Menggenggammu Yang Hanya Sementara (Revisi)

Menggenggammu Yang Hanya Sementara (Revisi)
#41


__ADS_3

Kian menoleh sekilas pada Devan dan Gio, dan diketahui oleh Devan. Devan bahkan yakin jika Kian tau soal ini.


"Kak.... jawab Gio" rengeknya.


"Emm....itu. Dia bukan papa kita."


"Lalu kenapa dia selalu memanggil kakak sebagai anaknya? dan dia juga kenal dengan mama?"


"Huh..... Dia hanya mengenal kakak dan menganggap kakak anaknya. Sama seperti kak kian yang selalu memanggil mama kita dengan sebutan mama."


"Ohh begitu. Lalu siapa perempuan yang selalu ada di sampainya itu?"


'Benar juga. Apa hubungannya sarah dan om Daren? jika dilihat dan di dengar sarah dan om Daren adalah anak dan ayah. Apa iya om Daren menikah lagi? Lalu kenapa ia malah meninggalkan mama Gio waktu itu? Ia juga harusnya bertanggung jawab sebab hal itu.'


"Nah, dia lah anak kandung orang tersebut. Sama seperti kita berdua yang memang anak mama."


'Kakak tidak akan mau menyerahkanmu pada manusia yang tak bertanggung jawab itu. Bahkan ia tak pantas di sebut orang tua. Jika suatu hari kamu tau, kakak yakin kamu juga akan membenci manusia seperti itu.'


"Hmm... Gio pikir dia papa kita. Setidaknya Gio masih punya papa untuk saat ini. Ternyata tidak ya. Sekarang Gio benar benar tak memiliki orang tua." ucapnya dengan suara yang sedikit bergetar.


"Hey.... kenapa kamu bicara seperti itu hn? Apa kamu juga tak menganggap kakak? Kakak bisa jadi orang tua mu." Devan yang coba menghibur.


Gio menatap lekat wajah Devan.


"Benar juga. Gio punya kakak Kavin sebagai papa dan kakak kian sebagai mama Gio" ucapnya dengan senyum bahagia lalu menatap kian.


"Uhhuk..." Kian yang tiba tiba tersedak karena ucapan Gio yang selalu saja membuatnya syok. Kian melihat ke arah Gio dengan senyumnya.


"Lho Gi. Emang punya papa aja gak cukup?"


"Kalo bisa dua kenapa harus satu?" tanya nya dengan polos. Yang membuat Kian hanya cengengesan tak jelas. Ntah kenapa anak kecil itu selalu melontarkan kalimat yang luar biasa di usianya yang seperti sekarang ini.

__ADS_1


_____________


Pagi menjelang, Kian seperti biasa. Melakukan ritual mandi, mempersiapkan diri, sarapan dan segera berangkat ke sekolah. Beberapa hari lalu ia meliburkan diri sibuk dengan pemakaman almarhumah Zanna. Bahkan ia juga tak izin pada gurunya. Ntah apa yang akan terjadi saat kedua orang tuanya tau, beberapa hari itu tercantum di rapornya nanti dengan tanpa keterangan. Maka kian harus siap siap untuk menerima hukumannya.


Ia menunggu bus yang biasa ia tumpangi ke sekolah. Sambil menunggu ia membuka ponselnya untuk melihat ada pesan atau tidak, atau bahkan sekedar melihat story temannya. Kian yang memang jarang membuka whatsapp, menggunakan itu hanya jika ada keperluan saja. Lagi lagi dilihatnya pesan dari orang tuanya kosong. Tak pernah ada pesan yang spesial di sana. Bahkan hanya sekedar menanyakan keadaan dan kabar dirinya.


'Sesibuk itukah kalian, sampai lupa dengan anak sendiri.'


Tak lama bus yang ia tunggu pun datang. Ia segera masuk dan menduduki bangku kosong yang ada dibagian paling belakang. Tak mau pusing memikirkan hal sebelumnya ia memilih untuk memasang earphone nya, melepaskan kuncir rambut untuk menutupi earphone itu. Ia mulai menyetel lagu yang ada di playlistnya.


Brukh..


