
Mata Kian membulat sempurna saat Devan sudah menggenggam gitar. Bukannya takut si laki-laki malah bertepuk tangan karna kesenangan.
"Van, lo ngapain? Balikin gitarnya!"
"Kenapa? Lo takut gitarnya gue rusakin? Atau lo malah seneng denger dia nyanyi dari pada gue?" Tanya Devan yang membolak balikkan gitar yang ada ditangannya.
"Gak! Itu gitar buat cari uang, jangan di rusakin. Sayang gitar orang itu, Devan." Cegah Kian.
"Dia yang ngasih gue kok. Lagian yang dari tadi maksa kan dia bukan gue." Enteng Devan dengan sorot mata yang berbeda.
"Tapi Van..." Kian hendak merebut gitar yang ada di pangkuan Devan saat ini, namun tangan Kian langsung di tepis oleh Devan.
Plak
"Diem! Pegang!!" Devan memberikan buket bunga yang tadinya ia pegang, pada Kian sementara ia memegang gitar hendak bermain dengan alat itu. Wajah Kian nampak cemas, Ia takut kalau Devan tak bisa bermain dan hanya bisa merusak saja.
Devan yang awalnya duduk di samping Kian menghadap kearah dua orang itu, kini berpindah haluan menghadap Kian. Duduk bersila dengan memangku gitar.
"Kalo gue bisa nyanyi, lo harus turutin permintaan gue." Ucapnya dengan memandang Kian sekilas.
Kian memandang Devan dengan terheran, bagaimana bisa Devan mengatakan hal itu? Itu sama saja ia berhutang. Ia berhutang lagi hanya Karna Devan bisa bermain gitar? Padahal ia tak meminta untuk Devan bermain dan bernyanyi, lalu kenapa dia harus melakukan sesuatu nantinya? Baru ia ingin menjawab Devan sudah lebih dulu membunyikan senar-senar gitar. Membuat dua bibir itu kembali mengatup.
Jreng....
Senar gitar mulai di petik oleh Devan. Wajahnya tampak fokus pada gitar dan bergantian menatap Kian yang ada di depannya.
Kau begitu sempurna, dimata ku kau begitu indah
Kau membuat diri ku, akan s'lalu memuja mu
Dua lirik pertama membuat dua orang itu bertepuk tangan meriah dan terpukau. Sedangkan Kian hanya menatap wajah Devan dengan tak percaya. Ia tak menyangka jika Devan bisa bernyanyi dengan suara yang sangat bagus, yang ia tau Devan hanya sering diam dan memerintah.
Disetiap langkah ku, ku 'kan s'lalu memikirkan, diri mu
Tak bisa ku bayangkan hidup ku tanpa cinta mu
Janganlah kau tinggalkan diri ku
Tak 'kan mampu menghadapi semua
Hanya bersama mu ku akan bisa
Kau adalah darah ku
Kau adalah jantung ku
Kau adalah hidup ku, lengkapi diri ku
Oh sayangku kau begitu
Sempurna, sempurna
Lagu yang berjudul Sempurna by Andra and The Backbone, yang dibawakan oleh Devan sukses menarik perhatian hampir seluruh pengunjung taman. Bahkan mereka berkerumun mengelilingi Kian dan Devan.
Jari-jari Devan yang begitu lentik menari di antara senar-senar itu, di tambah lagi dengan suaranya yang begitu sangat merdu membuat Kian hanya diam memperhatikan.
Terbesit di pikirannya mengenai makna lirik lagu itu. Lagu yang begitu manis menurutnya bahkan begitu dalam, membuatnya terlena dan hampir meneteskan air mata. Di tambah lagi dengan Devan yang selalu menatap dirinya, membuatnya seperti merasakan sesuatu tapi sulit untuk di jelaskan. Andai suatu hari ada seseorang yang bahkan tak ingin kehilangan dirinya bisa menyanyikan itu juga untuk dirinya, mungkin ia akan merasakan kebahagiaan yang tak pernah terlukis sebelumnya. Seseorang yang hadir, tanpa menyakiti dirinya. Pikir Kian yang melalang buana.
