
Diary Kian📒
Satu hal lagi yang ku tau tentang dirimu....
Ternyata dingin mu hanyalah tameng diri,
Agar orang lain tak tau kesedihanmu
Agar orang lain tak tau masalahmu
Tak tau dengan segala kecemasan
Dan ketakutan mu.
Garangmu menyelimuti
Sisi rapuh itu,
Yang bahkan lebih rapuh
Dari kepingan kulit pensil.
Tapi tenanglah,
Jika masih kau butuh sandaran bahu
Kau bisa datang pada partner mu
Luapkan semua kesedihan itu
Biarkan suatu hari
Akan ku bawa setiap butir kesedihan itu
Jauh darimu,
Hingga kau tak lagi bisa merasakannya.
Your partner ^^
___________
Cahaya memasuki celah ventilasi papan yang begitu sempit. Membangunkan seseorang yang tadinya tertidur dengan pulas. Kelopak mata itu kini mulai bergerak, mengangkat tangan menutup beberapa tembusan sinar matahari yang masuk. Keadaan suhu kamar yang juga meningkat membuatnya sedikit terusik.
Beberapa saat diambilnya, untuk mengumpulkan nyawa serta merenggangkan otot-otot nya yang begitu kaku. Ntah apa yang terjadi semalam, hingga seluruh badanya terasa sangat sakit.
Menggosok tengkuknya, dan memutar pinggangnya yang kemudian terdengar suara tulang-tulang saling bersautan. Sejenak ia dipandangnya ruangan itu. Begitu asing bahkan ia tak tau kamar siapa itu.
Ia duduk di tepi ranjang, sambil mengingat apa yang terjadi.
Satu detik....
Lima detik....
Sepuluh detik....
"Kian!!!" Teriaknya.
Ntah ingatan apa yang ada di otaknya, membuat ia bangkit dari ranjang dan mencari seseorang bernama Kian. Mencari di setiap sudut rumah namun nihil ia tak menemukannya.
Ia langsung membuka pintu rumah mencari sesosok yang ingin ia lihat namun,
__ADS_1
"Devan!!!!!" Teriak seorang perempuan yang ada di sebelahnya, membuatnya ikut terlonjak kaget.
"Kak... Kenapa?! Liat Kian gak? Kian mana?" Tanya dengan nafas memburu. Ia sedikit mendengar teriakan dari kontrakan yang berada di sebrang agak jauh dari kontrakan Kian saat ini, begitu riuh tak lupa juga dengan sorakan yang seperti baru saja mendapat sebuah piala kemenangan. Namun ia tak memperdulikan itu sama sekali. Ia hanya ingin mencari Kian dan Kian.
"Lo bisa cari itu nanti!!" Nari sudah menutup wajah dengan kedua telapak tangannya, bahkan baskom yang berisi baju yang ada di tangannya tadi langsung terlepas begitu saja. Untung saja tak menimpa kakinya.
"Kenapa kak?!" Bingungnya.
"Lo nanya gue kenapa? Mending sekarang lo masuk dan pake baju lo. Lo tau kan disini tuh asramanya perempuan!! Lo bisa masuk ke sini sebab lo punya akses sama Bu Eti. Tapi lo!!!" Nari sedikit tercekak dan tak bisa melanjutkan ucapannya.
Ucap Nari membuat Devan langsung melihat tubuhnya. Menatapnya dan ternyata sekarang tubuhnya polos tanpa baju hanya mengenakan sepan panjang, membuat ia juga tampak terkejut setengah mati. Dan dengan segera ia langsung menutup dadanya dan kembali masuk ke dalam rumah Kian untuk mengambil bajunya. Dan kembali lagi keluar.
"Kak, maaf gue gak tau sama sekali." Ucapnya dengan wajah khas orang bangun tidur. Rambut berantakan, ditambah wajahnya begitu sembab.
Nari membuka telapak tangannya dengan perlahan. Memandang tajam ke arah Devan.
"Lo abis ngapain semalem he? Mana di kontrakan Kian lagi. Wah pantes aja Kian cemberut dan sembab banget wajahnya tadi pagi." Celoteh Nari menatap tajam Devan.
