
"Jadi lo mau ngomong apa?" Kian membuka suara.
Kini mereka berada di rooftop. Berdiri bersebelahan dengan jarak tiga langkah. Merasakan terpaan angin yang begitu menyejukkan dan membuat rambut Kian yang tergerai sebahu itu ikut berayun kesana kemari. Kian sedikit bingung dengan Devan yang tiba tiba mengajaknya ke sana. Dan tak ada adegan tarik menarik. Hal itu tentu di syukuri oleh Kian. Ia tak mau membuat orang salah paham dengan apa yang selalu dilakukan oleh Devan terhadapnya.
Jangankan itu, sedangkan tadi ia berjalan dengan beriringan membuat semua orang menatap aneh ke arah mereka. Ntah apa yang di pikirkan oleh mereka semua, membuat Kian merasa sedikit bingung. Hingga ia memeriksa apakah ada yang salah dengan dirinya sampai tatapan mereka seperti itu. Namun nyatanya ia baik baik saja dan pakaiannya pun tak aneh.
Sedangkan Devan? Ia bahkan terlihat tak merasa terganggu sedikit pun dengan tatapan itu. Bahkan ia berjalan dengan santainya sambil menyandang tas itu, menutup kepalanya dengan topi hoodie yang biasa ia kenakan, dan memasukkan kedua tangannya dalam kantong hoodie. Mungkin banginya hal itu sudah biasa.
Kian yang melihatnya menyandang tas itu sedikit heran, karna sekarang bukan saat jam pulang, atau ia mau bolos lagi? Seperti itu lah pikiran Kian yang tetap mengikutinya ntah kemana maunya itu. Hingga mereka sampai ke rooftop.
"Nih." Ucap nya memberikan satu kotak kado pada Kian, dengan tangan kanan sebab Kian berada di kanannya serta pandangan yang masih lurus ke depan tanpa menoleh pada Kian.
Kian tentu menerimanya, hanya saja ia sedikit tak percaya dengan apa yang dilakukan Devan.
"Lo gak salah Van? Lo tau gw..... "
"Gak usah kepedean lo, itu dari Gio. Gio juga yang tau tanggal ultah lo. Terus dia nyuruh gw buat kasih lo hadiah. Cuma gw gak tau hadiah apa. Jadi itu aja." Ketusnya.
"Ohh gitu, kirain. Tapi bener juga sih lo gak bakal inget juga ultah orang lain yak. Ya udah makasih bilang Gio." Dengan senyum manisnya.
"Hn." Masih tetap tak menoleh.
"Mm... gak ada lagi yang mau di omongin kan? Ya udah gw mau ke kelas dulu." Pamit Kian yang beranjak pergi.
Sret...
Tangan Kian di tarik Devan membuat Kian berhenti dan menoleh.
Merasakan Kian tak ada pergerakan Devan langsung melepaskan genggaman itu.
"Kenapa lagi sih Van?" Kian berjalan mendekat, sedangkan, Devan masih stay di posisinya.
"Malam ini mau kemana lo?."
"Gak kemana mana. Ngapain nanya gitu?"
"Gak. Gio mau lo dateng ke taman kota malam ini jam tujuh."
"Mau ngapain?"
"Gak tau. Tanya aja sama Gio. Gw cuma mau sampein itu doang."
"Emm... Gimana ya.."
'Huh.... Kalo bunda sama ayah di rumah gw juga gak bakal bisa kemana mana. Dan gak bakal di kasih juga kalo izin. Tapi.... Gio?'
"Itu kalo lo mau sih. Kalo lo gak juga, gw bakal kasih tau Gio." Masih memandang ke arah depan dan Kian berada di belakangnya.
"Gio yang minta ya?"
__ADS_1
"Hmm..."
"Lo kalo ngomong bisa gak sih hadap ke gw?! Kalo gini gw serasa ngomong sama orang yang gak bisa liat tau gak. Emang gw pesuruh lo apa yang selalu denger lo di belakang sedangkan lo fokus ke depan. Bisa gak sih lo hargai orang ngomong. Yang ada perlu juga lo bukan gw, terus tadi juga dateng dateng langsung main perintah aja, udah di turutin malah gini. Mau lo apasih?." Roceh Kian yang kesal. Bagaimana tidak, Devan yang mengajaknya bicara namun pandangannya tetap ke depan seolah menganggap Kian tak ada.
Tap....
Mendengar ocehan Kian yang terdengar begitu kesal membuat Devan langsung berbalik dan menghadap Kian, bahkan jarak mereka mereka begitu dekat. Devan menunduk dan menatap manik mata Kian dengan matanya yang begitu tajam dan dingin itu. Berbeda dengan mata Kian yang bulat besar. Bahkan beberapa helai rambut Kian terhempas ke wajah Devan karena angin yang begitu kencang di sana.
Bukh...
Kian mendorongnya, hingga Devan sedikit menjauh.
"Lo ngapain hah?! Mau modus ya lo." Marah Kian.
"Modus apaan, kan lo sendiri yang suruh gw hadap lo. Terus Kenapa lo dorong gw? Salah lagi gw?" Tanya tak terima.
"Gw cuma mau, lo liat gw tapi gak dengan jarak sedekat itu juga." Kesal Kian menghadap ke lain arah, sedangkan Devan masih tetap menatapnya.
"Bukan karna lo salting kan?" Ucapnya tanpa dosa dengan sebelah alis terangkat.
"Pede aja lo, ya gak lah. Kan sebagai rasa saling menghargai aja. Kalo ngomong tuh harus liat lawan bicaranya. Jangan gw nya liat mana lo liat mana juga bambang." Roceh Kian.
