dafin tidak bisa mengabaikannya. Bukan hanya soal isi hatinya pada Navya yang secara tidak langsung dia akui tapi juga kata-katanya yang seakan tau Dafin memiliki kekasih selain istrinya.


"Apa mungkin dia tau soal Hana."


"Kak Hana kenapa Mas?" Dafin sedang duduk di sofa ruang keluarga dan tidak menyadari bahwa Navya sudah berdiri di depan tangga.


"Oh itu, bukan apa-apa."


"Pak Alvi udah pulang Mas?"


"I..iya sudah. Dia sudah pulang tadi."


"Oh ya Mas...." Navya berjalan mendekati Dafin, sebenarnya ingin membahas kenapa seharian ini suaminya tidak mau mengangkat telepon dan membalas pesan. Namun seperti sudah bisa membaca arah pembicaraan Navya, Dafin berusaha mengelak.


"Vy, aku mandi dulu ya. Kalau kamu tidak keberatan aku minta tolong buatkan kopi dan bawakan ke atas ya." memotong pembicaraan Navya sambil berjalan menuju tangga dan melewati Navya begitu saja lalu naik tangga menuju ke kamar.


"Iya, Baik Mas."


Dafin sedang penat saat ini, pikiran nya juga kacau. Mengartikan perasaan sebenarnya pada Navya dia juga takut. Selama beberapa waktu terakhir dia memang merasa nyaman ada di dekat gadis itu, tidak suka melihat nya bersama pria lain. Tadi juga dia seperti ingin meninju lagi wajah Alvi, namun dia tahan. Tidak ingin bertengkar lagi dengan Navya.


Dan ketika Navya ingin membahas perihal apa yang dia lakukan seharian ini, dia juga takut. Karena pasti dia harus berbohong pada Navya kan. Entah kenapa dia tidak mau, dia tidak ingin membohongi gadis itu lebih banyak lagi. Dafin lelah, pusing, rasanya dia ingin mandi dan berendam air hangat, mungkin bisa mengurangi lelahnya.


Navya masuk ke kamar membawakan kopi dan cemilan untuk Dafin. Ia pikir lelaki itu sudah selesai dengan kegiatan mandinya, namun belum ada tanda-tanda sudah keluar dari kamar mandi. Navya meletakkan kopi di atas meja sambil menunggu Dafin selesai mandi.


Duduk di sofa sambil memainkan ponselnya, Navya sebenarnya sudah mengantuk tapi dia merasa harus bicara dengan suaminya. Bukan ingin ikut campur urusan Dafin, karena sampai sekarang walaupun sikap Dafin sudah mulai melunak padanya, dia belum berani melewati batasan nya. Dia hanya ingin tau, apa yang Dafin lakukan hari ini.


Drrrtt....Drrrttt...


Getaran sebuah ponsel berasal dari atas meja dekat tempat tidur. Itu pasti milik Dafin, karena milik Navya sedang ia pegang. Nama Mami tertera di layar.


Sebenarnya Navya bisa saja menjawabnya, Mami tidak akan mungkin memarahi dirinya.


Tapi Dafin, Navya belum sampai di tahap bebas memegang benda apapun milik Dafin. Dia mengetuk pintu kamar mandi pelan.


"Mas, Mami telepon nih."


"Kamu angkat aja."

__ADS_1


"Iya Mas."


Navya akhirnya menjawab panggilan dari Finny yang bertanya tentang Dafin. Tidak lama mereka bicara, karena memang Finny ingin bicara dengan anaknya tapi Dafin masih ada di kamar mandi.


Setelah panggilan itu terputus, benda itu kembali bergetar. Bukan telepon, melainkan tanda pesan masuk dari sebuah kontak yang bernama 'My Hana'.


"My Hana? Apa ini kak Hana?"


My Hana


"Kamu sudah tidur?......."


"Nama kontaknya terlalu aneh untuk hp hubungan antara sekretaris dan atasan. Apa mungkin karena mereka bersahabat dari dulu. Atau karena hal lain."


Belum habis rasa penasarannya, tiba-tiba terdengar suara pintu yang akan dibuka membuat Hana secepatnya meletakkan ponsel Dafin. Lalu dia pura-pura berbaring di tempat tidur saat Dafin sudah keluar dari kamar mandi.


"Kamu sudah tidur?" Melihat sekilas Navya yang berbaring sambil berjalan ke arah lemari pakaian.


"Hmmm... Saya capek Mas." Tapi dia bicara tanpa melihat Dafin.


"Capek jalan sama Bos kamu?"


"Ya, sudah lah. Yang penting kamu harus tetap menjaga sikap, sekarang bukan cuma gadis atau janda, istri orang juga bisa jadi incaran pria lain." Kata-katanya membuat Navya bangun dari posisinya dan menatap Dafin tajam. Tapi langsung menelan ludah ketika melihat ternyata Dafin belum memakai baju, hanya mengalungkan handuk kecil di lehernya dan memakai celana pendek. Untung nya Dafin mengarah ke lemari, sedang mencari baju kaos lalu memakainya jadi dia tidak melihat ekspresi wajah Navya.