"Tadi pagi? Loh ini kan masih pagi kak."
"Lo gak cuci muka terus liat jam gitu?!" Tanya Nari setengah berteriak, namun Devan hanya diam, "Ini tuh hampir tengah hari Devan. Dan Kian juga sekarang ada di sekolah." Lanjutnya.
Ia diam sejenak mencerna kalimat kalimat yang dilontarkan oleh Nari. Semalam? Wajah Kian cemberut dan sembab? Lalu keadaanya pagi ini? 'Akhhh!!! Gak mungkin!!' Tapi tidak mungkin juga untuk berfikir positif dalam keadaan yang seperti ini. Tapi... Ia merasa benar-benar tak melakukannya. Namun kenyataan...
Tanpa pikir panjang ia langsung buru buru melangkah keluar teras itu tanpa alas kaki dan tentu saja dengan gaya urakan itu.
"Akhh!!" Tiba tiba kepalanya menjadi terasa begitu pusing, padahal baru beberapa langkah di bawah sinar matahari.
Dengan sigap Nari langsung membantunya, memapah Devan untuk duduk kembali ke kursi panjang yang ada di teras.
"Lo mau kemana ha? Jangan bilang mau nyusul Kian! Gila lo Van. Mending lo tunggu aja Kian di rumah. Lagian dia tadi juga udah titip pesen ke gue. Kalo lo bangun lo harus makan terus minum obat. Dia udah sediain semuanya di meja. Lo mau makan kan?" Tanya Nari beserta rocosannya.
"Gue gak laper kak. Gue cuma mau ketemu Kian. Gue mau jelasin semua ini. Ini pasti salah paham kan?" Yakinnya.
Devan nampak berfikir, "Jadi maksudnya kak..?"
Nari mengedikkan bahunya, "Lo pikir aja Van. Gue rasa otak lo udah nyambung lah. Apalagi sama keadan lo yang...." Nari menggantung kalimatnya, melihat Devan dari atas sampai bawah.
Wajah Devan terlihat begitu pucat, ntah itu karena ia memang sedang sakit atau karena memikirkan suatu kemungkinan, yang sangat ia benci. "Astaga... Arghhh!!" Kesal Devan. Bagaiaman bisa hal ini terjadi padanya, apalagi sampai melibatkan Kian. Bahkan hal ini adalah hal yang paling ia benci, namun tanpa di disadarinya ia juga sudah melakukan hal itu. Beberapa kali ia memukul kepalanya sendiri. Namun langsung ditahan Nari, agar ia tak lagi menyakiti dirinya sendiri.
Devan yang kesal dan merasa bersalah, lalu bangkit dari duduknya, hendak pergi dengan niatan ingin menemui Kian secepatnya. Namun belum apa-apa saja ia malah sudah sempoyongan. Nari pun terpaksa menuntunnya masuk lagi ke dalam. Memapah Devan dengan begitu hati-hati.
Tanpa orang lain sadari, ternyata ada satu pasang mata yang melihat kejadian dari kejauhan. Berdiri tegap bak patung.
Kian POV
Hari ini adalah hari yang begitu mengesalkan, melelahkan benar benar tak nyaman, semua badan gue rasanya sakit. Walau dengan gitu gue juga masih punya tanggung jawab, hn iya... sekolah.
Sepanjang pagi ini gue terus aja menggerutu. Menggerutu tentang Devan yang sakit. Tapi gue juga ikut kena imbasnya. Hm.. Tapi harusnya gue gak gitu juga kali ya, dia aja banyak bantu gue.
Seketika bayangan semalam kembali melayang di otak gue. Gue pastiin kalo dia bakal ngerasa sakit banget pagi ini. Mungkin aja kalo gue ceritain pasti dia bakal marah banget.
Tapi ya udah lah, nasi udah jadi bubur. Mau gimana lagi gue gak tau. Pokoknya pagi ini gue udah masakin dia makanan sama beli obat. Beli obat? Hn, gue pinjem uang dia lagi pagi ini. Tapi itu juga demi dia kok. Sebagai permintaan maaf juga itu.