Disepanjang lagu Devan bernyanyi, ia selalu menatap Kian. Menatap manik mata Kian yang terlihat begitu cantik menurutnya. Mata yang berbeda dari yang lain, mata grey yang jarang dimiliki orang lain. Menampakkan kepolosan yang tak berujung.
Hingga lagu itu selesai semuanya bertepuk tangan begitu meriah, seperti baru saja melihat seorang penyanyi papan atas bernyanyi.
Devan tersenyum licik disana, ntah apalagi yang ia pikirkan Kian pun tak tau. Sampai seseorang memecahkan atmosfer yang ada diantara Kian dan Devan.
"Suara kakak bagus. Kakak baru aja ngelamar kakak cantik ya?"
Kian memejamkan matanya sebentar, berfikir tenang diantara kerumunan yang ada. Bagaimana bisa dalam satu hari ia harus mengalami hal ini? Baru saja mereka mengatakan akan menembak, dan sekarang melamar. Membuat Kian frustasi di buatnya.
"Kakak penyanyi ya?" Tanya seorang remaja menghampiri
"Ayo nyanyi lagi..." Seru yang lainnya
"Cowoknya romantis banget sih!! Ih kalo gak jadian, gue bakal tikung nih!"
"Iya, mana ganteng lagi coy!!"
"Waw... kata perempuan ini kau tidak bisa bernyanyi, tapi nyatanya sangat handal. Jika kau ingin bergabung untuk bekerja di sini maka kau akan langsung di terima." Seorang perempuan yang sedang memegang gitar tersenyum manis pada Devan
"Tidak, terima kasih." Devan kembali cuek, bahkan beberapa pertanyaan yang terlontar untuk dirinya tak ia jawab sama sekali.
Setelah mengembalikan gitar, Devan menggenggam dan menarik tangan Kian untuk keluar dari kerumunan yang begitu pengap menurutnya.
"Van, kita mau kemana? Kita masih harus nunggu cewek lo kan?" Tanya Kian di sela itu
"Gak!! Kita pulang!"
"Tapi kan...."
"Pulang Kian!! Lo liat udah jam berapa nih!" Devan memperlihatkan jam tangan hitamnya pada Kian, ternyata sudah pukul 5:30 sore.
"Berarti cewek lo gak dateng dong? Btw, suara lo bagus tadi. Harusnya cewek lo liat pas lo nyanyi lagu itu. Gue yakin dia pasti langsung seneng." Ucap Kian semangat, namun malah mendapat liriknya tajam dari Devan
"Kalo lo?"
"Gu..gue? Biasa aja sih. Soalnya lo yang nyanyi, jadi biasa aja, walaupun suara lo bagus. Iya... gitu." Kian sedikit gugup menjawab pertanyaan itu, walaupun kenyataannya hatinya tak berkata biasa saja. "Oh ya, ini bunganya. Terus lo mau minta apa dari gue? Kalo bayar hutang nanti ya, kalo gue udah di kasih gaji sama kak Arya."
"Bunga nya ambil aja buat lo. Simpen dan jaga aja." Dingin Devan.
__ADS_1
"Em, itu udah sama permintaan apa belum Van?" Ragu Kian.
"Hn, lo bisa anggap gitu."
"Oh oke deh." Mereka hendak berjalan, tapi Devan berhenti begitu saja. Membuat Kian memandangnya aneh. "Kenapa Van? Ada yang ketinggalan?"
Devan menoleh ke arah Kian yang tingginya hanya sebatas bahu itu, "Gue boleh minta satu permintaan lagi?" Tanya nya serius, membuat Kian khawatir.
"Ee.. ee.. apa?"
"Bisa lo lupain masalah apapun selama satu minggu ini? Apapun itu. Gue ngajak lo ke sini buat refreshing, bukan ingetin lo sama masa lalu lo. Lupain semua masalah dan fokus aja ke ujian lo." Dengan ragu Kian mengangguk, ntah lah ditatap Devan seperti itu membuat Kian sedikit canggung dan tak bisa berfikir.
Drrrrtttttt..... Drrrrrttttttt......
Ponsel Devan bergetar, namun tak digubris sama sekali oleh dirinya. Bahkan membiarkan beberapa kali ponsel itu bergetar tanpa henti.