Seseorang duduk di sampingnya. Kian menoleh sekilas, tampak orang tersebut begitu cuek dan memandang ke depan. Namun kian merasa begitu tak asing dengan orang tersebut hingga membuatnya menoleh lagi di detik selanjutnya. Kian merasa sedikit terkejut dengan kehadirannya.


Karena merasa dipandangi, orang tersebut menoleh ke samping. Menatap kian dengan sebelah alis terangkat. Seakan bertanya ada yang salah dengan dirinya yang duduk di samping kian. Seketika kian langsung menghadap depan kembali dan begitu pun dengan dia.


'Bagaimana ia bisa disini? Kenapa dia naik bus? Kenapa tidak mengendarai motornya saja, seperti biasa?'


Kian tersadar dan menoleh ke belakang, tatapan kembali bertemu membuat si mpu kesal. Lalu ia menarik tangan kian agar keluar sebab bus hendak melaju lagi.


"Kurangi kebiasaan sibuk sendiri, bahaya." Ujarnya dengan ketus lalu melepaskan genggamannya meninggalkan kian di depan pintu gerbang sekolah.


Kian hanya menatap malas punggung orang tersebut. Menyimpan kembali earphone dan ponselnya. Serta menguncir kembali rambutnya yang sempat ia gerai tadi.


"KIANNN....akhirnya Lo masuk juga. Kangen gw, dari mana aja sih lo. Sampe alpa beberapa hari." ucap febbry memeluk Kian dari samping ketika sampai di kelas.


Kian menoyor kepala febbry dan melepaskan pelukannya.


"Aelah, gak usah lebai lo feb. Baru berapa hari belum selamanya."


"Heh!! ngomong apa lo barusan. Gak usah ngomong gitu deh. Emang dari mana sih lo sampai gak sekolah. Awas lo ntar nilainya di kurangi gak dapet juara satu lagi nanti."

__ADS_1


Kian menengok ke arah Devan yang sudah duduk di bangkunya, dan ia menatap balik kian. Kian yang tau betul tatapan tak suka itu memilih untuk tidak memberitahukan apa yang terjadi.


"Ohh gw ikut orang tua gw. Mereka ngajak ke rumah nenek soalnya mereka sakit."


"Lho tumben. Terus kenapa gak langsung izin sama wali kelas juga. Terus lagi barengan sama Devan sama Sarah juga."


"Oh ya mereka juga gak sekolah kemarin?"


"Gak."


"Kenapa?"


"Mana gw tau. Wali kelas juga heran kalian hilangnya barengan gitu."


"Hahaha....kebetulan banget ya kan. Paling di panggil nih ntar."


"Bisa jadi sih."


Tak berselang lama, Sarah masuk kelas. Namun ada yang aneh pada dirinya saat ini. Ia bahkan tak menegur sapa baik Febbry maupun Kian. Febbry yang melihatnya langsung menatap Kian. Kian hanya geleng kepala memberitahukan bahwa ia tak tau. Sarah yang sudah duduk di bangkunya lebih memilih untuk menyibukkan diri. Febbry dan sarah pun juga sama menuju bangku masing masing.


Febbry mencoba bicara pada sarah namun tak di gubris oleh dirinya. Bahkan ia tak menoleh sama sekali pada febbry. Febbry yang merasa aneh, kembali menoleh pada Kian. Dan untuknya kian juga melihat kearah mereka berdua. Kian hanya menarik nafas kasar. Kemungkinan besar ia tau kalau sarah marah padanya karena satu hal tentunya.


Jam pelajaran di mulai mereka semua belajar dengan tenang. Untungnya mereka bertiga tak di panggil Wali kelas karena libur mendadak. Membuat kian tak bersusah payah untuk mencari alasan untuk berbohong.


"Van" panggil Kian. Devan menoleh dengan mata tajamnya.


"Hmm... bisa gak sih matanya gak usah gitu." dumel kian. "Gw mau main sama Gio pulang ini boleh?"


"Hn. Tapi di rumah aja. Dan jangan sampai dia ketemu lagi sama manusia itu. Lo tau kan kenapa?!" ucapnya penuh penekanan.


"Ii...iya." ucap Kian.

__ADS_1


'Kalo bukan karna almarhumah mama dan karna Gio juga males banget gw ngomong sama lo Van. Karna gw tau pasti sarah bakal tambah salah paham lagi sama gw.'


__ADS_2