Jam udah nunjukin pukul 06.30, yang artinya udah harus pergi sekolah jam segini. Gue pengen bangunin dia, cuma wajah dia keliatan capek banget. Gue jadi gak tega bangunin dia.
Gue melangkah keluar, liat kak Nari yang masih sibuk sama para tetangga yang notobane fans Devan. Gue titip sarapan ama dia. Dia pun ngangguk, dia bilang sih kebetulan hari ini dia gak ada jadwal buat kuliah. Jadi bisa bantu gue.
Gue pun langsung cus sekolah. Banyak yang nanya Devan kemana cuma gue bilang dia sakit. Dan gak lupa juga gue udah buat surat sakit atas nama dia, kurang baik apalagi coba gue nya. Tapi inget, gue masih punya banyak hutang ama dia. Belum lagi hutang sama ayah. Jadi mungkin yang gue lakuin sekarang belum apa-apa dari apa yang mereka lakuin selama ini buat gue. Iya gue sadar, gue cuma beban, selain beban keluarga juga beban partner.
Hmm, ngomongin soal orang rumah, jujur gue kangen sama bunda. Huh! Tunggu Kian empat bulan lagi bund, Kian pasti balik kok. Ntah itu dengan pilihan ayah atau pilihan Kian sendiri.
__ADS_1
Hari ini kayak biasa aja sih, cuma Devan aja yang gak ada. Lagi lagi gue buka loker gue, isinya sampah.Yah, tau lah itu ulah siapa, Via and the geng. Jujur gue gak tau salah apa gue sama mereka sampai mereka kayak gitu. Dilabrak lagi? Tentu. Siangnya gue lagi lagi dilabrak ama mereka. Terus ngoceh ngoceh gak jelas, selalu bilang gue perebut kebahagiaan, ketenangan dan apalah itu punya mereka.
Padahal gue juga gak tau bahagia yang kayak gimana yang udah gue rebut dari mereka. Bahkan kalo disuruh milih lebih baik gue minta kebahagiaan berupa kasih sayang dari ayah sama bunda aja udah cukup.Tapi nyatanya itu lumayan sulit. Gak gak!! Gue udah punya kasih sayang itu, cuma mungkin caranya mereka aja yang beda. Kalo boleh minta sih, pengen juga kayak dimanja atau perhatian kecil yang langsung di kasih oleh mereka. Tapi mintanya gue mungkin salah kali ya?
Gue selalu berencana hidup kedepannya untuk gak mau ngerepotin orang lain, tapi nyatanya gue masih lakuin itu. Terlebih lagi Devan, iya gue udah banget banget ngerepotin dia. Gue udah janji sama diri gue, kalo suatu hari nanti dia minta sesuatu dari gue, pasti gue kasih itu. Dia mau bantuan bakal gue bantu, itulah janji gue.
Adegan labrak itu kayak biasa, tampar dan jambak. Gue berusaha buat sabar, namun tiga orang itu kayak mau ngeroyok gue, gue pun langsung pasang ancang-ancang. Ya siapa sih yang mau disakiti gitu! Gue sadar gue emang lemah, tapi gue bakal berusaha.
Gue ngelawan mereka bertiga sendirian, jambak balik dan tendang mereka satu satu. Satu kakinya, satu pahanya dan satu perutnya. Buat mereka merintih kesakitan dan itulah kesempatan gue buat kabur dari gudang. Dikurung dan di kroyok dalem gudang selama setengah jam itu menurut gue sesak banget. Mana penerangannya kurang lagi.
Abis dari gudang gue langsung ke toilet buat bersihin darah di sudut bibir karena tamparan Via dan benerin lagi rambut gue yang udah acak acakan. Gak lupa dua pil yang biasa gue minum.