"Hmm.. Jadi?"
"Jadi apa?" Kian menoleh ke arahnya.
"I... iya nanti gw pikirin dulu."
"Hmm... nanti bakal gw jemput."
"Gak usah. Lo emang mau jemput gw pake apa?"
Tantang Kian yang tau kalau Devan tak lagi memiliki motor. Tentu saja mata Devan menajam.
"Lo punya otak kan? Lo bisa mikir lah, tanpa motor gw juga bisa kali jemput lo."
"Oh ya?"
"Lo mau di jemput pake apa cewek matre? Mobil? Gampang, angkot banyak, bus juga ada. Mau sebesar apa lagi mobil yang jemput lo?! Mobil ambulamce?"
Kalimat yang dilontarkan Devan memang lah pedas sampai rasanya tembus ke hati, namun di satu sisi Kian senang melihat Devan yang kesal hingga ia meneruskan percakapan itu "Amit-amit Van kalo pake ambulance, lo nyumpahin gw?! Tapi emang gw gak mau di jemput sama lo."
"Gw juga gak mau kali. Terus lo mau di jemput siapa? Udah syukur mau gw jemput. Oh gw tau, level lo bukan gw ya. Lo maunya di jemput sama cowok kayak Jerry pake mobil gitu."
Kian sedikit bingung dengan Devan yang mengucapkan kalimat itu. Ntah kenapa omongannya sampai ke sana, padahal Kian sendiri tak memikirkan Jerry sedikit pun.
"Hahaha... becanda kali, serius amat sih lo. Maksud gw, gw bisa ke sana kok tanpa lo harus jemput. Kenapa nyambungnya malah ke Jerry sih, aneh lo Van. Lagian kalo lo jemput gw, ntar Gio gimana? Mau lo tinggal sendiri gitu di sana?" Jeda Kian.
"Udah gak usah pikirin itu. Ini demi Gio, gw bakal dateng kok. Yang penting lo jagain aja Gio." Ucap Kian yang hanya di balas tatapan malas oleh Devan.
__ADS_1
"Btw, ini udah kan? Gak ada yang bakal di omongin lagi. Soalnya gw mau ke kelas."
"Udah sana." Ketusnya
"Yakin? Lo gak bakal tarik gw lagi kan?" Goda Kian membuat si mpu tambah kesal. Devan menatap tajam Kian, hingga membuatnya langsung berlari dari sana.
Tanpa Kian sadari manusia yang sedang berdiri menatap punggungnya itu membentuk satu sunggingan di bibirnya.
_
"Huh... huh..."
"Heh.. Kian dari mana sih lo? Kok ngos-ngosan gitu? Lo di macem macemin Devan ya? Terus itu kado dari siapa? Dari Devan juga ya?" Tanya Febbry bertubi tubi saat Kian sampai di depan kelas.
"Gak kok. Tadi ada serigala ngamuk aja. Ini kado bukan dari dia, cuma ada yang titipin ke dia. Dia gak mau kasih di kelas ntar malah pada salah sangka." Jelas Kian dengan nafas yang sudah lebih normal.
"Serigala? Serigala apaan? Wah lo boong ya. Udah ah makin ngaco aja lo. Tuh ada kado dari sahabat lo." Tunjuk Febbry ke mejanya.
"Ish beneran juga, ya udah kalo gak percaya." Ucap Kian yang lalu mengintip kado itu. "Buset, kadonya segede gaban gitu yak." Kian yang melihat kado itu memang benar benar besar bahkan mejanya sudah tertutup oleh kado itu.
"Iya dari sahabat lo. Tadi dia nanyain lo, cuma ya bilang lo pergi sama Devan karna ada perlu. Terus dia maksain buat nungguin lo, sampe di cie cie-in anak anak."
"Dia bukan sahabat gw. Kan sahabat gw cuma lo Feb. Terus mana tuh orang?"
"Dah pergi karna di panggil sama pak Hari. Kalo bukan sahabat apa? Pacar? Heran gw gak ada Sarah malah lo yang di deketin bukannya cariin tuh pacar nya dia yang udah ngilang beberapa hari."
"Gak lah dia cuma temen doang. Lo kayak gak tau Jerry aja Feb. Makanya gw bilang jangan terlalu percaya ama tuh cowok. Tapi gw yakin sih itu karna gw temennya makanya dia ngasih kado. Lagian ini bukan pertama kalinya kali Feb." Kian menenangkan Febbry yang terlihat begitu kesal.
"Dah ah, ayo masuk keduluan ada guru ntar." Gantian Kian yang menarik Febbry tuk masuk.
"Ki, lo beneran gak mau ikut study tour besok? Lo tau kan mana yang gak ikut study tour tetap study di kelas. Sayang loh, kapan lagi kita bisa jalan jalan ke luar. Lo tau kan study tour kali ini ke gunung. Dan itu gak cuma sehari doang. Lagian kita gak bakal lagi ada kesempatan kayak gini Ki. Kita udah kelas tiga, habis ini bakal pisah karna harus kuliah. Gw juga mau rayain ultah lo di sana." Ucap Febbry dengan sendu berharap Kian luluh dengannya.
"Kita masih bisa kok rayain ultah gw pas lo pulang nanti. Bahkan seharian itu gw bakal full time buat lo."
"Tapi Ki....."
"Lo tau kan ortu gw Feb?" Tanya Kian yang hanya diangguki oleh Febbry. Alasan itu sangatlah ampuh untuk Febbry. Hingga membuat anak itu hanya menurut dan tak banyak paksaan lagi.
.
.
.
.
.
See u next eps🤗💬❤
__ADS_1