Menggenggammu Yang Hanya Sementara (Revisi)

Menggenggammu Yang Hanya Sementara (Revisi)
#99


__ADS_3

Author POV


Kian dan Devan sampai di kontrakan. Dengan semangat Kian langsung menyusun semua barang belanjaannya. Sepanjang perjalanan sampai rumahnya, ia dan Devan tetap berdiaman. Ia sedikit sulit memahami suasana hati Devan yang menurutnya selalu berubah-ubah.


Kadang bisa lembut, dan sekarang malah kembali jadi batu es lagi. Membuatnya hanya bisa menarik nafas panjang, membuang pikirannya tentang Devan. Devan masih ada di rumah itu, duduk di luar sambil menunggu Kian ganti baju, barulah mereka bisa pergi ke tempat kerja.


"Van, maaf ya. Gue mau masak dulu. Lagian masih ada waktu setengah jam lagi buat pergi ke Cafe." Ucap Kian yang hanya diangguki oleh Devan.


Kian kembali masuk ke dalam rumah, berkutik dengan wajan dan kompor serta bumbu dapur. Memasak sesuatu dengan bahan seadanya. Eksperimen makanan sudah menjadi kebiasaan Kian, sebab ia bosan jika harus menghadapi makanan itu-itu saja.


Lima belas menit selesai, ia menyajikan makanan di meja makan. Hanya ada satu menu namun itu sudah komplit ada sayuran dan lauk. Tak lupa juga ia meletakkan piring dan air minum di sana.


Ia berjalan keluar hendak memanggil Devan untuk makan bersama. Namun baru setengah perjalanan samar-samar ia mendengar suara obrolan. Ia pun menyelidik, dan ternyata itu adalah Devan dan Nari. Yang duduk berdua di kursi panjang depan kontrakan Kian.


Ntah kenapa melihat itu seperti ada sesuatu yang mengganjal di hatinya. Tapi ia tak tau apa, hingga ia menepis semua itu memanggil kedua orang tersebut masuk dan makan bersama.


"Eh ada kak Nari. Masuk yuk, kita makan bareng. Kian udah masak makanan, tapi itu cuma ala-ala Kian doang. Hehehe..."


"Gue gak laper. Kalian makan aja." Ketus Devan.


"Eh, Devan. Lo kok gitu sih. Ayuk kita cobain masakan Kian."


"Iya. Kita makan aja dulu. Abis itu kalian bisa ngobrol lagi. Maaf udah gangguin ngobrolnya hehehe.." Ucap Kian menggaruk tengkuknya yang tak gatal.


"Ngomong apa sih lo Ki. Gue tadi gak sengaja aja liat Devan duduk sendiri. Gak ada yang serius juga. Ayo Van!!" Nari menarik Devan masuk ke dalam rumah.


Membuat Kian sedikit berfikir, bagaimana Devan mau diperlakukan seperti itu oleh perempuan? Sedangkan di sekolah ia selalu jauh dengan perempuan. Bahkan untuk menyentuh mereka pun enggan. Sedangkan kak Nari? Dengan mudahnya, menggandeng tangan batu es itu masuk tanpa ada perlawanan sedikit pun.


Apa jangan jangan....?


Kini mereka bertiga sudah duduk di kursi masing-masing dengan satu piring nasi di depannya. Ntah apa itu namanya Kian tak tau, yang jelas masakan itu adalah ayam dengan kuah coklat pekat dengan campuran sayuran, biji wijen, bawang bombai, cabe hijau dan yang lainnya juga.


"Waw... ini masakan apa namanya Ki? Kayaknya enak nih!" Nari bersuara melihat makanan yang terhidang di meja.


"Kian juga gak tau kak. Kian cuma iseng aja masukin bahan yang ada."


"Ohh gitu. Oke deh. Gue cobain ya." Kian mengangguk.


Setelah suapan pertama itu masuk ke dalam mulutnya, "Emm.. gila enak banget Ki. Kayak rasa rasa ayam teriyaki, tapi agak bedaan gitu, suka gue."


"Hehehe... syukur deh kalau kakak suka. Van ayo dimakan." Devan hanya menatap sekilas.