"Van, hp lo bunyi. Mending di jawab dulu." Ucap Kian yang di turuti Devan. Setelah melihat nama di layar ponsel, Devan kembali berubah pikiran bahkan langsung menyimpan ponsel itu lagi.
"Cewek lo ya? Kan gue udah bilang kita tunggu aja sampai dia dateng. Sekarang mending lo masuk lagi ke dalem. Gue biar pulang sendiri aja." Kian melepaskan genggaman tangan Devan. Tapi tak di biarkan oleh Devan.
"Bukan."
Kian berhenti memberontak melepaskan tangan itu, "Terus?"
"Sarah!"
"Jawab Devan! Jangan lo cuekin. Bisa aja dia nelpon karena ada yang penting."
"Gak ada yang penting menyangkut dia."
"Pasti ada. Jawab dulu!" Kian memberontak hendak merogoh ponsel yang ada di saku switer Devan.
Dengan terpaksa Devan pun menjawabnya.
"Hn!"
"........."
Tut. Sambungan telpon terputus. Tampak ada guratan cemas di wajah itu namun ditahan, berusaha menyembunyikan apa yang ia rasakan.
"Kenapa Van?" Kian semakin penasaran
"Ayo pulang."
"Gak bisa. Itu kenapa dulu? Sarah baik-baik aja kan?"
"Ngapain lo peduli?!"
"Terus kenapa Van?"
"Om Daren kenapa Van? Gue ikut lo ke rumah sakit ya."
"Gak! Lo harus pulang. Gue anter."
"Gak mau! Gue mau liat keadaan om Daren."
"Besok ujian. Istirahat!"
"Tapi Van???!!"
"Gue bilang pulang, ya pulang." Tegas Devan yang tak bisa dibantah Kian, apalagi setelah melihat mata hitam itu.
"Oke oke, gue bakal pulang. Tapi lo langsung aja ke rumah sakit. Gue bisa pulang sendiri. Gue yakin Om Daren pasti butuh banget lo sekarang."
Devan mengetik sesuatu di ponselnya. Ntah pesan untuk siapa itu Kian pun tak tau.
Sepuluh menit berlalu, sebuah taksi berhenti di depan Devan dan Kian. "Masuk. Langsung pulang. Dan ini simpen buat lo." Devan memberikan uang pada Kian dan sopir taksi itu. Devan juga berbicara sesuatu pada sang sopir.
"Van, lo??"
"Gue bakal naik taksi yang lain. Arah jalan kita beda. Inget langsung pulang gak usah kemana-mana." Pesan Devan di depan kaca jendela taksi. Kian menganggukkan kepalanya.
___________
Jalanan begitu sepi, ntah mungkin karena gerimis melanda sore menyambut malam ini, hingga tak ada yang lewat. Sesekali Kian melirik sepion depan, melihat sang sopir. Namun tak ada yang tampak mencurigakan.
Mungkin karena memikirkan Daren, Kian menjadi terbawa suasana. Kecemasan menyelimuti dirinya. Cemas karena Daren dan tentu ada yang menyempil perasaan untuk Devan juga.
"Pak berhenti!!" Kian membuat sang sopir sedikit terkejut dan terburu buru mengerem mobilnya.
"Ada apa? Apa perlu sesuatu?" Sigapnya.
Klak
Pintu taksi terbuka, Kian bergegas berlari ke arah suatu lorong di antara dua ruko yang sudah tutup. Lorong yang sudah mereka lewati sebelumnya, dan tanpa sengaja Kian melihat sesuatu di sana.
"Hey kalian!! Jauhin dia atau gue bakal telpon polisi ke sini!!!" Jerit Kian membuat beberapa orang yang membawa kayu itu langsung berhenti mengerjakan aktifitasnya.
Memandang Kian dengan tatapan menyalang, namun nomor darurat itu sudah tercantum di layar ponsel Kian dengan lebarnya, bahkan sudah tersambung. Hingga mereka lari pontang panting.
Yah, saat taksi yang dinaiki Kian melaju, ia tak sengaja melihat kerumunan orang yang berada di dalam lorong antara dua ruko. Membawa kayu, dan seperti mengeroyok seseorang.
