Menggenggammu Yang Hanya Sementara (Revisi)

Menggenggammu Yang Hanya Sementara (Revisi)
#29


__ADS_3

Subuh menjelang, Devan bangun terlebih dahulu. Dimana badannya terasa begitu sakit dan berat. Ia melihat Kian yang bersandar di bahunya masih terlelap dengan nyaman nya. Ntah setan apa yang merasuki Devan, membuat tangan kanan nya bergerak menyingkirkan anak rambut yang menutupi wajah kian, menyelipnya di belakang telinga kian.


Ia sedikit menunduk untuk melihat wajah Kian yang sedang tidur sampai semburat senyum terukir di bibir tipis itu. Sedetik kemudian,


Plakkk...


Ia menampar tangan dan pipinya sendiri karena berbuat seperti itu.


'Astaga....lo apa apaan sih Devan. Gila lo ya. Arghh'


pletak..


Devan menyentil jidat kian, membuat si mpu terbangun dan mengusap usapkan jidatnya.


"Siapa sih" racaunya.


"Bangun lo. Gak niat buat pulang hn?"


"Eh iya ya. Jam berapa emang?"


"Setengah lima. Lo ngapain tidur di sini hm? lo bilang semalem lo cuma liat dari luar."


"Ya sorry. Mama ngigau semalem jadi gw datangi aja. Eh tau nya mama bangun dari tidur. Jadi semalem gw nemenin mama."


"Tapi mama gpp kan?"


"Seperti yang lo liat. Mama baik baik aja." ucap Kian yang masih mengumpulkan separuh nyawanya.


"Hoaaamm ......"


Huppp......


Devan langsung menutup mulut kian.


"Gosok gigi belum, nguap sembarangan. Bau jigong."


"Ye enak aja. Gak ya." bantah kian, namun juga sedikit malu.


Sedangkan Devan berlutut di depan kian membangunkan gio yang ada di pangkuan kian selembut mungkin. Seperti mengusap usap pipinya dan berbisik agar gio bangun tak terkejut.


"Hey.... Gio ayo bangun. Kita harus pulang. Kamu kan mau sekolah."


"Eung... iya kak." ucapnya. Setiap pagi Devan dan Gio akan Seperti itu. Bangun subuh untuk pulang lalu paginya Devan akan kembali ke rumah sakit untuk memberikan sarapan mamanya. Sedangkan untuk siangnya ia biasa meminta suster yang menjaga mamanya selama ia tidak ada.

__ADS_1


Devan menggendong Gio yang masih mengantuk, bahkan itu terjadi di setiap pagi. Karna tubuh Gio yang terlahir begitu kecil dan mungil, sampai ia kelas tiga pun lebih mungil dari anak lainnya membuat Devan dengan mudah menaruhnya di motor depan agar ia tak jauh di saat mengantuk seperti itu.


Kian pun demikian bangun dan bersiap untuk pulang. Saat keluar kamar mereka bertiga bersama sama dengan Devan yang masih mendekap Gio di gendongannya dan kian berada di sampingnya.


"Lo pulang naik apa?" tanya Devan namun tak melihat kearah kian sama sekali.


"Gak tau. Paling mau ojek online aja." cuek kian.


"Jam segini belum ada kali. Bareng gw aja, ntar gw anter."


'Tumben baik. Apa jangan jangan masih ngigo nih manusia.'


"Apa gak ngerepotin?"


"Ngerepotin sih. Tapi ya udah lah, dari pada lo nungguin ojek atau taksi jam segini sih belum ada. Lagian kan lo juga harus sekolah."


"Iya emang. Tapi gak usah deh kalo ngerepotin. Gw bisa nunggu kok." ucap Kian yang hendak berjalan menuju halte yang tak jauh dari rumah sakit. Namun saat di depan rumah sakit, Devan langsung menarik tangannya untuk ikut dia ke parkiran.


Dan akhirnya kian pulang bersama dengan Devan.


Sesampai di rumah Devan menyuruh Gio untuk segera mandi sedangkan ia menyiapkan sarapan. Kian? kian sudah sampai juga di rumahnya. Setelah selesai Ia menyuruh Gio untuk sarapan.


"Gi.... ayo turun sarapan dulu. Gantian kakak sekarang yang mau mandi."