Sementara Navya langsung berbalik dan mengubah lagi posisi seperti semula. Bukannya menjawab ucapan Dafin tadi dia malah bertanya dengan Nada seakan sedang marah.


"Kalo Mas Dafin, seharian kemana ? Telepon tegak di angkat, pesan saya gak di balas."


"Kamu kenapa? seperti orang yang sedang cemburu?" Dafin bicara sambil berjalan ke arah sofa.


"Cemburu? Kenapa harus cemburu! saya cuma bingung, kalo Mami dan Papi bertanya, saya gak tau mau menjawab apa. Punya suami, tapi seperti tidak punya suami. Tidak tau kabar atau pun keberadaan suaminya." Namun jawaban Navya kali ini membuat Dafin berhenti lalu berbalik melihat gadis yang sedang berbaring dan yang dari tadi bicara tanpa melihat dirinya.


Navya menatap ke arah lain, tapi wajahnya cemberut. Dafin jadi gemas sendiri.


"Jadi kamu mau merasakan bagaimana punya suami?"


"Maksud Mas apa?" Langsung menoleh dan Navya diserang rasa panik saat Dafin berjalan ke arahnya dan membuang handuk basahnya sembarangan.


Bukannya menjawab, Dafin malah tersenyum nakal dan terus berjalan mendekati gadis itu. Sementara Navya bangun dan sudah ingin merangkak turun dari ranjang namun kalah cepat dengan tangan Dafin yang menarik tangannya. Membuat Navya berada di dekapan Dafin. Wajahnya sudah memerah, jantung nya berdebar.


"Ma...Mas mau a..apa?"

__ADS_1


"As you wish... Bukannya tadi kamu ingin merasakan bagaimana memiliki suami." Dafin tersenyum merasakan debaran jantung Navya begitu kencang. Wajahnya memerah dan bibirnya yang membuat Dafin seperti terhipnotis.


"Ta..tapi sa.. saya..."


Dafin mencium bibir Navya, menahannya sebentar. Ketika tidak ada perlawanan dari gadis itu dia meneruskan kegiatannya mengecup dengan lembut dan lama. Navya memejamkan mata, menikmati setiap sentuhan bibir Dafin di atas bibirnya. Hampir membuat Navya sulit bernafas, Dafin melepaskan kecupannya dan perlahan mendorong tubuh Navya dengan tubuhnya sehingga tubuh mereka jatuh di ranjang dengan posisi Dafin di atas tubuh Navya.


Navya tidak merasa keberatan dengan apa yang akan terjadi selanjutnya, dia sudah mempersiapkan diri dari jauh hari bahkan sebelum Dafin berubah sikap padanya. Biarlah di anggap tidak tau diri, tapi dia juga punya hak dan kewajiban yang sama dengan Dafin dalam hal ini. Jika malam ini Dafin ingin dia menyerahkan diri, dia tidak akan menolak. Belum lupa dengan apa yang dia lihat di ponsel Dafin soal Hana, Navya akan menumbuhkan harapan pelan-pelan bahwa Dafin pasti akan melupakan masa lalunya untuk pernikahan ini.


Dafin menindih tubuh istri nya dan sudah akan mendaratkan lagi kecupan di bibir Navya, tiba-tiba ponsel milik Dafin bergetar. Sepertinya memang sebuah panggilan. Seketika konsentrasi Dafin terpecah, dia memandang Navya lama dengan perasaan yang sulit ia jelaskan. Melihat Navya bergantian dengan ponsel nya.


"Angkat aja Mas."


"Hmm... sebentar ya."


Navya mengangguk, dia sedikit kecewa sebenarnya.


Dafin bangun dari atas tubuh Navya mengambil ponselnya yang masih bergetar, saat melihat nama si pemanggil, Dafin langsung mematikan nya.


"Kamu tidur saja duluan, aku mau menelpon."


Pergi begitu saja tanpa menunggu jawaban dari Navya.


Navya penasaran, siapa yang menelepon sampai membuat Dafin harus keluar kamar untuk bicara.


"Apa mungkin itu 'My Hana' !?"


Rasa penasaran Navya membuat nya keluar dan mencari tahu dengan siapa Dafin bicara. Tanpa perlu harus menuruni tangga, Navya bisa mendengar suara Dafin. Ternyata dia bicara di ruang tamu. Sedikit berbisik, namun masih bisa di dengar oleh Navya.


"Iya sayang. Kamu bisa pegang janji aku."


"Oke, sekarang kamu tidur ya. Besok kita ketemu di kantor."


"Iya, I love you too."


Navya menegang, terjawab sudah semua. Nama kontak Hana di ponsel Dafin yang tadi ia lihat benar-benar memiliki artian khusus. Pantas saja, dia menginginkan pernikahan ini hanya berjalan sampai enam bulan. Jadi karena dia pacaran dengan kak Hana. Tapi dia tidak pernah memberi tahu keluarga.


Navya berjalan masuk ke kamar,


Tapi kenapa? Jika memang mereka menjalin hubungan, kenapa sekarang Dafin memberi harapan padanya.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2