"Aelah kebanyakan mikir lo Van. Nih." Nari menyedokkan lauk itu ke piring Devan namun masih di diami oleh nya.


"Inget Van, gak boleh menelantarkan makanan yang udah tersaji." Dumel Nari. Devan pun dengan terpaksa menyedokkan makanan itu ke mulutnya.


"Gimana Van?" Tanya Kian excited.


"B aja." Dinginnya


"Udah Ki. Devan kan gak pernah bisa rasain. Lo juga makan, ntar malah gue yang ngabisin lagi. Hahaha..."


Kian hanya tersenyum. Susana makan siang itu begitu tenang. Sesekali hanya Nari yang berkomunikasi dengan keduanya. Selebihnya tak ada ucapan disana.


Hingga acara makan itu selesai.


_________


Malam ini mereka sedikit lembur, hingga mengharuskan pulang jam sepuluh malam. Tapi untung saja jalanan itu biasa dilewati kendaraan, hingga jam seperti ini mereka masih bisa menaiki angkutan umum.


"Van, gue turun depan gang. Dan lo langsung pulang aja ya. Gak usah anter gue sampe rumah." Kian memecahkan keheningan bus itu. Memang setiap pulang Kian selalu saja diantarkan sampai depan kontrakan oleh Devan.


Tak ada jawaban dari Devan, Kian kembali menatap jendela bus yang begitu berembun. Sepertinya udara sangat dingin dan akan turun hujan malam ini. Untuk itu juga alasan Kian menyuruh Devan untuk tidak mengantarnya pulang. Lagi pula ini sudah terlalu larut jika Devan harus mengantarkannya dulu.


Ckiit

__ADS_1


Bus berhenti di halte depan gang. Kian turun dengan tenangnya. Namun ternyata ia tak turun sendiri, melainkan Devan juga ikut turun.


"Van, lo ngapain ikut turun sih? Bentar lagi mau hujan, ntar lo kehujanan. Pulang gih!" Titah Kian yang tak diindahkan sama sekali oleh Devan. Ia tetap diam.


Malas bicara panjang panjang, sebab Devan juga tak akan membalas ucapannya, Kian pun menyerah, "Ya udah. Tapi kalo gue udah sampai kontrakan lo langsung pulang. Kasian Gio di rumah."


"Hn."


Satu deheman yang membuat Kian kesal setengah mati rasanya. Kian berlalu jalan mendahului Devan. Ntah apa mau laki-laki yang berada di belakangnya bak pengawal itu sekarang ini.


Crash


Tak lama hujan pun turun bahkan baru saja mereka sampai di pertengahan gang. Melihat keadaan sekarang Kian langsung menarik Devan untuk lari dan berteduh di depan kontrakannya. Jika pun menunggu mungkin akan sama saja, hingga ia memutuskan menerabas derasnya hujan saat itu.


"Ya kan udah hujan. Lo sih udah gue bilangin juga gak usah anterin gue sampai kontrakan, masih aja lo bantah. Kan sekarang gimana lo mau pulang?" Roceh Kian. Mereka sudah basah, sebab hujan begitu deras, dan di pertengahan gang mereka sudah di guyur oleh hujan hingga basah kuyup.


"Tinggal tunggu hujannya berhenti." Ia duduk di kursi panjang di depan kontrakan Kian dengan keadaan jaket yang sudah sangat basah.


"Lagian kenapa sih lo..."


"Berisik!" Bentaknya yang langsung menatap manik mata Kian. Omongan Kian bahkan belum terselesaikan.


Lama Kian terdiam, " Ya udah. Lo tunggu aja hujannya sampai berhenti!!" Balas Kian acuh yang langsung masuk ke dalam.


Merasa kesal dengan bentakan Devan, Kian memilih untuk menyibukkan diri. Seperti mandi dan berganti pakaian. Tak lupa ia juga memasak air panas untuk menghangatkan tubuhnya.


Keluar dari kamar dalam keadaan yang sudah kering dan bersih, ia sedikit mengintip Devan dari jendela, yang masih duduk dengan jaket yang sudah basah. Kembali ia merenung, sepertinya ia terlalu berlebihan pada Devan. Sedangkan Devan saja yang melakukan itu mungkin karena berniat baik padanya.