Gio yang turun sudah memakai seragam sekolah beserta tas yang sudah tersandang di pundaknya.


"Loh, kakak gak sarapan?" tanya polos anak itu.


"Kakak ntar aja. Ayo kamu sudah selesaikan makannya? Kita pergi ke sekolah mu sekarang udah jam setengah tujuh nanti kamu terlambat."


"Eummh" Gio menggangguk dan berjalan keluar.


Sesampai di sekolah, Gio langsung menyalami Devan untuk pamit.


"Gio ingat! kalo bukan kakak yang jemput jangan mau. Kakak gak pernah suruh orang buat jemput kamu. Paham?!" tegas Devan


"Ai...ai...Kapten." sambil memberi hormat. Senyum tipis itu muncul di bibir Devan melihat gio yang pergi itu. Gio pun langsung berlari masuk ke dalam pekarangan sekolah. Namun Devan tak akan pergi sebelum melihat Gio benar benar sudah masuk ke kelas. Jika sudah, barulah ia akan pergi.


Devan melajukan motornya ke rumah sakit untuk mengantarkan makan serta pamit pada mamanya. Namun saat ia sampai di sana ia melihat seseorang sudah duduk di kursi samping tempat tidur mamanya.


"Ngapain lo di sini?!!" ucap Devan berjalan masuk.


"Menyuapi mama" Ucap nya yang memang sedang menyuapi Zanna makan. Terlihat wajah Devan yang begitu kesal melihatnya.

__ADS_1


"Kavin... "


"Pagi Ma." ucap Devan yang sudah berada di samping Zanna dan mengecup pipi Zanna. Kian hanya melongo melihatnya. Ia bahkan tak tau jika Devan bisa semanis itu pada seseorang.


"Kamu udah sarapan belum? Ini pagi pagi kian sudah datang kemari. Padahal mama tau semalaman dia tidak pulang dari rumah sakit."


"Belum."


"Ya sudah kita sarapan aja sama sama."


"Gak napsu ma kalo ada dia" melihat kearah kian. Kian memandang jengkel Devan.


Kian menarik nafas dalam dan membuangnya kasar.


"Ma, ini kan mama udah selesai makan. Kian pergi aja." sindirnya sambil membereskan tempat makan Zanna lalu hendak pergi.


"Eh...jangan. Kamu kan belum sarapan Devan juga gitu. Mending kalian sarapan dulu, Devan juga udah bawa makanan tuh." Cegahnya sambil memegang tangan kian. Devan yang melihat hanya menatap malas dan jengkel pada Kian.


"Eh.... Apa apaan. Gak ini tuh buat Devan sama mama. Enak aja."


"Tapi kan mama udah sarapan Devan. Makan terlalu banyak juga gak bagus buat kesehatan mama. Mending kamu ajak kian buat makan bareng dulu sana."


"Ma...." rengek Devan agar Zanna tak memaksa dirinya.


"Syuuut...udah sana makan dulu. Ntar kalian telat sekolahnya."


"Hn" ucap Devan terpaksa.


Sebenarnya kian merasa tak enak hati pada Devan yang sudah membawa makanan untuk mamanya namun di dului oleh dirinya. Ntah kenapa hari ini memang ia mau membawa makanan untuk mamanya lagi pula ia tidak tau jika Devan akan datang lagi membawa makanan untuk mamanya.


Devan memberikan satu tempat makannya pada kian dan satunya lagi untuk dirinya. Mereka berdua duduk di sofa panjang yang ada di sana dengan jarak yang jauh. Kian di ujung kiri dan Devan ada di ujung kanan. Tak ada yang berbicara di sana bahkan mereka fokus dengan makanan mereka. Zanna yang melihat tingkah laku keduanya serasa ingin tertawa.


Padahal ia semalam tak sengaja terbangun dan melihat kedua manusia itu tidur dengan saling menyandarkan kepala. Namun pagi ini terlihat mereka seakan tak kenal satu sama lain. Senyum terlukis di bibir Zanna melihat tingkah lucu Devan dan kian. Ntah kenapa ia merasa sangat bahagia dengan keduanya.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


"Bahkan dari suatu hal yang tidak sengaja bisa menjadi pertanda dia adalah seseorang yang ditakdirkan"


__ADS_2