
"Woy!!!" Teriak Devan tak terima
Dilihatnya Kian dan Mikko sedang berboncengan bersama dengan sepeda lala biru itu. Ia menautkan kedua alisnya bertanya tanya dengan dirinya sendiri,
'Jika kutu buku bersepeda bersama ..... Lalu??'
Devan menoleh ke belakang dan,
"Lo siapa? Turun gak!!!" pekik nya
'Awas aja lo kutu buku'
Setelah bersepeda, Gio langsung menarik Kian menuju antrean di bianglala yang begitu besar yang bahkan dengan menaikinya bisa melihat seisi kota dari ketinggian. Kian melihat papan yang ada di sampingnya, tertulis tinggi bianglala itu mencapai seratus meter membuat dia sedikit tercekak.
Kian menatap lamat lamat bianglala itu melihatnya hingga mendongak keatas, seperti sedang berfikir.
"Ayo kak Kian...." Suara Gio mengeras, yang ucapannya seperti sedari tadi tidak di indahkan oleh Kian.
"Aa... Kenapa" Kian tersadar dari lamunannya sebab suara Gio yang mengeras dan mengguncang guncangankan tangannya.
"Ihhh kak Kian, ayo kita naik yang putar putar gede itu." Rengek Gio tak tertahankan
"Aduh... kita naik yang lain aja ya dek. Jangan yang itu, ngeri tinggi banget."
"Ya gak asik ah..."
"Gio, kalo kak Kian gak mau jangan di paksa ya." Ucapnya yang baru datang berjongkok di depan Gio. Bertutur lembut agar anak itu bisa mengerti dan tak terlalu memaksa, dengan mengusap usapkan kepala Gio lembut.
'Bagaimana manusia ini bisa berganti kepribadian seperti itu. Beberapa waktu lalu dia menyebalkan, lalu marah, dan sekarang begitu lembut. Oh Kian kau harus tau yang sedang dihadapinya sekarang adalah malaikatnya bagaimana dia bisa marah?'
Terlihat Gio tak berucap tetap menunduk, sudah pasti jika wajah itu sekarang sedang murung membuat Kian yang melihatnya menjadi tak tega. Walaupun harusnya ia tak melakukan itu, akhirnya Kian mengiyakannya.
Tau lah bagaimana dengan Gio, sungguh anak itu senang bukan main berjingkrak kegirangan. Kian hanya senyum simpul melihatnya, berbeda dengan Devan kini memandangi Kian dengan tatapan aneh.
"Lo ngapain sih maksa diri,bodoh banget. Kalo lo gak mau gak usah." Ucap Devan pada Kian yang kini mereka sedikit jauh dari Mikko dan Gio sebab Devan menariknya.
"Kok lo yang marah? Gw kan bilang gw mau."
"Dari wajah lo aja udah ketara banget lo takut. Mending gak usah, biar gw aja sama Gio."
"Ya kalo Gio mau sih sana." Ucap Kian enteng.
"Dek, naik sama kak Kavin aja ya." Devan sedikit berteriak.
"Gak mau." Menggelengkan kepala
"Noh denger sendirik! wle.." Kian menjulurkan lidahnya.
"Batu banget sih lo!"
"Gw kan lakuin ini buat Gio. Napa lo yang sewot. Yuk ah Gi. Kita naik wahananya." Kian menarik tangan Gio untuk mengantre disana.
"Maaf kak, sesuai ketentuan bahwa satu kapsul isinya dua orang dan tidak boleh lebih." Ucap petugas itu pada Kian, Gio dan tentu saja Devan.
Mikko yang takut ketinggian, tidak bisa naik dan memilih untuk menunggu, duduk di kursi yang tak jauh dari mereka. Karna Gio masih kecil Devan berpikir tidak masalah jika mereka masuk ke dalam satu kapsul. Lagi pula ia tak mungkin membiarkan kedua orang itu naik tanpa dirinya. Ia takut terjadi apa apa.
Namun karna malam ini taman mengadakan event untuk pasangan, maka mengharuskan satu kapsul terisi dua orang saja. Tapi tidak harus dengan laki laki dan perempuan.
"Yah, tapi kan adek saya masih kecil kak. Masa gak bisa?" Paksa Devan
Tapi petugas itu masih kekeh, "Kakak bisa cari teman lain. Orang asing pun tak masalah, asalkan berdua."
"Tapi disini gak ada yang lain." Ucapnya yang memang berada di urutan terakhir. Namun tak lama kemudian ada seorang wanita yang berbadan sangat chubby yang baru saja mengantri. Wanita itu adalah wanita yang di suruh Kian untuk menggantikannya duduk di jok belakang sepeda tadi, yang artinya wanita yang baru saja Devan bonceng.