Abis itu gue ke kelas, kalo nanya masalah Febbry dimana dia kenapa gak sama gue? gue juga gak tau. Paling di kelas Ips, yah maklumi aja lah ya, orang yang baru jatuh cinta dan pdkt pasti perlu waktulah. Gue gak terlalu pusingin itu. Dia berhak juga buat nikmati hidup, tanpa selalu jagain gue. Iya kan?? Gue gak mau jadi beban dia.
Hari ini pulang lebih awal, soalnya dua mapel terakhir waktunya di pake guru buat rapat dadakan lagi. Jadi gue langsung pulang aja. Pengen liat keadaan Devan gimana? Dia udah baikkan apa belum? Udah makan atau belum, banyak deh.
Gue langsung jalan cepet, ke dalem gang. Dan saat gue udah sampai di depan lingkungan kontrakan itu gue liat Devan sama kak Nari. Ntah kenapa nih kaki gue langsung berhenti aja gitu. Padahal gak gue suruh.
Gue perhatiin mereka dari jauh, dia deket banget sama kak Nari dan gak ngerasa risih. Kalo diliat liat sih mereka berdua cocok. Kak Nari orangnya dewasa dan Devan mandiri walaupun kadang juga lemot. Sama-sama ganteng dan cantik. Apalagi yang gak buat mereka cocok?
Gue pun melangkah jauh dari sana. Putar balik tapi gak tau kemana. Nih otak kalut sama adegan tadi, hati gue jadi gak enak. Tapi gue gak tau kenapa? Suka ya? Gak ah gue rasa gak mungkin. Sadar diri aja, gue kan cuma partner dia. Ngapain punya pikiran lebih. Gak tau malu banget ya gue nya, hehe.
Hingga gue jalan setengah gang gue pun berhenti. Pertanyaan besarnya, kenapa gue lari? Harusnya Gue tetep pulang aja kan ya? Gak mungkin juga gue harus pergi kerja dengan baju ini? Ini baju sekolah gue satu satunya. Gue gak mau kotor atau rusak nanti.
Gue pun akhirnya mutusin buat balik lagi jalan ke kontrakan gue. Aneh? Iya gue tau gue aneh. Tapi gue gak tau kenapa? Kalo ada yang tau kasih tau gue sekarang, sebelum terlambat. Capek? Lumayan lah jalan bolak balik kontrakan mana gak jelas tujuan lagi, huh!!
Author POV
Kian berjalan ke arah kontrakannya dengan hati bimbang. Ntah kenapa, ia pun tak tau. Tapi yang jelas sekarang dia hanya ingin pulang, dan segera berganti pakaian.
"Assalamualaikum." Ucapnya ketika sudah sampai depan pintu kontrakannya. Sontak dua orang yang ada di meja makan di ruang tamu itu langsung melihat ke arahnya.
"Waalaikumsalam" Serta mereka berdua.
"Ya udah Van, udah ada Kian. Gue balik dulu. Dan lo Ki, jangan lupa makan ya." Ucap Nari menepuk bahu Kian, yang kemudian dibalas anggukan dan senyuman oleh Kian.
"Ki.." Devan sedikit canggung.
"Gimana keadaan lo Van? Udah ngerasa baikkan atau belum? Atau lo mau dianterin ke rumah sakit? Oh ya, lo udah makan sama minum obat kan? Em.. maaf ya gue beli obatnya pake duit lo lagi, hehehe. Nanti masukin aja ke surat tagihan oke." Ucap Kian tanpa henti.
"Gue udah baikkan kok. Thanks."
"Iya santai aja. Em, lo gak mau pulang? Atau lo mau nginep di sini lagi?" Wajah Kian sedikit terkesan julid.
"Gue pulang kok. Tapi soal semalem, gue minta maaf. Gue bener-bener gak sengaja."
"Santai aja." Kian melihat piring di meja sudah bersih yang artinya memang Devan sudah makan. "Oh ya, lo mau gue anterin pulang?"
"Gak. Gue bisa pulang sendiri."
"Oh gitu. Oke deh, hati hati." Cuek Kian yang hendak masuk ke kamar, namun tangannya malah di cekal oleh Devan....
"Ki, sebenarnya gue..."
.
.
.
.
__ADS_1
.
tbc