Kian membuat dua cangkir teh panas, yang tentu untuknya dan Devan. Setelah siap ia langsung mengantarkannya ke depan.


"Van, nih minum dulu. Biar anget." Kian meletakkan cangkir itu di samping Devan. Namun si mpu tak kunjung bersuara.


Merasa aneh, Kian mendekati Devan yang masih duduk menyandar dengan kepala ditutup dengan topi jaket.


"Astaga... Van lo kok dingin banget sih. Mending lo sekarang masuk ke dalem deh." Ajak Kian yang tak tega.


"Em.. Gak usah. Gue bisa nunggu di luar." Ucapnya lemah dengan tatapan sayu.


"Gak bisa lah, lo udah sedingin ini." Kian langsung memapah Devan masuk ke dalam.


"Gue udah bilang..."


"Diem!!"


Kian mendudukkan Devan di kursi yang ada di ruang tamu. Mengambil selimut, membuka jaket Devan yang basah itu, dan segera melilitkan selimutnya ke tubuh Devan. Agar lebih hangat. Tak lupa juga ia menuntun Devan untuk meneguk teh hangat yang ia buat tadi.


Kian menatap setiap inci dari wajah itu, wajah simetri dengan rahang yang begitu tegas dan bersegi. Terlihat begitu menyeramkan sebelumnya, tapi tidak untuk sekarang.


Wajah itu pucat dan sayu, membuat Kian begitu iba melihatnya. Belum lagi bekas-bekas luka yang ada di sekitar wajahnya yang tak kunjung sembuh, namun tak membuat ketampanan makhluk ciptaan Tuhan satu ini luntur.


Kian menggosok gosokkan kedua telapak tangannya, lalu menempelkannya di kedua pipi Devan agar dinginnya berkurang.


Namun sadar dengan perlakuan dari Kian, Devan dengan cepat menghindar. Membuat Kian sedikit kewalahan.


"Lo kenapa sih?! Gue gak bakal ngapa-ngapain lo juga. Wajah lo pucat dan dingin. Itu harus di angetin!" Kesal Kian dengan Devan yang terus menggeliat bak ulat keket.


Lama dia bergelut dengan Devan, akhirnya pipi itu didapat juga. Ia menangkup kedua pipi itu, seolah tak mau lepas. Mendapati mata sayu Devan yang begitu merah. Membuat Kian sedikit tersentak kaget. "Van, lo kenapa? Lo ada masalah? Cerita sama gue" Ucap Kian khawatir.


Tak lama bulir bening keluar dari dua pelupuk mata Devan, membuat Kian begitu tambah kaget. Ntah dorongan dari mana lagi, atau mungkin karena rasa iba atau bahkan rasa hutang budi, Kian memeluk erat Devan. Berharap beban masalahnya bisa berkurang.


Ini adalah kali kedua ia melihat Devan menangis setelah hari itu. Hari duka juga bagi dirinya.


"Gue anak yang gak guna!! Gak guna sama sekali!!" Teriaknya dalam dekapan Kian.


"Shyuut.... siapa bilang lo gak guna? Bahkan dari setiap orang yang gue temuin yang tau tentang lo selalu bilang kalo lo adalah orang yang bertanggung jawab dan mandiri. Dimana letak gak gunanya, Van?" Kian mengelus elus surai hitam itu, agar dirinya bisa lebih tenang. Kian begitu bisa merasakan hembusan nafas yang tak beraturan karena tersedu dari Devan di ceruk lehernya.

__ADS_1


"Gak! Gue gak guna. Bahkan gue gak bisa selametin orang tua gue! Semua ini salah gue!! Andai aja gue gak ada, pasti mama masih hidup dan keluarga dia gak bakal hancur!! Argghh!!" Jerit Devan, membuat Kian tambah mendekap tubuh gemetar itu.


Jadi dia kayak gini karena teringat mamanya? Bahkan dari siang tadi, tingkahnya begitu aneh karena hal inikah?


"Van, lo gak salah. Semua udah takdir. Siapa yang bisa ngelawan takdir hm? Mama pergi karena takdir dia yang udah waktunya. Lo gak bisa salahin diri lo, dan lo juga udah usaha. Stop buat hancurin diri lo sendiri." Yakin Kian.