"Ini kak ada." Tunjuk petugas itu, membuat wanita berbaju dres ungu selutut itu melambaikan tangan dan tersenyum pada Devan.
Bukannya senang Devan malah bergidik ngeri, bagimana tidak jika wanita itu terlihat lebih tua darinya dengan dandanan yang sangat ajaib nan tebal.
__ADS_1
Devan berlari menjauh, mendekati seseorang itu dan menyeret paksa dia untuk naik juga dengannya.
Devan yang tak mau bersama wanita langsung menarik paksa temannya yang duduk santai, "Kak ini pasangan saya buat naik."
"Ihh... Lo ngomong apaan sih, pasangan pasangan lo kira gw h***. Naj*s parah." Ucap nya
Plak...
"Gak usah mikir yang aneh aneh deh lo. Nah!" Devan memberikan satu tiket itu padanya. Membuatnya ternganga tak percaya.
Klak...
Kini pintu kapsul itu sudah tertutup dan terkunci rapat. Membuatnya beringsut menyandarkan tubuhnya dan memegang gerenjang gerenjang besi kapsul dengan kedua tangannya layaknya seorang wanita yang hendak melahirkan.
"Lo kenapa sih Mik? Biasa aja kali. Bianglala doang bukan biang masalah. Inget lo tuh laki! bukan bini. Malu!"
"Tapi masalahnya nih bianglala adalah biang masalah buat gw. Lo sih enak, lah gw? Kenapa lo mau ngajak gw sih, udah tau juga.." Decak Mikko kesal pada Devan.
Kreak...
Bianglala mulai bergerak membuat Mikko tambah frustasi seperti cacing kepanasan.
"Kalo bukan sama lo, terus gw sama siapa? Yang naik harus dua, sedangkan gw gak punya temen. Gak mungkin kan kalo gw biarin aja mereka berdua buat naik. Masa gw naik sama petugasnya? Gila apa?!. Terus mana gw disuruh naik sama tuh cewek." Devan menunjuknya dari atas yang kemudian diikuti oleh Mikko.
Brakh...
"Lah itu kan cewek yang lo bonceng tadi. Wah jodoh kali." Ledeknya dengan membenarkan posisi duduk serta kembali berpegangan dengan kuat.
"Sembarang lo!"
Kini kapsul Kian dan Gio berada di depan kapsul Devan dan Mikko. Dengan begitu Devan dengan mudah bisa mengawasi dua manusia yang begitu berharga baginya.
"Ya kan kita gak tau yang mana jodoh kita. Lagian kalo lo jodoh dia, Kian buat gw ya."
Mata Devan langsung menajam seperti ingin mendorong Mikko dari atas sini.
Sedangkan di kapsul lain ada Kian dan Gio yang sibuk mengobrol. Tentu saja banyak hal yang mereka obrolkan, di samping Kian yang terus berusaha tenang dan menjaga keseimbangan.
"Kak indah ya dari atas sini" Ucap Gio yang melihat keluar gerenjang itu, tak ada guratan ketakutan sedikit pun di wajahnya.
"Kakak tau kenapa Gio pengen banget naik benda raksasa ini?" Tanya nya yang membuat Kian mengerinyitkan dahi.
"Karna kamu senang?"
"E e em.. salah." Sambil menggeleng
"Lalu?"
"Biar lebih deket liat mama."
Kian tercekak mendengar kalimat itu, ia tak paham dan bingung "Maksudnya Gi?"
"Kata orang kalo orang yang udah meninggal tinggalnya di atas kan. Gio lagi kangen sama mama. Jadi kalo kita naik ini Gio lebih bisa liat mama yang udah jadi bintang dengan jelas. Kalo di bawah kan keliatan jauh banget, walaupun kita disini juga Gio tetep gak bakal bisa gapai mama. Tapi kakak tau? mama gak sendiri. Dia sekarang sama papa di sana. Pasti mereka bahagia banget kan."
Ntah kenapa kalimat yang selalu di lontarkan anak itu selalu sukses membuat Kian tertohok rasanya. Kalimat-Kalimat yang begitu banyak kejutan, dan begitu dalam.
Kian hanya tersenyum simpul, walaupun kini hatinya menangis. "Gio sini, gak baik berdiri ayo duduk." Kian sedikit menarik Gio yang berdiri menempel di gerenjang, memangkunya dan memeluknya erat.
"Mama Gio pasti bangga sama Gio. Sekarang Gio udah tambah pinter dan belajar buat ikhlas. Dan kamu tau, mama selalu liat kamu walaupun gak ada bintang di langit." Ucap Kian memeluk Gio begitu erat dan membuat Gio tenggelam di dadanya.