Kian yang tak tega, langsung memberhentikan taksinya dan berlari ke arah kerumunan itu. Ntah apa yang terjadi, Kian pun tak tau. Yang ia tau hanya rasa ingin menolong.
Kian berjongkok di depan seseorang yang wajahnya sudah babak belur itu, berdarah dan lebam. Setengah duduk dan menyandar di dinding ruko, bahkan terkulai lemas.
"Hey!! Sadar!!" Kian menepuk nepuk pipi itu berharap seseorang yang berada di bawah kegelapan saat ini bisa sadar, dan mengatakan alamatnya agar ia bisa mengantarnya.
__ADS_1
"Ngh!!" Mata yang tadinya terpejam mulai terbuka. Memandang Kian yang berada di depannya dengan samar-samar.
Berapa terkejutnya Kian, setelah laki-laki itu membuka mata dan dapat pencahayaan remang-remang, ia bisa melihat sesosok di depannya saat ini. "Lo....., Refan kan?! Iya lo Refan yang songong itu!" Tunjuk Kian padanya, Kian benar-benar tak menyangka jika itu adalah Refan, musuh bebuyutan Devan.
"Cuih" Ia meludah kan darah ke lantai, "Lo?! yang mau mati waktu itu kan? Haha.. Ngapain lo hn?!" Ia berusaha bangkit namun begitu susah, Kian dengan terpaksa membantunya bahkan membopongnya keluar dari wikayah setengah gelap itu.
"Lo mau diantar ke rumah sakit?" Tanya Kian sedikit cemas.
"Gak makasih! Gue bisa pulang sendiri."
"Dalam keadaan kayak gini? Mending lo kasih tau aja alamat rumah lo, gue yang akan anter pake taksi. Lagian gue gak liat ada kendaraan di sini." Kian celingak celinguk mencari sesuatu.
Refan yang memeluk pinggangnya yang terasa begitu sakit, melepaskan rangkulan Kian. Menghempaskan tangan itu. "Gue bisa pulang sendiri!" Dengan tertatih Refan melangkah, namun baru beberapa langkah ia sudah ambruk ke tanah.
"Gue bisa pulang sendiri!!" Ucap Kian meniru Refan yang berucap beberapa detik lalu. "Bisa apanya? Jalan aja masih letoy. Pak... Tolongin saya ini." Teriaknya.
Dengan bantuan sang sopir, akhirnya Refan bisa duduk dengan lega di dalam mobil taksi. Dalam keadaan setengah basah dan kesakitan.
"Pak, anter kita ke rumah sakit ya."
"Gak!" Cegah Refan dengan sisa tenaganya.
"Lo??!!!!" Kian yang kesal hanya diam, tanpa ingin membuka suara lagi. Tak mau jika hal itu hanya bisa menambah panjang perdebatan. Mobil taksi itu pun langsung melaju, hiingga sampai di market yang masih buka, Kian turun.
Tak
Tak
Seseorang menyusul di belakangnya dengan langkah yang gontai. "Lo ngapain ikut keluar? Udah tau gerimis bisa tambah sakit."
"Gue cuma mau beli antiseptik."
"Hm, gue kira jagoan gak perlu itu."
Kian membeli perlengkapan luka dengan ukuran kecil. Lalu memberikannya pada Refan yang masih duduk di kursi tunggu. Dengan susah payah ia melakukannya sendiri. Melihat hal itu membuat Kian sedikit gemas, dan langsung merebut kapas serta antiseptik.
"Shh!! Pelan-pelan oneng." Rintihnya.
"Gue pikir lo gak tau rasa sakit." Remeh Kian dengan tersenyum miring. "Lagian gue rasa ini bukan kali pertamanya lo berantem. Lo paling seneng tuh kalo berantem. Anak mana lagi yang berantem sama lo?"
"Dia anak sekolah sebelah. Biasa dendam kesumat banget sama sekolah gue. Gak terima karena kalah tadi siang, malah sekarang ngeroyok gue sendiri."
"Ya iyalah. Lo nya aja sombong banget."
"Gue sombong apa emang? Lagian cuma berantem doang. Gak usah lebay."
"Oh iya ya. Lo kan cowok berandalan yang selalu ngajak orang berantem dan menghina dengan sesukanya."