Kini dekapan itu sudah merenggang. Kian yang berjongkok menyamakan tingginya dan Devan yang duduk di kursi. Menempelkan kedua dahi mereka, dan saling menatap manik mata masing-masing. Manik mata Devan yang begitu hitam pekat seperti menggambarkan kehidupannya yang kelam, bertemu dengan manik mata Kian berwarna grey itu. Seperti hidupnya yang begitu samar.


"Gue takut... Gue takut gue gak bisa jaga Gio sama kayak gue gak bisa jaga mama. Lo tau gimana Gio, gue sayang dia tapi....." Rintihnya yang masih dengan nafas tak beraturan dan suara serak.


"Jangan takut. Gue bakal bantu lo jaga semua yang lo anggap berharga. Gue bakal selalu ada di samping lo. Lo lupa kalo kita partner?" Ucap Kian sambil mengelus kedua pipi tirus itu.


Devan langsung menarik Kian, menenggelamkan wajahnya di antara leher dan bahu Kian. Mengalungkan tangannya di pinggang Kian. Memeluk erat tubuh setengah bantet. Begitu pun dengan Kian. Tetap mengelus surai hitam pekat itu dengan lembut. Memberikan kenyamanan bagi Devan, agar ia lebih tenang.


____________


"Hiks... hiks..." Seseorang menangis tersedu di dalam kamarnya.


Ceklek


"Ngapain lagi sih kamu Intan!! Nangis malam-malam? Lapar? Kamu bisa makan? Atau beli. Gak usah berisik malam-malam gini!"


"Aku mungkin bisa aja makan yah. Tapi gimana dengan anak kita? Sudah beberapa hari ini dia tak pulang ke rumah. Memberi kabar juga tidak. Bahkan aku tidak tau dia makan atau tidak di luar sana. Lalu bagaimana aku yang menjadi seorang ibu bisa makan dengan tenang di bawah atap yang begitu nyaman ini!!"


"Halah.. Gak usah drama kamu! Lagian itu kan pilihan anakmu! Aku sudah katakan untuk tidak membantah, tapi apa? Dia malah memilih jalannya sendiri."


"Dia pilih itu karena dia gak mau kamu paksa yah! Kamu nih gak pernah ngerti sama perasaan anak kamu!"


"Anakku? Anakku tidak hanya dia! Dan tak senakal dia. Aku seperti ini juga untuk dia. Dia saja yang tak tau bersyukur dengan apa yang aku berikan!"


"Hm! Ya aku lupa, anakmu tak hanya satu Kian." Senyum kecutnya, "Lalu dari mana kau? Bersama wanita itu lagi?!!"


"Apa urusanmu Intan. Lagi pula kami juga masih sah."


"Kenapa kau tak pernah memikirkan perasaan Kian, Bram!!! Kian anakmu, kau menghianatinya!!!"


"Aaarggghh!!! Jika kau mau, kau bisa katakan pada anakmu itu. Kau sungguh cerewet Intan. Aku muak melihatmu!!!"


"Kenapa kau mengorbankan Kian demi anak lain hm?! Ingat Bram dia juga anakmu! Darah dagingmu!!"


"Aku tak pernah mengorbankan anakku Intan. Aku bahkan ingin menyelamatkannya. Tapi anak itu begitu bodoh. Kau tau jika dia ada, maka kebahagian ini tak akan ku berikan pada Kian!! Ia yang akan ku selamatkan dan nomor satukan!!"


"Jadi selama ini, hanya dalihan Bram?! Kau memanfaatkan masa itu untuk hal sekarang!! Kenapa kau tidak jujur saja dari awal?!"


"Kenapa? Karena orang tuaku tak menyetujuinya!!! Tapi nyatanya kau juga menghianatiku bukan? Jadi apa salahnya bermain dengan apa yang telah kau lakukan?!" Entengnya dengan seringai tajam.


"Kau bre***** Bram!!"


Blam


Pintu kamar itu tertutup dengan kuatnya. Hanya meninggalkan Intan dengan air matanya yang masih mengalir deras.


.


.


.


.


.


.


tbc

__ADS_1


__ADS_2