"Kak, detak jantung kakak kok lebih cepet dari Gio ya?" Kian mendongak ke atas.
"Hah? Oh itu kakak cuma lagi senang aja kok makanya gitu." Kian dengan senyum manisnya, berharap anak itu tak bertanya lagi.
'Kapan selesainya sih? Nih kepala udah sakit banget lagi, suhu di sini juga dingin banget. Akhh... Oke Kian tenang....'
Ckit....
__ADS_1
Tiba tiba saja bianglala itu berhenti mendadak, membuat mereka yang naik menjadi panik. Tak terkecuali Devan yang berada di kapsul yang berbeda dari Gio. Membuatnya meneriaki Gio dan berharap anak itu baik baik saja.
"Van, lo mau kemana sih?" Tanya Mikko yang sudah lemas sedari tadi,
"Adek gw Mik. Ini nih yang gw takutin! Kenapa sih nih bianglala pake macet segala!! Giooo .... kamu tenang aja ya dek" Teriaknya di akhir kalimat.
Bebrapa orang yang berada di bawah sudah berlari keluar dari kapsul, sedangkan mereka yang berada di paling puncak hanya bisa diam. Tak mungkin mereka harus meloncat dari ketinggian seratus meter itu.
Sepuluh menit berlalu....
Namun bianglala itu belum juga bergerak, tentu saja mereka tambah panik begitu juga orang orang yang berada di bawah.
Lima belas menit berlalu.....
Gio mulai mengeratkan pelukannya pada Kian, kini anak itu baru merasa takut dan tegang. Sebab mereka tak turun turun. Kian mengelus elus punggung dan kepala anak itu agar lebih tenang...
Dua puluh menit berlalu....
Membuat seseorang yang berada di kapsul yang berbeda sudah meronta ronta karena tak juga bergerak...
Dua puluh lima menit....
Krak...
Sesampai di bawah mereka semua turun dan...
"Gio, Kian kalian gak apa apa kan?" Tanya nya yang langsung memeluk Kian dan Gio.
Gio yang masih di gendong oleh Kian yang kemudian dipeluknya membuat anak itu menjerit.
"Kak, Gio gak apa apa. Bisa lepas gak? Gio sesak tau." Roceh anak itu membuat kakak laki lakinya melepaskan pelukan.
"Ma.. Maaf kakak khawatir sama kamu Gi." Kian menurunkan Gio di sana. Kini wajah anak itu sudah tak tegang lagi, berbeda dari Kian yang sedikit syok karna Devan memeluknya.
Kini canggung antara Kian dan Devan begitu terlihat. Tak mau berada di situasi seperti itu, Kian memilih untuk pergi ke toilet.
Dan tak jauh juga, Mikko baru bisa berjalan setelah muntah beberapa kali saat turun. Kini kakinya sudah tak begitu lemas, menghampiri Gio dan Devan.
Kian menatap cermin yang ada di depannya bergumam sendiri setelah selesai meminum obat yang selalu ia bawa itu "Huh.... jantung gw kenapa ya? Kok tiba tiba gini"
Sepuluh menit berlalu membuat Kian kembali ke sana namun mereka bertiga tak kelihatan. Kian bingung bahkan ia berfikir jika ketiga orang sudah pulang, karna terlalu lama menunggu dirinya.
Kian mencoba mengirim pesan dan menelpon Devan namun tak ada satu pun yang terjawab. Kian tak menelpon Mikko sebab ia tak memiliki nomornya.
Kini Kian berjalan menyusuri ramainya orang hingga ke tempat yang lebih sepi. Membuat Kian sedikit khawatir, dan
"Happy Birthday to you.... Happy Birthday to you..." Nyanyian lagu itu terdengar, Kian segera berbalik. Melihat tiga laki laki itu membawa sebuah kue dengan lilin yang sudah menyala.
Devan menggendong Gio, sedangkan Mikko memgang kue itu. Bibir yang mulanya bergetar karena takut, kini tersneyum lebar.
"Ayo kak Kian tiup lilinnya." Ucap Gio, kini mereka sudah berada di depan Kian.
whuhh... Kian meniup lilinnya membuat ketiga orang itu bertepuk tangan dan mengucapkan selamat.
Kian tak kuasa menahan tangisnya, air bening itu muncul saja tiba tiba. Untuk berterima kasih Kian langsung memeluk ketiga orang itu. Devan dan Mikko yang lebih tinggi dari Kian menjadi sedikit terpaut karna tangan Kian melingkar di leher mereka berdua.
"Thanks..."
.
.
.
.
.
__ADS_1
Thanks____ ๐