"Akhh!!" Jeritnya saat Kian menekan kuat lukanya, "Lo bisa pelan sedikit gak sih!!"
"Gak, buat manusia kayak lo! Lemot banget!"
"Gue gak lemot ya!! Lo liat aja tadi enam banding satu, ya pasti kalah lah gue." Kesalnya.
"Lo ngelawan Devan aja kalah ya, apalagi sampe enam orang gitu."
"Stop sebut nama manusia itu!!"
"Kenapa? Lo punya masalah apa sih sama Devan? Segitu bencinya, terus gue juga denger kalo lo sering musuhin dia, kenapa?"
"Heh, Devan gak pernah cerita apa-apa sama lo? Gue kira lo spesial buat dia, tapi ternyata gak. Masa pacarnya sendiri gak di kasih tau." Senyum smirk dan nada remeh itu keluar begitu saja.
Kian berhenti, lalu memandang Refan dengan seksama, "Perlu lo tau ya, anak konglomerat, gue bukan pacar Devan! Kita cuma temen satu kelas." Ucap Kian dengan penekanan.
"Oh ya? Kalo lo bukan pacar Devan, kenapa dia ngasih lo bunga? Apa cuma karena kasian atau pelampiasan doang?" Tanya nya terjeda, melihat wajah Kian yang mimiknya sedikit berubah. "Lo tau kan tuh anak paling banyak di sukai cewek-cewek. Gue gak tau apa lebih nya si cupu itu, sampe mereka suka. Tapi yang gue tau, dia paling deket sama lo. Tapi kalo dilihat lagi, lo gak begitu spesial, dan gue gak bisa manfaatin lo buat jatuhin dia. Kasian banget ya lo, cuma bahan pelampiasan dia doang."
"Devan bukan orang yang suka manfaatin orang lain kayak lo!" Ketusnya, walaupun di dalam hatinya tau jika yang dikatakan oleh Refan benar. Ia memang tak sespesial itu.
"Kalo gak manfaatin terus apa dong? Lo bukan pacarnya, tapi dia bertingkah seolah lo spesial, selalu ada buat lo, bahagiain lo, tapi gak ada kejelasan hubungan. So itu apa?"
Kian menarik nafas dalam berusaha untuk sabar, "Yang pertama Devan itu baik. Jadi kalo dia nolongin orang lain itu wajar aja. Yang kedua dia bukan elo, bahkan jauh banget dari sifat lo itu. Yang ketiga, Devan udah punya pacar. Jadi lo gak perlu ngehasut hasut gue. Punya mulut kok kayak perempuan, cih!! Kalo lo udah selesai, lo bisa pulang!" Kian bangkit dari duduknya, mengambil keranjang dan membeli beberapa perlengkapan yang memang sudah habis di rumahnya.
"Gak baik selalu makan mie instan. Lo harus makan sayuran dan daging segar." Celetuk seseorang yang kini berada di sampingnya.
"Lo ngapain di sini? Bukannya pulang juga, udah gue usir."
Tak menggubris apa yang dikatakan Kian, ia malah menarik tangan Kian menuju rak rak sayuran. Kian meronta melepaskan tangan itu, "Lepasin tangan gue! Atau gue teriak nih!!" Ntah kenapa rasanya ia benar benar tak suka dengan perbuatan Refan, berbeda dengan Devan.
Refan melepaskan tangan itu, dan lanjut memasukkan beberapa barang ke keranjang Kian. Saat ia sibuk, tanpa sengaja Kian memperhatikan dua dari samping. "Kok dia agak mirip Devan ya kalo dari samping?"
"Gue tau gue ganteng. Tapi gak usah gitu juga liatnya." Sindirnya yang masih sibuk dengan apa yang ia kerjakan. Kian langsung memalingkan wajahnya ke sembarang arah. "KePDan banget lo!"
Setelah lama, ia kembali menoleh ke arah Refan. Namun betapa terkejutnya ia kalau Refan berada tepat di depan wajahnya, bahkan hanya menyisakan setengah jengkal saja.
"Mau lo berarti atau gak buat Devan, lo bakal tetep jadi milik gue." Bisik Refan tepat di telinga Kian.
.
.
.
.
.
tbc
__ADS_1